
Sebuah ketukan terdengar dari luar kamar Sofi, membuyarkan segala pikiran-pikiran buruknya yang telah menguras banyak air mata Sofi.
"Sofi! Apa Kau sudah tidur?" Tanya sang Ibu dibalik pntu kamarnya.
"Masuklah bu! Pintunya tidak dikunci," saut Sofi dari dalam.
Dengan memegang izin dari Sofi, Ibu langsung masuk kedalam kamar sang Anak. Didapatinya Sofi yang terbangun dari tidur santainya sembari sibuk menyeka air mata yang terlanjur keluar.
"Ada apa?" Tanya Ibu mencoba untuk menguji kejujuran sang anak. Karena sebenarnya Ia telah mengetahui segalanya dari Liana.
"Tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja" ucap Sofi penuh dengan kebohongan.
“Apa Kau sedang bertengkar dengan Liana?” Tanya ibunya lebih lanjut.
“Bagaimana Ibu bisa tahu?” Tanya Sofi balik.
"Liana sudah menceritakan segalanya pada Ibu. Dan dia sedang menunggu untuk meluruskan kesalah pahamannya denganmu." Lontar Ibu Sofi memberi tahu.
"Ibu tolong katakan padanya jika Aku sudah tertidur!" pinta Sofi.
"Kenapa Kau tidak ingin menemuinya? Memang sebesar apa kesalahannya padamu?"
"Aku tidak yakin. Hanya saja Aku ingin sendiri dulu sekarang, " jawab Sofi.
"Bagaimana jika Ibu juga memiliki kesalahan yang sama seperti Liana? Apa Kau juga tidak ingin menemui Ibu? Apa Kau akan membenci Ibu?" Pertanyaan sang Ibu menambah kebingungan bagi Sofi.
"Ibu, apa yang sebenarnya Ibu bicarakan?"
"Ibu tahu segalanya tentang Tirta dan hubungannya dengan masala lalu tujuh tahun yang lalu" Ulas Ibu.
"Ibu?"
“Semuanya sama kan? Ibu dan Liana tak ingin Kau terluka atas kenyataan itu. Kami ingin Kau bahagia dengan cintamu tanpa dibayang-bayangi oleh kenyataan masa lalu yang menyakitkan." Tutur Ibu dengan nada halus mencoba untuk meyakinkan sang anaknya yang masih diliputi dengan amarah.
"Apakah salah jika kami menginginkan yang terbaik untukmu?"
"Maafkan Aku!" Air mata Sofi menetes kembali.
__ADS_1
"Kau berhutang satu maaf pada sahabatmu. Pergi dan temui Liana! Dia sangat sedih karenamu” pinta Ibu berjalan keluar.
Beberapa menit kemudian Sofi dengan langkah pelan keluar dari kamarnya dan mendapati Liana yang terduduk dengan wajah yang tertunduk dipenuhi air mata.
"Liana!" panggil Sofi memberi tahu keberadaannya pada sang sahabat.
Liana beranjak dari tempat duduknya dan berucap, "Maaf!" Sendat Liana karena Isak tangisnya.
“Apa Aku terlalu jahat padamu? Apa Kau sangat terluka dengan ucapanku tadi?” Tanya Sofi.
Liana menggelengkan kepalanya, kini air mata Liana jatuh lebih banyak lagi.
“Maaf, Aku sudah berkata kasar padamu!” ungkap Sofi memeluk tubuh sahabatnya.
“Bawah matamu seperti Bakpao isi, tebal sekali. Apa Kau sangat takut kehilangan sahabat terbaik sepertiku?” Canda Sofi mencoba untuk mencairkan suasana.
“Dasar gadis jahat!” Ucapnya sesunggukan.
“Maafkan aku!” Sofi tersenyum tipis.
“Aku juga minta maaf padamu, karena menyembunyikan semuanya padamu. Aku berjanji tidak akan menyembunyikan sesuatu lagi padamu”
“Tidak akan” kedua wajah cantik itu telah dihiasi senyuman indah.
***
Dengan meminjam piyama Sofi, kini Liana siap untuk berbaring dikamar yang sudah dibersihkan oleh Sofi. “Sebegitu takutkah Kau kehilanganku?” Tanya Sofi yang merasa heran melihat sahabatnya yang memaksa untuk menginap dirumahnya.
“Tidak.”
“Lalu kenapa?”
“Suasana hatiku sedang buruk sekarang, jadi Aku putuskan untuk memilihmu sebagai teman penghibur hatiku saat ini. Bukankah nasib kita sama? Jadi kenapa kita tidak berbagi duka saja?”.
“cihh... Kau ini tidak seperti orang yang baru dimaafkan,” sindir sofi.
“Aduh.. sahabatku ini, jangan bicara seperti itu pada sahabatmu ini! Berbaik hatilah pada sahabatmu ini!” mohonnya dengan wajah memelas.
__ADS_1
“Dasar!” Sofi ingin memukul Liana namun Liana mengelak lalu berlari menjauh.
"Sofi apa Kau punya kompres? Aku ingin menghilangkan benjolan dibawah mataku ini. terlihat sangat jelek" tunjuk Liana yang telah sadar betapa buruknya benjolan yang dimaksud Sofi tadi setelah Ia berkaca di cermin.
“Kenapa Aku tidak bisa sepertimu?” Ucap Sofi tak sesuai dengan pertanyaan yang diajukan oleh Liana.
“Maksudmu?”
“Aku tahu kalau saat ini hatimu sedang terluka sama sepertiku." Sofi menghentikan perkataannya dan sedetik kemudian merevisinya, "bukan, malah lebih terluka dariku. Tapi kau bisa menyembunyikan semuanya dalam senyuman.”
“Mungkin inilah satu-satunya kelebihan yang Aku punya. Seberapa sakit luka dihatiku akan mencoba untuk tetap tersenyum untuk menenangkan hati orang-orang didekatku” tuturnya lembut.
“Berpura-pura untuk menenangkan hati orang-orang yang berada didekatmu. Terdengar sangat baik.” Puji Sofi.
“Benarkah? Apa aku terlihat begitu keren saat bicara tadi?”
“Gadis ini, suka sekali membanggakan diri sendiri”
“emm...kira-kira itu kelebihan atau kekurangan untukku?”
“Hiss... dasar Kau!” Sofi tersenyum geli mendengar penuturan Liana.
Namun senyuman itu menghilang seketika sesaat setelah Liana membahas kembali tentang Tirta.
“Tidak bisakah Kau memaafkannya?” Tanya Liana secara tiba-tiba. Membuat suasana menjadi tegang kembali.
“Bisakah kita tidak membicarakan hal itu?” Hindar Sofi.
“Tapi kan...”
“Sudahlah, lebih baik kita tidur sekarang! Besok kita ada kelas pagi” Sofi membaringkan tubuhnya diranjang menghadap arah barat agar Liana tidak melihat air matanya yang mengalir kembali.
“Luka itu tidak akan sembuh dengan Kau membencinya. Malah kebencianmu akan membuatmu menyesal nantinya.” Tutur Liana bijak. Namun semua ucapan Liana diabaikan begitu saja oleh Sofi.
Pekatnya malam tak membuat keduanya turut memejamkan mata seperti kebanyakan orang yang menikmati waktu istirahatnya untuk tidur.
Hingga fajar menjelang Liana dan Sofi masih sibuk dengan pikiran mereka masing-masing tanpa bicara hanya berpaling satu sama lain dan menangis.
__ADS_1
***