Love'S Feeling

Love'S Feeling
Pertengkaran tak berujung


__ADS_3

"ahh... rasanya seluruh badanku remuk semua" Arvin membanting tubuhnya ke tempat tidur


"Apa yang Kau lakukan disana? Cepat bangun!" Perintah Liana.


"Apa lagi?" Desah Arvin yang merasa segala kelelahannya belum berakhir.


"Ranjang ini cuma satu, dan kita ada dua orang. Jadi bagaimana kita membaginya?" Tanya Liana ingin memperjelas posisi keduanya.


"Mudah saja, disana kan ada sofa. Jadi Kau bisa disana dan Aku akan tidur disini." ucap Arvin memberi solusi atas masalah Liana.


"Tidak mau." Tolak Liana yang merasa ketidak adilan terhadap pembagian Arvin.


"Kenapa bukan Kau saja yang tidur di sofa?"


"Aku tanya padamu, ini kamar siapa?"


"Kamarmu," jawab Liana singkat.


"Jadi ini milik siapa?" Tanya Arvin sekali lagi.


"Milikmu."


"Berarti siapa yang berhak menentukan siapa yang harus tidur disini?"


"..." Liana diam karena Ia tahu kemana arah pembicaraan Arvin.


"Ya jelas itu Aku. Jadi tidak perlu banyak berkomentar, dan cepatlah tidur!" perintah Arvin tak mempunyai belas kasih.


Tapi ketenangan Arvin tak bertahan lama, saat Liana tiba-tiba tidur disisinya.


Arvin langsung bangkit dari tidurnya karena sangat terkejut saat Liana tidur disampingnya. "Yakk...! Aku suruh Kau tidur di sofa. Kenapa Kau malah tidur disini?"


"Aku ini siapamu? istrimu kan?" Lontar Liana tak mau kalah.


"Tapi itu hanya dalam kontrak."


"Tetap saja, Aku secara agama dan sipil Aku adalah istrimu yang sah. Jadi milikmu adalah milikku. mengerti?" Liana pun tidur dan dia tak lupa memberi pembatas ditempat tidurnya.


Arvin yang merasa dirinya kalah berdebat dengan istri barunya itu, pasrah dan membiarkan segalanya sesuai keinginan sang istri. Karena Dirinya sudah cukup lelah untuk berdebat panjang lagi.


Malam pertama mereka terlewati dengan mudah tanpa kesan yang berarti tidak seperti layaknya sepasang pengantin baru.


***


Sinar mentari telah meninggi, namun Liana dan Arvin masih tetap tertidur pulas dengan segala kelelahan ditubuhnya.


Didalam ketidak sadarannya keduannya terlihat seperti pasangan yang lain, terlihat rukun dan harmonis tanpa ada caci yang terlontar dari mulut keduanya, hanya ada sebuah kontak fisik yang tak disadari.


"Rasanya hangat dan nyaman, tubuhku seperti dipeluk oleh seseorang," benak Liana yang masih setengah sadar.

__ADS_1


Samar-samar Liana membuka mata yang sedikit berat untuk Ia buka dengan segera.


"Dipeluk? Peluk?" Pikiran Liana yang sadar terlebih dahulu mengembalikan Kesadaran Liana seutuhnya.


Didapatinya dirinya telah berada diperlukan Arvin dengan wajah yang terbilang sangat dekat.


"Ahkhh...!" Teriak lah Liana yang merasa terkejut akan posisinya saat ini. Dan diperkeras oleh Arvin yang ikut-ikutan berteriak hingga mengagetkan seisi rumah.


"Apa yang terjadi? kenapa kalian berteriak?" Tanya Ayah Arvin disela nafas yang terengah-engah seperti habis lari maraton datang kekamar Arvin.


"Kalian kenapa?" Susul Ibu panik.


"Itu tadi..."


"Tadi ada kecoa jadi Liana berteriak" Saut Arvin melanjutkan ucapan Liana dengan kebohongan.


"Aku yang setengah sadar jadi ikut berteriak." Bohong Arvin sekali lagi.


"Apa yang Kau katakan? Buatlah alasan yang sedikit masuk akal!" Tatap Liana yang hanya berani membatin saja.


"Sudah ikuti saja! Memang gampang memikirkan sesuatu yang masuk akal disituasi yang genting seperti ini?" Arvin juga menggunakan bahasa batin terhadap Liana seolah mereka berbicara meski terlihat sedikit aneh dan tak normal.


"Ya kan sayang?" Rengkuh Arvin pada tubuh Liana, tuk sempurnakan kebohongannya.


"Iya... benar kecoa." Liana menganggukkan kepala sembari tersenyum begitu memaksa.


"Maafkan Kami!" sesal Liana.


" Ya sudah, sebaiknya kalian bersiap-siap! Ayah tunggu kalian di meja makan, ada yang ingin ayah bicarakan pada kalian berdua."


"Iya kami akan segera turun," jawab Arvin dan tangannya masih menyampir dipundak Liana.


Sesaat setelah ayah dan ibu berlalu, dengan kerasnya siku Liana bergerak menghantam tubuh Arvin.


"Ahhk...!" Arvin merintih kesakitannya. "Yakk! Apa yang kamu lakukan?"


"Peraturan ke lima tidak boleh bersentuhan fisik walau hanya berpegangan tangan apalagi berpelukan DI..LA..RANG. Mengerti!" Liana turun dari ranjang kamarnya.


"Tapikan itu hanya sandiwara didepan orang tua kita"


"Tetap saja itu tidak boleh, Kau ingin mencari kesempatan dalam kesempitan ya?" Liana berjalan mesuk kedalam kamar mandi.


"Hei! Jangan coba-coba mengintip! Karena aku tidak segan-segan untuk membunuhmu." Kecam Liana sebelum separuh tubuhnya kembali masuk kedalam kamar mandi.


"Siapa yang ingin mengintipmu? Melihat tubuhmu saja aku tidak sudi" lontar Arvin dengan nada sedikit tinggi agar Liana yang berada didalam kamar mandi dapat mendengarnya.


"Memangnya apa yang bisa dibanggakan dari tubuh yang tidak berbentuk itu?" caci Arvin kali ini tidak sekeras tadi, hanya Ia dengar sendiri dirasa sudah cukup.


Setelah dirasa cukup bersiap-siap nya, Keduanya pun turun ke bawah untuk makan bersama.

__ADS_1


"Nenek menitipkan pesan padamu. Kata Beliau, 'meminta maaf karena tidak bisa datang ke pernikahanmu karena beliau sedikit tidak enak badan'."


"Tidak masalah. Asal kabar Nenek baik, Aku sudah senang mendengarnya."


"Ternyata si berengsek ini perhatian juga dengan keluarganya."


"Ayah dan ibu juga sudah mempersiapkan hadiah untuk pernikahan kalian, dua tiket Honeymoon ke Paris"


"Ke Paris benarkah?" benak Liana kegirangan.


"Kami sudah persiapkan segalanya disana, jadi kalian bersenang-senanglah disana!"


"Ya ampun tidak menyangka akan semudah ini bisa pergi kesana." batin Liana melonjak kegirangan karena baru kali ini Ia akan pergi ke luar negeri. "Paris I'm..."


"Itu semua tidak perlu" tolak Arvin pada niat baik kedua orang tuanya.


"Apa?" bengong Liana shock.


"Lebih baik kita Honeymoon didekat-dekat sini saja, karena aku harus lebih banyak mempelajari segala prospek disini. untuk membangun Apartemen." tutur Arvin menjelaskan.


"Apa sih maunya pria ini? Kenapa dia melepaskan keberuntungan sebagus itu." gerutu Liana dalam hati.


"Sayang! Bulan madu itu sangat berarti bagi pasangan yang baru menikah, untuk menciptakan kesan yang indah untuk pernikahan kalian" tutur Ibu Arvin mencoba untuk memberi pengertian terhadap putranya.


"Bulan madu dimana pun terasa sama saja. Asalkan bersama-sama, semuanya akan tercipta menjadi indah. jadi kenapa harus jauh-jauh? Lagi pula Liana juga tidak keberatan dengan keputusanku. Ya kan Sayang?" Semua mata langsung tertuju ke Liana, mereka seperti tak sabar mendengar jawaban Liana.


"iya" Liana mengganggukkan kepalanya disertai senyum palsu.


"Tidak keberatan apanya? Aku sangat keberatan seperti memikul ratusan ton beras" geram Liana hanya dapat diutarakan dihatinya saja.


"Kesempatan ke Paris hilang, dan semua ini gara-gara si berengsek ini."


"Baiklah. Jika itu yang kalian inginkan" Ayah menyerah untuk membujuk. "Memang kalian ingin bulan madu kemana?"


"Kami akan ke Villa kita. Sudah lama Aku tidak kesana, Aku rindu dengan suasana disana."


"Tapi..."


"Ibu tenang saja! Aku akan baik-baik saja."


"Kapan kau akan pergi?"


"Hari ini setelah makan siang."


"Baiklah. Kau bisa minta antar pak Imam ke Villa itu, tapi sebelum itu kamu harus berpamitan dengan mertuamu dulu!" tutur Ayah.


"Iya, aku mengerti."


***

__ADS_1


__ADS_2