Love'S Feeling

Love'S Feeling
Hari-hari bersama


__ADS_3

Liana terbangun dipagi ini dengan wajah penuh senyuman. Wajah merona merah saat mengingat kembali masa indah dimalam kemarin.


"Bukankah dengan seperti ini hubungan kami telah maju satu langkah kedepan?" gumam Liana masih tak yakin dengan jika ini benar-benar terjadi.


Mungkin saja malam itu otak Arvin sedang tidak berfungsi dengan baik, dan sekarang otaknya kembali normal. Bukankah kalau seperti itu segala yang terjadi tidak ada gunanya?


Liana bergegas turun dari ranjang, dengan segala dugaan-dugaan buruknya Ia mendatangi Arvin yang masih tertidur pulas di kasur empuknya.


"Haruskah aku bertanya padanya?" benak Liana bertanya pada dirinya sendiri sembari berjalan menghampiri tempat tidur Arvin.


"Tapi apa yang akan aku tanyakan padanya? Aku tak seberani itu, hingga aku bertanya langsung padanya," Liana berbalik tuk melangkah beberapa untuk pergi.


Namun langkahnya kembali goyah dengan pertimbangan yang masih belum dapat ia putuskan, "tapi jika aku tidak bertanya sekarang, bagaimana aku menetapkan sikapku padanya?" Liana berjalan kembali mendekat ke arah ranjang.


Ingin meraih tubuh Arvin, berniat untuk membangunkannya dari tidur pulasnya tapi tetap saja Liana tidak berani.


"Nanti saja aku pikirkan, sambil menetapkan hatiku," tunda Liana akan niatnya yang setengah-setengah.


Liana berbalik. Kini benar-benar untuk pergi dari sana, namun langkah itu dicegah.


Jemari Liana digenggam oleh Arvin dan sedetik kemudian ditariknya hingga Liana yang tak memiliki persiapan untuk ketahanan tubuhnya dengan mudah terjatuh diatas tubuh Arvin dengan posisi terlentang.


"Kau! Haruskah kau berjalan mondar-mandir dihadapanku sepagi ini? itu sangat menggangu ku," lontar Arvin yang tak membiarkan Liana bebas dari posisi yang tidak mengenakan itu.


"Maaf! Apa aku mengusik tidurmu?" sesal Liana.


"Tentu saja, itu sangat menggangu ku" kesal Arvin masih dengan nada lembutnya.


"Apa yang membawamu datang kemari? Apa sesuatu sedang mengusik dirimu?" brondong Arvin seperti sedang mengintrogasi seorang pelaku kejahatan.


"Bukan apa-apa, hanya saja ..."


"Hanya saja apa?" potong Arvin yang tak sabar menanti ucapan Liana yang terlalu bertele-tele.


"Ucapanmu tadi malam, apakah kau serius mengatakan nya? atau hanya pada malam itu saja, dan ketika pagi menjelang ucapan itu sudah tidak berlaku lagi,"


"Menurutmu?" goda Arvin.


"Kenapa kau tanyakan lagi padaku? Mana aku tahu isi hatimu?" Wajah Liana tertunduk dengan perasaan campur aduk.


Dibalikkan tubuh Liana secara mudah menghadap kearahnya. Tatap mata Liana sungguh terlalu dekat, begitu juga dengan degup jantung keduanya saling berkaitan.


"Jika ucapan itu tidak benar, mengapa sekarang kau berada diatas tubuhku?"


Seketika wajah Liana merona merah, jantungnya seperti ingin melompat dari tempatnya karena terlalu senang.

__ADS_1


"Sudah selesai?" tanya Arvin yang tidak melihat Liana memiliki inisiatif untuk turun dari tubuhnya.


"Ehm ..." angguk Liana tersipu.


"Sepertinya kau sangat betah berada di atas tubuhku? Apa kau sengaja melakukan ini untuk menggodaku dipagi hari?"


"Maksudmu?" tanya Liana tak mengerti arah pembicaraan Arvin.


"Walaupun tubuhku masih terluka, tapi aku tetap seorang pria yang memiliki hasrat," lontar Arvin membuat wajah Liana menjadi semakin memerah seperti buah tomat.


"Apa kau ingin merasakan hasrat dari seorang pria?" bisik Arvin ditelinga Liana yang membuat tubuh Liana bergidik.


"Dasar pria cabul!" pekik Liana turun dari tubuh Arvin dengan sangat cepat.


Bukan hanya itu, Liana juga melarikan diri secepat kilat dari pandangan Arvin. Sedangkan Arvin hanya bisa tertawa puas, karena berhasil menggoda Liana.


***


Dokter menyarankan Arvin untuk tidak bekerja terlebih dahulu, agar lukanya mengering dengan cepat. Oleh karena itu dianjurkan untuk Arvin banyak-banyak istirahat dan tak boleh mengerjakan hal-hal berat terlebih dahulu.


Meski Arvin mentaati perintah itu, tapi entah mengapa hal itu tidak benar-benar dilakukan olehnya.


Seharian telpon genggamnya tak pernah lepas darinya. Dia begitu sibuk dengan urusan ini dan itu, hingga tidak ada waktu untuk dirinya beristirahat dengan benar.


Cemas rasa hati Liana melihat keadaan Arvin yang seperti itu. Tapi khawatir hanya sekedar perasaan saja, karena tetap saja Liana tidak dapat melakukan apapun untuk Arvin.


"Ini untuk Tuan Arvin, katanya Tuan ingin mandi tapi takut lukanya terkena air." terang Bibi Atun.


"Harusnya dia tidak boleh mandi dulu," gumam Liana bertambah khawatir.


"... katanya untuk berjaga-jaga saja, takutnya plester yang tahan air masih bisa menembus lukanya," tambah Bibi Atun memberi tahu secara detail, meski tak begitu diperhatikan oleh Liana yang sudah merasa cemas diawalnya.


"Bibi tunggu!" cegah Liana kembali. Liana memiliki pemikiran mungkin kali ini Ia dapat membantu.


"Iya Nona?"


"Biar saya saja, Bibi bisa pulang sekarang!" Pinta Liana menggantikan tugas Bibi Atun untuk mengantarkan pesanan Arvin.


"Terima kasih Nona," Ucap Bibi mengundurkan diri.


Liana berjalan naik menuju kamar Arvin. Dari arah jauh Liana dapat melihat dari pintu yang terbuka separuh, Arvin yang kesusahan ingin mengobati lukanya.


"Apa yang kau lakukan?" Tegur Liana yang langsung direspon oleh Arvin.


"Kau ada disini?"

__ADS_1


"Tidak semua dapat dilakukan sendiri, ada kalanya Kau juga membutuhkan bantuan seseorang. Jadi jangan sungkan untuk meminta bantuan jika diperlukan" tutur Liana menasehati.


"Jangan lepas perbannya dulu! bukankah kau ingin membersihkan tubuhmu?" Liana memperhatikan luka Arvin yang plesternya terbuka sedikit.


Terdapat jahitan yang sangat banyak disana, terlihat sangat menyedihkan hingga Liana ingin menitihkan air matanya.


"Jangan merasa bersalah! Karena ini bukan sepenuhnya kesalahanmu, aku yang menginginkan ini (menyelamatkan mu). Jadi apapun yang terjadi sepenuhnya karena diriku." ujar Arvin mencoba untuk mengusir rasa bersalah Liana.


"Bukankah kau ingin membersihkan diri? Biar aku bantu! Aku akan mencuci rambutmu," ucap Liana menawarkan bantuan.


Arvin melepaskan bajunya bagian atasnya, karena Ia tak ingin bajunya terkena air sabun.


Terlihat lekukan tubuh Arvin yang berotot membuat Liana tersipu. Padahal bukan kali ini saja Liana melihat tubuh Arvin yang six pack, karena Arvin tidur selalu bertelanjang dada.


Arvin tidur di bathup sedangkan Liana berjongkok dan tengah fokus mencuci rambut Arvin dengan shampoo.


Dipijat sedikit kepala Arvin supaya rileks setelah bekerja seharian penuh. Dan tahap selanjutnya adalah menguyur rambut Arvin dengan Air tuk hilangkan bisa sabun dirambut Arvin.


Selesai tahap ini, kini Liana hanya tinggal mengeringkan rambut Arvin.


Diambilnya hair dryer tuk keringkan rambut Arvin yang setengah basah karena sudah dilap dengan handuk sebelumnya.


Entah mengapa tahap demi tahap jantung Liana berdegup semakin kencang saja dari sebelum-sebelumnya.


Apalagi saat dirinya mengingat ciuman malam itu, membuatnya selalu berfokus pada bibir Arvin yang dilihatnya begitu seksi.


"Liana apa yang kau pikirkan? Ayo sadarlah!" benak Liana menggelengkan kepalanya mencoba menyingkirkan pikiran kotor diotaknya.


"Ada apa? Apa sekarang kau berpikir jika aku terlihat sangat seksi dengan tubuhku yang sangat profesional ini? Atau kau tertarik dengan bibirku yang sangat seksi?" Duga Arvin membaca pikiran Liana.


"Tidak. Siapa yang berpikir seperti itu?" kelak Liana atas tuduhan Arvin yang sangatlah benar.


"Lalu kenapa kau memejamkan mata? Bukankah kau membayangkan bisa mencium bibir ku lagi?" goda Arvin sekali lagi.


"Omong kosong! Semua yang kau ucapkan itu, segalanya tidak ada yang benar." pertegas Liana.


"Aku hanya mengantuk, hanya itu saja. Jadi jangan berpikir macam-macam!"


"Sudah, lakukan ini sendiri! Aku ingin tidur," Liana menyerahkan hair dryer kerangan Arvin, lalu Dirinya pergi sebelum Ia semakin salah tingkah didepan Arvin.


Karena itu Ia tak ingin berlama-lama berada di sana bersama Arvin.


"Bukankah kau berjanji untuk membantuku untuk merawat lukaku? Jika kau pergi lalu siapa yang akan membantu ku?" Lontar Arvin membuat langkah cepat Liana untuk pergi dari sana, kini berbalik untuk kembali lagi.


"Akan aku ambilkan perban dan obatnya," cetus Liana menuju laci yang terdapat kotak obat disana.

__ADS_1


"Manis sekali," puji Arvin tersenyum geli dengan sikap penurut Liana.


***


__ADS_2