Love'S Feeling

Love'S Feeling
Dipenghujung hari


__ADS_3

Satu hari terlewati begitu sempurna, tidak ada pertengkaran yang berarti. Hanya ada canda tawa dan kehangatan.


Senyum tak pernah lepas dari bibir Liana, membuatnya hatinya terbalut rasa ketakutan.


"Ada apa?" Tanya Arvin yang menyadari Liana selalu menatap kearahnya, membuat dirinya sedikit hilang konsentrasi menyetir karena terganggu atas pandangan tak biasa itu.


"Bukankah segalanya berjalan terlalu mulus akhir-akhir ini? Bahkan kita tidak pernah bertengkar," curah Liana menjelaskan akan ketakutannya.


"Apa maksudmu bukannya itu sangat bagus? kenapa harus dipertanyakan?"


"Iya aku tahu itu hal yang sangat baik, hanya saja aku merasa takut akan semua itu," Liana menghentikan ucapannya. Ia seperti ragu untuk katakan resah dihatinya.


"Aku takut balasan dari kebahagiaan ini sangat menyakitkan. Tidak ada bahagia yang seutuhnya di dunia ini, pasti suatu waktu akan datang kesedihan, itulah yang sangat menggangu ku saat ini." ujar Liana yang hanya berani berucap di hati saja.


"Jika kesedihan itu tentangmu, aku harus bagaimana menghadapinya?".


"Hey kenapa kau sekarang diam?" Tanya Arvin yang merasa heran terhadap Liana yang tiba-tiba menghentikan ucapannya.


"Bukan apa-apa. Aku hanya merasa aneh saja karena kau terlalu baik padaku beberapa hari ini, hanya itu." Liana menutupi segala keresahannya.


"Karena aku ingin menebus segala kesalahanku di masa lalu. Akan aku ..." Arvin seketika, Ia tak melanjutkan ucapannya, saat Ia melihat seseorang diluar gerbang rumahnya.


"Alya!" seru Arvin ketika Ia meyakini jika seorang itu adalah Alya.


Liana langsung mencari keberadaan Alya dengan mengandalkan pandangan Arvin.


Iya itu memang Alya yang berdiri di sisi mobilnya dengan satu tangan menghalangi wajahnya akan silau lampu jalan mobil Arvin.


Arvin turun dari mobil tuk menghampiri Alya yang sedari tadi menunggu kedatangannya, "Alya kau ada disini?" tanya Arvin heran.


Sedangkan Liana hanya berada berdiri di sisi mobi Arvin, Ia takut mendengar ucapan keduanya yang terlalu intim sebagai sepasang kekasih.


"Bisakah kita bicara?" ucap Alya terlihat ragu.


"Katakanlah!"


"Tidak disini. Bisakah kita pergi ke suatu tempat? Aku ingin sampaikan beberapa hal pada Kakak," pinta Alya seperti memohon.


Arvin berpikir dia juga ingin menyampaikan sesuatu pada Alya tentang dirinya yang tidak ingin meninggalkan Liana.


Karena itulah Ia menyetujui permintaan Alya, "Baiklah, kita bertemu di cafe dekat sini," setuju Arvin.


"Terima kasih," Alya pergi dengan membawa mobil pribadinya, sedangkan Arvin masih ingin meminta izin pada Liana terlebih dahulu.


"Aku ingin pergi keluar sebentar, kau masuklah terlebih dahulu!" pinta Arvin.


"Apa Kau akan pergi menemui Kak Alya?"

__ADS_1


"Iya aku memiliki janji untuk bertemu dengannya," jawab Arvin.


"Jika aku katakan kau tidak boleh pergi, Apa kau tetap akan pergi menemuinya?" tanya Liana memberi pilihan.


Liana hanya memiliki pemikiran buruk, yang membuat dirinya merasa khawatir jika sikap Arvin akan berubah padanya lagi setelah bertemu dengan Alya.


"Memangnya aku ingin kemana? Aku hanya pergi sebentar saja. Aku berjanji akan kembali secepat mungkin," ucap Arvin bertutur lembut.


"Jika ini adalah kesempatan terakhirmu! Apa kau tetap akan pergi?" tanya Liana sekali lagi, mempertegas kedudukannya dihati Arvin.


"Kau ini kenapa? Aku hanya pergi sebentar, dan akan kembali," Yakinkan Arvin pada Liana.


"Jika kau pergi, aku akan sepenuhnya melepaskan mu," lontar Liana kini hanya dikatakan dihati saja.


"Aku akan pergi. Kau cepatlah masuk! Udara malam sangatlah dingin," belai lembut rambut Liana sebelum dirinya benar-benar pergi meninggalkan Liana.


"Tidak boleh. Aku mohon jangan pergi!" larang Liana yang hanya dapat dikatakan ketika Arvin telah jauh pergi dari pandangannya.


"Bahkan ancaman ku tak mampu menahan mu pergi dari sisiku. Sebenarnya adakah aku dihatimu?" ucap Liana menangis sejadi-jadinya.


***


Dengan ditemani dua cangkir kopi hangat keduanya mulai perbincangan yang cukup serius.


"Alya maafkan aku! Aku sangat mencintai Liana." Tegas Arvin to the point.


"cihh ... Dasar tidak sabaran." Sinis Alya.


"Aku hanya ..." ingin memberi sebuah jawaban atas pertanyaan yang telah memojokkan dirinya, namun pasti itu terdengar seperti sebuah alasan saja.


"Hanya apa?". "Hanya ingin cepat-cepat mencampakan diriku? atau hanya ingin segera berlari kepelukkan Liana?" sindir Alya sekali lagi.


"Chkk ... kau sangat mengecewakan ku!" Seru Alya bersandar pada sandaran kursi yang didudukinya.


"Maafkan aku!" sesal Arvin tertunduk dengan wajah bersalah.


"Tidak masalah," kini Alya terlihat tersenyum lega.


"Aku senang kini kakak bisa jujur dengan hati Kakak" ujar Alya yang kini mendapat tatapan dari Arvin.


"Sebenarnya aku mengetahuinya sedari awal jika hati kakak bukanlah untukku, melainkan hanya untuk Liana. Tapi ego membuatku buta akan hal itu," ungkap Alya yang masih penuh dengan senyum namun juga meneteskan air mata kepedihan.


"Dan seharusnya bukan kakak yang harus minta maaf. Tapi akulah yang seharusnya meminta maaf padamu, terutama pada Liana. Aku sudah sangat bersalah pada kalian berdua, maafkan Aku!" sesal Alya.


"Karena itu untuk menebus kesalahanku, aku akan pergi jauh dari hidup kalian berdua. Itu cara termudah untuk menghindar dari kenyataan," Alya kini merasa lega karena telah melepaskan semua beban yang selama ini dirinya emban.


Digenggamnya tangan Alya yang berada diatas meja tuk menenangkan hati Alya, karena Arvin menyadari sebagian besar luka itu terbentuk karena dirinya.

__ADS_1


"Lalu apa rencana mu kedepannya? Kau ingin pergi kemana?" Meski keduanya telah mengakhiri hubungan mereka, tapi bagaimanapun Alya pernah menjadi seorang yang paling penting bagi kehidupan Arvin. Karena itu, tidak akan salah jika Arvin mengkhawatirkan Alya.


"Aku akan melanjutkan pendidikan ku ke Paris, aku akan memperjuangkan impian ku menjadi seorang model ternama." Jawab Alya menghilangkan rasa cemas Arvin padanya.


"syukurlah jika seperti itu!" lega Arvin.


"Berbaik hatilah pada Liana! Jangan menjadi pria yang terlalu kaku, sekali-kali gadis juga butuh kata-kata manis untuk mempererat hubungan," nasehat Alya yang kini berperan sebagai mantan yang menjadi teman baik.


"Baiklah akan aku ingat nasehatmu itu," terima Arvin.


"Jaga dia! Jangan sampai kehilangannya! karena jika itu sampai terjadi, mungkin kakak akan menyesalinya disisa umurmu".


"Aku katakan ini, karena aku yakin Liana lah gadis yang sangat tepat untukmu," Alya memberi wejangan pada Arvin sebelum dirinya pergi untuk waktu yang sangat lama. dan mungkin jika takdir tidak mengharapkan, mungkin ini adalah pertemuan terakhir mereka.


"Terima kasih atas nasehatmu!".


"Kapan kau akan pergi?" Tanya Arvin lebih lanjut.


"Bulan depan, karena aku harus mengurus beberapa hal disini sebelum pergi," Jawab Alya.


"Apa perlu aku antar?" tawar Arvin.


"Tidak perlu. Jika aku melihat Kakak di bandara, mungkin aku tidak akan rela melepaskan Kakak".


"Jadi biarkan aku pergi dengan damai tanpa air mata," lontar Alya mengusap beberapa tetes air mata yang berani keluar meski tak diharapkan.


"Baiklah, hati-hati dijalan! Jaga makananmu! Jangan sampai sakit! Hangat terlalu ketat berdiet! Jika kau bertambah berat tubuhmu memang kenapa? Itu tidak akan berpengaruh untukmu, karena bagiku kau adalah model yang tercantik yang pernah aku temui di dunia ini," Cerocos Arvin membuat hati Alya meleleh.


"Hiks ... hiks ... Kakak kenapa kau begitu sangat perhatian setelah mencampakkan ku? kenapa tidak sedari dulu kau melakukan ini, saat kita berpacaran dulu? Ini sangat tidak adil" rengek Alya yang bermaksud hanya sebuah guyonan namun juga menjurus kesebuah sindiran.


Perpisahan itu diakhiri dengan senyuman yang menandakan jika mereka berpisah secara baik-baik.


***


Arvin mencoba untuk pulang secepat mungkin untuk mengatakan jika dirinya sangat mencintai Liana. Namun niat itu diurungkan ketika dirinya melihat Liana yang tertidur pulas diatas kasurnya.


"Hari ini aku sangat bahagia, akhirnya aku bisa melepaskan segala beban yang terus membelenggu ku. Kini aku bisa bebas memilih pilihan sesuai dengan kata hatiku" curah Arvin.


Meski Ia tahu jika Liana tidak dapat mendengar segala ceritanya, tapi Ia lakukan itu untuk melepas beberapa kesenangan hatinya, karena sepertinya ruang hatinya terlalu penuh untuk menyimpannya sendiri.


Dikecup lembut kening Liana lalu berucap, "Kini aku tinggal menanti persetujuan darimu, dan setelah itu aku akan bebas untuk mencintai," lirih Arvin berucap dengan senyum dibibirnya.


Dikecupnya sekali lagi kening Liana dan mengucap salam, "Selamat malam! Mimpi yang indah".


Arvin beranjak pergi meninggalkan Liana yang berhasil menipu Arvin untuk kedua kalinya.


Iya Liana hanya berpura-pura saja, sebenarnya Liana masih tersadar saat itu. Ia mendengar segala yang diucapkan Arvin dan juga dapat merasakan kecupan hangat Arvin.

__ADS_1


Tapi amarah, dan kekecewaan membutakan pikiran Liana.


***


__ADS_2