
Siang itu dengan memanfaatkan kantor yang sepi karena para Karyawan tengah pergi untuk makan siangnya. Dibalik dinding Liana mengintip dari kejauhan kantor Arvin yang berada diujung Raungan Staff.
Dari sela gorden blinds Liana dapat melihat Arvin dari kejauhan meski hanya samar. Terlihat begitu sibuk Arvin ketika itu, Ia menelpon dan juga Memeriksa berkas.
Hingga Ia melewatkan makan siangnya.
"Ini hampir selesai jam makan siang, kenapa dia masih saja tidak pergi untuk makan?" Khawatir Liana. "Bagaimana jika dia sampai sakit?".
"Nona Liana! Anda disini?" Tegur Sassy yang kembali lebih cepat dari jam makan siang.
"Apa Kau mengenaliku?" Tanya Liana yang merasa penyamarannya begitu sempurna hingga Ia berpikir tidak ada seorangpun yang dapat mengenalinya.
"Tentu saja. Kenapa saya tidak dapat mengenali Anda hanya karena topi dengan kacamata" jelas Sassy tersenyum.
"Oo.. Benarkah?" Liana tertawa bodoh.
"Kenapa Anda tidak langsung masuk saja ke ruangan Direktur?" Tanya Sassy lebih lanjut.
"Ah... Tidak. Aku kemari hanya ingin melihatnya saja" ujar Liana menjawab kebingungan Sassy. "Ahk... Kak Sassy!"
"Ada apa?"
"Bisakah Kakak jaga rahasia? Jangan bilang pada Arvin jika aku datang kemari!" Pinta Liana yang menurut Sassy sangatlah aneh.
"Tapi kenapa?" Tanya Sassy ingin menjawab semua kebingungannya. Namun Liana tak memberikan jawaban dari kebingungan itu.
__ADS_1
"Aku mohon padamu! Biarkan ini jadi rahasia kita berdua" mohon Liana penuh harap.
Belum sempat Sassy menjawab permintaan dari Liana. "OO... Itu Arvin. Bagaimana ini?" Liana langsung bergegas berlari dan bersembunyi disalah satu sudut ruangan yang tak mungkin dipandang oleh Arvin. Dan itu semakin membuat Sassy menggaruk kebingungan.
"Apa semua pasangan muda seperti ini?" Gumamnya sendiri. Hingga teguran dari Arvin mengembalikan fokusnya.
"Nona Sassy!" seru Arvin yang melihat Sassy tak menyadari dirinya yang telah berada dihadapannya.
"Iya?" Tanya Sassy dengan suara yang lumayan lantang membuat Arvin sedikit terkejut. "Ah... Maafkan Saya Direktur!" sesal Sassy menyadari kesalahannya.
"Tidak masalah" Arvin tak ingin ambil pusing dengan keanehan sikap yang ditunjukkan oleh Karyawannya. "Oh ya Nona Sassy, bisakah anda mengcopy semua berkas yang akan dirapatkan besok pagi?"
"Iya baik Direktur" patuh Sassy.
"Jadi jika ada telpon penting masuk catat saja di note dan taruh di meja Saya agar besok langsung bisa membacanya." Setelah menerangkan panjang lebar, Arvin pun berlalu dari sana menuju ke tempat yang telah disepakati oleh dirinya dan customernya.
Sedangkan Liana yang mengikuti dari belakang, bergegas menyusul keterlambatannya, agar Ia tidak ketinggalan jejak Arvin. Ia menoleh kearah kanan dan juga kiri tuk mencari transportasi yang dapat Ia tumpangi tuk mengikuti mobil pribadi Arvin.
Dan Ia menemukan dua orang yang bertengkar merebutkan taksi yang ada disampingnya. "Permisi!" Liana berlari memasuki taksi. "Pak tolong ikuti mobil hitam didepan!" Pinta Liana mendahului kedua orang yang masih sibuk bertengkar.
"Baik!" Taksi itu segera berangkat, untuk memenuhi keinginan penumpangnya.
Sejenak Liana menoleh kebelakang untuk melihat sekali lagi dua orang yang sekarang sedang meneriakinya. "Sepertinya adegan ini tak asing untukku. Aku pernah melihatnya, tapi dimana ya?" pikirnya sesaat.
"Ahh... tahulah" Liana menghentikan pikiran yang dianggapnya tak begitu penting. Ia mulai fokus untuk mengikuti mobil Arvin.
__ADS_1
***
Dari Customer satu ke Customer yang lainnya, hampir sepuluh orang Customer yang ditemui Arvin hari ini. Hingga waktu Siang berubah menjadi petang, Arvin keluar dari restoran tempat janjiannya.
Meski waktu yang begitu lama Ia habiskan duduk di restoran itu, tapi Arvin tak memesan makanan sama sekali. Beberapa kali dirinya hanya memesan kopi atau jus buah disana.
"Kenapa masih tidak mau makan? Ini sudah menjelang waktunya makan malam" gumam Liana khawatir.
Iya. Liana masih mengikuti Arvin, meski Ia sempat bosan menunggu sangat lama tapi dirinya ingin memuaskan rasa rindunya tuk menatap wajah Arvin, kalau bisa sampai bosan Ia melihat wajah Arvin.
Hingga esok harinya Ia tak membuntuti Arvin, karena Ia memiliki stok banyak ekspresi Arvin untuk diingat.
"Permisi!" lambai Liana pada seorang Karyawan restoran itu, yang memang memiliki tugas untuk melayani Customernya.
"Iya Nona?" Sopan sang Karyawan restoran itu.
"Saya pesan Nasi goreng Seafood untuk dibawa pulang" pinta Liana berinisiatif untuk memesan kan makanan untuk Arvin supaya jika sampai rumah Arvin dapat memakannya.
"Baik Nona akan segera disiapkan. Mohon tunggu sebentar!" ucap Karyawan restoran itu meminta pengertian Liana.
Sang Karyawan restoran ingin pergi tuk sampaikan pada Koki restoran namun dicegah oleh Liana kembali. "Tunggu sebentar! Saya pesan dua, ahk... bukan tiga saja" Liana menambah pesanan.
Liana memiliki pemikiran jika nantinya dirinya dapat makan bersama dengan Arvin dan Alya. Liana berpikir jika Arvin tinggal berdua dengan Alya, mana mungkin dirinya berharap bisa makan berdua saja dengan Arvin.
***
__ADS_1