Love'S Feeling

Love'S Feeling
Pengagum rahasia


__ADS_3

"Yang pertama ketika hujan turun sore itu. Seseorang memberiku sebuah payung dan setangkai bunga tulip putih," curah Sofi menceritakan semua yang dialami beberapa hari ini kepada ketiga sahabatnya.


"Dan yang kedua aku menemukan kembali sebuah vitamin, syal yang tebal dan setangkai tulip putih yang diletakan diatas meja yang terdapat disudut ruang perpustakaan, tempat yang biasa aku duduki." Lanjut Sofi melanjutkan ceritanya.


Dan para sahabatnya menyimak dan mencoba mencari kebenaran dari beberapa dugaan dari terlintas dipikiran mereka.


"Lalu yang ketiga saat bajuku basah karena sebuah mobil menerobos genangan air disebelahku, lagi-lagi barang yang sangat aku butuhkan sebuah baju bersih dan tulip putih. Dan sekarang yang terakhir sepatu ini," tunjuk Sofi pada kaki yang sedikit terangkat.


"Dan tulip putih," sela Anita yang merasa tahu lanjutan kisah yang dituturkan sahabatnya Sofi.


"Iya kau benar," angguk Sofi. 


"seperti difilm-film romantis. Pria misterius dan kisah cinta rumitnya"lontar Anita


"apa kalian tidak merasa bahwa ini aneh?"tanya Rendi yang merasa semua itu sangat janggal.


"benar juga kata rendi, jika seseorang itu adalah pengagummu pastinya dia memberi sebuah tanda untuk dikenali misalnya sebuah inisial nama. Dan kenapa juga orang itu bisa tahu dengan benar sesuatu yang sangat dibutuhkan sofi saat itu?"tutur Liana menganalisa


"ya mungkin orang yang mengagumi sofi sangat perhatian padanya, dan kalau soal sebuah tanda untuk dikenali pasti bunga tulip itu"


"bisa jadi"ungkap Rendi mendukung perkataan kekasihnya.


"atau bisa juga dia seorang pengguntit"


"apa? masa seperti itu? Liana jangan menakut - nakuti ku seperti itu!"


"ya ampun sofi, coba kau pikir lagi! Mana ada orang yang bisa tahu semuanya kalau tidak terus menguntitmu atau bisa juga orang itu mempunyai salah padamu, oleh karena itu ia begitu baik padamu, dan karena itulah ia menguntitmu supaya ia bisa membantumu saat kau kesulitan"analisanya kembali.

__ADS_1


"bisa jadi"


"aku tidak setuju dengan pendapat kalian, karena semua pria misterius itu romantis, baik hati, punya karismatik yang luar biasa, dan tentunya tampan seperti pangeran di negeri dongeng"Anita tetap kukuh dengan pendapatnya.


"hiss.. kau mulai lagi. Anita ini bukan seperti cerita dinovel-novel atau serial tapi ini kenyataan"tegur Liana.


"lalu bagaimana denganmu? Kau bicara seolah menuduh bahwa dia orang yang jahat padahal kau belum mengenalnya"


"aku bukan menuduh, aku cuma.."


"Cuma apa?


"bisakah kalian berhenti berdebat? Disini akulah orang yang menjadi bahan perdebatan kalian. Apa kalian tahu semua ini sudah membuat kepalaku hampir pecah dan sekarang kalian tambah dengan perdebatan yang sama sekali tidak akan bisa membantuku"ucap Sofi dengan nada yang sedikit tinggi.


"sofi"desah Anita lirih


"kami bukan bermaksud untuk membuatmu bertambah bingung. Kami hanya ingin membantumu. Tapi maaf kalau kami membuatmu bertambah bingung"tutur Rendi dengan nada bersalah.


Dengan menggunakan jasa bus, Sofi berharap agar dapat ketempat kerjanya dengan segera. "siapa orang yang begitu baik yang memberi semua ini padaku? Apa seseorang yang aku kenal?"gumamnya sendiri melihat lekat sepasang sepatu yang kini ia kenakan. "hah.. aku sangat lelah memikirkannya"Sofi mendesah berat lalu memalingkan pandangnya kearah luar kaca bus. Pertokohan, orang berjalan, dan beberapa penghijauan yang begitu cepat melintas dipengelihatannya. Ia menghela nafas panjang kembali untuk mengurangi kestresan diotaknya. Tapi kini malah ia menjadi panik saat ia tak sengaja melihat seorang pemuda yang baru keluar dari tokoh bunga dengan setangkai bunga tulip putih yang tergenggam ditangannya, bunga tulip putih itu mempunyai hiasan yang sama dengan hiasan dari bunga yang selama ini ia terima. "mungkinkah?"tak ingin kehilangan pria itu, Sofi pun keluar dari bus itu dengan buru-buru. Ia melompat dari bus yang berjalan lirih saat itu karena ingin menurunkan dirinya sesaat setelah ia memintannya pada pengemudi bus. Al hasil ia terjatuh dengan keadaan berlutut dengan tangan kiri yang menyangga tubuhnya bersama kedua lututnya. Dengan tubuh yang penuh luka ia berlari mengejar mobil berwarna putih yang dinaiki oleh pria yang ia duga sebagai seseorang yang membantunya selama ini. "hey.. aku mohon hentikan mobilnya! Hey.. kau yang ada didalam mobil. Tolong hentikan mobilnya!"secepat apa pun ia berlari, sekeras apa pun ia memaksa dirinya untuk tetap berlari, tetap saja ia tak dapat mengejar mobil itu dan tak dapat melihat wajah pria itu dengan jelas. Tapi setidaknya ia bisa menghafal plat mobil pria itu. "oo.!"lontar Sofi yang terkejut saat beberapa tetes hujan membasahi tubuhnya. "kenapa harus hujan sekarang?"gumam Sofi berjalan cepat mencari tempat untuk berteduh sekaligus untuk mengobati luka yang berada dikedua lututnya dan telapak tangan kirinya. 'krinnggg...' terdengar suara ponselnya yang berada didalam tas, dan Sofi pun mencoba mencari dan mengangkat telfon yang tertera nama Liana disana.


"iya Liana"jawab Sofi.


"kau dimana? Kenapa kau belum datang? Sekarang aku berada ditempat kerjamu."tanya Liana terdengar begitu panik.


"aku terjebak hujan jadi mungkin aku akan sedikit terlambat"jawab Sofi menjawab semua pertanyaan Liana.


"kau dimana? Aku jemput ya!"

__ADS_1


"tidak perlu, aku naik bus saja"


"ya sudah kalau begitu"terdengar suara Liana begitu kecewa mungkin ia berfikir Sofi masih marah padanya.


"liana jangan tutup dulu telfonya!"pinta Sofi


"iya?"


"tadi waktu aku naik bus aku bertemu dengan tulip putih, aku berusaha untuk mengejarnya tapi aku kehilangannya"ucap Sofi menceritakan apa yang ia alami beberapa waktu yang lalu.


"apa dia orang yang kau kenal?"


"aku tidak tahu, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas"


"lalu kenapa kau bisa yakin kalau orang itu adalah tulip putih?"


"dia membawa setangkai tulip putih dengan hiasan yang sama"


"begitu ya"


"tapi aku mengingat plat mobilnya"


"benarkah? Syukurlah. nanti aku akan meminta arvin untuk mencari tahu! Siapa orang yang punya plat mobil itu."ucapnya terlihat begitu bersemangat.


"terima kasih"


"emm"angguk Liana walau tak dapat dilihat oleh Sofi. Dengan begitu keduanya pun memutus komunikasi mereka.

__ADS_1


Tak ingin membuang-buang waktu lagi Liana pun meminta Arvin untuk membantu sahabatnya Sofi untuk mencari seseorang. Awalnya memang tidak mau tapi lagi-lagi Liana dapat mengubah jawaban Arvin. Walau sedikit memohon dan memasang wajah memelas.


*** ***


__ADS_2