
Liana memaut wajahnya didepan kaca dan sedikit make up diwajahnya, sebagai persiapan untuk pergi keluar rumah.
"Ayo sarapan! Aku sudah membuat sarapan untukmu," ajak Arvin yang berdiri diambang pintu kamar Liana.
"Kau membuatkan sarapan untukku?" tanya Liana tak yakin.
"Tentu saja, ayo cepat turun!" Arvin berjalan lebih dahulu tanpa menunggu Liana.
Namun langkah itu terhenti seketika saat dirinya mendapatkan sebuah permintaan maaf dari Liana.
"Maafkan aku! Sepertinya aku tidak bisa ikut sarapan denganmu hari ini. Aku harus segera pergi, ada janji yang harus aku tepati." ujar Liana mencari alasan untuk menghindar dari Arvin, sebelum Ia benar-benar siap untuk menyatakan pisah.
"Akan aku antar nanti. Jadi mari kita sarapan bersama!" ujar Arvin memberi penawaran.
"Maafkan aku! Bukannya aku tidak ingin, tapi aku benar-benar terlambat sekarang" Liana bergegas pergi dengan tas yang disampirkan di bahunya.
"Maafkan aku!" Liana berlari keluar menghindari kontak dengan Arvin, agar tidak ditanya lagi. karena jika seperti itu mungkin dirinya tak lagi dapat memberi alasan lebih banyak lagi.
"Sebenarnya dia memiliki janji dengan siapa? Kenapa harus sepagi ini?" gumam Arvin yang tak ambil pusing.
Ia berpikir lebih baik merencanakan lamaran yang sesungguhnya kepada Liana dari pada memikirkan hal yang tak memiliki jawaban.
Angan-angan yang dipikirkan tentang lamaran manis pada Liana membuat senyuman tak pernah lepas dari bibirnya.
"Aku harap yang aku lakukan ini dapat sedikit membayar kesalahanku padamu," harap Arvin.
Sedangkan disisi lain orang yang diharapkan kebahagiaannya oleh Arvin malah duduk terdiam di halte bus tanpa menanti kedatangan kendaraan umum itu sendiri.
Ia hanya menumpang duduk untuk menghabiskan waktu, karena sesungguhnya tidak ada janji dipagi ini ataupun nanti. Liana hanya berbohong agar dirinya dapat menghindar dari Arvin.
Jika bisa Ia tidak ingin bertemu untuk beberapa hari sampai dirinya memiliki keberanian yang cukup untuk berpisah.
Dari pukul tujuh pagi hingga sepuluh malam Liana bertahan di halte bus itu, dan setelahnya Ia akan pulang ke rumah seperti seorang yang tengah disibukkan oleh rutinitas hariannya.
"Kau sudah pulang?" ucap Arvin yang telah menanti kedatangan Liana sedari tadi.
"Ehm ..." Angguk Liana tak banyak bicara.
"Kau sudah makan? Bibi Atun tadi memasak makanan kesukaanmu, apa mau aku hangatkan?" tawar Arvin.
"Tidak, terima kasih! Aku sudah makan tadi," tolak Liana yang memang kenyataannya seperti itu, Ia memakan beberapa potong roti untuk mengganjal perutnya selama duduk di halte bus.
"Aku lelah. Aku ingin beristirahat saja," lanjut Liana sebelum Ia naik keatas.
Arvin menghampiri Liana, lalu setelah mendekat Ia mengecup lembut kening Liana lalu berucap tak kalah lembut, " baiklah, selamat beristirahat! Semoga mimpi indah".
Terasa seperti meleleh hati Liana mendapat perhatian itu, namun secara bersamaan dirinya juga merasakan kesakitan yang teramat sangat.
__ADS_1
"Baiklah, selamat malam!" ucap Liana mencoba untuk tetap tenang hingga dibalik pintu kamar yang sengaja Ia kunci dari dalam agar Arvin tak dapat menerobos masuk dan melihatnya yang kini tengah menumpahkan air matanya.
"Rasanya sakit sekali!" ucap Liana menekan dada yang terasa begitu penuh dan sesak.
***
Lantaran beberapa hari ini Arvin tidak memiliki kesempatan untuk bertemu muka dengan Liana. karena Liana selalu sibuk dengan kegiatannya diluar sana dan selalu pulang larut malam.
Oleh sebab itu Arvin memutuskan untuk menemani Liana hari ini, meski dirinya harus beralih profesi sebagai supir pribadi Liana tak akan jadi masalah baginya.
Arvin mempersiapkan dirinya sepagi mungkin, serta-merta hanya agar tidak tertinggal oleh Liana yang selalu berangkat dipagi hari.
"Liana! Liana!" Panggil Arvin ke seluruh sudut rumah saat dirinya mendapati kamar Liana telah kosong. Jadi dirinya mencoba mencari Liana keruangan yang lainnya mungkin saja yang Ia cari berada diantara ruangan-ruangan itu.
"Tuan!" panggil Bibi Atun dari belakang.
"Nona Liana sudah pergi beberapa jam yang lalu" jelas Bibi Atun yang mengetahui Liana yang telah keluar rumah saat subuh.
"Apa? Tapi ini masih jam 7 pagi," Lontar Arvin tak percaya.
"Iya Nona Liana keluar dari rumah pukul 5 pagi," terang Bibi Atun meyakinkan.
Seketika Arvin menghela nafas panjang, "Apa dia sebodoh itu, sehingga Ia harus berusaha terlalu keras hanya untuk mengerjakan skripsinya," gumam Arvin.
Kendati Arvin telah ditinggal Liana, tak membuatnya mengurungkan niatnya begitu saja, "Aku sudah serapi ini, sayang jika hanya berdiam diri dirumah saja". "haruskah aku menyusulnya?"pikir Arvin mempertimbangkan.
Dengan semangat yang tinggi Arvin meninggalkan pekarangan rumahnya dengan mengendarai mobil pribadinya.
Tapi siapa sangka sesaat setelah Ia telah sampai dijalan utama Arvin melihat seseorang yang tidak seharusnya berada disana.
Tentu, Arvin telah melihat Liana yang terduduk di halte bus disisi kanan jalan.
Dihentikan mobilnya disisi jalan yang berbeda, mencoba meyakinkan dirinya jika gadis yang dilihat adalah Liana, meski hanya dari kejauhan.
"Kenapa dia masih berada di sana? Bukankah dia telah berangkat 2 jam yang lalu?" tanya Arvin pada dirinya sendiri merasa ada yang tidak beres dengan sikap Liana.
"Kau dimana?" Tanya Arvin yang mendengar suara Liana yang telah mengangkat telpon darinya.
"Sudah aku katakan aku ada janji, tentu saja aku sedang berada dijalan sekarang untuk menemui temanku," bohong Liana, menjelaskan segala prasangka Arvin itu benar.
"Kenapa kau berbohong padaku? Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" benak Arvin
"Teman yang mana? Rendi, Anita, Sofi, atau seniormu itu?" tanya Arvin yang masih ingin meneruskan aksi ketidak tahuannya.
"Bukan. Yang aku temui adalah temanku yang lainnya, jika aku katakan kau juga tidak akan mengenalnya"
"Pria atau wanita?" cecar Arvin.
__ADS_1
"Wanita. Kau puas sekarang?" kesal Liana.
"Apa kau sedang berbohong padaku?" Tanya Arvin yang mulai kesal dengan Liana, karena jawaban dan kenyataannya sangat jauh berbeda.
"Kenapa aku harus berbohong padamu?".
"Itu yang ingin aku tanyakan, kenapa kau berbohong padaku?" tanya balik Arvin hanya terlontar dihati saja.
"Jika tidak ada pertanyaan lagi boleh aku menutup telponnya? Sebentar lagi aku akan sampai," lontar Liana memberi alasan.
"Jam berapa kau akan pulang? Bisakah aku menjemputmu?"
"Tidak perlu. Aku akan pulang malam, jadi tidak perlu menungguku!". " Kalau begitu sampai nanti," Liana bergegas menutup telponnya.
"Ada apa denganmu sebenarnya? Bukankah kau sangat menyukai ku? Lalu kenapa kau tetap menangis disaat bersamaku? Apakah tanpa sengaja aku telah menyakiti dirimu lagi?" gumam Arvin menatap nanar kearah Liana yang kini terlihat menangis sesenggukan dan beberapa waktu Liana juga terlihat mencengkeram dadanya yang mungkin terasa sangat sakit.
Tiga ... empat ... Lima ... Liana tak beranjak dari tempatnya. Meski waktu menujukkan pukul setengah 8 malam Liana tetap betah duduk di halte bus, sedangkan Arvin sendiri mengamati Liana dari kejauhan.
Hanya menyantap beberapa potong roti dan juga sebotol air mineral, Liana menyantap makan malamnya setelah sedari pagi tak mengisi perutnya sama sekali.
"Kenapa tidak pulang jika lapar? Bukankah beberapa potong roti tidak akan membuatmu kenyang, setelah duduk sepanjang hari disana dengan perut kosong," cemas Arvin.
"Ada apa denganmu sebenarnya? Apa kau marah karena malam itu aku lebih memilih pergi menemui Alya? Tapi jika kau marah bukankah kau seharusnya berteriak dan memakiku? Tapi mengapa kau malah menghindar dariku?" Segala pertanyaan yang tak memiliki jawaban membuat Arvin bertambah frustasi.
Tak tahan dengan semua itu, Arvin pun memutuskan untuk turun, dan menghampiri Liana. Ia mencoba untuk meluruskan segala permasalahan ini agar tak berlarut-larut.
"Liana mari kita bicara!" pinta Arvin yang kini telah berada dihadapan Liana.
"Oo ... Arvin kapan kau datang? Bagaimana kau tahu jika aku akan pulang jam segini? Mungkinkah kau menungguku?" Tanya Liana masih betah dengan kepura-puraannya.
"Jangan bicara omong kosong lagi! Mari kita luruskan segalanya!" bentak Arvin yang mengundang perhatian beberapa orang yang berada disekitar mereka.
"Bagaimana kalau kita bicara sambil makan saja? Aku sudah kelaparan, sedari tadi tidak makan sama sekali," bisik Liana malu yang sadar jika telah diperhatikan semua orang.
"LIANA!!"
"Aku mohon! Aku benar-benar lapar," pinta Liana dengan wajah memelas.
Tanpa kata Arvin langsung menarik Liana tuk menyeberang jalan, dan secara kasar menyuruh Liana untuk masuk kedalam mobil.
"Kau ..."
"Jika kau ingin memarahi ku, setidaknya beri aku makan terlebih dahulu. Aku sangat lapar," potong Liana yang mengetahui Arvin akan marah padanya setelah masuk kedalam mobil.
"Dipertigaan keempat dari jalan ini, ada kedai mie langganan ku, bisakah kita makan terlebih dahulu? Baru nanti kita bicara lagi," lanjut Liana yang mampu menahan amarah Arvin yang ingin meledak.
Tanpa berkata 'Iya' atau berbicara yang lainnya, Arvin langsung menjalankan mobil pribadinya sesuai dengan instruksi dari Liana.
__ADS_1
***