Love'S Feeling

Love'S Feeling
Kejutan kecil


__ADS_3

Bola mata yang tak pernah beralih terpaku pada satu pandangan, jemari yang tengah sibuk memperbesar dan memperkecil ukuran gambar, dan senyum yang tak pernah hilang dari bibir Liana. Disepanjang perjalanan Liana hanya menatap layar ponselnya yang terdapat gambar dirinya dengan Arvin yang beberapa waktu yang lalu mereka abadikan.


"Apa bibirmu tidak lelah dibuat tersenyum seperti itu sejak tadi?" tanya Arvin yang kini tengah fokus untuk mengendarai mobilnya.


"Tidak sama sekali" jawab Liana lugas.


"Memang apa yang lucu dari foto itu?"


"Bukan foto ini yang membuatku tersenyum ataupun tertawa" beberapa detik keduanya saling menatap. Dengan senyuman pahit Liana berucap, "aku mentertawakan takdir kita. sungguh lucu jika diingat-ingat kembali" Liana tertawa kecil sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Aku istrimu tapi secara teknis aku hanya temanmu" secara tiba-tiba wajah Arvin berubah tak senang. "Aku bukan kekasihmu tapi aku berkencan denganmu hari ini. Bukankah itu sangat menggelikan?"


"Kau benar. Kita seperti mempermaikan takdir, dan membuat sekenario kehidupan kita sendiri" setuju Arvin membenarkan ucapan Liana.


"Apa takdir akan mengutuk kita?"


"Jika itu terjadi. Aku akan menanggungnya sendiri" jawab Arvin menatap Liana sesaat, "jadi hiduplah bahagia setelah ini!".


Liana diam, seketika jantung Liana berdegup tidak normal. Ia merasakan ada rasa aneh yang mulai muncul saat ia berada disisi Arvin. perasaan aman, nyaman, dan ia mulai bergantung pada Arvin.


"Arvin apa kau tidak salah jalan? Aku pikir kita akan pulang?" tanya Liana memastikan saat memperhatikan jalan ia yakin jika jalan yang diambil Arvin salah.


"Kita kerumah Ayah dan Ibu terlebih dahulu" ujar Arvin.


"Kenapa?" tanya Liana yang tak biasanya Arvin pergi kerumah orangtuanya tanpa ada urusan yang pasti.


"Ayah ingin kita kesana, sepertinya beliau ingin membicarakan sesuatu pada kita. Karena itu aku menunda makan malam kita karena Ayah memanggil kita berdua" terang Arvin.


"Benarkah?" angguk Arvin penuh keyakinan. "Memang apa yang akan dibicarakan ayah? Sampai menyuruh kita datang malam-malam seperti ini."

__ADS_1


"Aku juga kurang tahu pastinya" jawab Arvin tak pasti.


Tak lama mobil yang ditumpangi Arvin dan Liana telah terpakir dihalaman rumah orangtua Liana. "Ayo cepat masuk! Ayah sudah menunggu."


"Ehm" angguk Liana berjalan beriringan dengan Arvin, sedangkan Arvin yang langkahnya cukup lebar, ia mencoba mengurangi jarak langkahnya tuk samakan saat berjalan dengan Liana.


Liana membuka pintu rumah yang tertutup rapat dari luar, namun yang didapati hanya kegelapan dan keheningan disana. "Kenapa rumahnya gelap? Apa listriknya mati?" tanya pada dirinya sendiri sembari meraba-raba apa ada sesuatu yang dapat membantu penglihatannya.


Tiba-tiba lampu menyala dan ruangan terang kembali. "KEJUTAAN..." suara serempak dari para keluarga dan sahabat Liana yang keluar dari persembunyiannya. Dengan memakai beberapa atribut pesta ulang tahun mereka menghampiri Liana yang masih berdiri ditempat karena masih tak mempercayai apa yang terjadi saat ini. Dengan dipimpin Dafina yang berada didepan membawa kue tart dan lilin yang saat ini menyala, mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Liana.


"Ya ampun" Liana merasa terharu diberi kejutan ulang tahun. "Kalian semuanya ada disini?"


"Kakak selamat ulang tahun!" ucap selamat dari Dafina


"Liana, selamat ulang tahun"


"Ibu do'akan semoga cepat dapat momongan".


Ucapan selamat dan do'a terus menerus diterima oleh Liana. Dan dia hanya bisa ucapkan, "Terima kasih" atas segala usaha mereka tuk senangkan dirinya.


"Ucapan selamatnya kan sudah, jadi sekarang waktunya potong kue. Aku tidak sabar mencicipinya, habis cacing diperutku sudah demo minta kue" canda Dafina menambah tawa diruangan itu. Semuanya berkumpul untuk menyaksikan Liana yang tahap demi tahap menjalani ritual ulang tahunnya dari meniup lilin sampai memotong kue dengan diiringi nyanyian yang mereka persembahkan untuk Liana.


"Ini untukmu!"potongan pertama langsung diberikan Liana pada Arvin. "Terima kasih untuk hari ini" tulus Liana, dan disambut senyuman hangat oleh Arvin berserta anggukan pelan.


"Kok cuma terima kasih saja? cium dong!" pinta Dafina


"Dafina" tegur ibu

__ADS_1


"tidak apa-apakan bu? lagi pula tidak dosa juga" bela dirinya sendiri.


"Eh.. sebelum berciuman ayah mau mengabadikanya" Ayah ikut-ikutan.


"Ayah!" protes Liana.


"Tunggu sebentar!" Ayah Liana bergegas mengambil kamera yang tersimpan di laci ruang tengah.


"Cium...cium..cium..!" semua bersorak membenarkan pendapat Dafina.


"Tidak perlu seperti itu, itu terlalu berlebihan" kelak Liana. "Ucapan terima kasih, aku rasa sudah cukup."


Tak ada awalan atau pemberitahuan Arvin langsung menggecup lembut pipi Liana yang kini hanya terdiam tak bergerak bukan karena terkejut melainkan ada sesuatu yang dirasakannya yang terasa aneh.


"Maafkan aku, aku tidak bisa menolak permintaan mereka" ujar lirih Arvin yang hanya bisa didengar oleh Liana karena yang lainnya sibuk dengan permintaan mereka diwujudkan lagi.


"Balas ciumannya!" pinta Ayah


"Iya balas!" tambah Rendi


"Ayolah Liana!".


Karena permintaan semuanya, Arvin pun menyerah untuk kedua kalinya, ia membungkukkan tubuh jangkungnya agar dapat dijangkau oleh Liana. Liana pun mencium pipi Arvin secepat kilat, dengan agak menjijitkan kakinya. Semuanya bertawa kegirangan karena permintaan mereka dipenuhi. Namun tidak untuk Arvin dan Liana dengan kejadian itu membuat kelakuan keduannya menjadi kikuk. Hanya bisa melirik saat mereka ingin melihat satu sama lain.


"Kenapa hari ini terasa panas sekali? pipiku terasa terbakar" benak Liana mencoba mengatur nafasnya.


*** ***

__ADS_1


__ADS_2