
Suasana di dalam mobil terasa begitu canggung antara Liana yang duduk dibelakang dan Arvin yang duduk di depan tuk menyetir mobilnya. Beberapa kali pandangan mata mereka saling bertemu di sebuah kaca spion atas. "Dia menatapku?" benak Liana secara cepat memalingkan pandangannya kearah luar kaca jendela. "Apa saat ini dia sedang memikirkan ku?" terka Liana.
Di satu saat yang sama Alya yang tidak mengetahui apa pun, terlihat ia memanfaatkan beberapa kesempatan itu untuk mendekatkan hubungannya kembali. Dia membelai rambut Avin seperti yang biasa dia lakukan saat mereka berpacaran.
"Apa kau merasakan khawatir? Saat aku tidak menghubungimu?" Tanyanya.
"Kau sudah dewasa, untuk apa aku harus mengkhawatirkanmu?"
"Kakak memang tidak berubah masih sekali" helanya. "Tetap saja dingin, padahal kita sudah pacaran selama dua tahun. Kenapa Kakak masih saja seperti ini? Tidak bisa diharapkan sama sekali" keluh Alya melihat tingkah Arvin yang tidak mau berubah, tidak romantis.
"Liana sadarlah! Mana mungkin Beruang kutub sepertinya akan memikirkanmu? Untuk memikirkan Kekasihnya saja tak ingin." Batin Liana yang mulai bangun dari khayalan indahnya.
"Alya apa kau tidak merasa curiga kepada Kami berdua karena tinggal satu rumah?" tanya Arvin yang tidak mengetahui Liana sudah membuat semua sekenario tentang kebohongan ini tanpa sepengetahuannya.
"Aku sudah tahu hubungan antara kalian berdua, kalian saudara sepupu kan?"
"Siapa yang bilang?"
"Liana, iyakan Liana?"
"ii.iya" jawab Liana tidak begitu meyakinkan. Sejenak Arvin menatap Liana dari kaca spion atas mobil. Dilihatnya bibir Liana bergerak seperti berucap, 'Maafkan aku!'.
"Yang dikatakan Liana itu semuanya kebohongan. Aku dan Liana bukan saudara sepupu."
"Arvin berhenti! Apa yang kau lakukan?" cegah Liana yang merasakan Arvin akan berkata jujur.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dariku?" tanya Alya yang merasa janggal melihat sikap keduanya.
"Kami adalah Suami Istri" bongkar Arvin.
"Arvin!"
"Apa?" Seru keduanya hampir bersamaan.
"Yakk.. apa kau gila ya?" pekik Liana tak habis pikir.
"Diamlah! Aku tidak mau ada rahasia dan kebohongan lagi" ujar Arvin.
"Kakak hanya bercanda kan? Yang dikatakan Kakak itu semuanya hanya kebohongan kan? Ayo bilang kalau itu cuma kebohongan!" Seketika wajah yang penuh sinar kebahagiaan itu sirna dan hanya terlihat raut wajah yang sangat menyedihkan.
"Tidak. Semua yang aku katakan adalah kebenaran." Pertegas Arvin.
"Tidak perlu, aku tidak butuh penjelasan dari gadis pembohong sepertimu!" kecam Alya.
"Tapi.."
"Hentikan mobilnya!" pinta Alya seketika.
"Kak Alya kau salah paham."
"Aku bilang hentikan mobilnya!" Alya berteriak begitu keras dan seketika Arvin menepikan mobilnya, dan dihentikan sesuai permintaan dari Alya.
__ADS_1
Alya keluar dari mobil dengan beruraian air mata. Ia berlari tanpa arah, yang ia inginkan saat ini untuk sejauh mungkin dari kedua manusia yang telah membohonginya. Sedangkan di dalam mobil itu sendiri terjadi keributan. "Ada apa denganmu sebenarnya? Kenapa kau sulit sekali untuk dimengerti? Aku kira kau sudah berubah menjadi Arvin yang lebih baik tapi aku salah. Kau tetap saja kau, tidak akan pernah bisa berubah. kau yang dingin dan arrogant tidak akan pernah bisa berubah" Liana keluar dari mobil lalu menutup pintu mobil dengan kerasnya.
"AHHHHHKKHH...." teriak Arvin sembari memukul setir mobil dengan begitu keras.
"Kak Alya tunggu! Aku mohon dengarkan penjelasan kami dulu!" pinta Liana yang dapat menyusul Alya.
"Untuk apa? Apa untuk mendengarkan semua bualanmu?" ucap sinis Alya. "Aku mohon pergi dariku! Aku sudah menderita dengan semua ini, jangan tambahi dengan kebohonganmu!" Alya memalingkan muka dan melangkah menjauhi Liana.
"Memang semua itu benar, Kami memang menikah tapi itu hanya sementara" teriak Liana menjelaskan semuanya tanpa perduli Alya mau mendengarnya atau tidak. "Kami mempunyai kesepekat. Jika dalam jangka waktu satu tahun kami akan bercerai" Sendat Liana yang juga merasakan sakitnya. Tapi ia tegarkan hatinya saat ia berpikir, 'hubunganku tak berhasil dengannya, setidaknya tidak ada hubungan lain yang terputus'.
"Jadi aku mohon bersabarlah!" Pinta Liana. Alya menghentikan langkah kakinya dan mencoba untuk mendengarkan ucapan Liana tanpa menghadap kelawan bicaranya. "Orang tua kami bersepakat untuk menjodohkan kami berdua. Awalnya kami menolak tapi karena ada satu hal yang mengharuskan kami untuk menerima perjodohan itu, dan tanpa sepengetahuan mereka kami membuat perjanjian." perlahan suara Liana menjadi pelan bersamaan dengan dirinya yang mulai mendekat kearah Alya. "Selama satu tahun Kami akan berpura-pura untuk menjadi pasangan Suami-istri didepan keluarga Kami" tutur Liana menjelaskan perkara yang terjadi diantara dirinya dan Arvin.
"Pembohong" Alya mulai membalikan wajahnya dan mau melihat wajah Liana lagi yang kini berada didepannya.
"Tidak, itu bukan kebohongan. Itulah yang sebenarnya terjadi. Jadi percayalah!" Liana mencoba untuk meyakinkan Alya. "Kalau kau belum yakin padaku, akan aku tunjukan buktinya" tambah Liana.
"Apa yang dikatakan Liana itu semuanya benar?" tanya Alya pada Arvin yang berdiri tak jauh dari lokasinya saat ini. Sedangkan Liana yang berada didepan Arvin tidak mengetahui akan kehadirannya.
"Apa ini yang kau harapkan?" tanya Arvin hanya dihati saja.
Sesaat semuanya terdiam membisu tidak ada kata satupun, sampai akhirnya Arvin menjawab dengan anggukan yang membenarkan ucapan Liana, "ehm".
Tanpa ingin membuang waktu lebih lama lagi Alya berlari melewati Liana dan memeluk erat tubuh Arvin, tapi entah mengapa Arvin membalas dengan pelukan yang tak berarti. Arvin menatap kosong kearah mata Liana.
Yang beberapa saat mereka bertemu pandang saat Liana memutar wajahnya. Mata keduanya terpadu dalam kebisuan sebuah kenyataan hati.
__ADS_1
Entah mengapa hati Arvin mengatakan semua ini salah. Sedangkan hati Liana tersayat begitu sakit saat melihat kemesraan itu. Seketika Liana memalingkan wajahnya seiring dengan air mata yang menetes. Dicengkeramnya erat dada yang terasa sangat sesak. "Akk-haa" Liana mencoba bernafas panjang tuk kurangi kesaktiannya. "Tidak apa-apa Liana! Segalanya yang kau lakukan sangat benar" motivasi dirinya sendiri, meski hal itu tak menghilangkan rasa sakit dihatinya.