
Siang berganti malam, awan terang pun berganti menjadi gelap, dengan mengendarai motor Jojo mengantar Liana sampai rumahnya.
“Walaupun Aku menangis seharian, Walau kali ini Aku memilikinya sebagai sandaran, tapi Aku masih saja tidak bisa menenangkan hatiku” benak Liana yang masih bisa memikirkan Arvin saat dibonceng Jojo.
“Sudah sampai!” ucap Jojo memberi tahu, karena Dirinya yakin bahwa pikiran Liana tak berada bersama dengan tubuhnya saat ini.
“Em'm...” ucap Liana standard sembari turun dari atas motor. “Ini punya Kakak" Liana melepas helmnya dan dengan segera memberikan pada pemiliknya Jojo.
"Terima kasih!” Liana mengumbar senyum pada Jojo sembari menyisir rambutnya dengan jari tangannya yang berantakan saat melepas helm.
“Sepertinya hari ini aku banyak mendapat terima kasih darimu” canda Jojo membuat Liana tersenyum dari hati.
“Jika nanti kita bertemu lagi, Aku ingin mendengar tentang bagaimana Kakak sekarang!" lontar Liana ingin menyambung hubungan yang sempat terputus, kali ini Ia ingin hubungan itu dibangun dengan pondasi pertemanan agar lebih kuat.
“Kau ingin mendengar apa dariku? Sepertinya tak ada yang bisa didengar dariku.”
“Chek.. dasar pembohong. Lalu bagaimana dengan perusahan percetakan yang baru Kakak bangun?”
“Aah.. tentang itu,” ucapnya standard.
“Bagaimana keadaan kartika tunangan Kakak?” Liana mencoba memberanikan diri untuk bertanya. Walaupun Ia sudah tidak memiliki perasaan terhadap Jojo seperti sebelumnya, tapi untuk bertanya hal yang seperti itu Liana masih harus mengumpulkan keberanian lebih dahulu.
“Tidak ada hubungan lagi antara kami. aku dan dia sepakat mengakhiri hubungan yang tidak memiliki dasar cinta” jawab Jojo kini suaranya sedikit tenggelam entah karena apa.
“Kapan? Ahh.. bukan. Maksudku, Kenapa seperti itu?” tanya Liana yang begitu tekejut.
Tapi belum sempat dijawab oleh Jojo tiba-tiba seseorang menarik lengan Liana dari belakang.
"Arvin Kau?" terkejut Liana mendapati Arvin dihadapannya. "Bagaimana Kau bisa ada disini?" bingung Liana.
"Apa perlu dipertanyakan saat Aku pulang ke rumahku sendiri?" kesal Arvin.
"Ya perlu dipertanyakan keberadaannya adalah orang ini. Kenapa dia ada disini? Sejak kapan kalian bisa bersama seperti ini?” Lanjut Arvin menahan marah.
"Kami hanya kebetulan bertemu dijalan. Dan aku putuskan untuk menghampiri Liana karena dia terlihat..." Ucapan Jojo seketika berhenti sesaat setelah menerima isyarat dari Liana untuk tetap diam tak menceritakan apapun pada Arvin tentang dirinya yang menangis dijalan sendirian.
"... sendiri." lanjut Jojo dengan sebuah kebohongan. "Tidak ada maksud yang aneh, untuk menghampiri teman lama," ujar Jojo menatap sinis kearah Arvin.
Lalu dengan senyuman dan tatapan lembut ditunjukan pada Liana, “kalau begitu aku pergi! Selamat tinggal” pamit Jojo.
__ADS_1
“Sampai jumpa! Hati-hati dijalan!” Liana melambaikan tangan sampai motor dan pengendaranya tak terlihat lagi dan tanpa sadar Liana sudah diperhatikan sejak awal oleh Arvin.
“Orangnya sudah pergi. Jadi berhentilah untuk melambaikan tanganmu!” perintah Arvin seperti ada nada cemburu disana namun tak dapat disadari oleh Liana.
“Dasar wanita kesepian. Apa harus jalan berdua dengan orang yang sudah bertunangan?” cibir Arvin lirih sembari berjalan masuk kedalam rumah.
“Apa?” Meski hanya terdengar samar-samar namun ucapan dari Arvin membuat Liana begitu kesal.
Ingin sekali dirinya membalas cibiran Arvin kembali, tapi orang yang ingin Ia cibir malah telah pergi dari hadapannya.
Namun disudut lain Liana lebih bahagia melihat keberadaan Arvin yang kembali kerumah. Dengan senyuman Liana merengkuh tangan Arvin lalu bertanya, "Apa Kau menginap disini hari ini?"
"Tidak untuk itu." Tolak Arvin segera, membuat Liana serasa menelan pil pahit yang tanpa ada penawarnya.
"Begitu ya," Liana melepas perlahan gandengan tangan itu.
Sesungguhnya Arvin sadar akan hal itu, tapi Ia berusaha mengabaikannya, agar hatinya juga tak merasakan kebingungan kembali seperti hari-hari kemarin.
"Aku datang kemari untuk ini," Arvin memberikan sebuah amplop coklat yang semua berada diatas meja.
"Apa ini?" Tanya Liana membolak-balikan amplop yang sudah berpindah tangan padanya. “Bukankah ini..”
Dengan segera Liana mengambil isi dari amplop itu dan dibaca segala informasi dengan begitu cermat.
“Aku pernah cerita padamu tentang Ayahnya yang meninggal bukan?” Ucap Arvin mencoba menerangkan Isi informasi yang berada diamplop coklat itu.
“emm..” simak Liana akan ucapan Arvin, meski saat ini Ia tengah sibuk dengan apa yang dibacanya tapi Ia masih bisa fokus dengan yang dikatakan Arvin.
“Ayahnya Rudian Anggoro meninggal saat ia berumur sepuluh tahun, oleh karena itu pada umurnya yang masih beliah, Ia sudah ditetapkan sebagai pewaris tunggal dari seluruh harta Rudian Anggoro" Terang Arvin yang sebenarnya Liana dapat mengetahui sendiri dengan membaca Informasi yang telah Ia berikan.
Namun mengapa bibir menggelitik tak mampu menahan semua informasi yang telah Dirinya ketahui sejak awal. "Dan kalau tidak salah disitu juga menerangkan bahwa saat dia berumur tujuh belas tahun, dia megalami kecelakaan hebat dan karena kecelakaan itu dia sempat mengalami pendarahan otak yang lumayan parah"
"Benarkah?" kini perhatian Liana hanya berfokus pada perkataan Arvin.
"Em'm!" angguk yakin Arvin. "Oleh karena itu dia dibawa oleh keluarganya ke Amerika untuk berobat lalu baru kembali tahun lalu.” terangnya panjang lebar.
Seketika Liana mulai curiga pada satu peristiwa yang dialami oleh Tirta yaitu kecelakaan maut itu. Ia berusaha mencari tanggal dan tahun kecelakaan itu terjadi.
“16 Februari 2007. Berarti 13 tahun yang lalu” seketika Liana terdiam dan mulai berfikir keras. “13 tahun yang lalu, 16 Februari. Mungkinkah?” Liana memandang wajah Arvin dengan ekspresi yang menduga-duga.
__ADS_1
“Apa? Apa Kau mengetahui sesuatu?”
“Aku juga tidak yakin akan hal ini. Tapi Arvin, bisakah Kau membantuku sekali lagi?”
“Apa?”
“Pertemukan Aku dengannya! Aku ingin memastikan bahwa dugaanku ini benar atau tidak,” serius Liana.
“Baiklah, akan Aku usahakan. Hanya itu sajakan?”
“Emm...” angguk Liana pelan.
“Baiklah kalau begitu. Aku pergi!” pamit Arvin.
“Tunggu!” Dengan cepat Liana meraih jemari Arvin. “Haruskah Kau pergi sekarang?”
“Apa lagi?” Arvin hanya menengok kebelakang.
Tanpa berpikir panjang Liana langsung memeluk Arvin dari belakang.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Arvin heran.
“Jangan bicara! Hanya satu menit tetaplah seperti ini” Liana mencoba mengembalikan semua energi Yang membuat dirinya kuat menghadapi segala rintangan untuk meraih kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.
"Baiklah" Arvin menuruti perkataan Liana. Ia diam dan membiarkan Liana menempel dipunggungnya.
“Kau membuatku semakin kesulitan dengan sikapmu yang seperti ini” Arvin hanya dapat berucap dihatinya.
Begitu juga dengan Liana yang hanya berkata dihatinya saja, “rasanya sangat berbeda, meskipun jantungku berdegup tidak tenang tapi ini sangat nyaman untukku. Semua perasaan yang tak tenang dihati telah hilang seketika.”
“Sudah lewat dari satu menit, bisakah Aku pergi sekarang?”
“Emm..” Liana melepas pelukannya lalu berjalan mudur sedikit memberi ruang untuk Arvin.
“Terima kasih” ucap Liana lirih namun dapat didengar oleh Arvin.
“Baiklah, Aku akan pergi sekarang!” ucap Arvin tak kalah lirih.
“Kau pergilah tidur! Biar pintu depan Aku yang kunci,”ucapnya tanpa memandang Liana sedikitpun, lalu pergi seiring dengan tetes air mata Liana yang tumpah.
__ADS_1
***