
Lebih dari dua jam Liana akhirnya tersadar dari pingsannya, terlihat samar-samar wajah seseorang mengisi pandangannya. Kali ini terdengar jelas suara tanya yang mengkhawatirkan dirinya.
"Liana, Kau sudah sadar?" ternyata orang itu adalah Arvin yang wajahnya terlihat begitu pucat mungkin karena khawatir dengannya. "Liana Kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit?" Tanya Arvin sekali lagi karena pertanyaan pertama sama sekali tidak ada jawaban.
"Eh..!" Tak banyak kata yang dikeluarkan Liana setelah Ia kembali sadar. Ia hanya merintih kesakitan, "kepalaku!" Sentuhnya pada bagian kepala yang tertutup perban.
"Jangan sentuh!" tahan Arvin pada tangan Liana. Ia takut Liana akan merusak perbannya. "Kepalamu terbentur batu saat kau jatuh pingsan" terang Arvin menjelaskan semua yang ia ketahui.
"Aku ingat sekarang, terakhir sebelum aku kehilangan kesadaran ku. samar-samar aku melihat wajah paniknya" benak Liana. "Apakah dia sangat menghawatirkan diriku?" Duga Liana yang diperkuat dengan setetes benih air yang berada di pipi Arvin yang Liana yakini adalah air mata Arvin.
"Sudah ingatkan sekarang?"
"Itu.." tunjuk Liana kearah wajah Arvin dengan tangan yang sedikit gemetar. "Kau menangis?" Tanya Liana yang sedari tadi menggamati wajah Arvin. "Apa kau mengkhawatirkanku?" Suara Liana semakin lama semakin lirih karena Ia masih tak memiliki tenaga lebih tuk berbicara dengan nada keras.
"Tidak!" Serunya membasuh secara acak bagian wajah yang mungkin ada air matanya. "Apa otakmu tidak beres karena terbentur tadi? Aku ini pria mana mungkin aku menangis hanya untuk kejadian sepele seperti ini. Lagi pula mana mungkin juga aku mengeluarkan air mataku hanya untuk wanita sepertimu yang pingsan hanya gara-gara kekurangan nutrisi" kelaknya panjang lebar, mencoba meyakinkan Liana atas kebohongannya.
"Tunggu sebentar!" Arvin tersadar akan satu hal yang sedikit ganjal. "Kenapa kau bisa kekurangan nutrisi? Walaupun badanmu kecil tapi nafsu makanmu sangat besar, jadi mana mungkin kau bisa kekurangan nutrisi?" Pikir Arvin begitu keras karena hal itu sangat tak masuk akal baginya. "Apa kau mencoba untuk mengurangi berat badanmu?"
"Tidak!" Kelak Liana secara cepat.
"Benar juga. Tidak mungkin badan sekecil ini mati-matian untuk mengurangi berat badannya."
"Memangnya menurutmu badanku tidak memiliki lemak berlebih disana sini?" Tanya Liana lebih lanjut.
"Dimana? Aku tidak melihatnya" ujar Arvin. "Meski kau tidak begitu tinggi, tubuhmu cukup ideal menurutku" terang Arvin dengan secara tidak sengaja membahas persoalan intim dengan Liana selayaknya pasangan.
"Benarkah?" girang Liana. Dan beberapa detik ekspresi itu berubah drastis menjadi wajah kemarahan saat mengingat ucapan Anita, "awas kau anita!" kutuk Liana. Karena memang benar Liana sengaja berdiet ketat karena perkataan Anita tempo hari yang menganggapnya penuh dengan lemak.
"Jangan lakukan lagi! hal-hal yang membahayakanmu" Celetuk Arvin membuat Liana tertegun seketika. "Kau sudah cantik. Aku menyukaimu yang seperti ini."
"Benarkah?" Liana tersipu.
"Jadi benar? Kau mengurangi berat badanmu?". "Apa itu karena aku?"
"Tidak!" Seru Liana menjawab dengan cepat dan lugas.
"Apa sekarang kau mulai menyukaiku?" tanya Arvin terus menggoda Liana, saat Ia melihat ekspresi tak biasa yang ditunjukkan oleh Liana yang menurut dirinya itu sangatlah lucu.
"Sudah aku katakan ini bukan karena mu."
__ADS_1
"Jadi seberapa besar kau mencintaiku?"
"Tidak! Tidak! Tidak!" Kini Liana kerahkan segala tenaganya untuk menyelamatkan kehormatannya, yang telah ketahuan berdiet untuk menarik perhatian Arvin. "Jangan berpikir macam-macam! Bagaimana bisa kau terpikir hal yang tidak masuk akal seperti itu?"
"Tidak masuk akal? Memang menurutmu itu tidak masuk akal?"
Arvin menggoyangkan jarinya, "Ek-em tapi menurutku itu sangatlah masuk akal. Siapa sih yang tidak menyukai Pria tampan sepertiku? Dan seorang pengusaha muda yang sukses" puji dirinya sendiri.
"Tidak.. tidak.. itu sangatlah tidak mungkin, mana bisa wanita yang menolak pesonaku. Kalau pun ada pastinya gadis itu sangatlah bodoh atau mempunyai gangguan jiwa" pujinya sekali lagi begitu bangga pada dirinya sendiri.
"Benarkah? Tapi Gadis tidak suka pada Pria yang arrogant dan kalau tidur suk.." ucapan Liana berhenti saat tangan Arvin membungkam mulutnya dengan rapat.
"emm..mm..mmm!" gerang Liana tak dapat berbicara.
"Kau ingin bicara apa? Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas" dengan lepas Arvin tertawa karena merasa geli dengan tingkah Liana yang berusaha mengkeluarkan suara padahal telah dibungkam oleh dirinya.
"Apa kau tahu? Saat Kau berusaha berbicara wajahmu seperti ikan buntal yang menggembung. Bung.. bung.. bung.." ejek Arvin kini tertawa lebih keras dari sebelumnya. Namun kesenangan itu tak berlangsung lama saat Liana berhasil menggigit tangan Arvin.
"Akhkk..!" Pekik Arvin kesakitan seraya memegangi tangannya yang memerah karena gigitan Liana. "Kenapa kau menggigit tanganku? Sakit tahu, dasar kera gila" Arvin mencoba untuk mengurangi kesakitannya dengan mengibas-ibaskan tangannya.
"Iya, memang aku kera gila. Jadi jangan membuat ku marah! Karena kapan saja bisa menggigitmu" kecam Liana.
"Oo.. kak alya" cetus Liana yang baru menyadari keberadaan Alya.
"Hay!"sapa Alya memberi senyuman walau memaksa. "Bagaimana keadaanmu?"
"Sudah lebih baik dari sebelumnya."
"Syukurlah!"
"Ini makanan untuk kakak. Kakak belum makankan dari tadi pagi" Alya memberikan makanan lengkap dengan minumannya.
"Terima kasih!" tulus Arvin.
"Kakak sebaiknya makan dulu! Biar Liana aku menjaganya" tawar Alya.
"Baiklah. Aku akan pergi sebentar."
"Jaga dia baik-baik! Jangan sampai dia pergi dan menggigit semua pengunjung di rumah sakit ini" ejek Arvin tertawa sinkat sebelum pergi.
__ADS_1
"hiss dasar Kau.." Tak dilanjutkan ucapan Liana karena orang yang ingin Ia caci telah pergi.
"Apa Kau menyukai kak Arvin?" Tanya Alya sepontan. Membuat tubuh Liana menjadi kaku seketika karena shock. "Kau menyukainya kan?"
"Itu.. aku.." Jawaban Liana begitu bertele-tele. Karena memang Ia bingung harus berkata apa?.
"Liana!" Panggil Anita yang baru saja datang langsung memeluk tubuh sahabatnya yang saat itu sedang terduduk diranjang. Yang secara tidak sengaja menyelamatkan Liana dari pertanyaan yang tak mampu dijawab oleh dirinya.
"Bagaimana keadaanmu? Kenapa kepalamu diperban?" Brondong Sofi dengan nada Khawatir.
"Aku baik-baik saja, jadi kalian tidak perlu khawatir seperti itu!"
"Tapi wajahmu sangat pucat" tambahnya.
"Lalu kenapa kalau wajahku pucat? Bukankah semua orang sakit memang wajahnya pucat seperti ini?"
"Dimana suamimu?" tanya Rendi yang tak mendapati Arvin disana namun malah Alya yang menunggunya.
"Sia sedang keluar untuk sarapan" jawab Alya mewakili jawaban Liana.
"Iya dia sedang sarapan, mungkin sebentar lagi kembali" tutur Liana membenarkan ucapan Alya.
"Kenapa harus dia yang menjawab?" Desah Anita lirih yang merasa aneh dengan semua itu.
"Kapan kau bisa pulang?"
"Aku juga tidak tahu"
"Nanti sore juga Liana sudah boleh pulang" jawab Arvin yang baru datang. "Tadi aku sudah bicara pada dokter, katanya Kau sudah boleh pulang nanti karena tidak ada luka yang serius"
"Benarkah?" tanya Anita dan Arvin hanya menjawab dengan anggukkan kepala.
"Tapi bukannya Kau sarapan? Kenapa cepat sekali kembalinya?"
"Aku tidak jadi sarapan karena dipanggil Dokter tadi" ujar Arvin.
"Syukurlah kau bisa pulang nanti."
Semua orang diruangan itu ikut berbahagia atas kabar baik itu. Namun tidak untuk Alya, entah mengapa rasa iri dan cemburu terselubung dihatinya. "Kau punya keluarga lengkap bahkan lebih". "Kau punya sahabat yang sangat menyayangimu. Tapi haruskah Kau juga akan merebutnya dariku?" batinnya begitu resah.
__ADS_1
***