
2 tahun kemudian.
Dengan mengenakan sepatu heels ditambah dengan rok span selutut, membuat Liana hanya bisa berlari kecil untuk mengejar keterlambatannya.
“Bagaimana ini? Aku terlamabat lagi” gusar Liana yang beberapa kali melirik jam kecil yang melilit ditangan kirinya.
Tampak jelas jarum jam telah menunjukkan waktu yang seharusnya, dan bisa diketahui bahwa dirinya sangat terlambat.
“Selamat pagi!” sapanya dengan nafas yang terengah-engah, setelah berhasil sampai didepan kelas tempat Ia mengajar.
“Maaf saya terlambat!” Sesalnya pada guru Nita selaku guru BP disana, yang mengisi keterlambatannya.
“Semua orang juga tahu kalau anda sekarang terlambat 15 menit 47 detik dari waktu yang seharusnya anda mengajar,” ketus guru Nisa begitu terperinci.
"Apa harus sedetail itu?" keluh Liana hanya bisa menyinggung didalam hati saja.
Dan berucap manis jika diluar, “maafkan saya! Saya memang salah”.
“Baguslah jika Ibu guru Ana tahu, itu artinya Ibu guru Ana masih tahu diri,” Sindir guru Nita yang merasa gerah dengan kelakuan Liana yang sering terlambat.
“Pantas saja ditinggal suaminya pergi. Memang kelakuannya tidak bisa untuk dipertahakan,” gerutu guru Nita berjalan pergi, namun kata-katanya masih jelas terdengar ditelinga Liana.
“Apa maksud Ibu guru Nita?” tegur Liana menghentikan langkah huru Nita.
“Ibu guru Nita jangan sembarangan bicara! Suami saya tidak pernah meninggalkan saya,” tekan Liana.
“Ohh ... benarkah? Lalu kenapa selama 2 tahun dia tidak pernah kembali?” Guru Nita mempertanyakan kebenarannya.
"Bukankah suami istri itu harus selalu bersama? Lalu hubungan anda ini disebut apa?" sindiran pedas guru Nita, membuat kesabaran Liana menipis.
“Suami saya memang masih ada pekerjaan disana, dan sedangkan saya masih memiliki kewajiban mengajar ditempat ini,” pertegas Liana.
“Ya ... bisa sajakan itu cuma alasan untuk suami Ibu guru Ana pergi meninggalkan Ibu kan?”.
Liana menarik nafas panjang mencoba menahan amarahnya.
"Cukup aku sudah dibang batas kesabaran ku!" benak Liana yang kini siap perang mulut dengan guru Nita uang terkenal memliki ucapan tajam dan suka ikut campur urusan orang lain.
Sesaat Liana tersenyum sinis lalu berucap tanpa ekspresi, “Ibu guru Nita kalau boleh saya sarankan, sebaiknya Ibu guru Nita cepat-cepat cari pasangan dan menikah! Jadi bisa tahu perbedaan antara suami yang benar-benar pergi karena urusan pekerjaan atau untuk sebaliknya,” ucapan pertama Liana langsung menghantam bagian fatal guru Nita, mencoba menutup mulut yang sering kali mencibirnya.
“Jadi perawan tua itu tidak enak loh Bu, bisa menyebabkan penuaan dini”.
"Dan juga, jika Ibu guru Nita sudah menikah akan menambah wawasan, jadi pikirannya tidak akan kolot seperti ini," Skak mat, kali ini ucapan Liana membuat bibir guru Nita benar-benar bungkam dan juga mempunyai efek yang menimbulkan amarah yang memuncak.
Ibu guru Nita langsung mengambil seribu langkah untuk pergi karena sebuah kekalahan, sedangkan Liana sendiri hanya dapat tersenyum lega untuk saat ini.
__ADS_1
“Selamat pagi anak-anak ibu!” Sapa Liana menyapa anak-anak didiknya dengan menyertakan gerak isyarat karena tak semua anak didiknya yang bisa mendengar ucapannya.
“Selamat pagi Ibu guru Ana!” sapa mereka balik yang bisa mendengar dan bisa menjawab selebihnya mereka membalasnya dengan kemampuan mereka masing-masing.
“Seperti biasa, kita akan merefresh kembali pengajaran kemarin sebelum melanjutkan pelajaran hari ini,” ucap Liana yang sudah terbiasa dengan rutinitas hariannya sebagai guru.
“Ibu guru!” seru salah seorang muridnya menghentikan proses belajar.
“Iya Cika?” Liana meghampiri tempat duduk Cika, karena kali ini Cika adalah murid yang tidak bisa berjalan. Hanya dengan ditopang dengan tongkat Cika batu bisa berjalan.
“Ini dari kami semua untuk Ibu guru,” Cika mengulurkan tangannya yang memegang sebuah kotak hadiah.
“Apa ini?” Liana menerimanya dengan senyuman.
“Hari ini adalah hari Ibu. Kami memberikan ini untuk Ibu kami yang ada di sekolah.”
“Terima kasih sayang. Ini sangat indah” ujar Liana yang telah mengetahui bahwa didalam kado itu terdapat sebuah bingkai foto dirinya dan seluruh anak didiknya.
“Ibu akan simpan ini dengan baik,” Liana menitihkan beberapa tetes air mata karena terharu.
Satu setengah tahun Liana berhasil membangun citranya menjadi seorang guru yang baik dan juga sangat hangat.
Karena itulah kini Liana dapat memetik buah hasil jerih payahnya, Ia menjadi guru favorit untuk para murid penyandang cacat disebuah sekolah music yang didirikan oleh Tirta.
***
Kini mereka telah meresmikan status cinta mereka di mata Negara menjadi sepasang suami istri yang telah tercatat satu setengah tahun yang lalu.
Dan kebahagiaan kedua pasang pasutri itu menjadi lengkap setelah datangnya pangeran kecil yang masih berumur 5 bulan.
“Dari murid-muridmu lagi?” tanya Sofi yang duduk disamping Liana.
“Iya” jawab Liana singkat dengan senyum kebahagiaan.
“Kali ini untuk apa?”
“Hari Ibu”.
“Hari Ibu?” ujar Sofi uang merasa kurang percaya. Bahkan hari Ibu pun Liana mendapat sebuah kado dari anak didiknya, meski itu hanya hadiah tak mahal.
“Ehm!” angguk Liana pelan.
“Coffelatte untuk dua gadis cantik,” ucap manis pak Ian pegawai café The rainbow milik Rendi dan Anita yang sudah terbiasa menyuguhkan dua pelanggan khusus yang selalu datang kesana.
“Terima kasih paman!” ucap keduanya hampir bersamaan.
__ADS_1
“dengan senang hati,” senyum pak Ian sembari berlalu dari keduanya untuk melanjutkan pekerjaannya.
“Sudah berapa persen persiapan untuk pernikahanmu?” kini giliran Liana yang bertanya pada Sofi.
“Sekitar lima puluh persen. Kau juga harus membantuku untuk memikirkan dekor tempat resepsi nanti!” pinta Sofi meminta bantuan kepada sahabatnya. Karena Ia tak menyewa jasa Wedding Organizer (WO).
Sofi ingin mempersiapkan sendiri segalanya untuk pernikahan yang diselenggarakan sekali dalam hidupnya.
“Pasti akan aku bantu,” Janji Liana.
“Aku juga akan bantu jika diperlukan,” saut Anita yang sedang sibuk melayani pelanggan yang baru datang.
“Jangan sungkan jika kau membutuhkan bantuan kami!” tambah Rendi yang menggendong buah hatinya yang sedang tertidur sambil melayani pembayaran pelanggannya.
"Tidak akan sungkan sama sekali,” ungkap Sofi tersenyum simpul.
“Um ... aku pasti akan iri padamu,” Liana menghela nafas panjang penuh rasa iri karena melihat sahabat-sahabatnya bisa hidup berdampingan dengan pasangan mereka.
“Sabar saja! Bukankah kau bilang dia akan datang dalam waktu dekat ini?" Sofi menepuk-nepuk pundak Liana tuk menenangkan hati Liana.
"Iya, akan aku lakukan," ucap Liana penuh dengan ketabahan.
“Hey.. kalian berdua! Bisakah kalian membantuku sebentar?” pinta Anita yang kualahan dengan pelanggan yang berjibun.
“Baiklah,” sedia Liana dan diikuti dengan Sofi.
“Apa yang perlu kami bantu?” tanya Sofi lebih lanjut.
“Catatlah pesanan! Dan kau Liana tolong antar pesanan yang sudah siap!” pinta Anita membagi tugas.
"Tentu".
“okey!” Terima keduanya dengan senang hati. Liana dan Sofi membantu Pasutri itu hingga jam tutup cafe.
Dengan dijemput Tirta Sofi kembali pulang kerumah sedangkan Liana sendiri menggunakan jasa bus untuk membawanya kembali pulang.
Dengan duduk diam disisi jendela, Liana dapat mengamati pemandangan kota pada malam hari.
Kemerlip lampu kota yang menyala disepanjang jalan menjadikan malam lebih indah dari pada siang hari.
Earphone dipasang dikedua telinganya, dipilihnya lagu yang menurutnya sesuai dengan suasana hatinya saat ini.
Itulah yang dilakukan Liana disepanjang perjalanan pulang untuk mengusir kesepiannya tak mempunyai teman untuk mengobrol.
__ADS_1
***