Love'S Feeling

Love'S Feeling
Kabar Besar


__ADS_3

Semua telah diceritakan secara jelas oleh guru Nita pada Arvin lewat sambungan telpon, apa yang terjadi pada Liana.


Kekhawatiran terus mengusik hati Arvin yang mencoba untuk secepat mungkin sampai ke rumah sakit yang ditunjukkan oleh guru Nita.


Tak sampai disana, Arvin juga tetap berlari kencang saat menginjakkan kakinya dirumah sakit, hingga Ia tak perdulikan cemoohan orang tentang dirinya yang menabrak beberapa orang, atau hampir terjatuh karena lantai yang licin.


"Sekarang Liana ada dimana?" Tanya Arvin terengah-engah.


"Ibu guru Ana masih ada didalam, Dokter sedang memeriksanya," terang guru Nita yang juga mencemaskan keadaan Liana, meski selama ini selalu berselisih namun Liana tetaplah rekan kerjanya.


"Pria brengsek!" pekik Arvin mencengkram kera baju Ayah Cika yang terduduk tak jauh dari sana.


"Apa yang telah kau perbuat pada istriku? HA ...!" geram Arvin.


"Aku tidak melakukan apa pun. Aku hanya berdebat dengan istrimu saja, tapi tiba-tiba dia kesakitan, lalu jatuh pingsan." terang ayah Cika yang terlihat takut dengan kegarangan Arvin.


Walau penampilan seperti preman tapi itu hanya penampilan dari luar saja tapi didalam lain ceritanya.


"Paman tolong jangan marahi ayahku!" pinta Cika yang menangis sambil menarik jas Arvin untuk mengalihkan perhatian kepadanya.


"Ayahku tidak bersalah,"bela Cika.


Mendengar permohonan dari Cika, emosi Arvin dapat sedikit ditahan dan rasa ibah pada Cika mulai timbul perlahan mengalahkan rasa kesalnya. 


"Kali ini kau selamat. Tapi jika terjadi sesuatu pada istriku. Aku pastikan, aku tidak akan menahan diri lagi" kecam Arvin.


"Aku jamin istrimu akan baik-baik saja," lontar Ayah Cika meyakini.


"Orang ini ..." Arvin mencoba menahan diri.


"Oo ... dokternya sudah keluar," lontar guru Nita, menjadi orang pertama yang melihat sang dokter keluar dari ruang periksa.


"Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Arvin tuk pertama kalinya.


"Tidak ada masalah. Nona Liana pingsan karena demamnya terlalu tinggi, dan juga mengalami dehidrasi, oleh karena itu kami menginfus Nona Liana," Terang Dokter memberi angin segar pada dada Arvin yang sedari tadi merasa tidak bisa bernafas dengan baik karena terlalu cemas.


"Dan untuk kram perut yang dialami Nona Liana, adalah hal yang wajar bagi Ibu yang tengah hamil pada Minggu-minggu pertamanya," tambah Dokter membuat Arvin terpaku seketika.


"Maaf! Dokter tadi mengatakan jika Istri saya sedang hamil?" tanya Arvin sekali lagi untuk meyakinkan dirinya akan kabar yang diterimanya.


"Benar," angguk dokter dengan wajah innocent, Ia tak menyadari jika berita besar itu dia katakan secara gamblang tanpa aba-aba membuat orang sedikit terkejut.


Ingin berteriak, melompat-lompat, namun bagaimana mungkin Arvin melakukan itu semua. Dirinya mencoba menenangkan hati bagai ingin meloncat keluar karena kegirangan.


"Terima kasih!" ungkap Arvin memeluk dokter yang memberinya kabar baik ini.


"Boleh saya menemui istri saya?" Arvin yang masih harus meminta izin untuk bertemu sang istri.


"Tentu, tapi harap tenang! Nona Liana membutuhkan istirahat yang cukup untuk memulihkan kondisinya," nasehat sang dokter, yang diterima dengan baik oleh Arvin.


"Baiklah, terima kasih!" Arvin berjalan cepat, mungkin lebih tepatnya sedang berlari kecil berjalan hanya untuk masuk kedalam kamar Liana.


Secara perlahan Arvin duduk di sisi ranjang Liana, agar tidak membuat suara gaduh dan membangunkan Liana dari tidurnya.


Namun cara itu tidak berhasil, karena Liana langsung menyadari keberadaan Arvin disampingnya.


"Kau sudah datang?" desah Liana lirih.


"Ehm ... bagaimana perasaanmu? Apa masih ada yang sakit?" cemas Arvin.


"Tidak, aku sudah jauh lebih baik," ujar Liana jauh dari kenyataan karena dirinya masih terlihat sangat pucat, dan tak bertenaga.


Ada yang tergenang, ada juga yang telah terhapus namun masih meninggalkan bekas. Liana mengetahui itu, jika Arvin habis menangis, dan mungkin dirinya akan menangis kembali.


"Kau menangis?" Tangan Liana yang masih terasa lemas, diangkatnya menyentuh pipi Arvin tuk menyentuh jejak air mata itu.


"Apa kau sangat mencintaiku hingga kau menangis saat mendengar kabar ini? Apa kau begitu takut kehilangan diriku?" goda Liana.

__ADS_1


"Ehm sangat!" Arvin menopang tangan Liana, dan diletakan di pipinya.


"Awalnya air mata ini dibuat oleh rasa takutku akan dirimu. Namun kini air mata ini dibuat akan sebuah kebahagiaan menyambut seorang anggota baru dikeluarga kecil kita," Liana mengeryitkan dahinya, tak mengerti arah pembicaraan Arvin saat ini.


"Kau sedang mengandung anak pertama kita," ucap Arvin mengejutkan Liana.


"Benarkah?"


"Ehm ...!" angguk Arvin penuh senyuman. "Apa kau bahagia?"


"Sangat!" seru Liana. keduanya tersenyum dan saling menatap dengan rona bahagia.


"Maaf mengganggu. Tapi Ibu guru Ana, ada yang harus anda selesaikan ..." Guru Nita meminta izin untuk menyela, namun dengan cepat Arvin mencegat.


"Bisakah urusan ini diselesaikan lain kali," ucap Arvin dengan tatapan tajam. 


Diraihnya tangan Arvin oleh Liana, "Biarkan saja, okey!" Mohon Liana.


"Ahh ..." Arvin menghela nafas berat, lalu mengutarakan keberatannya, "bukankah Ibu guru Nita juga seorang guru? Kenapa tidak diselesaikan olehnya saja? Kau bukan satu-satunya guru disana".


"Tapi ..."


"Tapi apa?" sekat Arvin. "Kau masih sangat lemah. Dan kata dokter mengharuskan mu banyak-banyak istirahat".


"Sttp ...!" Liana membungkam mulut Arvin. "Kau ini cerewet sekali".


"Semua ini tidak akan memperburuk keadaanku. Lagi pula aku wali kelas Cika, mana mungkin diwakilkan oleh Ibu guru Nita," tegas Liana meski dengan nada bicara yang pelan.


"Aku akan mengurusnya dengan cepat, tolonglah!" pinta Liana dengan tatapan memohon.


"Terserah kau saja"pasrah Arvin masih dengan kekesalan. Ia berdiri disatu sudut dan menjadi seorang penonton.


"Pak Yudi ..." Liana berusaha untuk mendudukkan dirinya meski sedikit lemas, karena terasa tidak sopan saja jika Ia berbicara dengan orang dalam keadaan tiduran.


Dengan sedikit bantuan Arvin Liana dapat duduk dengan sempurna.


"Biarkan aku jalani hidup dengan anakku, dan jalani hidup bahagiaku dengan suamimu!".


"Ibu guru Ana ini keinginan Cika untuk membantu Ayah mencari uang, Ayah sama sekali tidak memaksa ku," ungkap Liana membela Ayahnya.


"Tapi bukankah Cika sangat senang bersekolah? Kau anak yang pintar sayang, jangan sia-siakan masa kecilmu yang seharusnya dibuat untuk belajar, bukan waktunya untuk bekerja," Tutur Liana.


"Memang Cika ingin sekali bersekolah, tapi Cika juga harus membantu Ayah".


"Bukan seperti ini cara membantu ayahmu," potong Liana.


"Bantu dia dengan belajar dan lulus dengan nilai terbaik". "Jika kau lakukan itu. Kelak jika kau dewasa kau akan bisa mencari uang untuk membahagiakan Ayahmu," nasehat Liana.


"Tapi itu terlalu lama. Aku dan Ayah mengumpulkan uang untuk membuka toko. Dengan begitu kami akan mendapat uang banyak dan bisa membeli rumah," akuh Cika dengan wajah polosnya. 


Liana menghela nafas panjang dengan air mata tertahan, lalu melirik tajam kearah ayah Cika.


"Kenapa Nona memandangku seperti itu? Cika bicara yang sebenarnya. Dia tidak bohong," Ayah Cika merasa terancam oleh tatapan tajam Liana.


Liana langsung menyentuh kepalanya yang terasa berat.


Dengan sigap Arvin langsung maju tuk tanyakan keadaan sang Istri, "kau tidak apa-apa? Apa kepalamu pusing lagi?".


"Aku baik-baik saja," desah Liana lirih.


"Bagaimana Kau bisa bilang baik-baik saja?" Arvin begitu kesal dengan Liana yang menggampangkan kesehatannya. 


"Kau!" panggil Arvin menatap tajam kearah Ayah Cika dengan nada yang menekan.


"Jadi inti masalah ini karena uang bukan?" ucap Arvin ikut campur.


"Iya," Jawab Ayah Cika dengan sangat cepat.

__ADS_1


Sedikit banyak Arvin telah tahu duduk permasalahannya, dengan cepat Arvin mencari solusi dan membereskannya agar masalah itu tidak sampai berlarut-larut, hingga mengganggu kesehatan Liana yang saat ini sedang menurun.


"Baiklah, jika seperti itu. Bekerjalah padaku! Aku akan menggajimu secara layak. Jadi biarkan Cika bersekolah!"


"Anda serius?" Tanya Ayah Cika tak yakin. Mungkin ayah cika masih tak percaya dengan keberuntungan yang ia dapatkan secara tiba-tiba.


"Ini kartu namaku datanglah kekantorku besok pagi untuk bekerja!" Arvin mengeluarkan kartu nama Ari dompetnya dan diberikan pada Ayah Cika.


baik, terima kasih!".ayah Cika menjabat tangan Arvin penuh rasa syukur. 


"Dan untukmu. Kau harus bersekolah! Jangan sampai kecewakan Ibu guru Ana lagi! Kau mengerti?"


"Iya," angguk Cika dengan tampang polosnya.


"Sekarang permasalahan sudah dianggap selesai kan?" pandangan Arvin terarah pada Liana yang saat ini tersenyum bangga padanya.


Matanya mulai berair, si kecil Cika tidak dapat menyembunyikan rasa harunya. Ia menangis sambil memeluk pinggul Arvin karena hanya itu yang dapat Ia capai,


"Paman tampan, terima kasih telah membantu Ayahku. Aku akan membalas segala kebaikan paman suatu saat nanti,".


"Balaslah dengan menjadi anak yang baik! Dan jangan menyusahkan Ibu guru Liana! Kau mengerti?"


"Iya".


"Anak pintar," Arvin membelai lembut rambut Cika.


"Kalau begitu kami pamit dulu!" pamit ibu guru Nita.


"Ibu guru Ana, selamat untukmu!" tulus guru Nita.


"Terima kasih" balas Liana atas ucapan selamat yang didapatnya.


"Permisi!" Ayah Cika menggandeng tangan anaknya, dituntun untuk keluar.


"Sampai jumpa Ibu guru Ana! semoga cepat sembuh!" lambai Cika berjalan keluar.


"Iya. hati-hati dijalan!" Liana ikut melambaikan tangannya.


Liana bernafas lega, dengan wajah tersenyum Ia menatap Arvin yang berada dihadapannya, yang selalu dapat diandalkan.


"Kemarilah!" pinta Liana mengulurkan tangan.


"Ada apa?" Tanya Arvin masih dengan nada kesal tapi masih mau mendekat.


Sebuah kecupan hangat mendarat di pipi Arvin. "Terima kasih. Semua menjadi mudah karenamu".


"Ehm" jawab Arvin dengan memejamkan kelopak matanya sejenak.


"Jangan membuatku khawatir lagi!"


"Pasti".


"Dan jangan paksa dirimu apalagi tubuhmu jika telah berada dibatasnya! Aku tidak ingin kejadian ini terulang kembali," Cerocos Arvin yang hanya mendapatkan jawaban singkat, 'iya' dari Liana beberapa kali.


"Taukah kau? Jantungku terasa sangat sakit karena mencemaskan dirimu, jika ini terjadi terus-menerus pasti aku memiliki penyakit jantung sungguhan". "Tapi aku tidak cemaskan semua itu, aku ..." Ditarik dasi Arvin hingga hampir terjatuh ke depan, untung saja Arvin memiliki ketahanan yang sempurna jadi tubuhnya hanya membungkuk beberapa derajat.


Diciun secara kilat bibir Arvin berharap Omelan yang diterima Liana berhenti sampai disana.


"Bisakah kau berhenti!" pinta Liana setelah melepas ciumannya.


"Tidak bisa," ucap Arvin yang kini gilirannya mencium bibir Liana lebih dalam, dengan tangan yang diletakan dileher Liana agar semakin menekan ciuman itu.


Perjalan cinta kami sangat panjang, dari sebuah pertengkaran, menjadi sebuah simpati, hingga jatuh hati. Aku merasakan itu semua, dan aku tidak menyesal akan proses itu. Karena tanpa proses panjang itu, cintaku tidak akan sedalam ini.


Dan sekarang aku telah mendapatkan manisnya dari buah perjuanganku. Disetiap detik, setiap menit, dan sepanjang hari. Bahkan dalam waktu yang sangat-sangat lama aku akan selalu diingat, dirindukan, dan terus dicintai olehnya. (Proloq Liana).


***

__ADS_1


__ADS_2