
Bukan untuk memikirkan atau sebuah perenungan nasib yang dilakukan Liana akhir-akhir ini. Mungkin lebih tepatnya seperti seorang yang sedang menjauhkan diri dari kenyataan, dan sedang menikmati kediamannya.
"Bagaimana sih? Tidak bisa lihat apa kalau ada orang disini?" teguran diterima Liana berulang kali, karena ia terus saja menabrak orang-orang yang berada didepannya.
"Maafkan aku!" sesal Liana. Namun tak ada kata jerah baginya, karena beberapa detik berselang ia menabrak sesuatu di depannya. Dan ia pun berucap, "maafkan aku! Aku tidak sengaja"sesal Liana kesekian kali.
"Untuk apa minta maaf dengan tiang? Tidak ada gunanya" ucap Arvin menyadarkan Liana bahwa itu bukan orang namun itu sebuah tiang yang berdiri kokoh tak pernah beranjak dari tempatnya.
Liana mengarahkan pandangannya ke depan yang sebelumnya hanya tertunduk kebawah. Liana berfikir seberapa bodoh dirinya yang meminta maaf kepada benda mati.
"Lihatlah dirimu! Menyedihkan sekali"
"Apa kau kemari hanya untuk mengolok-olok ku?" sinis Liana
"Tidak juga"
"Lalu?"
"Yang pasti aku tidak membuatmu menangis seperti yang dilakukan pria bermata sipit itu"
__ADS_1
"Kau ini benar-benar.."
"Hari ini, ayo kita berkencan!" sela Arvin
"APA?" tanya Liana dengan nada tinggi, bagaimana tidak? Arvin begitu sepontan mengungkapkan satu hal yang diluar dugaan.
" Bagaimana cara orang sini berkencan? Dimana biasanya mereka menghabiskan waktu bersama?" brondong Arvin dan Liana hanya dapat terdiam, tak bisa berkata-kata. "Atau kau ingin berkencan sesuai keinginanmu? Ala korea?" Arvin memainkan mata pada Liana.
"Apa sekarang kau ingin mempermainkanku?"
Arvin menghela nafas panjang tuk kurangi rasa kesal terhadap Liana yang tak menghargai usahanya tuk menghibur Liana. "Sudahlah! sesuai sepengetahuanku saja" Arvin menyeret Liana secara paksa.
Dengan mobil sportnya , Arvin melesat cepat kesebuah mall yang terletak ditengah kota. Mobil berjejer terparkir rapi, dan disanalah start kencan pertama mereka.
"Yakk..! Apa kau sudah gila?"
"Kau lebih suka dipeluk atau digandeng saja?"ulang Arvin. "tapi kalau pelukan itu terlalu berlebihan. Jadi bergandengan tangan saja" putusnya diraih tangan Liana lalu digenggam erat oleh Arvin.
"Kau. Sebenarnya apa yang kau inginkan?"
__ADS_1
"Aku rasa sudah cukup. Ayo kita pergi!"Arvin berjalan didepan sedangkan Liana mengikuti dibelakang seraya memandang genggaman tangan yang berada didepan. "Kita nonton film atau makan?" tanya Arvin menghentikan langkahnya.
"Aku tidak ingin keduanya. Aku hanya ingin pulang"
"Atau kita ketaman kota saja?"
"Yakk...!"pekik Liana melepas genggaman tangan Arvin.
"Sudah aku bilang, 'aku tidak menginginkan apapun', kenapa kau tidak mengerti juga?"
"Hey kecilkan suaramu. Semua orang sekarang melihat kearah kita".
"Aku tidak perduli" pertegas Liana. "Aku hanya ingin pulang" Liana berbalik arah. Namun tak bertahan lama. Karena Arvin mencegat niatnya, Arvin membalikkan tubuh Liana dengan kasar. Dihadapkan kearahnya kembali. Lalu berucap, "tapi aku perduli". " aku perduli dengan tingkahmu yg konyol itu" kini giliran Arvin yang berbicara dengan suara yang keras. "Apa selamanya kau ingin seperti ini? Apa hanya pria itu saja yang berarti bagimu? Hingga kau merusak dirimu sendiri"
"tentu saja. dia sangat berarti bagiku" pertegas Liana dengan air mata yang menggenang. Arvin merenggangkan genggaman tangannya.
"Lalu bagaimana denganku? bagaimana dengan keluarga kita? Apa mereka sama sekali tidak berarti untukmu?" tukas Arvin membuat sebuah efek pada hati Liana saat itu. Liana terdiam, tidak dapat berbicara dan tak dapat berkutik. "bisakah kau sekali saja memandangku sebagai seseorang! Bisakah sekali saja kau memperdulikan keberadaanku yang selalu berada disampingmu!". "Taukah kau. Rasanya sesak sekali".
Beberapa saat Liana mulai luluh. Liana mendekat lalu berucap, "maafkan aku!" air mata Liana mulai tergenang kembali. "maaf" kini air mata itu terlepas dari pelupuk mata Liana.
__ADS_1
Arvin datang pada Liana lalu memberi pelukan hangat padanya. Dan berucap, "tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja" ucap Arvin memberi sebuah mantra penghilang kesedihan. Tapi entah mengapa diwaktu itu juga Arvin ikut menangis, dirinya seperti merasakan rasa sakit yang dirasakan oleh Liana.
*** ***