
Dengan gaun berwarna crem yang membalut tubuh Liana disempurnakan dengan riasan wajah Liana terlihat cantik malam ini. Begitu juga dengan Arvin dengan kemeja warna hitam terlihat sangat simple tapi tetap terlihat menawan. Mereka masuk kedalam pesta tanpa bergandengan tangan seperti pasangan-pasangan lainnya. Terlihat begitu banyak orang yang meramaikan pesta malam ini.
"wah.. pestanya meriah sekali, aku tidak menyangka ternyata kak Jojo bukan saja tampan dia juga sangat kaya"puji Liana
"aku juga tak kalah kaya denganya"saut Arvin tak ingin kalah.
"sudah tahu"Liana celingukan tidak jelas
"kau ini sedang apa?"
"kak Jojo mana ya? kok tidak ada"
"ohh.. itu dia, pria yang kau cari"tunjuk Arvin dengan pandangan mata memberi tahu. Terlihat Jojo dan kedua orang tuanya turun dari tangga. Liana langsung terpanah melihat Jojo sangat tampan malam ini dengan belutan jas warna kelabu.
"wahh.. dia tampan sekali"puji Liana
"tampanan juga aku"seketika Liana menatap wajah Arvin dan tanpa komentar apa pun, Liana langsung memalingkan wajahnya kearah Jojo kembali. "hey.. benarkan ucapanku?"tanya Arvin meminta kepastian.
"selamat malam saudara sekalian, saya atas nama keluarga mengucap terima kasih atas kehadiran anda semua dipesta yang diadakan untuk mengucap puji syukur karena anak kami Jonatan Saputra atau akrab dipanggil Jojo telah meraih gelar sarjana dengan nilai yang terbaik"ucap Ayah Jojo memberi kata sambutan. Semua bertepuk tangan untuk menyambut kebahagian itu.
"dan bukan itu saja yang istimewa, karena malam ini anak saya Jojo akan bertunangan dangan Kartika anak sahabat karib saya Handoko Kusumo".
Semua bertepuk tangan untuk kedua kalinya sebagai tanda ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan dari kedua mempelai. Tapi tidak untuk Liana karena kabar itu dianggapnya sebagai sebagai vonis mati untuk hati dan hidupnya.
Terasa gemetar seluruh badan Liana, lemas dan sedikit pusing. "Liana kau baik-baik saja?"Arvin begitu mengkhawatirkan keadaan Liana saat tubuh Liana sedikit doyong.
"iya aku baik-baik saja"ucapnya dengan intonasi nada yang tak jelas mungkin karena efek terkejutnya.
"Haruskah kita pergi sekarang?"
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja"
"Kau ini keras kepala sekali".
Liana menghela nafas panjang, mencoba mengkuatkan hatinya. "Sungguh, aku baik-baik saja"Liana memaksa senyum singkat di bibirnya.
"Berhenti lakukan itu. Kau benar-benar menyedihkan"lagi-lagi Liana memasang senyum palsunya.
"kalian datang"sapa Jojo menghampiri Arvin dan Liana. "senang melihat kalian ada disini"
"Hai kak. Selamat untuk kalian berdua"ucap selamat Liana membuat Arvin semakin membenci keadaan itu.
"berhenti melakukan itu!"
"Sekali saja. Bantu aku!"isyarat Liana menggenggam erat tangan arvin.
"Ada apa? Apa sesuatu telah terjadi?"tanya Jojo yang merasa janggal dengan sikap keduanya.
__ADS_1
"Tidak ada"jawab singkat Liana. Sedangkan Arvin hanya menghela nafas berat.
"Apa kau tidak ingin memperkenalkan kekasihmu ini pada mereka"kini gadis yang sedari tadi diam, kini dengan berani mengambil suara.
"Oh iya, maafkan aku". "Perkenalkan..."
"Hay.. aku Kartika calon istri Jonatan"ia mengulurkan tangan pada Liana.
"Hai... aku Liana. Senang berkenalan denganmu"
"Tanganmu gemetar?"lontar kartika.
"Ahh.. ini hanya.."dengan segera Liana menyembunyikan tangannya dibalik badannya.
"Apa sebegitu terkejutnya kau dengan berita pertunangan kami?"
"Maaf?"
"Kartika, apa yang sebenarnya kau katakan?"
"oh.. iya. Jojo pernah bercerita padaku tentang seorang gadis. Dia bercerita dengan wajah yang penuh dengan senyuman. Kau tahu siapa yang ia ceritakan?"
"Kartika hentikan!"
"itu kau. Kalau aku bisa tebak, dia menyukaimu tapi karena kau sudah mempunyai suami jadi ia memilihku"
"apa maksudmu?"
Kartika langsung tertawa saat melihat ekspresi tegang antara Liana dan Jojo tapi tidak untuk Arvin yang hanya memandang dirinya dengan pandangan tidak suka.
"aku hanya bercanda. Kenapa kalian anggap dengan serius?"
"Kartika jangan bercanda seperti itu lagi! Itu sangat tidak lucu"tegur Jojo.
"memang tidak lucu. Dia mengatakan itu semua untuk melihat ekspresi orang yang ingin dia kejutkan. Apa memang benar-benar terkejut atau malah bersikap biasa"tafsir Arvin. "dan semuanya sesuai dengan dugaanmu. Apa kau merasa cemburu?"kini Arvin tersenyum sinis
"apa maksudmu?"wajah gugup karena telah ketahuan kini telah terlihat jelas diwajah Kartika.
"tenang saja. Wanita ini sudah menjadi milikku, aku akan menjaga wanitaku baik-baik karena aku juga tidak ingin dia jatuh kepelukan pria lain"Liana memandang penuh kearah Arvin.
"ahh bagaimana kalau kita menikmati hidangannya? Mari!"ajak Jojo mencoba mengalihkan pembicaraan.
"tunggu!"cegah Kartika yang masih belum menyerah, dan ingin mebalas kekalahannya pada Arvin.
"aku dengar kau bisa memainkan musik?"
"maaf?"
__ADS_1
"aku akan menerima ucapan selamatmu jika kau mau memainkan satu lagu untuk kami."pinta Kartika penuh pertimbangan.
"wanita ini benar-benar.."gumam Arvin yang merasa kesal dengan kelakuan Kartika. Sedangkan Jojo hanya diam karena masih dengan perasaan terkejutnya akan permintaan Kartika kepada Liana. Arvin menatap Liana yang begitu bingung atas permintaan itu. "a.aku"gagap Liana
"maaf tapi kami harus pergi sekarang"
"tidak. aku akan memainkannya untuk kalian"Liana melepaskan tangannya dari genggaman Arvin, Liana pun naik keatas panggung dan duduk didepan piano. "hari ini, ditempat ini saya telah menyaksikan dua hati telah dipertemukan. Sebuah happy ending yang sangat saya suka dan karena itu malam ini saya akan memainkan sebuah lagu untuk teman saya yang telah menemukan pasangan hidupnya"Liana mulai menekan satu per satu not-not pada piano itu dan menghasilkan sebuah irama yang begitu syahdu terdengar hingga semua orang yang berada di pesta itu ikut terhanyut dengan permainan piano Liana. Sedangkan Arvin hanya memandang kesal kearah wajah Liana yang penuh dengan kepedihan yang terwakili oleh nada-nada yang dia mainkannya, "Bodoh".
Nada terakhir telah ia tekan dan selesailah sudah janjinya kepada pasangan yang berbahagia itu, terdengar begitu banyak tepuk tangan dari para undangan yang begitu menikmati permainan Liana dan terlihat Jojo dan Kartika juga menikmatinya. Arvin yang sudah tak tahan dengan semua tindakan bodoh Liana, ia pun menghampiri Liana yang masih berada dipanggung. "sudah puas? semuanya sudah selesai bukan? Ayo kita pergi!"Arvin menarik Liana keluar dari pesta begitu saja. Arvin berjalan cepat sedangkan Liana hampir berlari tuk imbangi langkah Arvin. Dibawah lampu jalan yang menyala tak begitu terang Arvin menghempaskan tangan Liana . "gadis bodoh!"umpat arvin "apa kau sudah gila? atau otakmu sudah tidak waras? Apa yang sebenarnya yang kau pikirkan?". "sadar tidak? apa yang kau lakukan itu hanya akan menambah sakit hatimu"teriak Arvin melampiaskan amarahnya.
"kau benar, aku sudah gila dan juga bodoh"desah Liana lirih sembari meneteskan air matanya. "aku tidak tahu apa yang aku lakukan itu salah"teriak Liana menadahkan kepalanya, menatap tajam wajah Arvin. "yang aku tahu, aku hanya ingin memberikan sesuatu untuknya. Aku mencoba untuk turut bahagia dengan hidupnya sebagai seorang teman. Itu saja". "hanya itu.."wajah Liana tertuduk dan suaranya semakin tenggelam dalam kepedihan hatinya, hanya isak tangis yang terdengar semakin mengeras.
Arvin menarik lengan Liana lalu mendekapnya erat dan membiarkan Liana menangis didalam pelukannya. "maaf" mata bening Arvin kini dipenuhi air mata yang tertahan. Hatinya meredahkan sakit yang sama dengan Liana. "menangislah! bila itu dapat sedikit membantu hatimu"Arvin terus memeluk tubuh Liana yang gemetaran dibawah sinar lampu yang buram. hanya kesunyian yang meyelimuti kepedihan mereka untuk beberapa waktu sampai Liana melepaskan tubuhnya dari pelukan Arvin.
"kau sudah merasa baikan?"tanya Arvin mengkhawatirkan keadaan Liana.
"emm."angguk Liana sembari mengusap air mata dipipinya
"kalau begitu ayo kita pulang!"
"tapi mobilmu masih disana"
"biarkan saja, nanti aku minta Pak Imam mengambilnya karena kita tidak mungkin kembali kesana"digandengnya tangan Liana yang masih gemetaran. "tangan mu masih gemetaran? memalukan sekali"
"apa yang memalukan?"Liana melepas tangannya dari Arvin
"selama ini kau selalu memperlihatkan sifat tegarmu padaku dan karena dia kau menjadi seperti ini, terlihat sekali kelemahanmu"sindir Arvin.
"itukan diluar kemampuanku"
"ya sudah, naiklah!"Arvin membungkukkan tubuhnya
"kenapa?"
"aku tidak mau kau pingsan dijalan kehabisan tenaga kerena habis menangis begitu lama"
"aku tidak selemah yang kau pikirkan"
"sudah jangan banyak bicara, naik saja!"Liana pun naik kepunggung Arvin dan tangannya melingkar diatas bahu Arvin.
"terima kasih untuk hari ini, dan untuk semua bantuanmu selama ini."
"tak masalah, aku hanya ingin kau berhutang budi padaku. Karena jika, terjadi sesuatu padaku. Kau orang pertama yang menggengam tanganku".
"Pasti akan aku lakukan"janji Liana. Arvin berjalan melintasi jalan setapak yang begitu sunyi dengan beban dipunggungnya. Dirasakan Liana begitu nyaman diposisi itu. Sangat hangat, Liana tak menyadari kepalanya telah disandarkan di punggung Arvin. "serasa menunggangi seekor beruang berbulu tebal yang hangat dan berotot"batin Liana memejamkan mata, sedangkan Arvin masih berjalan dan direlakan punggungnya dinaiki oleh Liana hingga halte bus.
"aku sangat tertolong dengan kehadiranmu dihidupku. Jadi aku mohon jangan pernah pergi dariku! Aku tidak ingin menghadapi semua ini seorang diri"jiwa lain Liana seolah berucap.
__ADS_1
"aku tidak akan pernah meninggalkanmu, atau pergi secara tiba-tiba. Asal kau tepati janjimu padaku untuk tidak akan pernah meninggalkanku karena hal yang lain"saut jiwa Arvin.
*** ***