Love'S Feeling

Love'S Feeling
Yang tak terduga


__ADS_3

"Bagaimana?" tanya Sofi untuk pertama kalinya saat berkomunikasi dengan Liana lewat sambungan telepon.


"Sukses. Dia mau ikut" girang Liana menyampaikan berita baik itu.


"Benarkah?" 


"Lalu bagaimana denganmu apakah Tirta juga mau ikut?" 


"Aku belum menanyakannya, tapi sekarang Aku sedang menunggunya. Semoga saja dia mau" terang Sofi akan posisinya saat ini.


"Aku yakin dia akan mau"


"Kau bersemangat sekali." 


"Tentu saja. Ini pertama kalinya kita bisa bersenang-senang seperti ini" sumringah Liana.


"Ohh.. ibu!" seru Sofi.


"Ibu?" tanya Liana tak mengerti. 


"Ibuku ada disini sekarang, aku tutup dulu ya telfonnya. Dah.. Liana!" Sofi pun mengakhiri komunikasinya bersama Liana lalu berfokus pada Ibunya yang kini sudah duduk didepannya. 


"Ibu?" 


"Apa yang sedang kau lakukan disini? Bukannya kau akan pergi ke toko buku? Apa toko bukunya sudah berpindah ke cafe ini?" Sindir Ibu yang mengetahui kalau anak semata wayangnya mulai berbohong padanya. 


"Maafkan aku"


"Jadi untuk apa Kau berbohong pada Ibu?"


"Itu..." Keluh lidah Sofi tak dapat katakan apapun pada Ibunya.


"Apa kamu akan bertemu seseorang? Apa seorang pria?" brondong ibu mengintrogasi Anaknya. 


"Ibu!" seru Sofi dengan nada manja.


"Apa dia pacarmu?" 


"Bukan" Kelak Sofi secara cepat.


"Apa pengagum rahasiamu itu?" Tanya Ibu Sofi yang tak melewatkan satu pertanyaan pun.


"Iya" 


"Kenapa kau harus bohong pada Ibu? Jika hanya ingin bertemu dengannya" 


"Maafkan aku! Aku hanya takut jika Ibu akan marah padaku." 

__ADS_1


"Kenapa harus marah? Tidak ada alasan ibu harus marah padamu" tutur Ibu tersenyum. "Ya sudah ibu akan pergi. Ibu tidak ingin mengganggu acaramu dengan pria itu" 


"Ibu!" Seru Sofi tersipu.


"Ibu hanya bercanda, ya sudah Ibu buru-buru. Jangan pulang terlalu malam!" pesan Ibu sebelum beranjak pergi dari sana. 


"Ibu" tahan Sofi. 


"Ada apa?" 


"Jika Aku sudah yakin padanya, Aku akan memperkenalkannya pada Ibu" ujar Sofi memberi senyuman pada wajah Ibunya


"Baiklah" angguk ibu. "Ibu akan menunggu hari itu" percaya Ibu Sofi.


Ibu meneruskan langkah yang sempat terhenti. Sesampainya diluar Cafe ibu begitu terkejut saat berpapasan dengan pemuda yang Ia kenal tujuh tahun yang lalu. 


"Kamu?" Seru ibu saat bertatap muka dengan Tirta. 


"Selamat siang Bibi!" sapa Tirta begitu sopan yang langsung mengenali Ibu dari Sofi.


***


Pertemuan itu berlanjut. Disebuah café yang tak jauh dari café tempat Sofi berada, dengan dua cangkir kopi menemani pembicaraan mereka berdua. 


"Maafkan Aku! Ada sesuatu yang harus aku selesaikan sekarang e. Jadi bisakah kita bertemu nanti?" ucap Tirta membatalkan janjinya pada Sofi. "Ehm.. aku mengerti" ujarnya setelah mendapat jawaban dari Sofi. "Kalau begitu, sampai nanti!" Tirta menutup telfonnya dan segera kembali ke meja yang telah tersedia, yang kini Ibu Sofi telah menunggunya. 


"Tidak apa-apa. Lagi pula seharusnya Aku yang minta maaf padamu, karena telah menyita waktumu" sesal Ibu Sofi merasa bersalah.


"Tidak sama sekali."


"Kamu terlihat sangat tampan sekarang" puji Ibu Sofi setelah melihat perubahan di diri Tirta dari tujuh tahun yang lalu. 


"Terima kasih, ini semua berkat Bibi dan Paman hingga saya bisa hidup seperti ini." 


"Apa Kamu akan menemui anakku?" tanya Ibu Sofi spontan.


"Maaf?" Tirta berkeringat dingin.


"Apa Kamu menyukainya?" 


"Sebenarnya bukan hanya sekedar suka tapi saya telah jatuh hati pada Sofi" dengan nafas panjang Tirta mencoba sedikit melegakan dadanya yang merasa sesak karena cemas. "Maaf jika Saya lancang mendekati Sofi dan menyimpan perasaan ini tanpa seizin dari Bibi." 


"Tidak apa-apa" jawab Ibu Sofi membuat Tirta dapat bernafas lebih lega. "Tapi apakah Sofi sudah mengetahui yang sebenarnya?" 


"Dia belum tahu sama sekali, tapi Saya akan memberi tahunya jika.." 


"Tidak perlu" potong Ibu Sofi. 

__ADS_1


"Maaf?" 


"Biarkan masa lalu menjadi sebuah masa lalu, jangan Kau jadikan sebagai pedoman masa depanmu" tutur Ibu yang tak dapat dimengerti oleh Tirta karena terlalu rumit. "Sofi telah bahagia dengan kehidupannya saat ini, dan Aku rasa Kamu juga merasakan yang sama. Jadi jangan biarkan bayangan kelam masa lalu merusak segalanya". "hiduplah dengan keputusan tanpa memikirkan bayangan masa lalu" ujar Ibu Sofi bijak.


Air mata Tirta menetes seketika, bukan karena kesedihan melainkan sebuah kebahagiaan yang tak terkira telah Dirinya terima secara tiba-tiba. "Terima kasih Bibi telah bermurah hati pada Saya."


"Tidak sama sekali. Aku hanya tidak ingin melihat Sofi terluka kembali" ucap Ibu Sofi secara tak langsung telah merestui hubungan antara Tirta dengan Anaknya.


"Pergilah! Sepertinya Sofi belum pergi terlalu jauh" Ucap Ibu Sofi memberi Izin.


"Iya. Terima kasih Bibi!" tak ingin membuang kesempatan, Tirta langsung bergegas pergi dengan berlari sekencang-kencangnya hingga batas kemampuannya untuk mengejar keterlambatannya.


"Suamiku, Kau senang sekarang! Karena orang yang Kau lindungi dengan sekuat tenaga kini menjadi seorang yang sukses. Dan mungkin akan menjadi pelindung ank kita Sofi menggantikan dirimu" Kini giliran air mata Ibu Sofi terjun bebas pada wajah yang penuh dengan kerutan.


Sorot matanya Tirta mencari keberadaan Sofi diantara ratusan orang pejalan kaki. Ternyata yang dicari kini duduk tenang dihalte bus. Ditatapnya lekat gadis yang kini memandang jalan sambil mendengarkan musik menggunakan earphone ditelinganya dan beberapa kali menghela nafas panjang sembari kepala tengada keatas merasakan teriknya siang ini. 


"Sofi!" panggil Tirta seraya mendekat kearah Sofi. 


"Oo.. Kau? Kenapa bisa ada disini? Bukannya kau...?" belum sempat Sofi menyelesaikan ucapannya, Tirta langsung memeluk tubuh Sofi secara cepat dan tiba-tiba.


"Kau kenapa? Apa sesuatu telah terjadi padamu?" Khawatir Sofi. Namun pertanyaannya tak ada jawaban sama sekali dari Tirta, hanya sebuah deruh nafas yang terdengar oleh Sofi. "Apa kau sakit?" lanjut Sofi dan kini ia dapat mendengar sautan dari Tirta meski tak ada hubungannya dengan pertanyaannya.


"Memelukmu seperti ini, sangat melegakan bagiku" ungkap Tirta tersenyum tanpa ada kekhawtiran lagi. 


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Sofi kembali seperti tak ingin menyerah sebelum Ia benar-benar mendapatkan jawabannya.


"Bisakah Kau tetap disisiku?" tanya Tirta melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah Sofi terutama bibirnya. 


"Apa yang ingin kau maksudkan? Aku tidak mengerti sama sekali" 


"Disini akan berdetak kencang saat Aku melihatmu, dan disini juga akan terasa rindu jika Kau pergi" Tirta meletakkan tangan Sofi tepat didada yang bisa merasakan detak jantung Tirta yang berdetak lebih kencang dari yang biasanya. 


"Tirta?" 


"Maukah Kau menjadi Kekasihku?" 


Seketika adegan yang seharusnya milik mereka berdua, kini menjadi konsumsi publik. Semua orang yang melihat adegan romantis itu langsung bersorak, "terima! Terima! Terima!"


"Aku ingin mengenal lebih dalam tentang dirimu. Sikap baikmu hingga perlakuan burukmu aku ingin tahu. Bukan sekedar sebagai teman atau pun sahabat. Aku ingin lebih dari itu, Aku ingin kau menjadi Kekasihku" 


"Kau sadar apa yang Kau katakan sekarang?" 


"aku sangat sadar dengan apa yang Aku katakan. Aku ingin Kau membagi segala kelebihan, menutupi semua kekurangan yang aku miliki."


"Jadilah kekasihku!" Sofi diam menatap lekat mata yang memancarkan kilauan cinta untuknya. "Beradalah disisiku! Dan Jadilah kekasihku!" Sofi tersenyum dengan derai air mata bahagia, sembari mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Tirta. Dipeluknya hangat tubuh Sofi. "Terima kasih!" 


Sorak Sorai penonton drama romantis itu, ikut dalam kebahagiaan yang dirasakan oleh keduanya saat ini.

__ADS_1


***


__ADS_2