
Liana begitu sibuk dengan tugas yang harus dikumpulkan dua hari lagi. Disela waktu kuliah Liana selalu menyempatkan untuk pergi ke perpustakaan untuk mencari bahan untuk tugasnya.
Namun disisi lain Nenek yang selalu menyuruhnya pulang lebih cepat untuk mengerjakan tugas rumah.
"Motor siapa ini? Masih baru," terlihat aneh Liana melihat motor didepan rumahnya.
"Aku baru membelinya," Arvin keluar dari dalam rumah.
"Kau sudah pulang?"
"Ehm" angguk Arvin, "hari ini tidak begitu ada pekerjaan jadi aku putuskan untuk pulang lebih cepat".
"Dan motor ini untuk apa?" Tanya Liana penasaran.
"Tidak tahu nenek yang memintaku untuk membelinya."
"Nenek?" Liana begitu kaget mendengar nama itu, perasaannya mulai tidak enak.
"Untuk apa nenek memintanya?"
"Itu untukmu, supaya kalau kamu berangkat kuliah kamu bisa naik motor dari pada naik taksi pemborosan," tutur Nenek menjawab pertanyaan Liana menggantikan Arvin.
"Tapi aku tidak bisa mengendarai motor," ucap Liana.
"Kalau begitu besokkan hari minggu, biar Arvin yang mengajarimu!" perintah Nenek.
"Nek bisa tidak minggu depan saja? karena ada tugas yang harus aku kerjakan," tawar Liana.
"Sepenting apa? Kenapa kamu selalu membantah perintah dariku?"
"Bukan seperti itu, aku hanya..."
"Bilang saja kamu tidak mau menuruti ucapanku!" ketus Nenek memotong ucapan Liana.
"Kenapa Nenek bicara seperti itu? Aku hanya minta waktu, bukan menolak."
"Liana sudahlah, turuti saja! Kenapa kau suka sekali membantah nenek?" lontar Arvin seperti mempersalahkan Liana.
"Sekarang Kau pun ikut menyalahkanku?"
"Tentu saja. Andai jika kamu bisa diatur dengan baik tanpa membantah mungkin tidak akan seperti ini." saut Nenek.
"Sampai kapan nenek akan memperlakukanku seperti ini?" Tanya Liana yang tak tahan dipersalahkan.
"Memang aku sempat bersikap kurang ajar pada nenek, dan mungkin karena sikapku itu nenek menjadi bersikap dingin padaku. Tapi sampai kapan? Nek aku mohon jangan mempersulitku dengan sikap nenek!" pinta Liana memohon disela isak tangisnya.
Namun kata-kata itu tidak cukup untuk meluluhkan hati sang nenek, malah nenek melangkah masuk kedalam rumah.
"Nenek meyuruhku untuk lebih bisa bertanggung jawab terhadap kewajibanku tapi nenek sendiri sudah menghalangi aku untuk bertanggung jawab terhadap sekolahku."
"Liana!" Tegur Arvin.
"Ingat nek selain aku seorang istri, aku juga seorang mahasiswi," jelas Liana.
"Liana berhenti!"
"Dan aku harus bertanggung jawab terhadap kedua-duanya," tutur Liana melampiaskan perasaan yang selama ini ia pendam.
"Sudah cukup, hentikan ucapanmu itu!"bentak Arvin yang kini ucapannya didengarkan oleh Liana setelah beberapa kali tak digubris.
"Aku tidak akan berhanti sebelum nenek sadar bahwa perbuatannya itu salah".
"Nenek aku mohon dengarkan aku!"
"Aku bilang hentikan! Ucapanmu itu sudah keterlaluan, apa kau sadar itu?" teriak Arvin menarik lengan Liana dan menghadapkan pandangan Liana kepada dirinya.
"Aku mohon sudahi perseteruan ini!" pinta Arvin dengan padangan yang tak pernah dilihat Liana selama ini, tangan yang beberapa detik yang lalu mencekram sangat kuat kini Ia lepaskan dengan perlahan.
"Aku mohon berhentilah!" Liana menerima permintaan Arvin, dengan diam dan pergi dari hadapan Arvin.
Liana duduk dikamarnya dan terdiam seribu bahasa, hanya bayangan Arvin yang masih tertinggal diotaknya, melihat pandangan yang berbeda yang selama ini tak pernah nampak diwajah Arvin memohon seperti anak kecil terlihat begitu tulus membuat hati Liana yang dipenuhi oleh amarah itu dengan segera terendam.
"Maaf tadi aku sudah membentakmu" ucap Arvin memudarkan semua lamunan Liana.
"Tidak masalah, kau tidak salah. Aku saja yang tidak bisa menahan amarahku. Aku juga merasa bersalah karena sudah marah pada Nenek tadi".
"Lebih baik kalau kita lupakan saja kejadian tadi sore, sekarang lebih baik kita makan malam!"
"Aku tidak lapar, lagi pula ada tugas kuliah yang harus aku selesaikan," Liana menolak ajakan Arvin.
"Baiklah. jika kau merasa lapar, turun dan makanlah!"
__ADS_1
"Aku mengerti," angguk Liana.
Arvin tidak dapat memaksa Liana karena mungkin Liana butuh waktu untuk sendiri. Lagi pula kalau makan malam setelah peristiwa itu mungkin suasananya akan terasa canggung.
***
Gelisah, takut hal yang kini mengusik ketenangan Liana saat ini. tugas beserta hukuman dari pak Totok tak Ia selesaikan satu pun. Sedangkan pengumpulan tugas itu jatuh pada hari ini.
"Aduh bagaimana ini? tugasku belum selesai satu pun" risau Liana.
"Lalu bagaimana sekarang?" ucap Sofi tak kalah khawatir.
"Selamat siang!" sapa pak Totok saat memasuki ruang kelas.
"Siang pak!" mereka menjawab secara bersamaan.
"Bagaimana sekarang?" gusar Liana kedua saling bertatap memberi sebuah ekspresi kebingungan.
"Segera kumpulkan tugas yang kalian buat sekarang!". "Sofi tolong dibantu menggumpulkan tugas teman-temanmu!"
"Baik pak!" jawab Sofi setengah hati, "maaf Liana!" Sesal Sofi saat melintas didepan bangku Liana.
"Silahkan pak!"
"Terima kasih!"
"Iya pak".
Dengan segera pak Totok memeriksa semua tugas mereka dan tak dapat menemukan tugas Liana yang double. "Liana dimana tugasmu?"
"Tamat riwayatku," risau dalam hatinya sembari berdiri dengan perlahan.
"sa..saya.."
"Selamat siang!" sapa Nenek datang diwaktu yang sangat tepat.
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Nenek!" seru Liana lirih.
"Itu nenekmu?" Tanya Sofi mendengar penuturan Liana sedangkan Liana hanya menggangukan kepalanya untuk menjawab pertanyaan sahabatnya.
Terlihat Nenek dan Pak Totok keluar dari ruangan, Liana pun ikut membututi karena penasaran apa yang dilakukan Neneknya di kampusnya. Dan tak ketinggalan Sofi juga ikut membututi, keduanya mengintip dibalik pintu ruang dosen yang tertutup tak begitu sempurna.
"Saya kemari untuk meluruskan masalah yang dituduhkan kepada cucu menantu saya" jawab tegas Nenek.
"Pak Karim tolong panggilkan Liana dari kelas sastra!" pinta pak Totok pada salah satu karyawan disana.
"Tidak perlu repot-repot pak! saya sudah ada disini" ucap Liana memasuki ruangan dosen sembari tersenyum dan mengejutkan pak Totok.
Dengan segera Liana duduk disebelah Nenek. "Nenek kenapa datang kemari?" Ucap Liana berbisik lirih .
"Kamu diam saja! Ini urusan nenek," tukas Nenek.
Dan secara tiba-tiba Nenek menggebrak meja pak Totok dengan keras. Satu ruangan dosen terkejut apa lagi dengan Liana dan pak Totok.
"Saya tidak terima dengan perlakuan anda terhadap cucu menantu saya," teriak Nenek sembari berdiri.
"Nenek jangan seperti ini!" Liana ikut-ikut berdiri.
"Sudah Nenek bilang diam dan duduk saja!" bentak Nenek dengan muka garang.
"Iya," Liana kembali duduk dan suasana pun menjadi tegang.
"Saya mau bertanya pada anda. Apa salah seorang cucu menentu menolong neneknya saat dia terpeleset dan kakinya terkilir?"
"Ti...tidak" jawab pak Totok begitu shock dan beberapa kali mengusap keringat dibotak licinnya dengan sapu tangan yang digenggamnya.
"Dan hal serupa terjadi pada murid anda beberapa hari yang lalu. Liana terlambat karena dia menolong saya saat terpeleset. Apa itu salah?"
"I..itu"
"Jawab dengan tegas!"
"Tidak, tidak" jawab pak Totok sekali lagi.
"Jadi?"
"Jadi apa?" Tanya pak Totok tidak begitu mengerti.
"Jadi apa anda masih tetap memberikan hukuman pada cucu menantu saya?" bentak Nenek begitu kesal dengan pertanyaan pak Totok.
__ADS_1
"Iya Liana terbebas dari hukumannya" ungkap Pak Totok.
"Apa?" Liana begitu terkejut dengan ucapan itu.
"Terima kasih Pak!" Liana menjabat tangan pak Totok dan memeluk Neneknya. "Terima kasih nenek!"
"Lepaskan pelukanmu nenek susah untuk bernafas!"
"Ahh.. maaf Nek kelepasan."
"Tapi Liana kamu masih harus kumpulkan tugasmu seperti teman-temanmu yang lain!"
"Tapi pak saya belum menyelesaikannya, saya mohon diberikan waktu".
"Eehh-emm" Nenek mendahem memberi isyarat pada pak Totok.
"Baiklah. karena ini sepenuhnya kesalahan saya, saya berikan waktu satu hari untuk mengumpulkan tugasmu".
"Benarkah?"
"Iya".
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih pak" Liana menjabat tangan pak Totok.
"Kalau begitu kami mohon pamit!" ucap nenek kini dengan nada yang sangat lembut.
"Iya silahkan!" Pak Totok mempersilahkan.
Liana dan Nenek pun keluar dari ruang dosen dan Sofi menyembut Liana dengan pelukan hangat sebagai seorang sahabat yang turut serta merasakan kegembiraan yang dirasakan sahabatnya itu. "Selamat ya!"
"Terima kasih, ini semua berkat nenek, aku tidak tahu kalau tidak ada nenek mungkin hari ini jadi hari yang terburuk bagiku" tutur Liana memuji.
"Nenek memang yang terbaik," kini giliran Sofi yang memuji Nenek.
"Siapa dia?"
"Dia sahabatku Sofi," ujar Liana memperkenalkan.
"Halo nek, salam kenal! Namaku Sofi sahabat Liana sejak SMA," santun sofi saat memperkenalkan dirinya.
"Iya" anggut Nenek. "Kau pintar mencari teman. Contoh sikap temanmu! Yang santun dan tidak grusa-grusu sepertimu."
"Baik," nasehat Nenek diterima oleh Liana dengan senyuman.
"Ya sudah Nenek mau kerumah mertuamu, apa kamu mau ikut?"
"Maaf Nek, Aku tidak bisa karena masih ada kelas."
"Baiklah. Nenek pergi!" pamit Nenek.
"Nenek hati-hati dijalan, pak Imam jaga Nenek ya!"
"Baik nona" mobil yang ditumpangi nenek berjalan dengan perlahan.
Setelah selesai kuliah Liana bergegas pulang kerumah dan sepertinya Nenek dan Arvin belum pulang kerumah.
Seperti biasa Liana menyiapkan makan malam namun ini karena kemauannya sendiri bukan karena paksaan.
Selesai semua Liana mempersiapkan dirinya dan menaruh semua makanan dimeja makan terlihat begitu istimewa pada malam hari ini.
Tak beberapa lama berselang Nenek berserta Arvin datang secara bersamaan.
"Selamat malam semuanya!" Liana menyambut semuanya dengan senyum hangat.
Arvin begitu heran melihat tingkah Liana, beberapa kali Arvin menatap Liana lalu berpindah ke neneknya.
"Ayo kita makan malam! aku sudah siapkan semuanya, ayo Nek!" Liana menggandeng tangan Neneknya yang hanya tersenyum, sepertinya Nenek sudah mengerti akan seperti ini perubahan Liana setelah kejadian tadi siang dikampus.
"Arvin minggu depan ajari aku naik motor ya!"
"Apa telah terjadi sesuatu hari ini?" Arvin begitu bingung atas sikap Liana yang begitu berbeda. "Kenapa kau bersikap sangat berbeda?"
"Memang kenapa?"
"Kenapa? Apa sikap istrimu ini terlihat aneh bagimu?"
"Iya," jawab Arvin cepat atas pertanyaan Nenek, membuat Nenek tertawa singkat.
"Cihh.."decik Liana kesal dengan kata yang terlontar dari mulut Arvin.
Perlakuan Liana yang begitu manis tak berhenti sampai disitu saja, Ia mengerjakan semua tugasnya tanpa disuruh terlebih dahulu oleh nenek. Dia bangun lebih awal dan melakukan segala hal secara baik.
__ADS_1
***