
Karena ciuman yang terjadi beberapa waktu yang lalu, keduanya memutuskan untuk kembali saja kerumah karena tak memungkinkan jika mereka harus menginap dan tidur di satu ranjang yang sama. Entah akan jadi apa mereka, mungkin paling parah mereka tidak akan bisa tidur hingga pagi menjelang. Dengan segala alasan mereka lontarkan tuk lolos dari permintaan menginap, dan merekapun pulang tanpa meninggalkan pikiran negatif dari kedua orangtua mereka berdua.
"Terima kasih" ungkap Liana mengawali pembicaraan setelah beberapa saat hening didalam mobil.
"Sepertinya hari ini kau banyak mengucap terima kasih pada ku."
"Karena kau memberikan begitu banyak kebahagiaan padaku hari ini" tutur Liana. "Bukankah kau yang merencanakan semua ini?"
"Bukan hanya aku, semuanya juga ikut membantu. Jadi tidak perlu berterima kasih." Liana menjulurkan tangan kanannya.
"Apa?"
"Mana kado untukku?"
"Tidak ada" jawab Arvin singkat.
"Hey...kau ini. Seharusnya kau menyiapkan kado untukku! Inikan hari ulang tahunku"
"Aku tidak sempat membeli hadiah untukmu, lagi pula kau kan sudah dapatkannya dari yang lain"
"Itukan berbeda"bantah Liana
"Ya sudah aku belikan besok"
"Tidak perlu" gondok Liana. "Itukan bukan hari ulang tahunku"
"Jadi sebenarnya kau mau apa dariku?" nada suara Arvin sedikit meninggi merasa kesal dengan perkataan Liana yang berbelit-belit.
"Kita jalan-jalan yuk!"
"Bukankah tadi sudah?"
"Ehm.." geleng Liana, "tadi itu berbeda. Sekarang aku ingin pergi ke pantai."
"Apa? kau sudah gila? inikan sudah malam, buat apa kita kesana?"
"Itu nikmatnya pantai, karena pantai lebih indah bila malam hari ,dari pada siang hari"
"Tidak mau, kita pulang saja sekarang!" tolak Arvin mentah-mentah.
"Ayolah anggap saja sebagai pengganti hadiah untukku. Emm.. emm.."rayu Liana memasang wajah memelas.
"kau ini.."
"Ayolah! Aku cukup terluka beberapa hari ini, jadi biarlah hari ini jadi hari bahagia untukku" rengek Liana, "apa kau tega membiarkanku pergi sendiri dengan pikiran sekacau ini? Bagaimana jika aku ingin mentenggelamkan diriku dilaut. Apa kau mau bertanggung jawab?" Liana memberi semua alasan yang terpikir olehnya tuk dapat persetujuan dari Arvin.
"Yakk! Kenapa bicara seperti itu?"
"Ya kan aku tidak bisa menjamin hal yang buruk terjadi jika aku pergi sendiri kesana" ujar Liana.
"Baiklah tapi hanya sebentar saja" Arvin menyerah.
"Dell" Liana tersenyum penuh kemenangan. "Ayo berangkat!"
__ADS_1
Mobil Arvin berbelok arah kejalan yang mengarah ke sebuah pantai terdekat dari sana. Perjalanan ditempuh dengan begitu lancar, tak banyak kendaraan yang mengarah ke pantai di jam semalam ini. Hanya pemikiran gila Liana lah yang membuat Arvin menempuh jarak yang cukup jauh menuju Pantai.
Sekitar empat jam perjalanan ditempuh Arvin sendirian karena yang memiliki permintaan itu malah tertidur lelap hingga sampai ditempat tujuan.
Debur ombak yang terdengar keras membangunkan Liana dari tidurnya, dikucek kelopak matanya yang masih terasa sepat tuk membuka mata.
"Uwahhh.. indah sekali!" seru Liana yang masih belum sadar betul.
"Kau sudah bangun?" tanya Arvin yang baru datang dengan membawa dua kopi panas. untuk dirinya dan juga Liana. "Ini untukmu!"
"Terimakasih" Liana meneguk minuman itu, meski sedikit panas tapi dinginnya malam membuatnya tidak merasa kepanasan.
"Indah bukan?" lontar Liana memandang lepas kearah pantai.
"Biasa saja" pendapat Arvin.
"Kau ini. Apa sedikitpun kau tidak memiliki sisi kelembutan?"
"Untuk apa? aku ini seorang pria jadi tidak perlu memiliki sisi kelembutan"
"Pantas saja kau ditinggalkan kekasihmu. Karena biasanya orang yang tidak memiliki sisi lembut, dia bukan tipe pria romantis".
"Chekk..! dangkal sekali pemikiranmu tentang pria." decik Arvin meremehkan. "Tak semua pria didunia ini sama seperti yang kau pikirkan selama ini. Dasar kekanak-kanakan" cibir Arvin.
"Ahh.." hela panjang nafas Liana terdengar sangat berat. "Haruskah aku membuang segalanya? Dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa"
Arvin menatap lekat wajah yang tampak sepenuhnya, mata itu mulai berair lagi.
"Aku ingin berpaling dan pergi menjauh. Aku tidak ingin terluka lagi, aku ingin melanjutkan hidupku"
"Aku akan berusaha. Aku juga harus memikirkan kehidupanku selanjutnya kan?" Liana tersenyum dan juga menangis.
"baguslah kalau kau berpikir seperti itu. Aku akan membantumu."
Liana membuang segala hal yang pernah diberi Jojo padanya, sebagai tanda awal jika ia akan mencoba melepaskan dirinya dari perasaan yang ia miliki untuk Jojo.
Liana berteriak sangat-sangat keras kearah pantai, "Kakak, sekarang sepenuhnya aku melepasmu! Jadi hiduplah dengan bahagia bersamanya! dan aku akan hidup dengan penuh senyuman disini" beberapa saat ia menghela nafas berat karena ia merasakan sesak di dadanya hingga membuat matanya berair kembali, "ah.. kenapa aku mengeluarkan air mata lagi?" Liana tersenyum miris seraya menyeka air matanya dengan cepat.
"Tidak apa-apa, nanti kau juga akan terbiasa dengan semua ini."
"Ehm!" angguk Liana yakin.
"Iya benar seperti itu" Ujar Arvin singkat. Tapi tidak dibenaknya yang bicara jujur tentang rasa dihatinya, "tetaplah tersenyum seperti itu! Dan jangan terluka lagi! karena aku tidak bisa melihatmu terluka lagi. tidak tahu kenapa aku juga merasakan sakit yang sama sepertimu" Arvin menatap Liana penuh teliti.
"Ini untukmu"diberikan sebuah hadiah yang terbungkus sangat cantik.
"Oo" Liana terkejut, "katanya tidak sempat membeli kado?"
"sudah terima saja!" Arvin meneguk kopinya yang hampir dingin. "Kenapa wajahmu cemberut seperti itu? Bukannya kau senang diberi hadiah?" tanya Arvin yang melihat Liana sedang merajuk.
"Kalau aku tidak mengajakmu kesini, mana mungkin kau akan memberikannya padaku?"
"Tergantung. Jika sikapmu manis padaku, ya.. akan aku berikan padamu. Sudah jangan banyak bicara! Cepat buka hadiahmu!"
__ADS_1
"ciihh.." decik Liana kesal sambari memanyunkan bibirnya.
Liana mulai melepas pita cantik yang mengikat sebuah kotak indah pembukus hadiah yang sebenarnya. Sebuah kalung indah nan mahal yang selama ini ia dambakan. "Bukannya ini kalung itu? bagaimana bisa?"
Flashback.
"Kakak mau kasih kado apa untuk kak Liana?" tanya Dafina saat mereka berdua mencari kado disebuah Mall.
"Kakak belum tahu" Arvin kebingungan.
"Ah..kakak payah" Cibir Dafina.
"Hey, apa Dafina baru saja mencibir kakak?"
"Kalau iya memang kenapa?"
"Dasar anak kecil, masih kecil sudah berani mencibir orang yang lebih tua" ucap Arvin disela senyumnya sembari mengacak-acak rambut Dafina.
"Memang benarkan kalau kakak itu memang payah" cibir Dafina sekali lagi.
"Berhentilah mencibir! Dan bantu kakak mencari hadiah untuk kak Liana!" pinta Arvin.
"Iya baiklah. Maafkan aku."
Mereka menelusuri seluruh isi Mall dan saat mereka melintasi sebuah toko perhiasan. Arvin melihat sebuah kalung yang pernah diperhatikan oleh Liana.
"Kakak kenapa?" tanya Dafina yang melihat Arvin tiba-tiba berhenti.
"Lihat ini" tunjuk Arvin pada sebuah kalung yang terpajang dietalase toko. "Menurut Dafina kalung ini bagus tidak?" Arvin meminta pendapat.
"Uwahhh cantik sekali. Pasti kak Liana suka". "Dia akan langsung terimanya dengan senang hati" Dafina menggambarkan perasaan kakaknya seperti sudah tahu benar jika hal itu akan terjadi.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Karyawan di toko perhiasan itu
"Boleh kami melihat kalung itu?" tunjuk Arvin
"Oh..iya, silahkan!" Karyawan itu mengambil kalung yang ditunjuk Arvin. "Untuk pacarnya?" tanya sang Karyawan itu berbasa-basi.
"Bukan tapi untuk istrinya" sela Dafina.
"Oh benarkah? Pilihan anda sangat tepat. Ini model terbaru di toko kami, sangat cantik bukan? Cocok jika di jadikan sebagai hadiah untuk seorang wanita".
"Baiklah aku ambil yang ini" ucap Arvin mengeluarkan dompet dari sakunya.
"Jangan lupa bungkus yang bagus ya!" pinta Dafina.
"Baik nona kecil, saya akan membukusnya dengan hiasan yang paling indah" turut sang Karyawan.
Flashback end.
"Kau suka?" tanya Arvin tentang perasaan Liana.
Namun bukan sebuah kata yang menjadi jawaban atas pertanyaan yang diajukan Arvin. Sebuah kecupan hangat menempel singkat di pipi Arvin. Kali ini ciuman itu bukan paksaan atau bagian dari sandiwara. Itu sebuah ketulusan dari hati Liana. "Terima kasih" ungkap Liana saat Arvin menatapnya dengan wajah kaget bercampur bingung tapi beberapa saat ekspresi itu mengendor dan berganti dengan senyuman.
__ADS_1
*** ***