
Berakhir, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan hubungan Arvin dan juga Liana.
Rumah yang mereka pernah tinggali bersama, rumah yang penuh dengan kenangan keduanya kini kosong hanya beberapa pembantu yang dipekerjakan untuk merawat rumah itu.
Sedangkan penghuninya, Arvin lebih memilih tinggal disalah satu gedung apartemennya sendiri, karena Ia tak ingin mengingat kenangan yang akan melukai hatinya.
Tapi seperti semua hal yang telah dilakukannya itu tak cukup untuk mengobati rasa sakitnya, karena meskipun sudah tidak tinggal bersama tapi mereka masih harus bertemu untuk membicarakan tentang perceraian mereka dengan didampingi oleh kuasa hukum yang sengaja dibayar untuk melancarkan perceraian mereka.
“Kau menginginkan apa dariku?” Ujar Arvin berlaku sesuai adat perceraian, memberi harta Gono gini kepada calon mantan istri.
“Bisahkah rumah yang dihadiahkan ayah pada kita, diberikan padaku? Aku ingin tinggal disana saat aku pulang nanti,” pinta Liana yang ingin menyimpan segala kenangan bersamanya nanti.
“Lalu apa lagi?”
“Tidak ada, hanya itu yang aku inginkan,” geleng Liana.
“Baiklah rumah itu milikmu sekarang”.
“Benar kau berikan semudah itu padaku?” tanya Liana tak yakin.
“Tentu saja. Karena setelah ini aku akan kembali ke tempat orang tuaku berada. Sedangkan aku disini, hanya datang dan pergi untuk mengurusi bisnisku," terang Arvin.
“Aku mengerti,” Liana memberi senyum yang begitu memaksa.
"Arvin!" ragu Liana.
"sebenarnya ada satu lagi permintaan dariku”.
“Katakana saja!”.
“Aku akan berangkat tiga hari lagi. Jadi bisakah kau melakukannya sendiri?” Pandangan Arvin langsung beralih pada kuasa hukumnya seperti memberi isyarat untuk menjawab pertayaan Liana yang secara tidak langsung dilimpahkan padanya.
“Bisa. Anda hanya harus menanda tangani surat-surat ini, begitu juga Direktur.
Dan setelah itu saya akan segera melaporkan perceraian kalian ke pengadilan … ” diterangkannya panjang lebar tentang jalannya proses perceraian, akhirnya kuasa hukum Arvin memberi surat-surat yang harus ditanda tangani oleh Liana.
__ADS_1
Tanpa rasa ragu lagi Liana langsung menanda tangani satu persatu surat yang diberikan padanya. Entah surat apa itu? Mungkin semacam surat perceraian.
“Apa seperti ini sudah cukup?” tanya Liana tak yakin jika prosedurnya begitu mudah.
“Iya hanya ini,”.
“Jika sudah selesai semua. Aku izin pamit! Aku harus membereskan segalanya sebelum aku pergi,”.
“pulanglah! Semuanya akan aku urus,” Arvin memberi kebebasan.
“Terima kasih” Liana memberi senyuman terakhirnya lalu berpamitan, “aku pergi, selamat tinggal!”.
“Emm ... hati-hati!” Arvin memandang punggung Liana yang semakin jauh.
“Selamat tinggal!” desahnya lirih disaat Liana telah menghilang dari pandangan.
“Bagaimana Direktur? Apa perlu saya daftarkan sekarang?” Tanya pengacara itu meminta persetujuan.
“Bisakah kau menundanya sampai sebulan lagi?” tanya Arvin.
“Tolong lakukan ini untukku! Sebulan saja,” Arvin menepuk pundak kuasa hukumnya lalu pergi.
“Oh ya ampun.. apa-apa ini? Apa aku sedang dipermaikan disini?” gerutu sang Pengacara yang merasa kesal dengan permintaan Arvin.
Aku rasa hanya aku yang berjalan mundur disini, sementara yang lainnya bergerak ke depan dan mengambil langkah cepat untuk sebuah keputusan yang membuat mereka tak akan merasa menyesal dikemudian hari.
Sofi, Ia memiliki keputusan yang sangat tepat dengan memilih cintanya dan menyingkirkan segala kebencian dimasa lalunya.
Dan sebagai hadiah atas ketegaran hatinya, kini Upik abu menjadi seorang Cinderella yang sangat cantik di pesta pertunangannya.
Dan untuk pasangan sepesial kami, Rendi dan Anita juga melangkah ke jenjang yang lebih baik.
Rendi menyempurnakan kisah cintanya dengan memberanikan diri untuk melamar *sang kekasih hati.
Dan untukku, mungkin akan menyesal seumur hidupku karena memilih untuk menyerah untuk berharap ( POV Liana*).
__ADS_1
***
Dengan mengendarai motor pespa, Rendi membonceng Anita melaju kesebuah area pertokohan disalah satu ibu kota yang memang terkenal dengan pusat perbelanjaannya.
Disanalah tempat impian para wirausahawan kecil yang ingin merintis usaha mereka. Karena itu meski toko terbilang kecil, harga yang dibandrol untuk memiliki toko itu sangatlah mahal.
Digandengnya tangan Anita kedalam sebuah toko yang masih dalam proses perbaikan.
"Kenapa kau mengajakku kemari? Memang tempat siapa ini?" Tanya Anita celingukan memperhatikan setiap inci tempat itu.
"Ini miliki kita," jawab Rendi singkat.
"Apa?" terkejut Anita tak percaya untuk beberapa saat.
"Bagaimana bisa? Ahh ... Tidak, maksudku benarkah?"
"Ini adalah usahaku untuk menunjukkan kesungguhan terhadap hubungan kita," Rendi meraih tangan Anita.
"Kau tahu benar, Aku tidak memiliki apapun untuk dibanggakan," kedua mata mereka saling menatap.
"Tidak memiliki banyak uang untuk membelikanmu sebuah cincin berlian, atau rumah mewah. Hanya sebuah kesungguhan hati yang aku miliki untuk membahagiakan kekasihku,".
"Oleh karena itu, aku bekerja siang dan malam untuk memiliki tempat ini, yang akan menjadi masa depan kita. Meski harus menyicil setiap bulannya ..." Anita tertawa singkat ditengah keharuannya.
"... Anita maukah kau menjadi kekasihku yang sesungguhnya? Yang akan menemaniku disetiap detik, dan setiap menitnya?" Anita meneteskan air mata bahagianya.
"Yang akan menjadi istriku baik dalam keadaan senang bahkan susah sekalipun? Yang akan menjadi ibu terbaik bagi anak-anak kita?".
"Iya, iya, aku mau!" Seru Anita memeluk tubuh Rendi dan berucap dalam tangis kebahagiaan, "terima kasih! Terima kasih banyak!".
"Aku mencintaimu!" ungkap Rendi membalas perlakuan Anita.
"Aku juga mencintaimu, sangat!"
***
__ADS_1