Love'S Feeling

Love'S Feeling
Pergi untuk Kembali 3


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 4 Sore, bus berhenti di terminal terakhir, dan Dafina harus berganti ke angkutan umum sebanyak dua kali agar dirinya benar-benar sampai ketempat yang dituju.


Hari menjelang malam Dafina akhirnya sampai di sebuah kontrakan yang disewa oleh kakaknya.


“Hay kak ... lama tidak berjumpa!” Sapa Dafina dengan senyum kelegaan setelah melihat kakaknya yang baru keluar dari rumah.


“Dafina, kau?” Mata Liana langsung terbelalak melihat sang adik kini berdiri dihadapannya.


"Kau bagaimana bisa datang kemari? Apa kau sendirian? Bagaimana dengan Ayah dan juga Ibu? Apa mereka tahu kau datang kemari?" brondong Liana, memeriksa apa ada yang salah pada adiknya.


“Aku datang kemari untuk menjemput kakak pulang,” ucap Dafina mengutarakan tujuannya.


"Dan untuk Ayah dan Ibu, mereka akan tahu jika membaca surat izin dariku," jawab Dafina.


“Dasar bodoh! Kau masih kecil, kanapa berani sekali berkeliaran sejauh ini?” bentak Liana yang merasa khawatir dengan adik semata wayangnya.


“Kakak aku bertemu dengan kak Arvin tadi siang,” cerita Dafina, yang menghentikan Omelan Liana.


“Arvin?”


“Tahu tidak? Jika Kak Arvin masih berstatus suami kakak. Dia tidak pernah melaporkan peceraian kalian,” lanjut Dafina.


“Apa maksudmu?”


“Aku dengar semua ini dari kak Arvin sendiri. Dia sangat mencintai kakak,” penjelasan singkat Dafina.


“Pembohong! Apa dengan alasan itu, kau mencoba membawaku kembali kerumah,” tak yakin Liana.


“Siapa yang berbohong? Aku katakan hal yang sesungguhnya,” ujar Dafina meyakinkan.


“Dan gadis yang bersama kak Arvin, dia sudah pergi dari kehidupan kak Arvin. Mereka memutuskan untuk berteman saja”.


“Kau tidak sedang bercanda denganku kan?”


“ehy ... gadis ini! Memangnya aku jauh-jauh datang kemari hanya untuk bercanda denganmu, yang benar saja? Ya sudah kalau tidak percaya. Kau pasti akan menyesal karena tidak mempercayai ucapanku” sungut Dafina merasa kesal. 


“Aku percaya. Terima kasih ...” Liana mendekap erat tubuh adiknya.


“Aku sangat tertolong olehmu. Terima kasih!”.


“Ayo kita pulang sekarang!” cetus Liana langsung berlari kedalam untuk membereskan barang-barangnya.


Dengan dibantu Dafina, Liana dapat berkemas dengan cepat karena tak banyak barang yang dibawa oleh Liana.


Sesuai kesepakatan Dafina pulang kerumah sedangkan Liana mencari keberadaan Arvin.


“Dari mana saja kamu? Dan apa maksud dari surat ini? Kau ingin menyusul kak Liana kemana?” bentak Ibu yang begitu khawatir pada anak bungsunya.


“Aku akan jelaskan segalanya didalam pada Ibu dan Ayah. Jadi biarkan aku masuk! Aku lelah menempuh perjalanan 9 jam tidak istirahat sama sekali," pinta Dafina memelas.


Dafina yang kini tengah menjelaskan secara terperinci apa yang terjadi pada Ayah dan Ibunya.


Pada saat yang sama, Liana tengah malam berlarian untuk mencari ke rumah dan apartemen namun tak didapati keberadaan Arvin, ponsel Arvin pun tak dapat dihubungi.


"Kau dimana? Aku merindukanmu!" Isak Liana menangis sesenggukan berjongkok di depan gedung apartemen yang Ia ketahui sebagai tempat tinggal Arvin.


“Nona Liana!” panggil sekertaris Han ragu. Mencoba lebih mendekat, tuk pastikan jika dirinya memanggil orang yang benar.

__ADS_1


"Sekertaris Han!" Sapa Liana seraya menghapus air mata secara cepat.


“Lama tidak berjumpa, bagaimana kabar anda?” ucap Liana berbasa-basi.


"Saya baik Nona," jawab Sekretaris Han menanggapi.


"Nona Liana, Direktur menitipkan pesan padaku. Jika bertemu dengan Nona, beliau berpesan untuk menyalakan kembali nomer ponsel Nona yang lama!" Ucap Sekretaris Han menyampaikan pesan.


"Baik saya akan lakukan," patuh Liana langsung mencari nomer lamanya yang ditaruhnya disebuah kotak kecil, didalam tas.


"Kalau begitu saya pamit undur diri, Saya datang kemari hanya ingin mengambil beberapa berkas yang tertinggal di kamar apartemen Direktur," jelas Sekretaris Han perlahan melangkah pergi, Ia tak ingin mengganggu Liana yang tengah disibukkan dengan mengganti kartu telpon pada ponselnya.


"Sekretaris Han!" panggil Liana mencegah.


"Bisakah Sekretaris Han memberi tahuku dimana keberadaan Arvin sekarang?".


"Mungkin Direktur sekarang masih berada didalam pesawat, Ia kembali kepada orangtuanya yang berada di luar negeri," Sekretaris Han menceritakan apa saja yang diketahuinya.


"Saya dengar Ayahnya sakit keras, dan mau tidak mau Direktur untuk sementara waktu menggantikan posisi Ayahnya disana." Tambah Sekretaris Han.


"Saya mendengar jika kedudukan Ayah Direktur sedang diincar oleh seseorang, oleh karena itu Direktur harus berkerja keras untuk membujuk para pemenang saham agar tetap mempertahankan posisi Ayahnya." Meski Liana tak memahami apa masalah perusahaan, tapi Liana tetap mendengar penjelasan Sekretaris Han dengan sangat cermat dan mencoba memahaminya.


"Karena bagaimanapun, Ayah Direkturlah yang membuat perusahaan itu menjadi sebesar sekarang. Jadi sangat tidak adil jika salah seorang memotong jalan begitu saja".


"Aku mengerti, terima kasih atas segalanya!" Liana memberi salam hormat pada Sekretaris Han sebagai tanda terima kasihnya.


"Kalau begitu saya pamit".


"Hati-hati dijalan!"


Tuk mengisi waktu luang saat didalam perjalanan, Liana mencoba memeriksa laporan pesan dan panggil yang masuk kedalam ponselnya.


Sebanyak 101 panggilan yang masuk, dan semua panggilan itu datangnya dari Arvin. Ia juga menerima pesan dari Arvin dan ada beberapa dari para sahabatnya.


Dibukanya satu persatu pesan yang beratas namakan Arvin.


Flashback Arvin


Setelah mendapatkan berita dari Ibunya tentang kesehatan Ayahnya dan juga betapa buruknya kondisi perusahaan saat ini yang penuh dengan orang licik untuk menggulingkan posisi Ayahnya.


Arvin secepatnya memesan penerbangan paling awal, agar dapat secepatnya datang membantu masalah yang ada di keluarganya.


Meskipun dalam posisi yang sulit seperti itu, Arvin juga tak dapat mengabaikan begitu saja kabar tentang Liana yang didapatnya dari adik iparnya Dafina.


Mengirim pesan dan juga menelpon ponsel Liana tanpa ada jeda waktu. Meski Ia harus segera berkemas, walau dirinya harus segera pergi ke bandara.


Sampai Akhir, sebelum Ia mematikan ponselnya saat berada diatas pesawat. panggil terakhirnya dan pesan yang dikirimnya hanya ditujukan pada Liana.


( flashback selesai).


12.20


_-Kau dimana?-_


12.26


_- Apa benar kau masih di negara ini? Apa benar kau tidak pergi bersama pria itu?-_

__ADS_1


13.15


_-Aku mencintaimu! Aku sangat merindukanmu. kau ada dimana sekarang?-_


Liana mulai meneteskan air mata penyesalan.


15.06


_- Tolong beritahu aku jika kau membaca pesan dariku! Sungguh Aku hampir gila memikirkan, dimana kau saat ini? -_


17.41


_- Aku akan pergi untuk beberapa saat. Jika kau telah pulang ke rumah, bisakah kau menungguku? Tetaplah disana agar saat aku kembali, aku dapat dengan mudah menemukanmu. -_


17.43


_- Jangan lelah menungguku! Dan jika itu terjadi, jangan lari lagi dan bersembunyi dariku. Aku mohon! -_


"Maafkan aku! Maafkan aku!" sesak dada Liana yang kini dipukuli dengan tangannya secara bertubi-tubi.


"Nona kau baik-baik saja?" Tanya sang sopir taksi mencemaskan keadaan penumpangnya.


Namun pertanyaannya itu tak pernah dijawab oleh Liana, dan Sang sopir taksi itu memaklumi itu.


Bahkan sang supir taksi itu begitu berbaik hati kepada Liana, memberi sekotak tisu yang diletakan didepan Liana yang masih tenggelam pada Isak Tangis penyesalan.


***   


Sejak saat itu Liana lebih susah menghubungi Arvin, dari pada saat Ia menyatakan kata perpisahan.


Bahkan ketika Liana datang jauh-jauh untuk menghampirinya saja, Arvin jarang tampak dirumah.


Dalam satu minggu, hanya beberapa jam Liana dapat melihat wajah Arvin yang terlihat sangat lelah.


Dalam tidur yang tak begitu nyenyak, Liana dikejutkan oleh sebuah tangan yang memeluknya dari belakang.


Ia tahu jika itu Arvin, diputar tubuhnya agar dirinya dapat melihat wajah pria yang sangat Ia rindukan.


"Kapan kau datang?" Tanya Liana menatap wajah lesu Arvin yang terpejam.


"Baru saja," jawab Arvin masih betah menutup mata. Sepertinya Arvin sangat kelelahan bahkan untuk membuka mata saja Ia tak mampu.


"Apa seberat itu mengatasi masalah ini?" Tanya Liana sekali lagi, merasa prihatin melihat keadaan Arvin yang begitu berantakan.


Tanpa berganti baju ataupun menyegarkan tubuhnya terlebih dahulu, Ia dapat tertidur sangat nyenyak.


"Sangat," jawab Arvin sekali lagi kini lebih singkat dan juga sangat pelan.


"Bukankah kau harus mandi dan berganti baju terlebih dahulu?" lirih Liana sembari menata rambut Arvin yang sangat berantakan.


Kali ini tidak ada jawaban dari Arvin, mungkin Ia telah tenggelam dalam kelelahannya.


"Aku sangat merindukanmu!" gumam Liana mengecup kening Arvin yang berkerut.


"Aku mencintaimu!".


***

__ADS_1


__ADS_2