Love'S Feeling

Love'S Feeling
Resah


__ADS_3

“Yakk..! Kalian berdua bagunlah sekarang!” Geram Anita yang baru saja datang, telah membuat kebisingan disana.


“Anita jangan berteriak! Kau kan masih sakit.” pinta Rendi mencoba meredamkan amarah sang kekasih. Dirinya sangat khawatir pada amarah yang akan membuat kondisi sang kekasih menjadi buruk kembali. Karena baru kemarin malam Dokter memperbolehkan Anita untuk pulang kerumah sakit.


“Liana..! Aku bilang bangun!” pinta Anita menggoncang tubuh Liana yang tertutup oleh selimut tak penuh.


“Yakk..!” bentak Liana merasa terusik dengan kelakuan Anita. “Aku baru bisa tidur tadi pagi, bisakah kau tidak menggangguku?” rengek Liana memohon.


Ditariknya selimut hingga keujung kepalanya, berharap dirirnya dapat terhindar dari gangguan Anita. Dan dirinya dapat tidur dengan tenang.


“Kau sudah datang?” ucap Sofi yang kini terbangun karena kebisingan yang ditimbulkan Anita.


“Liana kalau bertengkar dengannya jangan seperti ini caranya! Kau juga sebagai teman yang baik jangan malah mendukung sahabatnya yang berbuat salah!” Cerocos Anita yang sepertinya salah paham.


“Sebenarnya apa yang Kau katakan? Aku tidak mengerti sama sekali arah pembicaraan mu saat ini. Siapa yang membela siapa?” Tanya Sofi lebih lanjut.


"Dari kemarin malam kami dihubungi oleh Arvin yang menanyakan keberadaan Liana dimana? Bahkan hingga subuh tadi Arvin masih mengirim pesan padaku." Ujar Rendi menjelaskan duduk perkaranya.


“Apa Kau tidak dihubungi oleh Arvin?” Tanya Rendi lebih lanjut.


“Aku tidak tahu. Ponselku aku taruh tas. Sebentar akan aku ambil dulu.” Sofi bergegas melangkah untuk mengambil ponsel yang berada didalam tas yang tergeletak diatas meja belajarnya.


Diceknya dengan teliti, “Benar ada. Arvin menghubungi Ku beberapa kali. Dia juga mengirim pesan padaku, dan Dafina juga.” Sofi menunjukan notifikasi dari ponselnya.


“Hiss.. gadis ini. Yakk... ! Aku bilang bangun!” Anita membuka selimut yang sedari tadi menutupi seluruh tubuh Liana.


“Ada apa lagi?” rintih Liana yang mulai lelah karena Anita yang tak berhenti mengganggunya.


“Apa lagi katamu? Lihat ponselmu sekarang! Berapa banyak Arvin mencoba untuk menghubungimu?”


“Apa? Memang kenapa Arvin sampai menelpon ku?” Tanya Liana dengan wajah polosnya efek dari bangun tidur.


“Jadi Kau tidak tahu, jika Arvin berusaha menghubungimu?” Beberapa saat Liana dan Sofi saling menatap dengan tatapan bingung.


“Sejak kemarin Arvin sangat cemas mencari-cari mu. Dia menelpon kami semua, menanyakan tentang keberadaan mu." Lontar Anita memberi tahu, yang kali ini cukup bersikap tenang.


“Pergilah! Temui dia! Pasti saat ini dia sangat mengkhawatirkanmu” tutur Sofi.


“Iya.” Angguk Liana sebagai tanda bahwa dia setuju dengan usul Sofi. “Boleh Aku pinjam motormu?”


"Tentu. Kau pakai saja!" Liana langsung bergegas menaiki motor metik milik Sofi.


“Liana pakai ini!” Anjur Sofi memberikan helm kepada Liana tuk keaman Sahabatnya itu.


"Terima kasih!" Liana bergegas memakai helm dan pergi dengan motor Sofi tanpa berganti baju atau mensisir rambutnya yang berantakan pun tak sempat Ia lakukan.

__ADS_1


Disepanjang jalan Liana menjadi pusat perhatian bagi orang yang berpapasan atau pun satu arah dengannya.


Tak sedikit orang yang melihat Liana dengan mulut yang menahan tawa, dan tak sedikit pula orang yang melihatnya dengan wajah heran atau mencibirnya.


Walau seperti itu tak dapat surutkan hati Liana untuk secepat mungkin menemui Arvin yang mungkin tengah mencemaskan dirinya.


“Aku tidak pernah berharap untuk dapat memilikinya. Namun Aku juga tak dapat menyanggupi, tidak akan terluka saat Aku kehilangan dia. Hanya dapat menyapa sebagai orang biasa jika bertemu. dapatkah Aku semampu itu?” Liana terus berfikir disepanjang perjalan pulang.


***


Disanggah motor metik milik Sofi dihalaman rumahnya. Liana berlari masuk sambil memanggil nama seorang yang sangat ingin Ia lihat kini. "Arvin Kau..."


Liana terdiam saat mendapati Arvin yang tertidur pulas diatas sofa ruang tamu.


Didekatinya perlahan, melirihkan suara langkah kakinya agar Arvin tak terbangun karenanya.


“Mungkinkah dia menungguku?” tanyanya pada dirinya sendiri dengan perasaan yang campur aduk.


Didekatkannya wajahnya pada wajah Arvin untuk dapat melihat lebih dekat seorang yang sangat Ia inginkan.


“Iya, perasaanku ini benar adanya. Aku mencintai pria ini. Meski Aku berusaha melangkah menjauh darinya. Namun jika dia menginginkan Aku datang kepadanya, Aku akan seperti orang bodoh yang akan berlari dengan sekuat tenaga untuk kembali padanya."


"Cinta yang selalu bertambah disetiap deruh nafasku. Cinta yang selalu bertambah disetiap aku melihat dia tertawa, marah, menangis seperti anak kecil. Sampai saat dia mencibirku, cinta itu benar-benar datang.” Batin Liana menatap lekat wajah Arvin.


Tes...


Kediaman mereka membuat degup jantung keduanya terpacu sangat keras, hasrat ingin memiliki muncul dengan segera.


“ekh-em...” Liana mengdehem seraya memalingkan wajahnya.


“Kenapa Kau bisa tidur disini? Kan lebih baik tidur dikamar, lebih nyaman. Kalau disini badanmu bisa sakit semua. Dan juga, kenapa pintunya tidak dikunci? Bagaimana kalau sampai ada pencuri masuk?” Cerocos Liana dengan nada semakin tinggi untuk menutupi kegugupannya.


Tanpa menjawab atau bicara sepatah katapun Arvin tiba-tiba menarik tangan Liana yang ada didepannya, al hasil Liana terjatuh dipangkuannya.


Dan sesaat kemudian tangan Arvin merengkuh tubuh Liana. Dipeluknya Liana seperti tak ingin terlepas dari sisinya lagi.


Rasa takut kehilangan yang Liana, membuat dirinya lebih dalam memeluk Liana.


“Arvin Aku tidak bisa bernafas” ungkap Liana lirih. Kini ikatan tangan Arvin sedikit merenggang tanpa melepas pelukannya.


“Apa semalaman Kau menungguku?” tanya Liana.


“Emm!” angguk Arvin pelan.


“Apa semalaman Kau mencemaskanku? Makanya Kau menghubungi semua sahabatku sekaligus orang rumah?” tanya Liana kembali.

__ADS_1


Liana menirukan cara sahabatnya Anita untuk mengungkap isi hati sang pujaan hatinya. Dan mungkin dengan seperti itu nasibnya akan sama seperti sahabatnya.


“Iya, tapi Aku tidak menemukan dirimu.” Jawab Arvin sekali lagi, membuat senyum singkat dibibir Liana.


“Apa Kau mencintaiku?” Tanya Liana berharap Arvin dapat terpancing dengan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya.


“Apa?” seketika Arvin melepas pelukannya lalu menatap wajah Liana dengan tanda tanya besar.


“Aku hanya memancingmu. Mungkin saja Kau akan menjawab hal yang sama. Tapi ternyata tidak.” ujar Liana meringis.


“Tentu saja tidak. Aku orangnya tidak akan mudah untuk dijebak,” lontar Arvin.


“Aku tahu” Liana beranjak dari pangkuan Arvin.


“Aku juga tahu jika dijawab pasti Kau akan bilang ‘tidak’ kan?” tekan Liana tersenyum pahit.


Sikap yang ditujukan Liana membuat Arvin terdiam, Ia merasa sepertinya Liana telah kebal dengan segala rasa kecewa dan rasa sakit yang selalu Ia berikan kepada Liana.


“Ini.” Arvin menyerahkan sebuah undangan pada Liana.


“Ini apa?”


“Itu undangan pesta ulang tahun Alya,” terang Arvin memberi kemudahan untuk Liana mengetahui apa isi undangan itu tanpa membukanya.


“Oo... tanggal ini" Liana tersenyum seraya menatap pada Arvin.


"Bukankah ini tanggal yang sama, saat kita pertama kali bertemu. Apa Kau ingat?” Liana mungulas kembali masa lalunya.


“Kau masih mengingatnya?”


“Tentu saja. Hari itu, adalah hari terburuk di kehidupan ku. Karena bertemu denganmu.”


“Sepertinya benar?” ucap Arvin membenarkan ucapan Liana.


"Tentu saja benar." tekan Liana.


"Jam berapa sekarang?" Tanya Liana menarik tangan Arvin tuk melihat jam yang terdapat pada tangan Kiri Arvin.


"Oo... Sudah jam segini. Aku harus cepat-cepat, Kalau tidak aku bisa terlambat ikut kelas pagi" gumamnya langsung bergegas menuju kamar mandi yang terdapat didalam kamarnya.


"Sepertinya benar. Bertemu denganku adalah hal terburuk dihidupmu” Arvin memandang punggung Liana yang berjalan semakin menjauh darinya.


Berpakaian piama, rambut tidak disisir dengan baik, memakai alas kaki berbeda, inilah keadaan sesungguhnya yang terlihat pada Liana. “Maaf. Aku benar-benar minta maaf telah membuatmu seperti ini” sesal Arvin dengan nada lirih.


Ada rasa sesak dihatinya ketika tahu jika Liana tersakiti oleh dirinya berulang kali, namun mengapa Ia tutupi itu? Jika dirinya benar-benar memiliki rasa yang berbeda pada Liana.

__ADS_1


Karena sesungguhnya Arvin lebih ingin setia pada pasangannya yaitu Alya. Hingga Ia tak hiraukan yang ada dihatinya saat ini.


***


__ADS_2