Love'S Feeling

Love'S Feeling
Seseorang dari masa lalu


__ADS_3

Terdengar suara pantulan bola dari luar. Dengan segera Liana membuka tirai kamarnya, dilihatnya Arvin yang sedang asik memainkan bola yang digenggamnya dengan keringat yang menggucur. 


"Kau sedang apa malam-malam seperti ini?" tanya Liana menghampiri Arvin. 


"Kau tidak lihat, aku sedang apa?" 


"Bukan itu maksudku, kenapa kau bermain basket semalam ini?" 


"Aku tidak bisa tidur" jawab Arvin.


"Apa ini karena kejadian tadi pagi?"


"Mungkin."


"Aku juga tidak dapat tidur karena memikirkan hal itu" Liana duduk di sebuah bangku tak jauh dari posisi Arvin saat ini berdiri. "Sudah berapa banyak kebohongan yang kita buat untuk menutupi ketidak mampuan kita untuk menerima? Dan berapa banyak lagi kebohongan yang akan kita lakukan untuk menutupi kebohongan kita yang sebelumnya?"


"Kau benar, mungkin kali ini kita bisa mengelak tapi aku tidak tahu yang kedua atau ketiga kalinya kita bisa mengelak atau tidak" ujar Arvin membenarkan penuturan Liana.


Liana tersenyum pada Arvin yang kini duduk disebelahnya. Didalam hati dia berucap, "tapi aku merasa senang karena aku semakin terjebak bersamamu."


"Kenapa kau tersenyum?"


"Tapi aku juga merasa takut, saat aku memikirkan pada akhirnya kita akan berpisah hingga waktu yang telah ditentukan" Senyuman manis itu seketika menghilang, hanya pandangan kesedihan yang tertinggal.


"Apa yang kau lihat? Apa aku terlihat tampan hari ini?" ujar Arvin mencoba mencairkan suasana.


"Dia mulai lagi" seketika tatapan cinta itu beralih menjadi sebuah perasaan Ilfell pada Arvin.


Liana merebut bola dari tangan Arvin, dan kemudian beranjak dari tempat duduknya.


"Hey.. Tuan percaya diri!" cetus Liana.

__ADS_1


"Apa, Taun percaya diri?"


"Ayo kita bertanding!" 


"Jadi kau menantangku?" Arvin mengartikan perkataan Liana, dan Liana hanya tersenyum simpul. "Baik aku terima tantanganmu" Arvin mengikuti tantangan Liana. 


"Tapi sebelum bermain, ayo membuat perjanjian! Yang kalah harus menuruti ucapan yang menang" taruhnya.


"Baik aku terima. Tapi jangan sekali-kali merengek padaku jika aku yang menang!" sombong Arvin


"Kalau soal ini jangan pernah meremehkanku" ucap Liana menatap tajam kearah mata Arvin dengan penuh percaya diri. 


Pertandingan pun dimulai dengan diawali dengan dilambungkannya bola dan dapat ditangkap oleh Arvin, Arvin mulai melakukan dribble dan dengan cekatan Liana merebut bola dan dimasukkannya ke dalam ring dengan mudah. MASUK! 


"Bagaimana masih meremehkan kemampuanku?" 


"Mungkin itu hanya keberuntunganmu saja, dan keberuntungan tidak datang untuk sekian kali. Jadi bersiap-siaplah untuk kalah!" 


Lagi-lagi Liana dapat memasukan bola kedalam ring, dan semua itu terus berlajut hingga waktu terlewat cukup lama dan Liana dapat mencetak sekor 26-14. sungguh angka yang cukup baik untuk mengalahkan Arvin. 


"Ahh..sial kenapa bisa seperti ini?" keluh Arvin yang telah mencium kekalahannya. 


"Tidak selamanya kecil itu lemah dan tidak selamanya juga besar itu kuat karena sesuatu yang berlebihan akan menjadi Boomerang bagi dirinya sendiri. Itu pelajaran pertama dariku catat baik-baik dikepalamu" tutur Liana. "Jadi apa kau akan menyerah sekarang?" 


"Dikamusku tidak ada kata menyerah, sebelum semua itu selesai pada waktunya aku akan tetap melalukannya hingga akhir" ungkap Arvin penuh dengan ketegasan. 


Pertandingan pun dilanjutkan walau waktu menunjukkan akan berakhirnya pertandingan sebentar lagi. Namun terlihat Arvin dengan penuh kesungguhan berharap akan memenangkan pertandingan. Karena tak ingin kalah, Arvin membuat rencana yang sangat merugikan Liana. 


Dalam permainan Arvin berusaha mendekati Liana, sehingga ruang gerak Liana menjadi terbatas. 


"Kenapa dia begitu dekat sekali, jangan sampai dia mendengar!" benak Liana karena hatinya mulai berdetak tak normal lagi. "Jika iya, dia akan menertawakanku" Liana begitu risih dengan perlakuan Arvin yang tak wajar sebagai lawan main, dan semua itu membuat Liana kehilangan focus terhadap permainannya sehingga bola dapat direbut dengan mudah oleh Arvin. 

__ADS_1


"Wooow.. yes" teriak Arvin kesenangan saat berhasil memasukan bola basket kedalam Ring 


"Sadarlah Liana.. kau tidak boleh terus- menerus seperti ini" Liana menatap Arvin dengan padangan kosong.


"Haii.." Arvin berusaha menyadarkan Liana dari lamunannya. "Ada apa denganmu? Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa sekarang jantungmu berdetak kencang karenaku?"ntebak Arvin asal-asalan. 


"Jangan terlalu percaya diri! Kalau kau akan mendapatkan perhatianku! Karena kau tidak mungkin menjadi kreteriaku" bohong Liana mengambil bola dari tangan Arvin. 


"Kelihatannya cerita ini semakin seru" lontar Arvin tertawa bangga telah mengetahui kelemahan Liana. 


Arvin semakin berlebihan sehingga Liana tidak dapat berkutik sama sekali. Salah satunya saat Arvin memantulkan bola kebelakang Liana dan diraihnya dengan tangan sembari mendekatkan wajahnya kearah wajah Liana, saking dekatnya Liana dapat merasakan hembusan nafas Arvin. Liana memejamkan matanya karena jantungnya berdetak semakin tak kauran saat Arvin menatap matanya begitu dekat dan Arvin hanya tersenyum simpul saat melihat reaksi Liana. Dan saat Liana membuka mata Arvin telah menambah pointnya lagi. 


"Ternyata kau terlihat manis saat dilihat sedekat ini" Arvin mendekatkan wajahnya kewajah Liana. 


"Apa yang kau lakukan? Jangan mendekat! kalau kau tidak mau mati sia-sia ditanganku?" Liana berusaha untuk menjauhkan wajahnya namun Arvin malah menarik tangan Liana dan disilangkan ya kebelakang tubuh Liana, Hingga keduanya benar-benar sangat dekat untuk beberapa detik.


"ha..ha..haah.." Arvin tertawa begitu puas melihat wajah Liana yang memerah. "Kau tahu wajahmu itu sangat merah seperti tomat! Lucu sekali" Arvin tertawa semakin keras. 


"Apanya yang lucu? Ini sama sekali tidak lucu, dasar pria cabul" Liana ingin membalas perbuatan Arvin dengan menginjak kakinya tapi meleset. 


"Tidak untuk keempat kalinya" Arvin dapat mengeles dari injakan Liana. 


"Dasar kau..." Liana menghentikan ucapannya saat mendengar suara kelakson mobil terdengar ditelinganya. 


Dari dalam mobil turun seorang gadis yang berkulit putih, tinggi, berambut hitam panjang tergerai begitu indah, dan mempunyai mata yang sangat indah. 


"Wahh... cantik sekali gadis itu seperti model. tapi kenapa dia datang kerumah, malam-malam seperti ini?" batin Liana menganalisa. 


"Kakak.." hal yang terucap untuk pertama kalinya terlontar dari bibir sang Gadis cantik nan tinggi itu. 


"Alya" ucap Arvin mengenali Gadis cantik itu. Dan seketika padangan Liana berpaling memandang Arvin, sepertinya ada yang tidak diketahui oleh Liana tentang Gadis itu.

__ADS_1


***


__ADS_2