
Telah tiba pengumuman siapa yang berhasil terpilih sebagai mahasiswa yang akan mendapatkan beasiswa ke Inggris.
Sofi masuk diperingkat kedua dari beberapa mahasiswa yang akan berangkat ke Inggris namun nama Liana tak tercantum disana.
Sofi merogoh tasnya untuk mencari keberadaan ponselnya. Setelah Ia dapatkan, Sofi mulai menekan kontak telfon Liana yang tercantum disana.
"Hai.. bagaimana keadaanmu sekarang?" sapa Sofi sebagai pembuka komunikasi.
"Setelah beberapa hari terkurung ditempat ini. Keadaanku semakin baik dan juga terasa sangat bosan," terang Liana.
"Tidak masalah, yang terpenting sekarang kau sembuh dulu." ujar Sofi menyemangati.
"Kau benar."
"Liana aku mempunyai berita buruk untukmu," ucap Sofi dengan nada penuh penyesalan.
"Aku sudah melihatnya. Pengumuman itu, sepertinya kau tidak terpilih, " lanjut Sofi.
"Aku sudah menduganya sejak awal. Tidak mungkin otakku yang pas-pasan ini terpilih," canda Liana meski Ia tak mengharapkan lolos tetap saja dirinya kecewa.
"Lalu Kau bagaimana?"
"Aku terpilih. Maafkan aku Liana"sesal Sofi.
"Kenapa harus minta maaf? Aku sudah sangat bahagia mendengar Kau bisa mendapatkannya".
"Permisi nona Liana" seorang perawat masuk membuyarkan fokus Liana. "Waktunya untuk terapi!"
"Iya" setuju Liana.
"Sofi kita sambung nanti," ucap Liana ingin lebih fokus untuk terapinya.
"Baiklah... aku mengerti." angguk Sofi walau tak dapat dilihat oleh Liana.
"Emm ... sampai jumpa!" Sofi pun memutuskan komunikasinya dengan Liana lalu melangkah pergi meninggalkan papan pengumuman itu dengan wajah tertuntuk lesu.
Tak lama berselang setelah komunikasi lewat telfon bersama Liana, kini ponsel itu berdering kembali. Panggilan tanpa nama tertera diponselnya.
"Iya, halo!" jawabnya masih dengan nada lesu.
"Halo apa benar ini Sofi?" terdengar seperti wanita dewasa yang kini berbicara padanya.
__ADS_1
"Iya benar. Maaf anda Siapa?" Tanya Sofi sopan.
"Bisakah Kau kemari? ke café disebrang jalan kampusmu. Aku menunggumu disini!" perempuan itu mentutup ponselnya tanpa menjawab identitasnya yang sebenarnya pada Sofi.
Dengan rasa penasaran yang sangat besar Sofi pun mendatangi café tempat wanita itu menaruh janji.
Sofi membuka pintu café, Ia menteliti satu persatu pengunjung disana lalu seorang wanita setengah abad yang terlihat sangat cantik melambaikan tangan padanya memberi isyarat bahwa dialah yang ingin ditemui oleh Sofi.
"Kau Sofi?" Tanya wanita itu mencari kepastian bahwa Ia memang tak salah.
"Iya saya Sofi," jawab Sofi singkat.
"Aku yang menelfonmu tadi. Namaku Asti Ibu Tirta" ujar Ibu Tirta memperkenalkan dirinya.
"Apa?" ucap Sofi sepontan. "Apa lagi ini?" desah Sofi kesal, merasa telah dipermainkan oleh Ibu Tirta.
"Apa maksud anda sebenarnya? Apa anda ingin mempermainkan saya seperti anak anda?" duga Sofi buruk yang masih dirundung kemarahan.
"Saya Mohon duduklah sebentar saja! Anggap ini sebagai permintaan seorang Ibu!" Sofi menghela nafas untuk meredam amarahnya lalu duduk dengan segera.
"Apa Kau ingin memesan sesuatu?" tawar Ibu Tirta.
"Tidak perlu. Bibi langsung saja bicara yang ingin Bibi katakan padaku!" pinta Sofi yang tak ingin berlama-lama berada ditempat itu.
Ibu Tirta mengalah, karena dirinya tahu benar jika Ia bersalah pada Sofi.
Sesaat Ibu Tirta berdiri, dan sedetik kemudian berpindah untuk berlutut disisi kursi Sofi dengan deraian air mata.
"Apa yang Bibi lakukan?" tanya Sofi yang begitu terkejut dengan tindakan Ibu Tirta.
Ia melihat kearah sekeliling dan didapati semua orang telah menatapnya dengan pandangan aneh.
"Bibi aku mohon jangan seperti ini!" pinta Sofi tak enak hati.
"Aku mohon ampuni anakku. Maafkanlah dia!" pinta Ibu Tirta memohon.
"Aku mohon Bibi jangan seperti ini!" Pinta Sofi mencoba untuk membangkitkan Ibu Tirta tapi ditolak, Ia tetap berlutut dan memohon pada Sofi untuk memaafkan anaknya.
"Sudah cukup dia mendapat balasan dengan rasa bersalahnya yang mungkin menghantui seumur hidupnya..."
"Anda bilang rasa bersalah. Bagaimana denganku?" potong Sofi kesal.
__ADS_1
Rasa simpati yang semula muncul dibenak Sofi kini kembali menghilang karena ucapan Ibu Tirta yang tak seharusnya diutarakan padanya.
"Aku yang kehilangan disini. Ayahku meninggal karenanya," pertegas Sofi.
"Maaf, bisakah masalah kalian diselesaikan diluar saja! Karena jika disini akan mengganggu tamu di café ini" tegur kepala café disana yang tak nyaman dengan pertengkaran itu.
"Maafkan saya! Tapi saya tidak setegar itu, yang dengan mudanya memaafkan orang yang menyebabkan Ayahku meninggal," lontar Sofi sebelum memungut tasnya dan keluar dari dalam café.
Ibu Tirta tak gentar, Ia langsung mengejar Sofi yang jauh didepannya.
"Bukan rasa bersalahnya saja untuk menebus kesalahannya" ujar Ibu Sofi yang berhasil mengejar keterlambatannya. Kini Ia telah berada didekat Sofi meski masih berada di belakang.
"Karena kecelakaan itu juga Ia kehilangan pendengarannya. Apa itu masih kurang adil bagimu?"
'Tap' langkah Sofi terhenti seketika. Sekujur tubuhnya gemetar dan laju air mata semakin cepat.
"Anak berumur tujuh belas tahun itu sama sekali tidak ingin mencelakakan siapa pun termasuk Ayahmu." Lanjut Ibu Tirta.
"Dia juga sudah menerima hukumannya. Apa semua itu belum cukup untukmu?" Tanya Ibu Tirta yang semakin meninggikan nada bicaranya.
"Apa perasaanmu padanya tidak dapat memudarkan kebencianmu? Apa begitu sulit memaafkannya? Dia sudah cukup menderita saat ini" Isak Ibu Tirta.
"Maaf saya harus pergi. Maafkan saya! Maaf!" Sofi menghela nafas panjang bersamaan dengan air mata yang mengalir dari kelopak matanya.
Lalu meneruskan langkah yang sempat terhenti bersamaan dengan memori yang terputar kembali kejadian 13 tahun yang lalu dimana kecelakaan itu terjadi dan merenggut nyawa orang yang Ia cintai.
Terlihat jelas tubuh ayah yang Ia cintai penuh luka dan darah segar yang masih mengucur saat dimasukkan kedalam ambulan.
Disaat itu sofi hanya bisa meratapi Ayahnya dan mengutuk orang yang membuat Ayahnya diambang kematian.
"Kenapa anda menyalahkan anak saya? Disini anak saya juga terluka parah" ungkap seorang Ibu yang mebela mati-matian anaknya.
"Tapi kata beberapa saksi saat itu, mobil anak andalah yang keluar jalur," terang salah seorang petugas polisi.
"Yakk.. kamu manusia atau bukan? Disana anakku sekarat, dan disini kamu malah menetapkan hukuman untuk anakku. Kenapa kalian tidak punya perasaan sama sekali? Bagaimana kalau hal itu terjadi pada anak kalian?" Ibu muda itu bersikukuh membela anaknya, yang mungkin anaknyalah yang *bersalah disini.
Mata yang dibuat menangis* untuk sang Ayah dan dalam waktu yang sama mata itu juga yang menatap penuh kebencian saat melihat wanita yang jelas-jelas membela orang yang salah.
"Kenapa orang itu begitu tidak adil? Kenapa dia tidak memikirkan Ayahku yang menjadi korban disini. Dasar orang jahat. Dialah yang bukan manusia" benak Sofi saat itu, yang terus menatap penuh kebencian pada ibu mudah itu.
(Flashback Sofi.)
__ADS_1
***