Love'S Feeling

Love'S Feeling
Hari buruk


__ADS_3

Dering ponsel Liana terdengar sangat keras didalam tasnya. Dengan cepat Liana mengobrak-abrik isi tas untuk menemukan ponselnya.


Satu panggilan masuk dari Arvin, diangkatnya dengan segera. "Halo Arvin!" jawab Liana setelah sambungan telepon seluler terhubung.


“Kau dimana?” Tanya Arvin tak sabar.


“Aku sudah didepan cafe, Aku akan masuk sekarang."


“Baiklah! Aku tunggu.”


“Emm” angguk Liana meski tak dapat terlhat oleh Arvin.


Dengan segera Liana menutup ponselnya lalu kemudian melangkah masuk kedalam untuk menemui Arvin yang kini bersama Tirta.


Tapi langkah itu diurungkan sesaat setelah merasakan ponselnya berdering kembali. Dan kali ini bukan dari Arvin, melainkan telpon dari sahabatnya Sofi, “iya Sofi?” Jawab Liana mengangkat panggilan dari sang Sahabat.


“Kau dimana? Bukankah kita berjanji untuk kerumah sakit bersama hari ini?” Tanya Sofi meminta kepastian akan Janji dari Liana, untuk menjenguk Sahabatnya Anita yang masih dirawat dirumah sakit.


"Aku ingat itu. Tapi kemungkinan Aku akan terlambat datang kesana, ada urusan penting yang harus Aku selesaikan waktu ini juga. Jadi sebaiknya Kau duluan saja! Nanti Aku pasti menyusul mu." Jelas Liana.


Liana lebih memilih membereskan masalah ini terlebih dahulu, Ia tidak ingin dibingungkan dengan semua pertanyaan yang tak memiliki jawaban yang selalu muncul di otaknya.


"Lagi pula tempat Aku berada tidak jauh dari rumah sakit. Jadi pasti aku kesana.”


“Ya sudah kalau begitu, Aku duluan!” pamit Sofi.


“Sofi!” cegah Liana sebelum Sofi menutup telfon.


“Iya?”


“Itu...” Liana berniat untuk memberi tahu Sofi tentang dugaannya. Namun semua itu ia urungkan saat Ia berpikir kembali bahwa semua ini belum tentu benar.


“Ada apa?” Tanya Sofi penasaran.


“Tidak jadi. Ya sudah nanti kita bertemu di rumah sakit.”


"Oo baiklah." Sofi tak merasa curiga sama sekali dengan keraguan Liana.


Liana mentutup telfonnya dan melanjutkan langkahnya untuk masuk, tanpa tahu bahwa Sofi telah melihatnya dari kaca bus saat Ia berjalan masuk. “Oo... bukankah itu Liana?”

__ADS_1


***


“Kau sudah datang!” Seru Arvin yang berdiri melihat kedatangannya.


“Maaf membuatmu menunggu lama,” sesal Liana meminta maaf dengan segenap hati. Dan dibalas senyuman ramah oleh Tirta.


"Tidak masalah" paham Arvin. "Kalian berbincang lah!" Arvin memberi ruang bagi


keduanya agar lebih bebas untuk berbincang.


"Kau mau kemana?" cegah Liana memegang jas Arvin.


"Aku harus pergi. Ada urusan yang harus Aku tangani. Nanti butuh sesuatu, Kau bisa menelpon ku!"


"Baiklah" rela Liana ditinggal oleh Arvin. Iya berpikir memang Arvin seorang yang sangat sibuk, mana boleh Arvin meninggalkan pekerjaannya demi menemani dirinya.


"Oke Liana kita selesaikan masalah ini dulu! Jangan pikirkan yang lainnya!" Motivasi diri sendiri.


“Silakan duduk!” Liana menghela nafas terlebih dulu sebelum mengawali pembicaraannya.


“ini...” Liana menyodorkan amplop yang diberi Arvin padanya. “Maafkan Saya, Karena diam-diam telah mencari berita tentangmu” akuh Liana merasa bersalah.


"Saya hanya ingin bertanya tentang peristiwa 16 februari 2007. Tepatnya 13 tahun yang lalu, Bukankah Anda mengalami sebuah kecelakaan?" Sendat Liana yang merasa semakin gusar tentang pertanyaannya, Ia takut apa yang dia pikirkan saat ini adalah sebuah kenyataan pada tujuh tahun yang lalu.


"Kecelakaan itu, mungkinkah sama dengan kecelakaan yang menewaskan Ayah Sofi?” kini ucapan Liana terdengar jelas dan tegas saat mengintrogasi. Wajah yang sedari tadi memandanginya dengan cermat kini terlihat tertunduk.


Prrrakk...! Terdengar keras seseorang yang bertabrakan dengan pelayan yang membawa minuman, Al hasil semua gelas minumannya jatuh pecah. “Maafkan Saya!” ucapnya disela isak tangisnya.


“Sofi?” Liana begitu terkejut saat memeriksa siapa gadis yang tengah membuat kegaduhan. Ternyata seorang itu adalah Sofi Sahabatnya seniri.


Liana berdiri dan menghampiri sahabatnya. Disaat itulah Tirta tersadar akan keberadaan Sofi.


Kedua mata bertemu pandang, namun kedua pandangan mereka tampak berbeda. Tirta memandang Sofi dengan pandangan penyesalan tapi lain halnya yang tampakkan oleh Sofi, pandangan yang cukup miris bagi Tirta. Pandangan penuh kebencian tertuju padanya.


“Sofi, kau baik-baik saja?” Tanya Liana khawatir. “Sofi!” panggilnya saat sahabatnya berjalan tak kukuh kearah Tirta yang masih berdiri ditempatnya.


“Apa itu benar? Yang dikatakan Liana, Apa itu benar?” tanya Sofi beriringan dengan tetes air mata yang jatuh tuk sekian kali.


“Apa itu benar? Jawab aku!” teriak Sofi yang melihat Tirta hanya diam tak menjawab semua pertanyaannya.

__ADS_1


“Kau diam? Apa itu berarti semua yang dikatakan itu benar?”


“Sofi duduklah dulu! Agar Tirta bisa jelaskan semuanya padamu” saran Liana.


“Aku anggap kediamanmu itu sebagai jawaban atas semuanya” dengan hati yang terluka Sofi melangkah pergi keluar dari Café itu.


“Sofi!” panggil Liana yang berlari menyusul langkah Sofi yang jauh didepan.


“Tunggu! Kau mau kemana?” Cegah Liana yang sudah bisa mengejar keterlambatannya.


"CUKUP!" Bentak Sofi dengan nada yang cukup keras.


"Sofi?" Liana hanya bisa mengeluarkan air mata, Ia takut jika persahabatannya akan berakhir seperti saja.


"Liana Aku mohon beri aku waktu! Biarkan Aku sendiri dulu! Agar Aku tidak bertambah membencimu." Pinta Sofi memahan emosi.


“Sofi” panggil Liana lirih. Kini tak ada lagi daya untuk menahan sahabatnya untuk pergi tanpa menyelesaikan kesalah pahaman dengannya. Ia hanya dapat memandang pilu kearah Sofi yang pergi dengan luka dihatinya.


Liana begitu teruruk dengan segala masalah yang terus menerus menghujani hidupnya. Rasa lelah, membuat Liana ingin bersadar pada seseorang yang dapat menguatkannya. Hanya bayangan Arvin yang terus terlintas dipikirannya.


Tanpa berpikir panjang Liana mencoba untuk menghubungi nomer ponsel Arvin, Ia berharap Arvin dapat menghibur kesedihannya.


“Halo Arvin!” ucapnya saat kontak dengan Arvin terhubung.


“Untuk apa Kau menelfon kak arvin?”


“Kak Alya Kau bersama Arvin? Bukankah...” Liana terdiam sesaat setelah Ia menyadari jika Arvin telah berbohong padanya.


"Bukankah itu tidak diperlukan? Kenapa dia harus berbahong kepadaku? Jika seperti ini, rasanya semakin terasa sakit," benak Liana yang kembali mengeluarkan air matanya.


Liana memutuskan sambungan telpon secara sepihak, meski sebenarnya Alya masih berbicara padanya hingga sambungan itu terputus.


"ha..ha.." Liana menghela nafas berat disela tawa kecilnya. Liana mentertawakan dirinya sendiri yang tidak memiliki nasib baik dihidupnya.


"Dasar bodoh! Kau sangat bodoh Liana! Sampai kapan Kau mengharapkannya? Dia telah menjadi milik orang lain" umpat Dirinya sendiri.


"Tapi Aku sangat membutuhkannya," Isak tangis Liana semakin menjadi. Hingga Ia tak sungkan menangis ditepi jalan dan dilihat banyak orang yang kini menggosipkan tentang dirinya.


***

__ADS_1


__ADS_2