Love'S Feeling

Love'S Feeling
Rumitnya Cinta


__ADS_3

"Sungguh Aku mencintaimu Liana, aku ingin bersama denganmu. Tapi jika aku lakukan itu, aku akan menjadi pria yang lebih kejam karena mengabaikan perasaan Alya demi kebahagiaan ku sendiri."


Terdengar jelas ucapan Arvin oleh Alya yang berdiri dibalik pintu yang tertutup penuh. Bukan hanya itu Ia juga dapat melihat tetesan air mata keluar dari pelupuk mata Arvin.


"Aku harus bagaimana jika sudah seperti ini?" Benak Alya berderai Air mata.


"Alya?" panggil Ibu Arvin ragu.


Mendengar seorang memanggil dirinya, Alya langsung membasuh air matanya. Lalu menoleh kearah suara itu berasal.


"Ternyata benar, kau Alya" Ibu Arvin mulai mendekat kearah Alya.


"Apa kabar Bibi?" Ucap Alya sopan.


"Baik" jawab Ibu Arvin.


"Sudah lama tidak bertemu," lanjut Ibu Arvin dengan senyum khasnya walau Ia tahu wanita dihadapannya saat ini baru saja selesai menangis karena anaknya.


"Bagaimana kalau kita minum kopi bersama sambil mengobrol? Sepertinya sudah sangat lama kita tidak melakukannya," anjur Ibu Arvin, mencoba menjauhkan Alya dengan Arvin.


"Dengan senang hati," turut Alya.


Keduanya pun pergi kekantin rumah sakit, mereka duduk disebuah bangku yang telah disediakan oleh pemilik kantin. Disana keduanya berbincang dengan ditemani secangkir minuman hangat untuk masing-masing.


"Kapan kau datang?" Ibu Arvin mengawali pembicaraan setelah sekian lama tak bertemu.


"Beberapa waktu yang lalu" jawab Alya dengan senyuman.


"Apa kau sudah mengetahuinya? Jika Arvin sudah menikah" tanya Ibu to the point

__ADS_1


"Iya. saya sudah mengetahuinya sehari setelah saya sampai disini," lontar Alya.


Diraih dan genggam tangan Alya oleh Ibu Arvin, "maaf, jika semua ini membuatmu terluka. Tapi inilah yang terjadi sekarang," Tutur lembut Ibu Arvin.


"Jadi Bibi harap kau mau merelakan Arvin! Biarkan dia hidup dengan tenang bersama istrinya," lanjut Ibu Arvin.


"Aku tahu permintaan ini terlalu berat untukmu. Tapi bisakah kau melakukannya?".


Tangan yang digenggam Ibu Arvin, dilepaskan secara halus oleh Alya sebagai tanda ketidak relaannya.


"Alya?" Ibu Arvin mencoba untuk menggenggam tangan Alya kembali namun kali ini Alya sengaja menghindar dan menjauh tangannya dari jangkauan Ibu Arvin.


"Maafkan aku Bibi! Aku tidak bisa melakukannya. Aku sangat mencintainya dan Kak Arvin juga..." Alya terdiam mencoba mengoreksi kembali ucapannya kembali.


"Maaf, aku harus pergi sekarang. Aku pamit!" Alya berlari kecil untuk secepatnya pergi dari tempat itu dengan pertanyaan diotaknya yang menjadi kepedihan dihatinya.


***


Alya duduk terdiam disebuah sudut taman yang masih diarea rumah sakit, Ia melanjutkan tangisnya disana.


Meski Alya menangis tersedu-sedu tak menjadi tontonan semua orang, karena tak menjadi sebuah keanehan seorang yang menangis dirumah sakit.


"Kenapa semua orang memintaku untuk melepaskannya? Dia milikku sejak awal, dan akan menjadi milikku sampai kapanpun. Tidak ada yang boleh ada yang mengambilnya dari ku!" Ucapnya menguatkan hati.


"Ini untukmu!" Seorang pria menghampiri, Iamemberi sekotak tisu untuk Alya.


Pria itu bukan lain adalah Jojo yang datang kesana dengan tujuan menjenguk Liana, Namun yang dijenguk malah tidak berada di kamarnya.


"Kau siapa?" tanya Alya pada pria asing yang berbaik hati menawarkan tisu padanya.

__ADS_1


"Aku jonatan saputra tapi bisa kau panggil aku Jojo saja. Karena semua orang memanggilku seperti itu."


Seperti seorang yang mengenal lama, Jojo duduk di samping Alya dan memberi apa yang kini dibutuhkan oleh Alya, "Ini" sodor kembali sekotak tisu pada Alya, yang awalnya tak diterima.


"Terima kasih!" Ucap Alya menerima pemberian dari Jojo.


"Aku memiliki nasib yang hampir sama sepertimu, karena itu aku merasa telah akrab denganmu," ujar Jojo membuka pembicaraan.


"Maksudmu?"


"Aku juga sepertimu menyukai seseorang yang telah dimiliki orang lain".


"Bagaimana kau tahu?" tanya Alya heran.


"Maafkan aku! Aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan Bibi itu," ujar Jojo memberi penjelasan yang sedikit meredamkan amarah Alya.


"Aku menyukainya lebih dahulu dari pria itu, tapi aku menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa bersama dengan gadis yang aku sukai" ulas Jojo.


"Aku sadar jika segalanya telah lepas dari tanganku itu semua karena ku. Bukan salah Pria yang telah bersama gadis yang aku sukai atau karena salah takdir," lanjut Jojo menjelaskan.


"Lalu apa urusannya denganku? Kita baru kenal jadi jangan bicara seolah kita saling akrab! itu sangat menggangguku," Alya begitu tersinggung atas ucapan Jojo, yang Ia sangka sebagai sindiran untuk dirinya.


Padahal Jojo tidak bermaksud seperti itu, Ia hanya ingin membagi dukanya dengan seorang yang memiliki nasib yang sama sepertinya.


Alya beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah menjauh dari pandangan Jojo.


"Memang apa salahku? aku hanya mencoba baik padanya. Tapi kenapa dia semarah itu?" gumam Jojo bertanya pada dirinya sendiri.


***

__ADS_1


__ADS_2