
Cuaca cerah tampak di langit yang berwarna biru terang dengan awan putih yang terbentuk sesuatu yang tak asing jika diamati.
"Apakah kita harus naik busway? Kenapa tidak naik mobil saja? dan kenapa Aku harus berpakai seperti ini?" berondong Arvin yang masih tak mengerti dengan peraturan kencan yang diberi oleh Liana.
"Apa Kau akan pergi dengan setelan jas lengkap dengan dasi dan sepatu kulit". "Lagi pula Kitakan memiliki baju couple sayang kalau tidak dipakai."
"Tapi haruskah dengan celana bolong seperti ini?" risih Arvin yang selama ini tak pernah berpakaian yang aneh-aneh.
"Ihss.. kau berisik sekali. Ini stayle. apa kau mengerti stayle?"
"Lihat Pria yang disana! Bukankah dia sangat tampan?" tujuk salah seorang gadis pada Arvin.
"Kau benar. Dia sangat tampan, seperti seorang yang keluar dari dunia komik. sangat sempurna" puji teman yang lainnya.
Liana yang menyadari itu langsung menggandeng lengan Arvin, untuk memperlihatkan pada mereka bahwa Pria yang mereka kagumi telah memiliki seseorang disampingnya.
"Tapi setidaknya tidak harus naik bus juga kan? Kitakan punya mobil kenapa tidak dipergunakan?" tanya Arvin yang masih sibuk dengan semua ketidak nyamanannya.
"Aku hanya ingin kencan pertamaku terasa sempurna. Hanya itu saja"
"Apa hubungannya dengan naik bus dan kencan yang sempurna? Dasar gadis aneh" gerutu Arvin lirih. "Lagi pula inikan bukan kencan pertamamu. Kitakan pernah berkencan" gumam Arvin hampir tak dapat didengar Liana.
__ADS_1
"Tentu ada, kalau seperti itu kau hanya memandangku dan selalu bicara padaku tanpa fokus pada jalan atau yang lainnya" benak Liana yang memandang lekat kearah pria yang berada di sisinya yang terlihat begitu sibuk dengan kegerahannya. Ia melepas jaket kainnya dan beberapa kali menghembus-hembuskan kaosnya berharap angin masuk pada tubuhnya yang berkeringat itu.
"Kemarilah!" Liana mengusap keringat Arvin.
"Disini juga!" Arvin menunjukan satu bagian tubuh yang masih dibasahi keringat.
"Iya sabar!" Tanpa sadar keduanya sangat dekat. Liana yang tengah sibuk membasuh keringat tak menyadari Arvin yang memandang dirinya lekat. "Sudah selesai".
Ketahuan, Liana menatap mata yang terus saja memandangnya.
Salah tingkah itu yang terjadi pada Arvin sekarang "Ek-em!" Arvin mendahem tuk tutupi kegugupannya. "Kenapa gerah sekali hari ini?" keluhnya mengalihkan perhatian.
"Mungkin hari ini akan turun hujan, makannya hari ini sangat gerah" tafsir Liana.
"Mana mungkin cuaca secerah ini akan hujan" cetus Arvin
"Akukan bilang mungkin. Karena cuaca susah untuk ditebak. Seperti hati" ujar Liana tak bermaksud menjelaskan sesuatu.
"Maksudmu?"
"Bukan apa-apa. Aku hanya asal bicara saja."
__ADS_1
"Apa seperti Cinta Lee Shin terhadap Chae Gyoung?"
"Eh?"
"Film itu, Chae Gyoung dan Min Hyorin. Aku sudah menontonnya. Tapi menurutku Kau tidak seperti mereka berdua."
"Lalu seperti apa Aku?" benak Liana.
"Kau tak seperti Min Hyorin yang terlihat lembut tapi hatinya seperti moster, tidak juga seperti Chae Gyoung yang menjalani hidup yang tak adil. Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan ketidak adilan itu" tutur lembut Arvin.
"Tanpa sadar kau telah membuat ketidak adilan itu dihidupku. Karena cinta ini ketidak adilan itu datang. Aku hanya bisa mencintaimu, tapi Aku tidak akan bisa mendapatkanmu" lagi-lagi Liana hanya bisa berbicara dihati tanpa berani mengungkapannya.
"Bisakah hari ini kita menghindari pertengkaran! Aku ingin hari ini kita berdamai dulu."
"Apa ini karena kencan sempurna itu?"
"Em..." angguk Liana sekali.
"Baiklah, hari ini aku akan berbaik hati padamu. Aku akan jadi Pria yang Kau inginkan. Tanpa pertengkaran, jalani hari ini dengan baik. Kita berdua" keduanya tersenyum tanpa melepas pandangan satu sama lain.
***
__ADS_1