Love'S Feeling

Love'S Feeling
Perjanjian diatas benang takdir


__ADS_3

Tanggal pernikahan telah ditetapkan, namun hingga saat ini Arvin dan Liana masih saja tidak dapat mengubah pemikiran kedua Orangtuanya.


Segala cara telah dilakukan oleh keduanya, hingga rencana-rencana gila mereka lakukan, namun tak membuahkan hasil sama sekali.


"Ahh ..!"


"Haa...!" Desah nafas keduanya kompak sembari duduk membelakangi.


"Kalian kenapa? Datang-datang sudah memasang wajah yang tidak enak dipandang mata" cibir Dafina.


"Segalanya menjadi buruk. Tak ada satupun hal yang berjalan lancar" curah Liana pada sang Adik.


"Memang tidak semudah itu mengubah keinginan mereka. Kau tahu waktu saja menyerah pada mereka" ujar Dafina.


"Apa Dafina tahu tentang rencana kami?" tanya Arvin menangkap dari percakapan dari kedua Kakak beradik itu.


"Tentu saja. Tidak ada yang bisa disembunyikan Kakak dariku."


"Tenang saja dia bisa menjaga rahasia kita." Yakin Liana.


"Kakak tidak perlu khawatir! Aku akan menyimpan rahasia ini dengan rapat. Asalkan kalian melakukannya tanpa menyakiti Ayah" ungkap Dafina.


"Gadis pintar," puji Arvin membuat Dafina tersipu.


"Jadi apa saja yang kalian lakukan selama ini?" tanya Dafina lebih lanjut, yang merasa penasaran rencana apa yang dilakukan Keduanya tuk mengubah pemikiran sang Ayah.


"Ku lakukan segalanya sesuai dengan instruksi dari Arvin. Segala yang dikatakan Arvin Aku lakukan dengan benar tapi tetap saja tidak membuahkan hasil" curah Liana.


"Memang Apa yang Kau lakukan?" Tanya Dafina lebih lanjut.


"Semua yang Ibu Arvin tak sukai..." Liana menceritakan segalanya tanpa ada satupun yang terlewat. "Aku meminta ini dan itu, agar terkesan seorang perempuan yang materialistis" lanjut Liana.


"Apa Kau bodoh, Bagaimana bisa hal seperti itu dapat berhasil?" cetus Dafina yang merasa semua yang dilakukan Liana sangatlah konyol.


"Lalu Kakak sendiri?" tanya Dafina kini pada Arvin.


"Ku lakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Liana."


"Menjadi seorang Materialistis?" kira Dafina.


"Bukan. Kalau aku beberapa kali berbicara tidak sopan untuk membuat mereka tidak suka padaku" ucap Arvin menceritakan segalanya.


"Lol.." lagi-lagi Dafina dibuat bingung dengan rencana keduanya. Rencana mereka terdengar seperti sebuah candaan bagi Dafina.


"Apa kalian sedang bercanda?" geram Dafina.

__ADS_1


"Maksudmu?" tanya Liana yang tidak dapat mencerna pertanyaan Dafina.


"Kalian hanya terlihat konyol dengan segala rencana aneh kalian". "Mana mungkin hal sekecil itu bisa membuat mereka membatalkan perjanjian yang begitu lama." Setelah dipikir kembali ucapan Dafina sangatlah benar.


"Lalu aku harus bagaimana lagi? Agar dapat membatalkan perjodohan ini?" keluh Liana yang merasa putus asa.


"Kalian berselingkuh saja! Pasti mereka akan membatalkan perjodohan itu" cetus Dafina yang hanya sebatas ucapan saja.


Tapi kelihatannya ucapan Dafina itu dianggap serius oleh keduanya. Dan saat ini keduanya tengah berpikir serius tentang ide itu. Tentang sebab dan akibat yang akan mereka terima.


"Dimana Liana ibu yang dulu? Yang merelakan kebahagiaannya demi membuat Ayahnya tersenyum. lihatlah hasil dari perbuatanmu! Ayah yang katanya kamu sayangi, hampir saja kehilangan nyawanya karenamu"


"Ibu!"


"Kalau Kamu tidak menyukai perjodohan ini, kenapa Kamu menyetujuinya? Kalau hanya memberi harapan palsu pada Ayahmu."


"Ibu maafkan Aku!" tangis Liana berlutut dihadapan Ibunya.


Dan diwaktu yang bersamaan Arvin juga membayangkan betapa marahnya sang Ayah padanya, dan betapa sedihnya sang Ibu pada dirinya hingga Ia tidak dianggap Anak dan diusir pergi dari rumah.


"Tidak"


"Tidak bisa" jawab mereka hampir bersamaan.


"Kalian ini kenapa? Aku tidak serius dengan ucapan itu. Jadi tidak perlu berteriak seperti itu padaku!" Ucap Dafina yang merasa dipersalahkan.


"Ya sudah tidak apa-apa" masih ada nada kesal diucapkan terakhir Dafina.


"Lalu apa lagi yang harus Aku perbuat untuk bisa menghentikan perjodohan ini?"


"Sudah menyerah sajalah! Selamanya kalian tidak akan pernah bisa menghentikan mereka."


"Menyerah katamu? Itu tidak mungkin, karena aku tidak akan pernah mau menikah dengan Liliput pemarah seperti dia" tukas Arvin menolak saran Dafina.


"Kenapa kau selalu memanggilku dengan sebutan itu? Aku tidak suka mendengarnya, lagi pula aku sudah mempunyai nama yaitu Liana. nama sebagus itu malah kamu ganti dengan nama seburuk itu."


"Itu urusanku, ini mulutku jadi tersarah aku mau bicara apa" lontar Arvin tidak mau diatur.


"Tapi ini namaku jadi tidak sepantasnya kau menggantinya dengan sesuka hatimu" protes Liana.


"Ah iya. Memang benar, keputusan yang sangat salah bila menjodohkan mereka" batin Dafina saat melihat Kakaknya tidak dapat akur dengan calon suaminya.


"Sudahlah kalau kalian tidak bisa membatalkannya, buat saja sesuatu yang bisa membuat kalian tidak terikat satu sama lain dan membuat kalian nyaman" saran Dafina.


"Maksudmu?" tanya Arvin beralih perhatiannya.

__ADS_1


"Ah iya" Liana mendapatkan sebuah ide. "Kau benar Dafina. Kau memang Adikku yang sangat pintar"puji Liana. Yang kini melangkah cepat mengarah ke Dafina lalu memeluknya.


"Memangnya apa yang aku lakukan?" tanya Dafina bingung, namun Liana hanya tersenyum dengan sejuta maksud.


Membuat Arvin dan Dafina begitu penasaran saat menunggu dirinya yang kini asik dengan komputernya.


"Apa Kakak juga mengetahuinya?" Dafina yang tak mendapat jawaban dari kakaknya mencoba untuk bertanya pada Arvin, tapi lagi-lagi Dafina tidak mendapat jawabannya, karena Arvin juga tak mengetahuinya.


"Sebaiknya aku pergi saja, bisa gila aku kalau terus disini" ungkap Dafina meninggalkan keduannya sendiri didalam kamar.


(Dua puluh menit berlalu.)


"Hey sebenarnya apa yang sedang Kau kerjakan? Lama sekali" tanya Arvin yang tak dapat menahan kesabarannnya.


"Sudah diamlah! Sebentar lagi juga selesai."


Kertas yang masih hangat, yang baru saja keluar dari printer diberikan Liana kepada Arvin. "Ini untukmu. Baca dan tanda tanganilah!"


"Surat perjanjian?" Baca Arvin pada awal kata yang tercetak tebal.


"Benar, kita akan buat perjanjian hitam diatas putih. Karena nantinya kita terikat dalam pernikahan yang tidak kita harapkan, jadi Aku buat surat perjanjian untuk berjaga-jaga."


"Berjaga-jaga untuk apa?"


"Walau Kau tidak menyukaiku, tapi tetap saja Kau ini seorang laki-laki. Dan kita harus tinggal bersama nantinya, jadi apa salahnya aku berjaga-jaga." Terang Arvin.


"Walau aku dikurung seumur hidup bersamamu dalam satu kamar tidak akan pernah terjadi apapun padamu. Jadi tidak perlu buat perjanjian seperti ini!"


"Perjanjian ini dibuat bukan untuk itu saja. Perjanjian ini juga dibuat untuk menjaga privasi masing-masing, dan perjanjian ini punya masa berlakunya" perjelasnya tentang maksud dari perjanjian yang baru saja ia buat.


"Masa berlaku ditentukannya kapan kita harus berpisah, kalau kontrak ini telah habis masanya. Itu artinya kita harus berpisah pada saat itu juga." Jelas Liana panjang lebar.


"Kapan itu akan berakhir?"


"Satu tahun, waktu dimulai di hari kita menikah dan berakhir satu tahun setelahnya."


Dengan segera Ia memberi bulpoin pada Arvin. "Cepat tanda tangani!" Arvin pun menuruti perintah Liana tanpa ragu. "Jangan lupa nama terang!"


"Sudah." Arvin memberikan dua kertas perjanjian itu pada Liana untuk ditanda tangani.


"Masing-masing kita memiliki satu, simpan baik-baik!"


"Tanpa kau minta, Aku juga akan melakukannya." Lontar Arvin.


"DEAL...." Liana mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"DEAL...." Arvin membalas uluran tangan Liana. Keduanya saling berjabat tangan sebagai tanda persetujuan mereka.


***


__ADS_2