Love'S Feeling

Love'S Feeling
Hati dimusim semi


__ADS_3

Denting jam menunjukan pukul sepuluh malam sedangkan Sofi masih berkutat dengan bulpoin dan lembaranan kertas diatas meja yang beberapa diantaranya telah dirusak karena salah penulisan lalu dibiarkan begitu saja berserakan di meja dan juga dibawah lantai. "Hallo.. Tulip Putih! ini aku Sofi, pasti kau sudah tahu tentangku bukan?" ucapnya meniru kata per kata yang ia tulis di lembaran kertas. "Hah.. kenapa harus seperti ini? Ini lebih jauh lebih susah dari pada mengisi soal ujian." keluh Sofi yang begitu payah dalam menulis surat.


Sedangkan diseberang sana diwaktu yang sama, Liana juga mendapatkan kesusahan yang berbeda dengan Sofi. Dengan mengenakan sebuah kostum semut yang bermakota, mascot utama untuk mempromosikan Apartemen yang akan dibuka oleh Arvin.


"Wah.. kau benar-benar cocok memakai kostum ini" Arvin menahan tawanya.


"Apa ini?" Liana melepas kepala kostum itu.


"Kau tidak tau itu sebuah kostum" jawab Arvin datar


"Arvin... aku juga tau kalau ini kostum" ujar Liana yang merasa dipermainkan.


"Lalu kenapa kau bertanya lagi padaku?"


Liana mendesah panjang, "lalu untuk apa kau menyuruhku untuk memakai kostum ini. Kostum ini benar-benar membuatku gerah"

__ADS_1


"Ahh.. itu. Seorang pegawaiku yang seharusnya memakai kostum itu tiba-tiba terkena cacar air" jawab Arvin.


"Lalu?"


"Lalu apa? Tentu saja kau yang menggantikan posisinya"


"Kenapa harus aku? Kenapa tidak yang lainnya"


"Masalahnya ini sangat mendadak, jadi aku tidak tahu lagi harus mencari penggantinya kemana lagi. Sedangkan acara launching besok pagi. Hanya kau satu-satunya yang bisa menolongku, aku mohon!" Arvin memasang wajah memelas. "Kau tidak perlu melakukan apapun, kau hanya berdiri saja di depan pintu dan memberi selebaran pada orang-orang yang mengikuti seminar itu" jelas Arvin. "Jadi tolonglah aku. Sekali saja. Aku sudah stress memikirkan masalah ini. Belum lagi aku harus mempersiapkan berkas untuk seminar besok. Tolong" harap Arvin merubah keputusan Liana.


Arvin melonjak kegirangan, sampai ia tanpa sadar baru saja mencium pipi Liana karena saking gembiranya. "Terima kasih! Kalau begitu tinggal mempersiapkan berkas untuk seminar besok pagi" Arvin berjalan ke ruang kerjanya meninggalkan Liana yang ternganga didalam kostumnya.


Keesokan harinya disalah satu hotel yang aulanya dibooking oleh Arvin sebagai tempat seminarnya. Liana telah bersiap dengan kostumnya berdiri didepan pintu sambil menyebarkan brosur pada orang-orang yang berkunjung keseminar itu. 


Sedangkan Arvin sedang mempresentasikan Apartemennya yang saat ini dalam proses pembangunan, tuk meyakinkan orang-orang untuk membeli unit Apartemennya. Ia berprestasi dengan sangat baik, tidak dibuat-buat ,dan terlihat meyakinkan. Semua mata mengarah padanya, mereka memperhatikan satu per satu ucapan Arvin tentang segala keunggulan yang dimiliki Apartemennya yang tidak dimiliki oleh Apartemen lainnya. 

__ADS_1


Liana mengintip kearah dalam ruangan dan melihat pesona Arvin disaat persentasi terlihat sangat menawan. Hati Liana langsung terpikat, kekaguman membuat hatinya berdegup tak normal. "Sadarlah Liana... sadarlah" Liana memukul kepala yang terbalut kostum untuk menyadarkan dirinya jika itu salah. "Semua ini tidak benar. Kau hanya akan semakin terluka nanti". "Sadarlah!"peringatnya pada dirinya sendiri.


Tak disangka Arvin melihat segalanya yang dilakukan Liana. "Apa yang terjadi? Kenapa dia melakukan itu? Apa dia sedang sakit?" benaknya merasakan rasa khawatir.


"ahh.. lelah sekali!" Liana terduduk dibangku yang berada dibawah pohon yang cukup rindang, yang mampu meneduhkannya dari terik matahari dan memberinya oksigen yang sangat segar. Liana menghela nafas panjang tuk hilangkan kepenatannya setelah berjam-jam bersembunyi didalam tubuh mascot itu. Diteguknya minuman dingin yang baru saja ia beli. Hampir semua isi dari minuman itu habis diminum oleh Liana tuk kurangi rasa dahaga yang ia rasakan sejak tadi. "Minuman ini terasa enak sekali. Apa karena aku terlalu haus? Jadi minuman ini terasa sangat enak?" gumamnya sendiri. "Sebaiknya aku istirahat sebentar disini, lalu setelah itu aku lanjutkan kembali pekerjaanku" Liana menyandarkan kepalanya pada pohon dan mulai menutup matanya hanya sebentar saja untuk mengurangi sedikit kelelahannya. Namun malah ia tertidur cukup lama disana. 


"Apa terasa sangat lelah?" Liana membuka matanya. Dan mendapati Arvin telah berada disampingnya. 


"iya. Rasanya lelah sekali" 


"kemariah, Bersandarlah dipundakku! Lalu pejamkan matamu!" pinta Arvin yang langsung dituruti oleh Liana, "beristirahatlah! Supaya rasa lelahmu hilang. Aku akan menjagamu disini".


Terdengar manis ucapan Arvin saat itu. Memang karena hal itu hanya dalam mimpi Liana saja. Karena itu Liana dapat melihat sikap manis seorang Arvin. 


Namun kenyataan dengan mimpi tidak jauh berbeda. Meski tak ada ucapan manis yang terucap dimulut Arvin tapi perlakuan Arvin dan perhatian sudah cukup membuktikan segalanya. Untuk melindungi wajah Liana dari sinar Matahari sore itu Arvin merelakan tangannya tuk menutupi sebagian wajah Liana meski rasa sakit ditangannya karena terlalu lama tidak digerakkan.

__ADS_1


*** ***


__ADS_2