Love'S Feeling

Love'S Feeling
Seorang dari masa lalu 2


__ADS_3

Arvin hanya duduk terdiam sembari menatap gelas minumannya yang masih utuh tidak diminum sedikit pun olehnya, dia hanya mengaduk-aduk minuman itu tak jelas arahnya.


"Kenapa hanya dilihat saja? Bukankah kakak menyukainya?" Ucap Alya berbasa-basi untuk mengalihkan perhatian Arvin yang entah kemana. Namun tak sedikit pun respon yang diberikan oleh Arvin. "Aku rindu sekali padamu, apa Kakak juga mempunyai perasaan yang sama? Apa kakak juga merindukanku" lagi-lagi tak ada respon dari Arvin sama sekali. "Ada apa denganmu? Kenapa Kakak bersikap dingin kepadaku?" tanya Alya dengan nada sedikit tinggi karena merasa tidak diperhatikan oleh Arvin. "Apa ini sambutan yang aku dapatkan setelah sekian lama kita tidak bertemu?"


"Sebaiknya kau kembali saja ke Amerika!" Arvin beranjak dari tempat duduknya, dan melangkah pergi meninggalkan Alya. 


"Kenapa kakak berbuat ini padaku? Apa salahku?" Alya menggenggam tangan Arvin 


"Seharusnya kau sadar! Apa kesalahanmu?" Arvin melepaskan tangannya dari genggaman Alya. 


"Apa ini semua karena wanita yang bersama Kakak tadi? Karena itu Kakak mencampakanku?" tuduh Alya. 


"Jangan pernah sangkut-pautkan Liana kedalam masalah kita! Dia tidak tahu apa-apa" perjelas Arvin.


"Lalu apa masalahnya?" 


"Masalahnya ada pada dirimu sendiri, kenapa selama ini kau sulit sekali untuk aku hubungi? dan sekarang, kau datang dengan seenaknya setelah sekian lama kita putus hubungan." 


"Maafkan aku, saat aku di Amerika aku sempat kehilangan dompetku. Ponsel, uang, semuanya hilang" ucap Alya menceritakan peristiwa na'as yang pernah ia alami. 


"Lalu kenapa kau tidak mencoba menghubungiku?" 


"Aku belum hafal nomer Kakak. Jadi aku tidak dapat menghubungimu" ujar Alya.


"Itulah masalahnya?"


"ehm" angguk Alya, yang merasa Arvin mulai menerima alasannya.


Arvin mentertawakan dirinya yang selama ini hanya khawatir sendiri memikirkan hubungannya dengan Alya, sedangkan sang pasangan hanya memberi alasan yang tak masuk akal. "Jadi hampir setengah tahun aku mengkhawatirkan hal yang tidak perlu?"


"Maafkan aku. Harusnya aku lebih berusaha mencari Kontakmu pada teman-temanmu" ucap Alya menganggap enteng segala hal.


"Kau selalu menganggap remeh hal-hal yang kecil, dan kau selalu tak pernah bisa menghargai sesuatu yang kau miliki" Arvin meninggalkan Alya sendiri di luar café. Ia tak memperdulikan Alya yang terus menerus memanggil dirinya.


Alya berusaha untuk mengejar keterlambatannya tuk gapai kembali kekasih yang telah jauh meninggalkan dirinya.


"Kau tidak bisa lakukan ini padaku!" Alya mengejar Arvin saat turun dari mobilnya. 


"Kenapa tidak bisa? Kau bisa melakukan ini kepadaku, dan seharusnya kau malu dengan ucapanmu itu!" kecam Arvin yang telah muak dengan sikap sang kekasih.


"Aku akan menunggu Kakak disini sampai kakak mau memaafkan ku."


"Apa kau mengancam ku?"


"Jika itu diperlukan akan aku lakukan" ujar Alya.


"Terserah lakukan apapun yang kau inginkan! Itu tidak akan mengubah apapun" Arvin memalingkan wajah dan pergi.


Suara petir menggelegar terdengar namun tak sedikit pun Arvin mengkhawatirkan Alya. Liana yang mengetahui itu semua mencoba untuk membujuk Arvin agar memaafkan Alya. 

__ADS_1


"Apa kau sudah gila? membiarkan wanita itu berdiri disana semalaman apalagi sebentar lagi hujan, apa kau tidak kasihan padanya?" 


"Sebaiknya kau diam! Dan jangan ikut campur masalahku!" 


"Memang aku tidak tahu apa masalah diantara kalian. tapi aku masih punya hati, tidak sepertimu yang tega membiarkan seorang wanita berada diluar dan kedinginan" Liana mencoba membuka pintu maaf Arvin untuk Alya. 


"Aku tidak butuh komentar darimu" Arvin pergi dari hadapan Liana. 


"Setidaknya kau pikirkan dia pernah berarti untuk hidupmu!" cetus Liana yang tak digubris oleh Arvin.


Awan hitam yang telah menutup keindahan malam ini sekarang telah berubah menjadi tetesan air hujan yang membasahi tanah bumi dengan disertai oleh petir yang suaranya menggelegar membelah kesunyian malam itu. Liana yang masih ibah dengan gadis itu tak dapat sedikit pun memejamkan matanya. 


Saat dia ingin keluar untuk melihat keadaan Alya ia melihat pintu kamar Arvin yang masih terbuka walau hanya sedikit, Liana dapat melihat dengan jelas Arvin yang masih terjaga dari tidurnya menatap kearah luar dengan pandangan kosong dan disudut lain terlihat Alya yang masih saja berdiri tanpa bergerak sedikit pun. 


"Dasar pria bodoh, tidak tahu diri! apa yang kau lakukan disini?" Liana memukul kepala Arvin dengan payung yang ia bawa 


"Ahkk apa yang kau lakukan?" pekik Arvin meminta penjelasan sembari mengusap-usap kepala yang sempat dipukul oleh Liana. 


"Aku ingin menghilangkan pikiran burukmu itu" ucap Liana


"Kau ini..." 


"Apa?" sela Liana. "Aku tidak habis pikir kau bisa menghukum seseorang yang pernah berarti bagimu. Aku tahu dia memang salah tapi semua orang berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua" tutur Liana


"Kau tidak berhak mengatakan itu, kau tidak tahu apapun tentang hubungan kami" saut Arvin memotong perkataan Liana. 


"Cepat pergilah!" Liana menyerahkan payung yang dibawanya dan memberikan senyuman paksa dibibirnya. Ya.. memang berat saat dirinya katakan itu, karena secara otomatis dirinya telah menyerahkan Pria yang telah menempati hatinya pada wanita lain. Tapi tidak mungkin pula ia menutup mata dan telinga melihat keadaan kacau ini.


Butiran-butiran air hujan terus mengguyur tubuh Alya terasa begitu dingin menusuk tubuh Alya sampai ketulang-tulangnya. Didekapnya erat-erat tubuhnya untuk mengurangi rasa dingin yang berselubung didalam tubuhnya. 


"Masuklah!" ucap Arvin menghampiri Alya sembari melindungi Alya dari derasnya air hujan dengan payungnya. 


"Apa itu artinya kakak memaafkanku?" pertegas Alya.


"Ayo kita masuk!" tak tahu harus bilang 'iya' atau 'tidak', karena sesungguhnya ia lakukan ini semata-mata hanya karena permintaan Liana. Arvin menggenggam tangan Alya tuk berjalan masuk kedalam rumah. 


"Ini untuk mengeringkan tubuh kalian biar tidak masuk angin" Liana memberikan handuk pada keduanya saat mereka baru masuk kedalam rumah. 


"Terima kasih" suara yang begitu kalem keluar dari mulut Alya. 


"Sama-sama" 


"Bersihkan tubuhmu. Kamarku ada diatas, disebelah tangga" arah Arvin. 


"Iya" angguk Alya mengikuti. 


"Terima kasih!" lontar Arvin mengusap kepala Liana lembut kemudian berjalan masuk kedalam tuk mengganti baju. 


"Ehm!" senyum Liana yang kini melihat punggung Arvin yang semakin menjauh. "Sepertinya aku benar-benar gila. Harusnya aku tidak lakukan ini" sesal Liana yang merasa hubungan Arvin dan sang Kekasih mulai membaik. Dan disana ada ketidak relaan dihari Liana. "Tapi aku juga tidak bisa membiarkannya begitu saja" Bimbang Liana.

__ADS_1


"Bagaimana kekecilan ya?" tanya Liana mencari pendapat Alya yang memakai piyamanya.


"Tidak ini pas sekali, hanya saja bajunya kurang panjang" ujar Alya yang memiliki tinggi semampai.


"Maaf ya, tapi hanya itu bajuku yang lebih panjang." 


"Tidak apa-apa aku mengerti, jangan merasa tidak enak seperti itu!" 


"Iya" Liana membalas senyuman Alya. "Dia tidak saja cantik, dia juga lembut dan sopan. Tak heran Arvin memilihnya sebagai kekasih" batin Liana mengagumi sosok Alya.


"Bahasa Indonesia Kakak begitu baik, apa Kakak pernah tinggal di Indonesia?" 


"Memang aku orang Indonesia kok, aku ke Amerika hanya karena aku kuliah modeling disana" curah Alya.


"Ohh.. begitu.." angguk Liana mengerti.


"Liana.." 


"Em-m??" 


"Aku boleh bertanya sesuatu padamu?" 


"Apa?" 


"Sebenarnya ada hubungan apa kau dengan Kak Arvin?" 


"Eh..?" Liana terkejut saat Alya tiba-tiba menanyakan pertanyaan yang belum terpikir oleh Liana tentang jawaban dari pertanyaan itu. 


"Aku tanya kau dan kak Arvin mempunyai hubungan apa?" Alya mencoba untuk mengulangi pertanyaanya. 


"A..aku..aku..Arvin..keluarga" ucapan Liana terbata-bata.


"Maksudmu?' 


"Iya kami keluarga, aku adik sepupunya" Liana tersenyum begitu penuh kebohongan. 


"Aku pikir Kak Arvin tidak mempunyai Adik sepupu perempuan" ulas Alya. 


"Iya, aku saudara jauh Arvin jadi mungkin Arvin menganggap diriku tidak penting untuk diperkenalkan padamu." 


"Lalu kenapa hanya Kau dan Kak Arvin saja dirumah ini? Kenapa tidak tinggal bersama keluarga kalian?" 


"Ohh.. itu aku hanya menumpang sementara kok disini, soalnya kalau aku tinggal dirumahku kejauhan dari Kampusku?" 


"Ohh.. begitu aku kira kalian ada hubungan yang spesial." 


"Ahh...itu tidak benar, dan tentu saja itu tidak mungkin terjadi" ucap Liana jauh dari kenyataan yang sebenarnya. "Ya sudah, ayo kita tidur! Sudah malam. Aku sudah mengantuk" Liana tidur membelakangi Alya. "Dasar bodoh kenapa aku bilang seperti itu" batin Liana menyesali pernyataannya. Sebuah kebohongan akan menimbulkan kebohongan yang lainnya untuk menutupi kebohongan sebelum-sebelumnya itulah yang bisa dilakukan oleh Liana.


***

__ADS_1


__ADS_2