Love'S Feeling

Love'S Feeling
Kencan 2


__ADS_3

Disisi lain Tirta begitu gusar dengan apa yang Ia persiapkan untuk kencan ini. Meski Ia telah persiapkan segalanya selama tiga hari, dirinya merasa masih kurang cukup. memesan baju rancangan khusus hanya untuk satu kencan yang tak formal, hingga membelikan berbagai hadiah untuk Sofi dari bunga, boneka sampai kalung yang berbentuk tulip putih yang di sekelilingnya dipenuhi oleh Kilauan berlian.


"Apa yang aku lakukan ini terbilang cukup? Apa menurutmu ada lagi yang harus aku persiapkan?" Tanya Tirta pada Sekretaris Arga.


"Tidak sama sekali. Sepertinya ini sudah lebih dari cukup Presedir" jawab Sekretaris Arga yang hanya mengatakan setengah dari jawabannya. Dan yang setengah lagi Ia katakan dengan cara bergumam sendiri, "yang benar saja? Ini terlalu berlebihan menurutku". "Bos kau ingin berkencan atau ingin melamar seseorang?" Ia ungkapkan dihati saja karena Sekertaris Arga tak mungkin mencibir atasannya secara terang-terangan.


"Kita sudah sampai Tuan Muda" ungkap si Supir menghentikan mobilnya tepat didepan taman hiburan. 


"Presedir kita sudah sampai" ulang Sekretaris Arga yang kini dapat dilihat oleh Tirta dan sadar bahwa dirinya telah tiba di tempat yang dituju. 


Dengan segera mata Tirta meneliti ke segala arah tuk temukan Kekasih hatinya. "Ketemu!" Seru Tirta pandangan matanya telah menemukan Sofi yang berdiri disisi pintu masuk bersama para sahabatnya.


"Dia terlihat berbeda hari ini, dia semakin cantik" gumam Tirta yang terdengar oleh kedua karyawannya yang kini menahan senyum melihat wajah merona atasannya yang sedang dimabuk cinta.


"Ya sudah kalian boleh kembali sekarang!" Perintah Tirta keluar dari mobil.


"Presedir" Sekretaris Arga mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil yang terbuka. "Anda melupakan barang bawaan anda" Sekertaris Arga mengingatkan sang Atasannya.


"Tidak. Aku akan melakukan segalanya diwaktu yang lebih tepat" ujar Tirta yang merasa dirinya terlalu berlebihan.


"Ah... Baiklah kalau begitu" angguk Sekretaris Arga mengerti. "Presedir semoga sukses!" seru Sekretaris Arga menyemangati, yang ditanggapi Tirta dengan senyuman.

__ADS_1


"Maafkan aku! Aku terlambat" sesal Tirta memandang satu persatu bibir kelima orang yang berada dihadapannya untuk mengetahui jika ada yang berkomentar. 


"Tidak apa-apa? Kami juga baru saja sampai" ungkap Sofi mengumbar senyum manisnya. 


"Syukurlah!" Tirta membalas senyuman yang tak kalah lembut.


"Ya sudah lebih baik kita masuk sekarang" usul Arvin. 


"Tunggu!" cegat Anita. "Bagaimana kalau kita berpencar saja? Dan kita ketemu disini lagi jam empat sore nanti" usul Anita. 


"Kenapa?" tanya Liana heran. 


"Tidak perlu seperti itu, Aku sama sekali tidak terganggu kok" ujar Sofi dengan wajah tersipu.


"Tapi kita yang terganggu" Kukuh Anita.


"Oke kita berpencar, dan jam empat ketemu disini lagi" setuju Liana.


"Oke kita berdua setuju" ungkap Arvin mengangkat tangannya yang menggenggam tangan Liana. Membuat Liana tersenyum untuk sesaat. 


"Baiklah. Jadi sepakat ya, kita ketemu disini jam empat sore. Selamat bersenang-senang!" Anita menarik Rendi untuk masuk kedalam duluan.

__ADS_1


"Dengan seperti ini Kau tidak akan merasa canggung lagi berdiri bersama mereka" batin Anita memandang wajah Kekasihnya yang tangannya Ia genggam erat.


"Aku tahu Kau pasti sangat tidak nyaman karena perbedaan status kalian. Tapi buatku itu tak jadi masalah, karena Aku mencintaimu tulus karena Kau cinta sejati ku." 


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Rendi yang mendapati Kekasihnya memandangnya dengan tatapan berbeda. 


"Tidak ada. Aku hanya ingin memperhatikan wajah pacarku. Ternyata Kau sangat tampan dilihat dari sisi mana pun" puji Anita.


"Kita sudah berpacaran sekian lama Kau baru menyadarinya. Kau jahat sekali" gondo Rendi memanyunkan bibirnya. Namun ciuman kilat melesat dipipi Rendi, membuat kekesalan itu lenyap begitu saja.


"Itu ciuman permintaan maaf dariku, jadi jangan marah lagi ya padaku!" 


"Mana mungkin Aku bisa berlama-lama marah padamu" Cubit hidung Anita tak sungguhan.


"Ah... sakit!" ringik Anita manja.


"Maaf! maaf!" Rendi mengelus hidung Anita yang merah karena dirinya cubit beberapa waktu yang lalu. "Aku mencintaimu!" Ungkap Rendi.


"Aku juga mencintaimu!" balas dengan suara manja Anita.


***

__ADS_1


__ADS_2