Love'S Feeling

Love'S Feeling
Kesembuhan Nenek


__ADS_3

Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit akhirnya izin untuk pulang pun diberikan kepada nenek yang kesehatannya berangsur membaik. 


"Aku senang akhirnya Nenek bisa kembali kerumah" ungkap Liana seraya menggandeng Neneknya berjalan melintasi lorong rumah sakit. 


"Tapi Aku lebih senang lagi kalau dugaanku tadi menjadi kenyataan" ulas Nenek atas kejadian yang terjadi beberapa jam yang lalu saat perut Liana mual karena masuk angin, namun Nenek menganggapnya itu sebuah tanda kalau Liana telah hamil muda.


"Kamu tahu? Betapa kecewa dan malunya Aku pada Dokter kandungan itu" 


"Salah sendiri, Nenek tidak percaya dengan ucapkanku. Kan Aku sudah bilang 'kalau ini hanya masuk angin biasa saja'. Tapi Nenek tidak mempercayainya, dan memaksaku untuk cek kandunganku" gerutu Liana yang merasa menjadi korban namun masih tetap dipersalahkan juga. 


"Ohh sekarang Kamu menganggapku yang paling salah disini?" geram Nenek. 


"Bukan seperti itu, Nenek ini sensitif sekali" dengan segera Arvin memberikan isyarat pada Liana agar tidak membantah pada Neneknya.


"Maafkan aku" sesal Liana tertuntuk. 


"Sebaiknya kalian segera punya anak, kalau kalian ingin melihatku hidup lebih lama lagi" ancam Nenek. 


"Baik. Kami akan berusaha mulai dari sekarang" jawab Arvin memberi angin sejuk pada sang Nenek. 


Namun tidak pada Liana, "pembohong" batinnya menatap tajam kearah Arvin, yang membuat hatinya merasakan sakit saat kebohongan Arvin itu terlontar.


"Sudah sampai disini saja mengantarku!" pinta Nenek saat jemputannya telah datang.

__ADS_1


"Sebaiknya kalian pulang sekarang! Agar tidak kemalaman dijalan" anjur Nenek


"Jangan khawatirkan kami! Sebaiknya khawatirkan diri Nenek!" pinta Arvin setelah membantu Neneknya masuk kedalam mobil. 


"Jadi Nenek tidak ikut bersama kita?" Liana bingung dengan keadaan ini, kenapa seorang yang baru saja sembuh dari sakitnya ditinggal begitu saja.


"Untuk apa ikut bersamamu? Nanti kalau Kamu punya bayi didalam perutmu, pasti aku akan tinggal bersama kalian" saut nenek tak mengurangi keketusannya. 


"Tapikan Nenek belum sehat sepenuhnya. Kalau ada apa-apa dengan Nenek bagaimana? Tidak ada yang menjaga nenek disini" Liana begitu mengkhawatirkan keadaan sang Nenek.


"Kata siapa tidak ada yang menjagaku? Banyak orang disini yang menjagaku. Jadi jangan khawatirkan Aku! Khawatirkan saja dirimu sendiri! Masa istri seorang Arvin Hadinata bisa masuk angin" ujar Nenek masih dengan nada ketusnya, sepertinya Nenek masih tidak dapat melupakan peristiwa memalukan tadi.


"Hey Arvin, jaga istrimu baik-baik jangan pekerjaan saja yang kamu pikirkan seperti Ayahmu!" tutur Nenek.


"Baiklah, akan selalu aku ingat pesan Nenek" Lagi-lagi Arvin membuat janji yang tak sanggup Ia jalankan.


"Mbak Ima jaga Nenek baik-baik! Jika butuh apa-apa jangan sungkan menelfon ku" pesan Arvin pada Mbak Ima yang selama ini berada disisi Nenek dan yang selalu menjaganya.


"Baik Tuan Muda Arvin" patuh Mbak Ima.


"Hey Cucu Menantu! Apa Kamu tidak ingin mengucapkan selamat tinggal padaku?" Ujar Nenek yang melihat Liana yang masih betah berada ditempatnya dengan air mata yang terhapus.


Seketika Liana berhambur kearah Nenek, memeluk tubuh tuanya. "Aku sayang nenek, aku pasti merindukan nenek" ungkap Liana yang kini tak dapat membendung tangisannya lagi.

__ADS_1


"Hiduplah dengan baik, jangan membuat orang mengkhawatirkan Nenek lagi!" pinta Liana seraya melepaskan pelukannya sekaligus merelakannya pergi. 


"Apa Kamu baru saja menasehati orang yang lebih tua darimu?" Tanya sang Nenek, yang hanya disambut dengan kediaman Liana.


"Aku akan baik-baik saja. Aku tidak akan mati selama aku belum menggendong Cicit darimu" Nenek mencoba menghilangkan kekhawatiran Liana. "Aku pergi dulu!" Pamit Sang Nenek.


"Kita pulang sekarang!" pinta Nenek pada Supir pribadinya. 


"Baik Nenek" patuh Sang Supir pribadi. Dengan segera dijalankannya mesin mobil dan pergi begitu cepat dari hadapan Arvin dan Liana. 


"Hey sampai kapan Kau akan memandangi jalan itu terus? Mobil Nenek sudah pergi dari tadi" ungkap Arvin yang kesal pada Liana yang masih diam mematung seraya menatap jalan yang dilintasi oleh mobil Nenek beberapa saat yang lalu. 


"Cucu macam apa Kau ini? Sepertinya tidak ada rasa khawatirnya sama sekali dengan Nenekmu sendiri. Nenek masih sakit dan dia dikota ini sendiri. Kenapa kau tidak berusaha membujuk Nenek untuk pulang bersama kita?" cerocos Liana dengan nada suara yang sedikit tinggi.


"Kau tidak mengerti apa-apa jadi diamlah!" Arvin melangkah pergi menuju parkiran tempat mobilnya berada. 


"Ya sudah katakan apa yang tidak aku mengerti!" desak Liana. 


"Sebaiknya Kau tutup mulut besarmu itu! Dan masuklah kedalam mobil! Atau Kau ingin Aku meninggalkanmu disini?" ancam Arvin. 


"Kau benar-benar Pria kejam!" cibir Liana langsung menuruti perkataan Arvin karena ia takut akan ditinggal seperti dulu.


Memang dulu Ia ditolong oleh Jojo tapi kini siapa yang akan menolongnya di Kota yang asing untuknya. 

__ADS_1


Arvin hanya tersenyum tipis melihat ekspresi takut yang tampak diwajah Liana. Arvin memulai perjalanannya dengan keluar dari parkiran rumah sakit menuju rumahnya. 


***


__ADS_2