
Dengan ditemani secangkir kopi hangat Liana duduk diam didalam café, disebuah pusat perbelanjaan. Ditengah penantiannya Liana mencoba mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menghadapi Alya nantinya.
“*Bagaimana rasanya bisa menjadi seorang pewaris perusahan air mineral tersukses, dan ditambah menjadi seorang pemilik gedung apartemen nomer satu dinegara anda?” tanya sang host disebuah acara televisi yang nampak dilayar kaca, yang dipunyai café tersebut.
Dengan senyum yang tampak di bibirnya, Arvin menjawab. “Tentu saja Aku merasakan kesenangan yang teramat sangat. Karena menurutku ini sebuah anugerah tersendiri bagiku”
“Wah... Anda sangat hebat. Umur yang masih mudah bisa menjadi seseorang yang sesukses seperti sekarang ini. apakah anda sukses dalam hal percintaan pula? Ya layaknya dalam hal bisnis?” Tanya host itu lebih lanjut.
Kali ini Arvin tak menjawab dengan segera, ia hanya tersenyum geli mendengar pertanyaan itu. (Suara siaran TV*)
klinting..!
Terdengar suara pintu utama café itu terbuka, pandangan Liana yang sedari tadi memandang layar televisi itu langsung beralih kearah pintu yang terbuka.
Ternyata yang ditunggunya telah datang Alya melambaikan tangannya saat Ia telah melihat Liana yang sudah menunggunya.
“Hay!” sapa Alya berjalan mendekat. "Maafkan Aku! Apa Aku membuatmu menunggu lama?"
“Tidak masalah” Liana tersenyum tipis, seraya memandang kembali keacara televisi karena Ia tak ingin melewatkan sedikitpun acara yang menayangkan wawancara Suaminya yang menjadi pemilik properti paling sukses di Negaranya.
“Apa yang kau lihat?” Tanya Alya penasaran, dengan mencoba mengikuti arah mata Liana melihat.
“Oo.. Bukankah itu kak Arvin?”
“Em..." angguk Liana. "Dia diwawancara karena menjadi salah satu pengusaha properti tersukses di Indonesia”
“Benarkah?” Tanya Alya yang masih kurang percaya. “Wahh.. bukan saja tampan ternyata pacarku sangatlah pintar mencari uang” candanya.
“*Rasanya Anda sangat susah menjawab saat ditanya tentang kehidupan asmara Anda”
“Bukan seperti itu, Aku hanya malu jika membahas tentang kisah cintaku didepan publik.”
“Ternyata Anda sangat pemalu sekali.”
__ADS_1
“Begitulah” Arvin tersipu.
“Tapi ada desas-desus yang mengatakan bahwa Anda sudah menikah. Apa itu benar?” Tanya Host itu yang tak ingin menyerah begitu saja mengorek asmara Arvin.
“Iya semua itu benar”
“Wah... beruntung sekali gadis itu. Kalau boleh tahu siapa nama gadis yang beruntung itu?” cecar sang Host.
“Sepertinya Anda antusias sekali ingin mendengar kisah cinta Saya”
“Iya, jadi Ku mohon katakanlah! Agar semua orang di negeri ini tahu siapa gadis yang beruntung itu.” (Suara siaran TV*).
“Kakak, ada yang ingin aku katakan padamu!” cetus Liana setelah diam beberapa saat.
“Iya bicaralah!” ujar Alya matanya masih fokus pada layar televisi tapi juga dapat menyimak ucapan Liana.
Liana menghela nafas sejenak lalu berucap begitu serius dengan tatap mata yang tajam, “bisakah Kak Alya melepas Arvin?”
“Maafkan Aku! Tapi Aku benar-benar mencintainya. Jadi Aku minta Kakak melepas Arvin untukku?” Tegas Liana.
“Liana?”
“Aku mohon lepaskan dia untukku! Karena dia telah menjadi milikku sekarang” tekan Liana.
“Apa? Apa kau sudah gila?” bentaknya penuh dengan kemarahan.
“Aku tahu ini gila, dan permintaanku ini terdengar sangat egois untuk Kakak. Tapi Aku tidak bisa menahan rasa ini lagi. Ini terlalu menyakitkan untukku.”
“Lalu apa aku harus bersimpati padamu dan membiarkanmu merebut Kak Arvin begitu saja?" Senyum sinis Alya singkat.
"Itu tidak mungkin terjadi dan aku tidak akan biarkan itu terjadi” tekan Alya, untuk tidak menyerahkan apa yang Ia pikir menjadi miliknya pada orang lain.
“Kakak harus melepasnya!” perintah Liana.
__ADS_1
“Apa hakmu berbicara seperti itu?”
“Apa hakku? Tentu saja aku berhak karena Aku adalah istrinya” tekan Liana memperjelas statusnya.
“Gadis egois” kecam Alya.
“Bukan" bela Liana pada dirinya sendiri. "Bukan aku yang egois. Tapi Kakak lah yang egois” ujarnya dengan nada gemetar karena sesugguhnya Liana sangat ketakutan menghadapi Alya seperti sekarang ini.
“Kakak yang telah meninggalkan Arvin setahun yang lalu. Disitulah Kakak sudah kehilangan Arvin seutuhnya, Kakak sudah tidak punya hak atas dirinya. Kakak adalah masa lalunya dan masa lalu tidak akan pernah menjadi masa depan” perjelas Liana.
“Lalu apa Kau akan bilang ‘bahwa kau adalah masa depan kak Arvin’, Kau konyol sekali”
“Iya. Aku istrinya karena itulah Aku masa depannya.” pertegas Liana.
“Kau gila!” Alya tersenyum sinis berbarengan dengan air matanya yang mengalir.
“Terserah apa yang akan Kau katakan tentangku. Aku akan tetap mempertahankannya. Ingat itu baik-baik!” mata yang penuh rasa benci itu menatap wajah Liana beberapa saat sebelum Ia pergi meninggalkan Liana.
Sedangkan Liana terdiam mematung ditempatnya, seluruh tubuh Liana gemetar dan deraian air mata yang sudah cukup banyak membasahi pipi Liana masih tetap saja mengalir tak terhenti.
“*Dia wanita yang sangat lucu dan sangat baik. Hanya dia yang bisa membuat saya dapat tertawa lepas dan melupakan semua beban saya dalam sekejap”
“Wah... pasti dia benar-benar sangat baik” puji sang Host meski tak melihatnya secara langsung.
“Anda benar. Dia sangat baik pada semua orang disekelilingnya”
“Apa yang anda suka dari dia?”
“Aku suka jika dia marah karena wajahnya terlihat sangat lucu, dan saya suka senyumnya itu, yang membuat hati saya bergetar setiap melihat senyumnya” tutur Arvin panjang lebar. (Suara siaran TV*).
"Pembohong" celetuk Liana menatap lekat layar televisi. "Kau tahu, hari ini aku menjadi seorang Min Hyeorin dan itu semua karena Aku tidak bisa melepasmu."
***
__ADS_1