
Natan begitu khawatir memikirkan nasib Liana diluar sana. "Apakah dia telah sampai ke halte bus? Apakah tidak terjadi sesuatu padanya?" pikir Natan.
Sedangkan Arvin sendiri juga merasa gusar selama acara berlangsung, karena sedari tadi Ia tak melihat Liana dimana pun. Sedangkan dirinya juga tak dapat pergi mencari ketempat yang lainnya karena ditahan oleh Alya.
"Kakak mau kemana? Acara sebentar lagi akan dimulai" cegah Alya menahan Arvin agar tetap bersamanya.
"Sebentar saja. Aku ingin mencari Liana dulu," mohon Arvin yang merasa hatinya sangat tidak tenang. "Aku tidak melihatnya dari tadi"
"Mungkin dia sedang ke toilet. Kakak tidak perlu khawatir! Liana kan sudah besar, pasti dia bisa jaga diri," yakin Alya.
"Maafkan Aku. Aku akan kembali nanti!" Lontar Arvin melepaskan lengannya dari genggaman tangan Alya.
"Maaf!" Arvin lebih memilih mempercayai instingnya untuk tetap mencari keberadaan Liana saat ini.
Arvin mencoba untuk menelpon ponsel Liana untuk mengetahui jika Liana benar-benar dalam keadaan baik.
Namun berulang kali Arvin mencoba menghubungi Liana tetap tidak tersambung.
"Gadis bodoh! Dimana Kau sebenarnya?" Kekhawatiran Arvin diutarakan menjadi rasa kesal.
"Permisi!" Seorang menepuk pundak Arvin dari belakang.
"Ya ada apa?" tanya Arvin yang merasa tak mengenal Natan.
"Apa Kau suaminya Liana?" Tanya Natan mencoba meyakinkan dirinya jika Arvin memang benar-benar memiliki hubungan dengan Liana.
"Benar." Jawab Arvin singkat.
"Ternyata dia tidak berbohong" gumam Natan sendiri.
"Apa kau mengenal Liana?" tanya Arvin meminta kejelasan.
"Tidak. Kami hanya bertemu tadi didalam, dan dia menanyakan halte bus yang berada di daerah sini." Terang Natan.
"APA?" Shock Arvin, mendengar cerita dari Natan.
"Dimana letak halte itu?" Tanya Arvin hampir berteriak karena saking cemasnya pada keadaan Liana diluar sana sendirian.
"Beberapa ratus dari sini, Kau bisa ambil arah barat." Jelas Natan yang mengerti benar daerah sana.
"Terima kasih!" Ucap Arvin tulus.
Arvin berlari untuk menyusul Liana, tanpa berpamitan pada Alya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Lagi-lagi Kau lebih memilih dirinya dari pada diriku," ucap Alya dengan derai air mata, yang memang sejak awal Ia menonton dari kejauhan.
***
Sedangkan Liana sendiri malah begitu tenang berjalan sendiri ditengah jalan yang sepi dimalam yang mendung dengan beberapa petir yang tak terlalu terdengar keras.
"Lebih baik aku pulang sendiri, dari pada harus melihat mereka berdua bermesraan seperti itu." gumam Liana sendiri yang tak sadar telah diikuti oleh beberapa pria dibelakangnya.
"Hay gadis cantik!" sapa salah satu pria yang berhasil berdiri didepan Liana, menghadang langkahnya.
"Siapa kalian? Mau Apa kalian?" Tanya Liana yang gugup melihat segerombolan pria yang berusaha untuk menggodanya.
"Stt...! Tidak perlu takut! Kami pria baik-baik kok," jawab pria satunya dengan tawa yang memiliki sejuta maksud.
"Pergi kalian dari sini! Atau kalian akan mati ditanganku!" Ancam Liana mencoba untuk melindungi dirinya dari pria yang tak bermoral.
"Oh ya ampun, ternyata galak juga gadis ini. jadi takut" canda pria itu membuat kawanannya tertawa karena leluconnya.
"Ohh... itu!" teriak Liana menunjuk kearah belakang pereman dengan wajah yang serius.
"Itu UFO!" lanjutnya untuk menipu semua pria mesum yang mengganggunya.
Dan jebakan itu berhasil menipu semua pria mesum itu. Dengan wajah bodoh mereka mencari dimana UFO yang dimaksud oleh Liana.
"Bodoh!" benak Liana tersenyum. Ia mulai berlari saat semua pandangan para pria berpaling darinya.
"Hiss.. gadis itu membodohi kita." Geram seorang yang berkepala botak.
Dengan segera segerombolan pria itu berlari mengejar Liana, mereka tak ingin kehilangan mangsanya malam ini.
"Akhhkk...!" Tubuh Liana terbanting kebawah saat heelsnya yang tiba-tiba patah satu.
"Akhk.. bagaimana ini? Kakiku sakit sekali. Tidak bisa digerakan" rintih Liana merasakan kesakitan.
"Aduh kasihan, kakinya sakit ya? Nggak bisa dibuat lari lagi dong?" ejek salah satu pria yang rambutnya dikuncir sebahu mencoba untuk membuat lelucon dengan tampang mengejek ketika Ia berucap.
"Ayo kemari Aku bantu!" ucap yang lainnya mengulurkan tangan menawarkan bantuan.
"Jangan sentuh Aku!" tepis Liana.
"Pergi kalian! Jika kalian masih ingin hidup" ancam Liana.
"Ohh takut," serempak gerombolan pria mesum itu tertawa.
__ADS_1
"Dasar pria-pria tidak punya hati!" Caci Liana lirih sembari mencoba untuk bangkit walau terasa susah untuknya.
"YAKK..!" teriak Liana mencari perhatian mereka seraya memungut kedua sepatunya. Lalu ia melemparkan dengan sekuat tenaga kearah mereka.
PLAK.. PLAKK..! Dua lemparan melesat tepat kesasaran, dua orang telah dibuat benjol kepalanya oleh Liana.
Keduanya meringis kesakitan sedangkan yang lain hanya bisa bertanya khawatir pada kedua kawanannya.
"Hiss.. gadis ini!" geram pria botak itu yang terluka tepat dipelipisnya.
Pria itu berjalan menghampiri Liana, sedangkan Liana hanya bisa berjalan mundur beberapa langkah karena kakinya masih terlalu sakit untuk digerakkan.
"Mau kemana Kau sekarang? Jangan berontak! Terima nasib saja. Kau milik kami sekarang." Ungkap pria botak itu yang sudah berada didepan Liana.
Digenggam erat pergelangan tangan Liana hingga memerah karena Liana berusaha melepaskan diri.
Kini Liana tersenyum dengan ekspresi menghina pada pria itu. "Sampai kapan pun aku tidak akan jadi milikmu atau pun yang lain. Termasuk malam ini. dasar bandit tua botak" umpat Liana.
"APA?"
"Apa kau tuli? Aku bilang bandit tua botak." Tekan Liana.
"Brengsek!" tamparan keras melesat ke pipi mulus Liana hingga tubuh Liana terjatuh kebawah.
Bibir Liana mengeluarkan darah karena luka akibat benturan keras dari tangan pria botak itu.
"Kau memang tidak bisa dikasih hati" bentaknya.
"Cihh..! Siapa juga yang mau dikasihani oleh bandit tua sepertimu?" Caci Liana menambah kemarahan pada pria botak itu.
"Gadis ini..." tak dapat menahan amarahnya, pria botak itu menampar wajah Liana beberapa kali yang terakhir mencengkram rambut Liana.
"Hey botak! Jangan sentuh rambutku! Ini hampir tiga jam Aku menunggu untuk benar-benar selesai dirapikan." ungkap Liana yang hampir tak bersuara tapi masih dapat didengar oleh pria botak itu.
"Ya ampun gadis ini benar-benar menyebalkan."
Tak ada lagi kata yang dapat diucapkan pria itu karena sudah terlalu muak dengan ucapan yang ia dengar dari mulut Liana.
Didorongnya tubuh Liana hingga terkulai lemah ditanah. "Aku sudah tidak berniat lagi dengan gadis ini. terserah kalian apakan dia" ungkapnya berjalan menjauhi tubuh Liana yang sudah tak ada daya untuk bergerak Lagi.
"Jauhkan tangan kalian dariku!" gerang Liana dengan nafas yang tak normal saat merasa ada orang yang menyentuh tubuhnya.
"Sudahlah menurut saja pada kami! Aku akan melakukannya dengan sangat hati-hati, agar Kau tidak akan merasa kesakitan."
__ADS_1
Semua tertawa begitu keras tapi tetap saja Liana hanya dapat mendengarnya samar-samar. Karena Liana telah kehilangan kehilangan separuh kesadarannya.
***