
"Apa Aku terlihat cantik hari ini?" Pancing Liana, yang ingin sekali dipuji oleh Arvin. Setelah Ia habis-habisan berdandan hanya untuk berkesan di mata Arvin.
"Tidak. Kau sama sekali tidak cantik, malah terlihat sangat aneh." ucap Arvin penuh dengan kebohongan.
"Haruskah Kau bicara sekasar itu padaku?" Ucap Liana penuh dengan nada kekecewaan. Jadi pengorbanan selama berjam-jam, hanya menjadi kesia-siaan belaka.
"Ucapanku tidak kasar. Apa yang Aku katakan sesuai dengan kenyataannya." Arvin menunjukan ekspresi acuhnya untuk menutupi rasa gugupnya.
"Dasar pria arrogant. Aku sudah menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berdandan seperti ini tapi sama sekali tidak dihargai," gerutu Liana kesal.
"Bisakah Kau bicara lembut sedikit padaku? Walau itu hanya berpura-pura saja?" ujar Liana mengutarakan harapannya.
"Aku hanya tidak ingin memberi harapan palsu padamu. karena Kau tidak bisa diberi harapan seperti itu." Jujur Arvin.
"Tidak bisa? Memang aku kenapa?"
"Ohh.. ya ampun, apa Kau lupa? Kau sudah menyatakan cinta padaku." Ceplos Arvin.
"Dan itu Aku tidak memberi harapan apapun padamu. Lalu bagaimana jika Aku memberi harapan padamu? Pasti Kau akan mengemis cinta padaku." Terang Arvin, memang berharap Liana akan sakit hati. Dengan seperti itu Liana akan membencinya, dan lambat waktu cinta Liana akan terkikis padanya.
"Itu..." Liana tak dapat berucap lagi.
"Itu apa?"
"Baik akan Aku cabut ucapanku yang bilang cinta padamu. Dan dengar baik-baik Aku tidak akan berharap cintamu lagi." ujar Liana terprovokasi.
"Memang bisa?" Tanya Arvin meminta diyakinkan.
"Tentu saja, lagi pula Aku juga sudah mulai ada rasa pada kak Jojo." ucap Liana penuh dengan kebohongan. Ia hanya berharap tidak terlihat kalah dalam cinta lagi. Jika itu terjadi kedua kalinya, mungkin dirinya akan kehilangan muka dihadapan Arvin.
"Apa? Kau ingin mengalihkan cintamu pada orang yang sudah punya tunangan?"
"Tidak, karena Kak Jojo sudah tidak berhubungan lagi dengan tunangannya. Jadi Aku berhak mengharap cinta kak Jojo lagi."
Lagi-lagi penuh kebohongan. Semua ucapan, perlakuan Liana penuh dengan kepura-puraan.
"Ohh.. jadi Kau akan kembali pada orang yang pernah mencampakanmu?" Meski hal itu yang diharapkan oleh Arvin, tapi mengapa hatinya tetap sakit saat mendengarnya.
"Tentu saja."
"Kau sangat menyedihkan!" cibir Arvin.
__ADS_1
"Apa? Yakk...! Tidak seharusnya Kau bicara itu padaku! Karena kita berdua sama." Cetus Liana penuh dengan emosi.
"Bukankah kita ama-sama pernah dicampakan oleh orang yang menjalin hubungan dengan kita. Dan Kau yang lebih dahulu kembali pada orang yang telah mencampakanmu" perjelas Liana yang tak mau kalah dengan Arvin.
"Memang karena siapa Aku bisa kembali pada dia? Itu semua karena dirimu, yang membuat hidupku semakin rumit," Cerocos Arvin tanpa sengaja mengungkapkan semua yang selama ini dirinya pendam.
"Apa maksudmu?" Tanya Liana tak mengerti.
"Bukan apa-apa. Jika dijelaskan pun, Kau pasti tidak akan mengerti. IQ mu itu kan pas-pasan," Arvin tak bermaksud untuk mencibir, Ia hanya ingin menghentikan pertanyaan Liana yang mungkin akan mempersulitnya nanti.
"Andai saja dulu Kau tidak ikut campur, Mungkin Aku akan lakukan semua sesuai dengan kemauanku." Lontar Arvin memberi kebingungan pada Liana.
Andai saat itu hatinya tidak lemah, tetap kukuh untuk membuang cinta dimasa lalunya. meski Liana mencoba mempersatukan dirinya dengan Alya, mungkin kini Arvin bisa dengan bebas mencintai Liana.
Andai saat itu dirinya mengetahui sejak Awal jika Ia telah memiliki hati untuk Liana sebelum datangnya Alya.
Andai saat itu dirinya tidak membalas pelukan dari Alya. Mungkin Dirinya tidak akan terjebak.
Andai, andai, dan andai hal itu yang terus berkembang di otak Arvin selama ini. Hingga memperkeruh hatinya, dan membuat sikapnya menjadi tidak konsisten.
***
Beberapa kesempatan Alya juga mencoba menunjukan kemesraannya bersama Arvin dihadapan Liana, berharap Liana akan mengerti jika Arvin adalah miliknya.
Dan hal itu berhasil membuat Liana terbakar api cemburu. Liana mencari tempat disudut ruangan yang tak banyak orang disana karena tak ingin lagi melihat kemesraan Arvin dengan Alya.
Tak henti-hentinya mulut Liana mencibir Arvin karena tingkahnya dan beberapa kali air mata Liana jatuh dengan sendirinya.
"Hay!" Sapa seorang Pria yang datang mendekat pada Liana.
"Kenapa sendiri saja? Kau tidak ikut gabung dengan mereka?" Tanya Pria itu.
"Tidak. Pesta ini tidak cocok untukku, Aku datang hanya memenuhi undangan saja," jawab Liana ketus pada seorang pemuda yang mendekatinya.
"Begitu ya" manggut-manggut Pria itu paham.
"Kalau begitu, bisakah kita berkenalan?" Pria itu mencoba mencari kesempatan untuk mengenal Liana lebih dalam.
"Namaku Natan" ucapnya memperkenalkan diri.
"Liana" singkat Liana memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Nama yang cantik sama seperti orangnya" puji Natan itu semakin mendekati Liana.
"Terima kasih."
"Apa Kau sudah punya kekasih?" Tanya Natan lebih lanjut.
"Aku sudah punya suami," ujar Liana sambil menujuk kearah Arvin yang tengah dipepet terus oleh Alya. Mencoba untuk menekankan tentang hubungan mereka.
"Apa Kau bercanda? Dia kekasih Alya, mana mungkin itu suamimu?" Tawa Natan, seperti sebuah ejekan bagi Liana.
"Pria ini benar-benar" Liana menghela nafas panjang karena tak tahan dengan sikap Pria itu lagi.
"Memang kenapa jika dia suamiku sedang bermesraan dengan orang lain? Bukan berarti itu bukan suamiku." bentak Liana penuh dengan kemarahan.
"Kau sudah tahu kan tentang ku. Maka pergilah! Jangan dekati Aku lagi! Jika Kau masih ingin hidup" Kecam Liana.
Kini Natan hanya bisa diam, dan pergi secara perlahan tak ingin mengundang kemarahan Liana kembali.
"Tunggu!" pinta Liana menghentikan langkah Natan.
Kini sikapnya berbeda jauh dari beberapa detik yang laku. "Apa Kau tahu halte bus didekat sini?" Tanya Liana dengan nada halus.
"Halte bus?"
"Iya, apa Kau tahu?"
"Ada tapi tempatnya beberapa ratus meter dari sini." jawab Natan sesuai dengan kebenarannya.
"Terima kasih!" tulus Liana pada Natan karena telah membantunya.
"Tunggu sebentar!"
"Ada apa?"
"Bukankah lebih baik naik taksi saja? dengan berpakaian seperti ini, Kau akan sangat menarik perhatian orang lain" usul Natan yang membuat Liana berpikir sejenak seraya melihat pakaian yang ia kenakan.
"Kau benar, tapi tempat ini sangat jauh dari rumahku. Jadi lebih baik aku naik bus saja. Terima kasih atas informasinya, dan senang berkenalan denganmu." tulus Liana tersenyum manis pada Natan sebelum ia benar-benar meninggalkan pria yang baru saja dia kenal.
"Apa tidak apa-apa, jika dia pulang sendiri seperti itu?" gumam Natan yang merasa cemas dengan nasib Liana meski dirinya baru mengenalnya.
***
__ADS_1