Love'S Feeling

Love'S Feeling
Tiga hati 3


__ADS_3

Dengan perlahan dan penuh dengan penuh perhatian Arvin membantu Liana membaringkan tubuhnya diatas ranjang kamar Arvin. Karena setatus dirinya sebagai seorang nyonya Arvin memang sudah sepantasnya Liana sebagai penghuni kamar sang Suami.


"Istirahatlah!" Lontar Arvin menyelimuti tubuh Liana secara tak penuh.


"Terima kasih" pandang tulus Liana memberi senyum singkat pada Arvin.


"Apa kau menginginkan sesuatu untuk dimakan? Biar aku buatkan untukmu" tawar Arvin. 


"Tidak perlu" saut Sofi menengahi. Ia mencoba yuk menawarkan diri untuk melakukan segalanya, "Kau disini saja bersama istrimu! biar aku yang membuatkannya".


"Liana kau mau sup? Atau bubur?" 


"Terserah kau saja" ujar Liana tak ingin menyulitkan sang Sahabat.


"Baiklah aku akan segera kembali." 


"Akan aku bantu!" Seru Anita mengikuti Sofi, tapi sebelum itu ia berdiri dihadapan Alya yang sedari tadi berdiri diam disisi pintu. 


"Ayo kita buat bubur sama-sama! Pasti lebih seru, dari pada Kau menunggu disini dan menjadi obat nyamuk, lebih baik ikut Kami! Ayo!" Ajak Anita menggandeng tangan Alya. 


"Iya" setuju Alya. Meninggalkan keduanya dengan hati tak rela. 


"Apa Ibu dan Ayah mengetahui semua ini?" tanya Liana setelah semua orang meninggalkan mereka berdua.


"Tidak. Aku tidak ingin mereka khawatir" jawab Arvin memandang lekat wajah pucat Liana.


"Syukurlah!" Lega Liana mendengar jawaban dari Arvin.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Liana yang melihat mata Arvin yang terus melihat kearahnya. 


"Kau terlihat sangat kuat tapi sebenarnya kau sangat rapuh" cetus Arvin datar masih dengan pandangan menyelidik. 


"Sudah hentikan! Biarkan aku istirahat! Jangan amati aku seperti itu!" 


"Apa Kau memang orang yang seperti ini?" 


"Maksudmu?" 


"Aku kira Kau seperti cangkang kerang yang kuat saat pertama aku mengenalmu, tapi ketika aku lebih dalam mengenalmu ternyata kau tak lebih dari isi karang yang rapuh" Arvin mendapat tatapan Liana yang tak dapat ia tafsirkan.


"Jangan membuat persepsi sendiri tentang orang lain! Aku tidak selemah yang kau pikirkan" sangkal Liana. "Sudah sana! Aku ingin istirahat" Liana menghindari kotak mata dengan Arvin tapi Ia gagal saat Arvin mengucap kata yang mengejutkan. 


"Jangan lagi berada di situasi yang membuatku mengkhawatirkanmu! seperti sekarang ini" 


"Aku hanya tidak menyukainya. Aku tidak menyukai jika Kau terluka atau menangis karena diriku" Tutur Arvin membuat degup jantung Liana berkerja cepat. "Hal itu membuatku terus mengkhawatirkanmu, dan itu artinya aku akan selalu memikirkan tentang dirimu. Di otakku terus dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan aneh tentang dirimu. Bagaimana dengan keadaannya sekarang? Apa dia baik-baik saja? Apa dia terluka dan menangis diluar sana? Taukah kau? Semua itu membuatku sangat kesulitan" Ungkap Arvin panjang lebar.


"Arvin, kau.."


Belum sempat Liana bicara, ketiga gadis itu telah menyelesaikan memasaknya, dan kembali dengan membawa semangkuk bubur hangat. 


"Buburnya sudah siap!" 


"Mau dimakan sekarang?" tanya Sofi. 


"Terima kasih!" lirih Liana 

__ADS_1


"Apa kau ingin disuapi Suamimu?" ujar Anita yang katakan itu tuk mempertegas bahwa sahabatnya adalah Istri sah dari Arvin dan saat ini tidak ada yang dapat menggantikan tempatnya.


"Tidak perlu. Aku bisa memakannya sendiri" Liana meminta mangkuk bubur dari Sofi.


Dengan mandiri Liana melayani dirinya sendiri, Ia meniup sendiri makanan itu meski terkadang ia merintih kepanasan saat bubur tak benar-benar dingin masuk kedalam mulutnya.


Dan Arvin tak menyukai itu, karena dirinya merasa diabaikan sebagai seorang suami. Ia pun memutuskan untuk pergi dari sana.


"Aku keluar sebentar"pamit Arvin. 


"Kakak!" cegah Alya menggenggam erat lengan Arvin. "Bisa antar aku pulang?" pinta Alya.


"ehm.." angguk Arvin, "Ayo!" Arvin berjalan didepan dengan perasaan campur aduk dan Alya yang menyusul dari belakang telah memiliki bermacam-macam pertanyaan yang mengganjal hatinya, meski seperti itu ia tidak berani menanyakan kepada pihak bersangkutan. 


Hanya hati ketiga orang itu yang malam ini banyak berbicara, dan otak yang bekerja untuk menganalisis hingga satu ketetapan hati diputuskan. 


Mobil dilanjukan oleh Arvin menembus jalanan malam yang lengang, bergerak menuju apartemen Alya yang jaraknya beberapa puluh kg meter dari kediamannya.


"Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Tak seharusnya Aku katakan semua itu padanya" Sadar Arvin, ketika ia mengingat kembali memori beberapa menit lalu ketika dirinya mengakui segala hal tentang apa yang dirasakannya pada Liana. "Apa yang akan Aku katakan sebagai jawaban, jika dia bertanya padaku tentang perkataanku tadi?" Banyak sekali pemikiran Arvin yang terus mengusik ketenangan hatinya. Hingga Ia tak memperdulikan Alya yang berada di sampingnya yang kini sedang memandang ke arahnya.


"Aku benar-benar ketakutan sekarang. Aku takut hatimu sepenuhnya berpaling padanya" Benak Alya memandang nanar wajah Arvin yang berada di bangku supir. "Membayangkan akan kehilanganmu saja aku sangat ketakutan, lalu apa yang terjadi padaku nanti jika itu benar-benar terjadi?" Dengan cepat Alya memalingkan wajahnya kearah luar jendela sebelum setetes kepedihannya terjun bebas ke pipi halusnya. Dan lagi-lagi Arvin tak sadari akan hal itu. Satu hati menangis malam ini karena Arvin


Dan kedua ada hati Liana yang menangis untuk Arvin. Iya melampiaskan sakit hatinya saat para sahabatnya benar-benar pergi dari sana.


"Kenapa kau katakan hal itu padaku? Sekarang aku benar-benar tidak bisa melepaskanmu untuknya" Liana menangis sekencang-kencangnya, berharap tangis itu bisa menghilangkan rasa sakit dihatinya secara berangsur.


***

__ADS_1


__ADS_2