Love'S Feeling

Love'S Feeling
Rasa yang tersembunyi


__ADS_3

"Satu... dua... tiga... berakhir. Ku lintasi waktu dengan hati yang berangsur membaik. Kini aku sudah bisa berdiri tegap diatas kakiku sendiri, setelah sekian lama aku selalu bertumpu padanya. Pria yang selama ini aku anggap hanya orang asing ternyata dialah yang telah mengangkat diriku dari keterpurukan" monolog Liana.


Arvin menepikan mobilnya saat melihat Liana yang berdiri di tepi jalan tepat di sisi kampusnya. Arvin tahu bahwa Liana kini sedang menunggu dirinya karena mereka telah membuat janji untuk makan malam bersama diluar. Ia berjalan perlahan menuju ke arah Liana, ia melihat beberapa pria muda menghampiri Liana dan mulai berbincang dengan Liana. Entah apa yang mereka bahas, yang Arvin tahu jika ia melihat Liana beberapa kali tersipu setelah mendengar penuturan salah satu pria itu.


"Terimakasih" itu yang terdengar oleh Arvin saat dirinya lebih dekat dari posisi Liana saat ini berdiri. Segerombolan pemuda itu mulai berjalan pergi dan beberapa saat mereka berpapasan dengan Arvin yang memiliki arah jalan yang berlawanan dengan mereka. "Bukankah kakak itu terlihat sangat cantik?"


"Bukan saja cantik tapi dia sangat ramah. senyumnya itu loh.. membuat hati meleh" ujar salah satu pemuda itu membenarkan ucapan temannya. Dan entah mengapa ada rasa kesal dihati Arvin saat mendengar penuturan dari segerombolan pemuda itu.


"Oo.. kau sudah datang" Liana melambaikan tangannya dengan senyuman yang terlihat menggoda bagi Arvin.


"Berhentilah tersenyum! Apa kau tidak lelah tersenyum sepanjang waktu?" kesalnya.


"Kenapa aku tidak boleh tersenyum?" tanya Liana yang merasa heran dengan sikap Arvin seperti sebuah musim yang sesaat cerah dan beberapa saat kemudian menjadi mendung. Begitulah yang paling tepat untuk mendeskripsikan sikap Arvin padanya. yang sekejap baik dan sekejap kemudian ia marah-marah tanpa alasan.


"Ya tidak boleh saja" ucap Arvin yang sama sekali tidak memberi jawaban yang diinginkan oleh Liana.


"Kenapa tidak boleh? Memang apa alasannya?"


"Kenapa semua harus ada alasannya?"


"Tentu saja harus ada alasannya" perjelas Liana yang makin tak mengerti dengan sikap Arvin.


Perbedaan argumen yang membuat panjang pembicaraan mereka berdua, ditonton oleh beberapa mahasiswa yang melintas di sana. Ketiga sahabat Liana pun ikut menonton pertengkaran itu dari kejauhan. "Bukankah mereka ingin makan malam?" Tanya Rendy pada kedua gadis yang berada disisinya saat ini.


"Kapan mereka akan berhenti bersikap seperti itu?" tanya Anita yang tak mengharapkan jawaban dari pertanyaannya.


"Haruskah mereka bertengkar ditengah jalan?" Sofi mendesah berat.


Sedangkan dua orang yang menjadi bahan perbincangan malah tak memperdulikannya. Mereka masih sibuk dengan perdebatan yang sesungguhnya bukanlah sebuah pertengkaran.


"Lalu kenapa kau marah?" nada bicara Liana mulai meninggi mengikuti nada bicara Arvin.


"Siapa yang bilang aku marah?" kelit Arvin.


"Kau bicara keras seperti ini memangnya bukan sebuah kemarahan?"


"Aku bilang aku tidak marah."


"Lalu apa?"


"Aku hanya kesal" ungkap Arvin.


"Kenapa harus kesal?"


"Karena kau terus saja tersenyum pada segerombolan pemuda tadi" jelas Arvin.


"Memangnya kenapa aku tidak boleh tersenyum pada mereka?"


"Karena senyummu itu terlalu manis. Jadi mereka tidak pantas mendapatkannya" cetus Arvin setelah didesak Liana. Keduanya pun terdiam, sedangkan ketiga sahabatnya hanya bisa menganga mendengar kelimaks percakapan itu.


"Sebaiknya kita pergi saja dari sini!" ajak Sofi pada kedua sahabatnya itu.

__ADS_1


"Baru kali ini aku malu memilikinya sebagai sahabatku" gumam Rendy.


"Ayo kita pergi!" gandeng Anita menarik Rendy pergi dari sana.


Begitu juga dengan Arvin yang tak dapat berkata-kata lagi selain mengajak Liana lekas pergi dari sana. "Masuklah kedalam mobil!" pinta Arvin masih dengan wajah tersipu.


"Ehm" anut Liana langsung masuk kedalam mobil.


Selama diperjalanan mereka tak bicara sepatah kata pun, mungkin efek dari ucapan Arvin tadi.


"Kenapa aku menjadi canggung seperti ini? Memang kenapa jika dia bilang senyumku manis? Bukan berarti menyukaiku kan?" benak Liana tuk kurangi perasaan canggungnya. "Arvin boleh aku saja yang memilih tempatnya?" pinta Liana masih dengan suara kikuknya.


"Kalau begitu kau yang bayar!" ujar Arvin, sepertinya Arvin juga berusaha keras untuk mengalihkan perhatian Liana dari kejadian beberapa saat yang lalu.


"Kenapa harus aku? Kau kan yang menghasilkan uang"


"Tentu, dan kau yang selalu menghabiskan uangku"


"Karena aku istrimu"


"Ya baiklah" Arvin mengalah. "Kita kemana sekarang?"


"Kepiting dan beberapa kerang panas dan bumbu saus Padang diatasnya pasti terasa lezat" seperti ingin meneteskan air liur saat dirinya mendeskripsikan menu makanan yang bahan utamanya adalah penghuni lautan.


"Lagi?"


"Memangnya kenapa? Seafoodkan lezat!"


"Tidak mau" tolak Arvin yang sudah bosan memakan makanan itu hampir di setiap minggunya. "Bagaimana kalau nasi Padang saja? Kan sama-sama Padangnya, dan di sana juga ada lauk seafoodnya" bujuk Arvin.


"ya baiklah".


Sesungguhnya hati mereka telah memiliki rasa yang berbeda, rasa yang lebih dari rasa yang mereka rasakan pada seseorang yang mereka tahu sebagai cinta mereka. Degup jantung terasa lebih kencang hanya dengan mengingatnya, bibir yang tiba-tiba mengembang dengan sendirinya hanya karena menyebut nama satu sama lain. Hingga disaat terjadi sesuatu entah itu senang atau kesedihan hanya wajah satu sama lainlah uang teringat. Namun mereka tak mengindahkan rasa itu.


"Selamat malam tuan Arvin, nona Liana!" sapa Pelayan restaorant yang sudah mengenal keduanya dengan sangat baik,karena mereka adalah langganan tetap di restoran itu.


"Selamat malam" sapa Liana balik, sedangkan Arvin hanya melempar senyuman saja.


"Hari ini dua menu yang sama?" lanjut Pelayan itu.


"Tiga. Kami mau tiga porsi"


"Apa? Yakk! Apa kau tidak mati kekenyangan nanti?"


"Tidak... karena aku sangat.. sangat.. suka kepiting" kelak Liana.


"Terserah kau saja"


"Baiklah kalau begitu 3 porsi kepiting. Akan segera dihidangkan"


"Terima kasih" ucap Liana sebelum si Pelayan kembali untuk mengatakan pada sang koki untuk membuatkan pesanan kami.

__ADS_1


"Ini" Liana berikan selembar kertas yang berisi pemberitahuan tentang beasiswa ke Inggris. "Sekarang aku membutuhkan banyak tenaga untuk meraihnya.


"Ini..". "Sebuah beasiswa?"


"Ehm" angguk Liana. "Bukankah aku harus memiliki tujuan untuk tetap hidup setelah kita berpisah?"


"Apa kau yakin?"


"Ehm. Lagi pula waktunya sangat tepat, keberangkatnya dua bulan setelah kita memutuskan untuk berpisah."


Mata sayu Arvin menatap kearah Liana, "Baiklah. Aku akan membantumu hingga kau benar-benar mendapatkan beasiswa ini" ucap Arvin hanya dibibir saja, sesungguhnya hatinya menolak keras ide itu.


"Terima kasih" senyumnya kecut. Ada rasa tak suka melihat Arvin langsung mengiyakan tanpa memaksa dirinya untuk tetap tinggal.


"Em.. aku hampir lupa ada satu lagi yang ingin aku berikan padamu" Arvin mengambil sesuatu dikantong Mantel yang tersampir dikursi. Sebuah amplop coklat yang terlipat rapi dikeluarkannya, dan diberikan kepada Liana.


"Apa ini?"


"Ini data orang yang sofi cari. Untuk saat ini, hanya ini yang bisa aku dapatkan" Liana membuka amplop itu terdapat banyak foto-foto pria yang dimaksud sofi, dan beberapa keterangan tentang pria itu. "Orang itu adalah Tirta anggoro anak tunggal dari almarhum Rudian anggoro pemilik hotel terbaik nomer dua di Negeri ini dan beberapa Mall besar yang tersebar di seluruh Negeri ini" terang Arvin.


"Wah dia pasti sangat kaya."


"Tentu saja" Arvin membenarkan ucapan Liana. "Tapi apa benar pria ini yang dimaksud sofi?"


"Entahlah, aku juga ragu setelah mendapat kenyataan seperti ini. Apa hubungan pria kaya ini dengan Sofi? Dan untuk apa juga iya melakukan itu pada sofi?" begitu banyak kenyataan yang tidak masuk diakal oleh Liana. "Hahh.. ini sangat aneh sekali". "Bisakah kau mencari tahu kejadian apa saja yang pernah terjadi padanya?"


"Untuk apa?"


"Entahlah? Tapi aku merasa pria ini mempunyai satu hal besar yang perlu kita ketahui"


Arvin langsung tertawa kecil melihat wajah serius Liana.


"Kenapa kau tertawa? Apa ada yang salah?" tanya Liana heran.


"Kau terlihat lucu" Arvin mengacak-acak rambut Liana karena merasa begitu geli dengan keseriusan yang ditunjukkan Liana.


"Yakk.. apanya yang lucu? ini ekspresi serius bukan mau melucu."


"Tapi bagiku itu sangat lucu, Liliput yang sedang berfikir bukankan itu sangat lucu?"


"Oh.. ya ampun, kenapa dengan pria ini?" Liana memandang Arvin dengan tatapan heran. "Kau ini lucu sekali"


"Apa? Bukannya kau yang lucu?" ujar Arvin berwajah innocent


"Kau yang paling lucu!" seru Liana dengan ekspresi datar 


"Kau yang lebih lucu dariku" ucap Arvin tak ingin kalah.


"hiss..sudahlah jangan bicara lagi! Lebih baik kita makan sekarang" pinta Liana mengakhiri perdebatan yang tidak masuk diakal itu, saat ia melihat Pelayan restoran membawa hidangan kepiting yang sangat lezat.


"Sekarang Liliput ingin makan karena lapar habis berpikir keras" ejek Arvin.

__ADS_1


"YAKK..!" pekik Liana menambah tawa geli Arvin.


***          ***


__ADS_2