Love'S Feeling

Love'S Feeling
I Miss you


__ADS_3

"Kamar yang selalu menyala sepanjang malam tiba, kini menjadi gelap sepanjang hari. Gantungan almari yang masih penuh dengan kemeja dan beberapa setelan jas terkadang ku buka untuk mencium wangi yang khas melekat ditubuhnya. Tak jarang aku mencoba membaringkan tubuhku ditempat tidurnya, dengan memejamkan mataku dan mencoba membuat imajinasi ku sendiri, membayangkan bahwa Dia berada disini bersamaku, disisi ku yang saat ini tengah memandangku sembari memberi senyum padaku. Ku mencoba bertanya kepadanya 'apakah kamu disini?' tapi tak ada sautan walaupun Aku terus mengulang pertanyaan itu berkali-kali. Kini aku benar-benar sendiri sekarang." monolog Liana.


Liana hanya bisa menumpahkan air mata kerinduannya sampai membuat benjolan dibawah kelopak matanya yang cukup besar membuat mata Liana terlihat mengecil. 


"Apa Kau menangis lagi semalaman?" Tanya Sofi yang melihat mata Liana membengkak. 


Liana hanya diam.


Sofi begitu tak tega melihat kondisi Liana saat ini yang tersakiti kembali karena sebuah cinta.


"Jika Kau benar-benar mencintainya, kejar dia! Dapatkan cintanya untuk dirimu sendiri! Jangan lagi berkorban untuk orang lain. Pikirkan juga tentang kebahagiaanmu!" Tutur Sofi meraih tangan Liana. "Namun jika Kau anggap semau itu tidak benar, lepaskan dia! Jangan Kau berdiri dibatas keraguanmu! Itu akan membuat dirimu akan semakin terluka" Lanjut Sofi memberikan sebuah nasehat untuk sang Sahabat. "Kau mengerti kan?"


"Iya, Aku mengerti" jawab Liana singkat yang tertunduk lesu. "Terima kasih!"


Sepertinya tak hanya Liana yang merasakan sakitnya hati, karena Anita juga menghadapi keburukan yang sama karena seorang yang dicintainya.


Anita yang baru datang dengan Isak tangis langsung memeluk erat tubuh Sofi.


"Ada apa denganmu? Apa sesuatu telah terjadi?" tanya Sofi yang tidak mengerti duduk permasalahannya.


"Aku telah putus dengannya" Ujar Anita memberikan sebuah kejutan pada kedua Sahabatnya.


"APA?" pekik Liana dengan Sofi bersamaan.


"Kenapa?"


"Bagaimana bisa?"


"Apa yang terjadi?" tanya keduanya secara bergantian.


"Sebenarnya ini semua salahku. Seharusnya aku tidak melakukan itu padanya, jika aku jadi dia pasti aku juga akan marah" curah Anita.


Diceritakan oleh Anita tentang segala hal yang membuat Rendi mengakhiri hubungannya dengan dirinya. Semuanya terjadi kemarin malam disebuah pesta teman sekelasnya ketika Ia duduk di bangku sekolah menengah pertama.


"Sebaiknya kita pergi saja dari sini!" Anita meraih lengan Rendi yang tengah memegang nampan*.


"Memang ada apa?"


"Sudah ikut saja denganku!" Tarik Anita namun dengan segera tangan Anita ditepis oleh Rendi.


Tangan yang tak seimbang menjadikan nampan terjatuh. Suara beberapa gelas yang pecah mengundang perhatian mata, meski keduanya telah berada di sudut ruangan yang tak mendapat perhatian lebih.

__ADS_1


"Maafkan Aku! Maafkan Aku!" Rendi merendah, menjadikan dirinya sebagai tersangka utama kegaduhan itu. Karena dirinya seorang pelayan yang disewa di sana, dengan segera Rendi memungut semua pecahan gelas yang berserakan di lantai meski Ia harus berjongkok didepan Anita.


"Rendi ayo berdiri! jangan lakukan ini lagi!" Pinta Anita menarik lengan baju Rendi tak kuat.


"Oo... Anita. Apa kau mengenal pelayan ini?" tanya salah satu teman sekolahnya.


"Apa dia Kekasihmu?"


"Tidak mungkin. Dari sekian banyak Pria, Kau memilih seorang pelayan?" tawa beberapa teman sekolahnya, yang memang terkenal suka sekali menghina seseorang yang berada di bawahnya karena mereka menganggap diri mereka cukup hebat karena seorang anak dari keluarga kaya.


Itulah yang sebenarnya ingin dihindari oleh Anita. Agar Rendi tidak dipandang rendah oleh beberapa kelompok temannya yang suka menghina.


Namun niat baik Anita malah menjadi sebuah keraguan Rendi terhadap pasangannya itu yang mungkin tak menerima dirinya yang tak memiliki kelas sosial sama dengannya.


Setelah Rendi membersihkan masalah yang Ia timbulkan, Rendi pun beranjak pergi dari sana tanpa memperdulikan Anita yang masih sibuk berdebat dengan teman-temannya.


Dan setelah peristiwa itu, Rendi mencoba Semaksimal mungkin menghindari kontak dengan Anita di pesta itu.


Sedangkan Anita yang merasa diacuhkan oleh Rendi langsung mendatangi Rendi langsung ke dapur Hotel.


"Oo... Nona sedang apa anda disini!" Tanya salah seorang petugas dapur disana yang merasa heran karena tamu mereka datang langsung ke dapur Hotel. Namun petugas dapur itu, tak mendapat jawaban dari Anita.


Langkah kaki Anita terus berjalan, pandangannya berfokus pada satu orang yang kini tengah membereskan sampah. "Mari kita bicara!" Ajak Anita ingin menyelesaikan kesalahan pahaman ini, tapi tak digubris oleh Rendi.


"Apa kau marah padaku sekarang?" Tanya Anita dengan nada sedikit tinggi. "Rendi kau sekarang mengacuhkan ku?" Kini nada itu tak cukup terdengar karena Isak tangis Anita mendominasi suaranya.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Mari kita akhiri saja hubungan kita sampai disini!" Putus Rendi.


"Kau..." Anita tidak dapat berbicara satu katapun pikirannya menjadi kosong, Ia hanya bisa meneteskan air mata*. (Flashback Anita selesai.)


"Lalu apa Kau sudah bertemu dengannya setelah malam itu? Untuk menjelaskan kembali padanya." Tanya Liana lebih lanjut. 


"Aku terlalu takut untuk menemuinya. Aku takut melihat kemarahannya seperti kemarin malam." Ujar Anita tertunduk dengan air mata yang mengalir kembali.


"Ayo kita temui Rendi sekarang! Dan selesaikan masalahmu dengannya." Ajak Sofi.


"Tapi..." 


"Tapi apa?" bentak Sofi. "Kau tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut-larut" nasehat Sofi, menyeret Anita untuk ikut dengannya. "Liana apa kau mau ikut?" Tanya Sofi yang melihat Liana yang tak beranjak dari duduknya.


"Maafkan aku, sepertinya Aku harus melihatnya hari ini." 

__ADS_1


"Aku mengerti. Kami pergi dulu!" pamit Sofi, sedangkan Anita hanya melambaikan tangan pada Liana.


 


"Terima kasih" ucap Liana atas pengertian para sahabatnya.


***


Dengan menaiki bus dan berjalan beberapa menit akhirnya Liana sampai di kantor Arvin. Dan dengan bermodalkan kaca mata, topi dan koran. Liana mencoba menyamarkan dirinya dan duduk diantara banyak yang berada di loby, hanya demi melihat wajah seorang yang sangat Ia rindukan.


Dan setelah beberapa lama Ia menunggu akhirnya Arvin muncul dengan beberapa rekan kerjanya. 


"Itu dia" ucapnya sumringah. "Kenapa dia terlihat semakin kurus sekarang? Apa dia tidak memperhatikan makanannya?" gumamnya sendiri.


Hanya beberapa detik saja Dirinya dapat melihat Arvin yang kini menghilang dibalik pintu utama gedung kantor itu.


"Kenapa begitu cepat jalannya? Akukan masih merindukanmu." ujar Liana yang kini tak memiliki alasan lagi berlama-lama berada ditempat itu.


"Tunggu sebentar!" Pinta Arvin menghentikan langkahnya dan langkah para rekannya.


"Ada apa direktur?" tanya Sekretarisnya saat Arvin yang tiba-tiba kembali dan memandang begitu teliti kearah beberapa orang yang duduk di loby. "Apa anda sedang mencari seseorang?" 


"Sepertinya aku tadi melihat seseorang yang sangat aku kenal, tapi sepertinya aku salah lihat."


"Mungkin dia sudah pergi."


"Tidak. karena dia tidak mungkin datang kemari" tuturnya ada nada kecewa disana. "Ayo kita pergi!" 


"Baik!" patuh Sekertaris Arvin.


Dan pertemuan itu berlanjut, kali ini tidak disengaja dan tidak ada yang menyadarinya.


Hati Liana berdebar kencang saat bus yang dirinya tumpangi sejajar dengan mobil yang dinaiki oleh Arvin disebuah lampu merah.


"Kenapa Aku ini?" beberapa kali Ia menghantam dada yang terasa sesak dengan kepalan tangannya. "Apa Aku sedang sakit?" Liana memeriksa suhu tubuhnya tapi tak demam. "Hah... ini membuatku gila" untuk mengalihkan perasaannya Liana menggunakan earphone dan memutar lagu favoritnya untuk menghibur diri.


Ia memandang keluar kaca tuk hibur diri dengan melihat kearah luar jendela layaknya orang-orang yang menumpangi bus seorang diri disaat mobil Arvin melaju lebih dulu, meninggalkan bus yang ditumpangi oleh Liana yang baru berjalan, al- hasil keduanya tak tahu satu sama lain. 


"Cuaca hari ini sangat terik, apa akan ada hujan nanti?" lontar Liana bicara sendiri. 


"Kenapa gerah sekali hari ini?" sekelebat ucapan itu terngiang kembali ditelinga Liana dan bayangan Arvin yang kegerahan membuat tersenyum sekaligus memberi tangis diwajah Liana. "Aku benar-benar merindukanmu!"

__ADS_1


***


__ADS_2