
Satu persatu Liana mulai membaca judul yang berada di sampul buku, mencoba dengan serius untuk menemukan beberapa buku yang diinginkan olehnya.
Sedangkan Arvin sendiri yang menunggu Liana, mencoba membaca beberapa buku yang menarik perhatiannya.
Buku yang memiliki cerita romansa didalamnya. Ia berharap dapat mendapatkan beberapa pelajaran dari sana.
Disandarkannya tubuhnya tak penuh disebuah rak buku, dibukanya halaman demi halaman, dan mencoba untuk dipahami.
Ada sebuah kutipan yang menarik perhatian Arvin dan dilafalkan didalam hati.
'Dikala senja saat aku duduk bersamamu, aku menyadari satu hal dalam hidupku. Jika air matamu sangatlah berharga dari pada senyuman manismu.'
"Kau sedang membaca apa?" Tanya Liana membuyarkan konsentrasi Arvin.
"Bukan apa-apa," Arvin menutup bukunya seketika. "Apa kau sudah selesai?".
"Belum, ada beberapa buku yang belum aku dapatkan. Dan sepertinya tidak ada disini, aku sudah mencarinya berulang kali dan hasilnya nihil," desah Liana merasa putus asa.
"Apa kita perlu mencari di toko buku yang lainnya?" tawar Arvin.
"Tidak perlu, biar aku cari lain kali saja," tolak lembut Liana yang merasa tidak enak pada Arvin yang menunggunya terlalu lama.
"Lagi pula jika aku tidak menemukannya, aku bisa membelinya secara online," ucap Liana terlintas ide lain untuk mendapatkan buku yang diinginkannya.
"Benar tidak masalah?" tanya Arvin sekali lagi.
kali ini Liana hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Baiklah jika itu mau mu".
"Jadi kita akan kemana sekarang?" Tanya Liana dengan rencana selanjutnya yang dijanjikan oleh Arvin.
"Kemana saja, yang terpenting akan membuat kita merasa senang," ujar Arvin.
Keduanya pun meninggalkan toko buku itu, dan melangkah bersama kesebuah pasar tradisional yang tak jauh juga dari tempat itu.
Ya akhirnya mereka memutuskan untuk memasak makan malam mereka sendiri, dan setelah itu mereka akan melihat movie dari kaset yang akan mereka beli. Mereka lakukan itu karena memperhatikan luka Arvin yang masih belum sembuh benar.
"Arvin ada kepiting!" seru Liana melihat beberapa kepiting segar disebuah lapak penjual ikan.
"Memang kau berani memasaknya?" tanya Arvin yang menguji kemampuan keberanian Liana.
"Tidak," jawab Liana polos.
"Maka lupakan saja!" Arvin berjalan menjauh dari lapak itu, dengan diikuti Liana yang berlari kecil mengekor pada Arvin.
"Lalu kita akan masak apa malam ini?" Tanya Liana yang tidak memiliki gambaran akan memasak apa malam ini.
"Terserah kau saja, yang terpenting tidak akan menyusahkan dirimu." ujar Arvin.
Sayur segar, daging, dan beberapa buah segar telah masuk ke kantung kresek yang kini ditenteng oleh Liana, dan sebagian besar dibawah juga oleh Arvin.
"Liana!" Seru Arvin yang tadinya menghilang entah kemana, tapi kini datang-datang memberi Liana bunga matahari beserta potnya.
"Ini?"
__ADS_1
"Hadiah untukmu," Arvin memberi senyum termanisnya.
"Kau menyukainya?" tanya Arvin mencari pendapat atas hadiah yang diberi olehnya.
"Ehm ... ini sangat cantik sekali".
"Masih belum bisa menyamai kecantikan mu," puji Arvin yang terdengar seperti gombalan cinta.
"Kau tidak pantas melakukan hal semacam itu," Liana tertawa singkat sembari berjalan pergi dari hadapan Arvin yang masih bingung dengan keadaan itu.
"Memangnya ada yang aneh dengan pujian ku?" gumamnya tak mengerti.
"Hey Liana tunggu aku!" Dengan langkah lebar nan cepat Arvin mencoba menyusul keterlambatannya.
"Eh ..." spontan Arvin saat menabrak tubuh Liana tak keras.
"Ada apa? Kenapa berhenti mendadak?".
"Arvin Lihat disana!" tunjuk Liana kesebuah kerumunan orang dengan mata yang berbinar-binar.
Sebuah sepanduk besar yang terpampang menjelaskan, alasan mengapa massa berkerumun disana.
Sebuah festival pasar yang diadakan setiap tahun untuk memperingati hari jadi pasar itu berdiri.
Setiap tahun akan diadakan pertunjukan dan diselingi oleh beberapa lomba, yang dapat diikuti oleh semua orang.
"Ayo kesana!" ajak Liana menarik tangan Arvin.
"Untuk apa kita kesana? Lebih baik kita pulang saja!" Arvin tidak menyukai ide dari Liana.
"Kenapa harus pulang jika ada lomba disini?".
"Tidak mau. Aku tidak suka makan durian!" Tolak keras Arvin yang berpikir Liana akan menyuruhnya untuk mengikuti lomba itu.
"Siapa yang menyuruhmu untuk mengikuti lomba itu? Aku hanya memintamu untuk menemaniku saja, biar aku yang mengikuti lomba itu," ujar Liana.
"Lumayan jika kita menang, akan dapat voucher belanja selama 1 bulan untuk juara satunya. Dan ada hadiah satu set perlengkapan dapur untuk juara keduanya," antusias Liana.
"Jika kau ingin itu semua, akan aku belikan lebih dari mereka berikan sebagai hadiah".
"Aku tahu kau pria kaya, jadi tidak perlu menyombongkan kekayaanmu itu padaku!" Dongkol Liana.
"Membeli dan mendapatkan secara gratis itu sangat berbeda. Apa lagi itu didapatkan dengan jerih payah kita sendiri, pasti akan lebih bermakna meski semua itu harganya tidak seberapa," Tutur Liana panjang lebar.
"Jika kau tidak ingin ikut, kau bisa menunggu ku di mobil saja! Atau mencari tempat duduk didekat sini! nanti aku akan menyusul setelah lomba ini,".
Liana memberikan barang bawaannya kepada Arvin, lalu berjalan cepat kearah kerumunan itu.
"Paman aku ingin mendaftarkan diri!" Seru Liana mengacungkan tangan.
Lomba akan dimulai, peserta yang telah mendaftar kini disuruh berjajar pada meja panjang didepan.
Begini cara bermainnya! Para peserta telah diberi 1 kg buah durian yang telah diletakan didepan meja mereka masing-masing. Jika peluit dari juri telah dibunyikan, makan para peserta harus memakan dengan cepat buah durian itu, siapa yang cepat menghabiskannya makan dialah pemenangnya.
Peluit dibunyikan, itu artinya lomba telah resmi dimulai. Diawal mereka terlihat rakus memakan durian, dan tak ingin kalah dari pesaing-pesaing mereka.
__ADS_1
Namun saat menuju ujung lomba, beberapa dari mereka menyerah karena tidak sanggup untuk menghabiskan semuanya.
Dan beberapa dari mereka masih bertahan meski agak sedikit melambat makannya karena perut mereka telah bereaksi setelah makan begitu banyak durian.
"Ckk ...! Gadis ini selalu saja memaksakan diri sendiri," gerutu Arvin kesal, bukan karena harus menunggu ditengah panas matahari dan berdesakan dengan yang lainnya.
Tapi dia begitu khawatir dengan keadaan Liana yang makan terlalu banyak durian. Karena dia tahu jika buah itu tidak baik dimakan terlalu banyak. "Apa dia akan baik-baik saja?" kini nadanya terdengar khawatir.
Dan kegigihan Liana pun telah membuahkan hasil, Ia keluar menjadi juara Ketiga dari 26 peserta mengikuti lomba.
"Arvin! Lihatlah aku menang!" Seru Liana bersorak gembira atas kemenangannya.
"Dia terlalu mudah untuk puas," gumam Arvin yang bibirnya bergerak melebar tanpa dirinya sadari.
'Karena jika kau kehilangan satu butir saja dari matamu, maka hatiku akan tersakiti lebih dari dirimu. Dan jika senyuman mu yang terus kau umbar, maka hariku akan menghangat seperti musim semi yang aku rasakan bersamamu saat ini.'
Kutipan pada buku yang dibaca Arvin tadi, kembali melintas diotaknya. Dan kembali dilafalkan didalam hati.
"Aku mengerti sekarang," benak Arvin.
Sekeranjang penuh buah durian, itulah hadiah juara ketiga lomba makan durian ini.
Arvin merasa enggan menatap begitu banyak buah durian yang memenuhi bagasi mobilnya.
"Siapa yang akan memakan buah sebanyak ini?".
"Tentu saja aku," jawab Liana secara cepat.
"Memang kau mampu?".
"Jika tidak mampu, kan masih ada Bibi Atun dan yang lainnya. Kenapa masih direpotkan dengan pemikiran itu sih?" Liana mendumal.
"Arvin!" panggil Liana meminta perhatian dari Arvin.
"Apa?" Arvin yang menengok kearah Liana langsung diberi serangan dengan nafas Liana yang berbau durian.
"Apa yang kau lakukan?" Arvin yang langsung menyumbat lubang hidungnya.
"Coba bau nafasku! sudah sepeti bau durian sepenuhnya kan?" goda Liana menghentikan segala keluhan Arvin tentang dirinya.
"menjauh dariku!" pekik Arvin mencoba menghindar dari kejahilan Liana yang terus memberi nafas yang berbau durian padanya.
"Aku bilang menjauh dariku! Atau aku akan meninggalkan mu disini," ancam Arvin.
"Kau kejam sekali!" ujar Liana.
Namun ancaman itu tidak mempan lagi untuk Liana. Ia masih mencoba untuk menggoda Arvin, karena Ia merasa ekspresi wajah Arvin sangatlah mengemaskan ketika dirinya goda.
"Satu meter!" pekik Arvin. "Jaga jarak dariku, minimal satu meter!" perintah Arvin.
"Tidak mau".
"Yakk ...!!"
***
__ADS_1