Love'S Feeling

Love'S Feeling
Kencan


__ADS_3

Disebuah bangku peristirahatan yang terdapat disebuah Mall. Keduanya terduduk dengan menggenggam minuman ditangan mereka masing-masing.


"Apa kau juga merasakannya?" tanya Liana mengulas persoalan tadi di parkiran saat Arvin ikut menangis bersamnya. "merasakan apa yang aku rasakan saat ini"


"Maksudmu?" Tanya Arvin tak paham.


"Bukankah kau juga merasakan kesedihan yang sama, yang aku rasakan sekarang?" ujar Liana yang menjelaskan ucapannya.


"Tentu. Aku juga merasakan hal yang sama sepertimu" cetus Arvin.


"Begitu ya. Apa kekasihmu yang disana mencampakanmu?" Ternyata Liana masih tak sadar jika seseorang yang dimaksud Arvin adalah dirinya.


"Apa?" Arvin begitu terkejut dengan perkataan yang diucapkan oleh Liana.


"Apa kekasihmu itu sudah memiliki pria lain selain dirimu?"


"Kau ini bicara apa?"


"Tadi ketika di parkiran. Bukankah kau menangis karena kekasihmu?" Revisi Liana.


"Bodoh" cibir Arvin lirih.


"Em?"


"Iya.. kau benar" ujar Arvin membenarkan tapi juga tak seluruhnya ucapan Liana itu benar, karena gadis yang membuat hati Arvin terluka adalah Liana itu sendiri. "Rasanya sangat sakit sekali" Arvin menatap lekat wajah sembab seorang yang membuat hati Arvin sangat resah disepanjang harinya.


"Bukankah takdir selalu mempermainkan kehidupan kita? Kau dan aku seorang yang sangat asing dijadikan pasangan, dan mereka yang selama ini dekat dengan kita seketika dijadikan orang asing" Liana menyeka air mata yang hampir terjatuh lagi sembari tersenyum pahit.


"Gadis bodoh. Yang aku khawatirkan adalah dirimu" lirih Arvin.


"Apa?" tanya Liana yang tak mendengar jelas ucapan Arvin.


"Bukan apa-apa." Arvin menghela nafas panjang lalu berucap, "bagaimana kalau hari ini kita saling menghibur satu sama lain!"


"Maksudmu?"


"Bukankah hati kita butuh dihibur? Jadi bagaimana jika kita saling menghibur satu sama lain?" Ide Arvin.


"Bagaimana caranya?"


"Mari kita berkencan!"

__ADS_1


"Eh?" Liana terheran-heran mendengar hal itu terucap dari bibir Arvin.


"Ayo!" Arvin menggenggam erat tangan Liana, dan dimulailah ide gila itu. "Kau ingin melakukan apa hari ini?" Tanya Arvin yang masih tidak tahu bagaimana mengawali kencan dadakan ini.


"Nonton film?" ucap Liana tak yakin jika Arvin akan mau.


"Baiklah. Ayo!"


Keduanya berjalan menuju lantai tiga tempat bioskop berada tapi disebuah perjalanan Liana menghentikan langkahnya ketika sebuah toko memasang sweater couple di manekin.


"Tunggu sebentar!" Lengan Arvin tertahan.


"Ada apa?"


"Lihat itu!" Tunjuk Liana pada kedua manekin yang berjajar. "Bukankah itu sangat manis? Sepasang baju couple, aku tidak pernah memilikinya. Aku selalu iri saat melihat sepasang kekasih memakainya saat mereka berkencan"


"Kau mau?"


"Memang boleh?"


"Ayo!" Ajak Arvin masuk kedalam toko.


"Baik tuan. Tunggu sebentar!" Diambilkannya stok baju yang sama dengan yang dimaksudkan oleh Arvin. "Ini edisi baju pasangan terbaru ditoko kami. Anda ingin memiliki sepatu pasangan juga?" Tawar Sang karyawan toko


"Tidak per.."


"Baiklah aku juga ambil dua pasang untuk kami" setuju Arvin membuat Liana terheran dengan sikap baik Arvin hari ini.


"Baik akan saya ambilkan" senyum ramah Sang karyawan toko.


Sembari menanti datangnya sepatu yang dijanjikan oleh Sang karyawan, keduanya terlebih dahulu mencoba baju di ruang ganti. Dan Liana lah yang keluar terlebih dahulu dari ruang ganti, karena ia tak seribet Arvin yang harus lepas baju resminya. Sesaat setelah Liana keluar, ia telah melihat sang karyawan telah menantinya di depan ruang ganti dengan tangan yang membawa dua kotak kardus, yang mungkin berisi sepasang sepatu yang dimaksudkannya tadi.


"Ini sepatunya. Anda boleh mencobanya"


"Terima kasih" Liana menerimanya, lalu dibukanya salah satu kardus yang berukuran sedikit lebih kecil dari kedua kardus yang dibawanya. sebuah sepatu sport yang terdapat warna soft dan gelap disana yang menjadikan paduan warna yang cantik. Dicoba dikedua kakinya, dan ternyata sangat pas. Karyawan itu sangat pintar memilih size kaki pelanggannya.


"Kekasih nona sangat tampan" puji Sang karyawan toko mengawali obrolan mereka.


"Terimakasih"


"Selain sangat tampan, dia juga sangat perhatian. Terlihat sekali jika dia sangat mencintai anda"

__ADS_1


"Benarkah?"


"Tentu saja. Terlihat sekali saat dia memperlakukan nona dengan sangat baik" puji Sang karyawan toko sekali lagi. Dan entah mengapa ada rasa bangga dihati Liana atas pujian yang terlontar.


Beberapa saat kemudian Arvin keluar dari ruang ganti. Terlihat sangat tampan saat ia memakai sweater polos berwarna soft pink.


"Anda terlihat tampan sekali. Sangat cocok dengan kulit putih anda" puji Sang karyawan toko.


Sebenarnya bukan karyawan toko saja yang ingin memuji tapi Liana juga ingin memuji tapi ia urungkan.


"Jarang sekali ada pria yang terlihat tampan ketika memakai warna wanita. Tapi Anda terlihat cocok sekali seperti seorang model" sang karyawan toko tak henti-hentinya memuji penampilan Arvin.


"Pakai ini juga!" Liana memberikan sepasang sepatu yang bercorak sama dengan yang ia kenakan.


"Baiklah" turut Arvin.


"Mau kemana?" tanya Liana yang melihat Arvin berjalan tuk masuk kembali keruang ganti.


"Aku akan ganti baju dulu, setelah itu mencoba sepatunya" terang Arvin yang mengira Liana menghentikannya karena Liana tak sabar untuk dirinya mencoba sepatu yang Liana berikan.


"Pakai baju ini saja. Bajumu biar dibungkus"


"Segera saya kemas"ucap pegawai toko itu menyanggupi.


"Mau berfoto denganku?" tanya Liana tanpa harapan jika Arvin akan mau.


"Disini?"


"Jika kau tidak menginginkannya juga tidak masalah" Liana tersenyum dengan penampakan wajah malunya.


"Baiklah. Ayo kita lakukan itu!"


"Em?"


"Berfoto bersama" Arvin mengambil ponselnya. "Kemarilah!" Arvin menarik Liana tuk mendekat kearahnya. Arvin menggunakan aplikasi kamera pada ponselnya, "satu.. dua.. tiga.." hitung Arvin. 'klikk' terdengar suara ponsel setelah kilat cepat cahaya kamera.


"Aku juga!" Liana menyodorkan ponselnya. Dan potret kedua telah tersimpan diponsel masing-masing.


Kencan keduanya dilanjutkan dari nonton bioskop. Film yang ditonton adalah film bergenre romantic komedi yang dapat membuat Liana tertawa lucu, tersipu, dan juga menangis sedih. segala ekspresi yang ditunjukkan oleh Liana diamati oleh Arvin yang selalu berfokus pada wajah Liana dari pada menyimak kisah difilm yang ditontonnya sekarang. "Cantik" celetuk Arvin hanya menggerakkan bibirnya saja.


Keduanya bersenang-senang hari ini, dan melupakan segalanya, hingga lupa akan status mereka sebagai pasangan kontrak. Mereka melakukan segala hal yang dilakukan oleh pasangan sungguhan. Bergandengan agar pasangannya tetap berada disisi mereka, merangkul untuk melindungi, dan memandang untuk saling memahami. Kali ini hanya dari hati semua senyuman, perlakuan manis, segalanya tanpa mereka sadari telah terbentuk cinta dari hati mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2