
Disepanjang perjalanan pulang Liana lebih banyak diam dan tak menatap Arvin yang duduk disebelahnya. Sedangkan Arvin mengoceh tak jelas yang membuat suasana hati Liana semakin memburuk.
"Sepertinya aku tidak pernah melihatmu mengenakan dress itu."
"Baju ini dihadiahkan oleh Kak Alya hari ini" jawab Liana sesuai dengan kenyataannya.
"Seperti dugaanku. mana mungkin seleramu sebagus ini"cibir Arvin.
"Seharusnya kau belajar dari Alya, agar kau terlihat seperti wanita yang sesungguhnya" anjur Arvin.
"Apa selama ini kau tidak menganggap ku sebagai seorang wanita?"
"Mana mungkin?". "Kau makan begitu rakus meski duduk dengan seorang pria. Kau bahkan mendumal, dan berteriak tanpa memperhatikan situasinya" ungkap Arvin.
"Begitulah? Jadi aku tidak dapat dibandingkan dengan Kak Alya?" tanya Liana.
"Tentu saja. Alya itu seorang model luar negeri, makanya tubunya tinggi dan badannya seksi. Dia juga sangat cantik, dia sangat pintar, dan paling penting dia sangat lembut seperti wanita kebanyakan" puji Arvin pada Alya. "Dan lihat dirimu! Kau sama sekali tidak tinggi, tidak pintar, makanmu banyak, dan tidak memiliki sisi lembut" Rinci Arvin membandingkan.
"Aku tahu itu. Jadi tidak perlu sejelas itu."
Ada nada kecewa pada ucapan Liana, dan Arvin dapat merasakan itu. "tapi wajahmu tidak jelek, kau mempunyai mata yang sangat cantik" ungkap Arvin, seketika sikapnya berubah menjadi canggung saat Liana menatap kearahnya.
"Kenapa? Jangan bilang kau merasa puas? Hey dari sekian banyak keburukan, apa kau sudah merasa puas dengan satu kelebihan saja?" cerocos Arvin menutupi kegugupannya. "Oh ya ampun..Tidak bisa dipercaya" Arvin tersenyum sinis.
"Iya aku tahu".
Liana memalingkan wajahnya agar Arvin tidak melihat betapa senangnya dirinya saat dipuji.
Keesokan harinya Liana cengar-cengir sendiri ketika mengingat perkataan Arvin tadi malam.
"Liana, kau masih baik-baik sajakan?" tanya Anita khawatir dengan keadaan sahabatnya.
"Jangan bicara sembarangan!" tegur Sofi.
"Habis, Liana senyum-senyum sendiri."
"Hey..! Jika kalian berdua laki-laki, apa yang kalian suka dan tidak suka dariku?" tanya Liana membuka pembicaraan.
__ADS_1
"APA?" heran keduanya berbarengan.
"Bisa tidak, kalian hanya menjawab saja! tanpa harus memasang ekspresi wajah seperti itu" pinta Liana membuat kedua sahabatnya terdiam.
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Sofi penasaran.
"Sudah jawab saja!"
"Jika aku seorang laki-laki, aku tidak menyukai segalanya darimu" cetus Anita, " tidak cukup tinggi, memiliki lemak disana-sini, dan rambutmu itu!" Seru Anita, "bisakah kau merubah gayanya? Aku sangat bosan melihat rambut yang selalu dikuncir" omel Anita.
"aku menguncinya bukan tanpa sebab, ini iklim tropis jadi jika aku menggerai rambut panjangku akan terasa gerah" Belanya.
"Lalu apa yang kau suka dariku?" tanya Liana melanjutkan.
"Tidak ada" jawab Anita singkat dengan nada datar.
"ckk! Kau ini. Lihat baik-baik! Mungkin kau menyukai mataku?"
"emm?" Anita mulai mengamati wajah Liana dengan teliti.
"Benarkan" Liana begitu senang dengan ucapan Rendi, sesuai dengan yang diucapkan oleh Arvin kemarin malam. "Lalu apa lagi yang kau suka dariku?" tanya Liana tak sabar.
"Bibirmu juga lumayan bagus, tapi sayang terlalu kecil jadi tidak puas kalau berciuman denganmu" canda Rendi.
"Dasar otak cabul" cibir Liana kesal.
"Ya maaf! Kau sih bertanya hal yang tidak sesuai dengan gayamu. Sejak kapan kau memperdulikan penampilanmu?"
"Memang apa salahnya? Aku juga ingin seperti gadis-gadis cantik diluar sana, yang peduli dengan penampilan mereka" ucap Liana mencari alasan.
"Liana" Anita menatap lekat wajah Liana yang berada disisinya.
"Apa?" tanya Liana yang saat itu terkejut saat wajah Anita begitu dekat dengan wajahnya.
"Kau sedang jatuh cinta ya?" tangkap Anita atas sikap aneh Liana.
"Apa?" Liana langsung shock saat mendengar perkataan Anita. "A-apa yang kau bicarakan? A-aku sama sekali tidak jatuh cinta" gagap Liana.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau bicara segugup itu? A a a a seperti orang gagap saja."
"Sudah jangan pojokan Liana!" pinta Sofi sedikit menenangkan hati Liana walau cuma sesaat.
"Tapi menurutku, kalau seandainya aku jadi pria aku ingin punya istri yang pintar masak. Agar aku bisa memakan masakannya yang enak" sindir Sofi ikut-ikutan. "Kalau kau Rendi, apa yang kau suka dari perempuan? yang pantas kau jadikan seorang istri."
"Kalau aku cukup dengan dia perhatian padaku, dan dia mau membagi senyum dan kesedihannya hanya untukku" jawab Rendi.
"Anita?" lanjut Sofi.
"Kalau aku jadi pria mungkin aku akan memilih wanita yang cantik dan mempunyai body yang bagus" tambah Anita. "Dan sepertinya ada yang perlu olahraga keras, untuk mehilangkan beberapa lemak ditubuhnya yang mulai terlihat. Kau harus banyak-banyak berolahraga. Meski badanmu sudah ideal tapi kau juga harus membentuk badanmu agar terlihat bagus" arah Anita. "Kau itu sangat cantik Liana hanya saja kau tidak merawat tubuhmu dengan baik" Cerocos Anita.
"Apa sekarang kalian sedang bersekongkol untuk memojokkanku?" tanya Liana begitu geram.
"Kami tidak bersekongkol untuk memojokanmu, kami hanya memberikan mu sebuah nasehat" jawab Sofi.
"Sudah aku katakan, kau ini cantik. Dan itulah kenyataannya" cetus Anita. "Bukan hanya wajah, hatimu juga. Karena itu Arvin memiliki cinta yang begitu besar kepadamu."
Liana terdiam.
"Jadi sekarang tergantung kau saja. Bagaimana menyikapinya". "Jadilah mempesona! Dan bertarunglah untuk cintamu." tutur Anita.
"Yang dikatakan Anita itu benar. Jadi berjuanglah untuk mendapat hati Arvin!" tambah Sofi menyemangati. Sedangkan Liana hanya diam dan sepertinya ia terlihat berpikir begitu keras. Dan sesekali menghela nafas panjang.
Sampai akhirnya ia mendapat telfon dari Pak Imam sopir pribadi Keluarga Arvin yang telah menunggunya didepan kampus.
"Memang ada apa dengan nenek? Kenapa mendadak aku harus kesana? Apa terjadi sesuatu padanya?" Brondong Liana terlihat begitu cemas sesaat setelah menghampiri Pak Imam didepan kampusnya.
"Nenek Tuan Arvin sekarang ada di rumah sakit, keadaannya kritis" jawab Pak Imam.
"Apa?". "Sekarang dimana Arvin?"
"Tuan Arvin sudah berada disana bersama Ibu dan Ayahnya."
"Ya sudah, kita berangkat sekarang Pak!"
***
__ADS_1