Love'S Feeling

Love'S Feeling
Kebohongan terselimuti kebohongan


__ADS_3

Cahaya matahari yang hangat mulai masuk kedalam ruang tidur Liana dari cela-cela tirai yang tertutup tak sempurna. Sayup mata Liana ia buka perlahan-lahan sembari menyempurnakan kesadarannya.


Dengan sedikit menguap Liana melihat jam digital yang terletak meja disisi ranjangnya. Jam menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Iya, Liana menikmati hari liburnya dengan bangun sedikit lebih siang dari biasanya.Ia berjalan sempoyongan dengan mata yang sedikit terbuka menuju kamar mandi tuk menyegarkan dirinya sebelum dirinya keluar kamar tuk siapkan sarapan.


Saat didalam kamar mandi samar-samar Liana mendengar panggilan dua Wanita yang terdengar tak asing untuknya. "Seperti suara ibu?" ujarnya masih dengan kesadaran minim, dan masih dengan santai Liana melanjutkan menyikat giginya, rutinitas yang setiap hari ia lakukan. "Ini kan masih pagi, kenapa mereka sudah berada di sini" Santai Liana masih belum menyadari betapa bahayanya jika kedua Perempuan itu, Ibunya dan mertuanya datang ke rumah. "Tunggu!" Liana mulai tersadar, ia menghentikan aktivitasnya dan otaknya mulai dibuat berpikir, "Ibu? Ibu ada disini sekarang?" kesadaran Liana kini meningkat ke angka 100 persen. Dengan langkah seribu Liana bergegas keluar kamar dengan masih memegang sikat gigi ditangannya.


Begitu juga dengan Arvin yang masih bertelanjang dada berlari keluar kamar sesaat setelah ia menyadari jika Ibunya berada disini saat ini.


Tap.. keduanya pun kepergok, karena kedua Ibu telah berada didepan pintu kamar. Ibu Liana berada didepan kamar Arvin sedangkan Ibu Arvin didepan pintu kamar Liana. Dengan wajah marah keduanya menyambut anak mantu mereka.


Didudukkan nya Liana dan Arvin untuk dimintai penjelasan. Dengan wajah tertunduk Liana dan Arvin menerima kemarahan dari kedua Ibunya.


"Jadi selama ini kalian masih terpisah tempat tidurnya?" bentak Ibu Arvin. 


"Kalian ini sudah menikah, mana mungkin kalian masih tidur terpisah" tambah Ibu Liana. 


"Arvin ayolah bicara sesuatu kepada mereka!" harap Liana didalam hati.


"Apa kalian anggap pernikahan ini hanya bahan mainan saja?"  

__ADS_1


"a..k.." Liana begitu sulit sekali mengeluarkan kata-kata untuk membela dirinya begitu pula dengan Arvin ia hanya diam saja sedari tadi. "Arvin bicaralah! Jika tidak, aku yang akan bicara pada mereka" pandang Liana pada wajah yang tertunduk diam. "Baiklah aku akan katakan semuanya" tekat Liana tak memiliki jalan lain, karena seorang yang menjadi harapan terakhirnya hanya berdiam diri tak lakukan satu hal apapun. "Ibu kami.."buka Liana langsung mendapat perhatian dari kedua Ibunya.


"Liana masih kuliah, aku tidak mau gara-gara pernikahan ini menghambat impiannya" ungkap Arvin membuka suara, dan sekaligus menghentikan Liana tuk bicara yang sesungguhnya.


"Apa?" refleks kedua Ibu atas jawaban dari Arvin.


"Mungkin ibu merasa aneh dengan semua ini. Tapi aku sangat menghargai pernikahan ini, dan aku mencintai istriku karena itu aku ingin Wanita yang aku cintai dapat meraih impiannya bersamaku" alasan Arvin. "Aku tidak mau menjadi dinding penghalang bagi Liana tuk raih yang dicita-citakannya" tambah Arvin tuk lebih meyakinkan kebohongannya.


"Iya, semua yang dikatakan Arvin adalah benar" Liana melebarkan senyumnya dengan sedikit memaksa. "Palsu. Segalanya yang dia katakan adalah kepalsuan, dan aku tahu itu. Tapi mengapa hatiku masih terasa sakit?" 


"Benar seperti itu?" tanya Ibu Arvin masih dengan keraguan terhadap kedua anaknya.


"Tentu saja Ibu, mana mungkin aku melepaskan pria yang sangat aku cintai" Liana meredupkan kepalanya pada bahu Arvin. 


"Kenapa? Aku cuma mencoba membantumu untuk meyakinkan mereka." 


"Tidak perlu biar aku saja" Arvin menebarkan senyumannya pada Ibu dan Mertuanya. "Berhenti melakukan kebodohanmu Itu!" dengan segera Liana menjauhkan kepalanya dari Arvin.


"Baiklah, Ibu anggap semua perkataan kalian adalah benar. Jadi jangan sampai kecewa kan Ibu" tegas Ibu Arvin.

__ADS_1


"Kami tahu kalian menikah tanpa dasar cinta. Tapi yakinlah jika kalian telah menemukan diri pasangan kalian masing-masing, kalian pasti akan mulai saling mencintai" tutur Ibu Liana.


"Aku sudah berada di tahap itu, tapi tidak untuknya" benak Liana yang hanya ekspresikan dengan desahan panjang.


Arvin dan Liana bersepakat untuk melakukan semua sandiwara itu hingga kedua Ibu keduanya pergi dari sana.


Dengan beberapa kemesraan kecil keduanya dapat memanipulasi keadaan dengan begitu baik tanpa terlihat cacat sedikit pun yang dapat terlihat oleh ibu dan mertuanya, sampai mereka memutuskan untuk pergi dari rumah Arvin dan Liana.


 


"Syukurlah semuanya berjalan dengan baik, keduanya percaya sandiwara kita. Aku sangat takut membuat mereka kecewa jika mengetahui semua kebohongan ini" Liana menghela nafas lega. 


"Tentu saja. Jika bukan karena ide dariku, mana mungkin semua ini akan terjadi." bangga Arvin pada dirinya sendiri.


"Ohh.. ayolah! Berhentilah memuji dirimu sendiri! Apa kau tidak pernah dipuji orang lain? Oleh karena itu kau suka sekali memuji diri sendiri" cibir Liana 


"Apa?" 


"Kasihan sekali. Apa kau begitu terobsesi dengan pujian?" cibirnya sekali lagi seraya beranjak dari hadapan Arvin. 

__ADS_1


"Apa yang kau katakan? Hey jangan pergi! Tarik dulu ucapanmu yang tadi! Yakk Liana" teriak Arvin seraya berjalan cepat menyusul Liana. Sedangkan Liana sendiri mulai berlari setelah ia mengetahui bahwa Arvin saat ini berjalan kearahnya.


***


__ADS_2