Love'S Feeling

Love'S Feeling
Happy Ending


__ADS_3

Kali ini peran utama dalam cerita ini jatuh pada Sofi yang menjadi wanita paling cantik dan paling bahagia diantara semua kaum wanita.


Gaun pengantin yang sangat indah, wajah yang sangat menawan dan senyum yang terus mengembang dibibir.


Semuanya telah sempurna, gambaran seorang pengantin baru yang kini berdiri disingga sana yang menjadi pusat pesta resepsi ini.


"Hey kak!" sapa Dafina mendekati seorang pria yang menurutnya tampan dipesta resepsi Sofi.


"Hay!" sapa balik Sekretaris Arga ramah.


"Perkenalkan namaku Dafina," Dafina mengulurkan tangan kanannya untuk dapat dijabat oleh Arga.


"Aku Arga," dibalas jabat tangan Dafina.


"Apa kakak datang sendiri ke pesta ini?" tanya Dafina sok akrab.


"Maksudnya?"


"Apa kakak belum mempunyai pacar?"


"Kau bertanya tentangku?" Tanya balik Arga yang bingung dengan pertanyaan Dafina yang bersifat pribadi.


"Tentu saja".


"Iya. Aku sendiri," jawab Arga yang masih dengan kebingungannya.


"Assa.. satu point bagus," benak Dafina.


"Apa kakak rekan kerja kak Tirta?"


"Tidak. Aku adalah Sekretaris presedir" jawab Arga sekali lagi.


"Tampan dan juga sangat mapan, tambah satu point," hanya dapat terucap dihati.


"Berapa umur kakak?"


"Apa?" Kini bukan hanya bingung bahkan merasa aneh dengan pertanyaan Dafina yang semakin kenari semakin terdengar aneh.


"Hanya menanyakan umur, apa itu salah?" walau tak merasa gatal dikepalanya, Arga tetap menggaruk kepala karena efek bingung.


"Katakan umur kakak!"desak Dafina.


"25 bulan depan" detail Arga.


"17... 18 ... 19 ..." Dafina terlihat sedang menghitung dengan serius.


"Apa yang sedang kau lakukan?"

__ADS_1


"menghitung".


"Menghitung?"


"Menurutmu cinta itu tak peduli umurkan. Jika umur berbeda jauh tapi kalau cinta tidak jadi masalah kan?"


"i.iya" angguk Arga ragu.


"Baiklah akan aku beritahu. Aku menyukai Kakak!" ungkap Dafina to the point.


"APA?" ucap Arga spontan.


"Umur kita berbeda 8 tahun. dan kita sama-sama masih tidak memiliki kekasih," hitung Dafina persamaan diantara mereka.


"Apa maksud perkataanmu?"


"Sudah aku bilang. Aku menyukai kakak pada pandangan pertama. Aku hanya ingin jujur pada perasaanku sendiri. Aku tidak ingin memendamnya karena akan terasa ganjal," lontar Dafina panjang lebar.


Dafina mengulurkan ponselnya kearah Arga yang masih terbengong dengan pernyataan Dafina. "Beri tahu nomer kakak!"


"Sebentar! Aku masih belum mengerti,"


"Ternyata kakak sangat lamban," keluh Dafina yang harus menjelaskan beberapa kali pada Arga hanya untuk memberi tahu tentang perasaannya saja.


"Beri aku waktu 2 minggu untuk mendekati Kakak, jika dalam waktu itu Kakak tidak memiliki ketertarikan terhadapku. Aku akan menjauh dari Kakak, aku tidak akan mengganggumu lagi." tawar Dafina.


"Tentu," angguk Dafina singkat namun terlihat yakin.


Tak dapat ditepis memang ada perasaan aneh, dan detak jantung tak berjalan dengan sewajarnya saat Dafina menyatakan cinta padanya.


Ini pertama kalinya, Arga mendapat sambutan hati oleh seorang gadis remaja yang mempesona.


"Jadi bagaimana?" tanya Dafina mencari kepastian, pada Arga yang terpaku tak berbicara.


"Bagaimana jika 2 bulan?" tawar Arga. "Mari berkencan selama 2 bulan!"


"Deal!" setuju Dafina dengan cepat menerima tawaran Arga yang kini memberi senyuman puas diwajahnya.


"Dafina!" panggil Ibu pada anaknya. "kemarilah! Kita berfoto bersama-sama," ajak Ibu untuk berfoto dengan kedua mempelai dan beberapa kerabat dekat.


"Ayo!" digandengnya tangan Arga, membuat rona merah di wajah Arga.


"Yakk ... kenapa kau menggandeng sekretaris Arga?" tegur Liana yang memperhatikan tangan Dafina dan Arga saling bergandengan.


"Kau ini seorang gadis, jadi jangan menggandeng seorang laki-laki sembarangan! Apalagi didepan umum," Nasehat Liana.


"Siapa yang menggandeng orang sembarangan? Asal kakak tahu, dia adalah pacarku" akuh Dafina membuat seluruh orang yang tengah berkerumun untuk berfoto sangat terkejut.

__ADS_1


"APA!"


Dan pengakuan mendadak itu telah merusak jepretan foto pertama yang diambil, karena semua mata tak lagi melihat ke sisi kamera malah fokus pada kedua pasang kekasih itu. Hanya sang pengantin Pria saja yang masih menghadap layar kamera.


"Apa kabar Kakak Ipar! Ayah, Ibu!" Sebagai formalitas, Arga menyapa satu-persatu keluarga dari Dafina dengan sangat sopan.


Yang menjadikan mereka menjadi semakin terpaku.


"Kenapa semuanya diam? Apa ini terlihat sangat aneh bagi kalian?"


"Benar".


"Tentu saja".


"Sangatlah aneh," cetus mereka meski berbeda ucapan namun terucap hampir bersamaan.


"Sepertinya aku tidak perlu menunggu lama untuk menikahkan putriku yang kedua," gumam Ayah.


"Wah ... kalian benar-benar kompak. Aku tidak bisa percaya ini," dengus Dafina.


"Sudahlah lupakan! Kami pergi saja dari sini," jengkel Dafina.


"Ayo!" Dafina menggandeng tangan Arga untuk pergi dari sana.


"Mau kemana?" tahan Arvin. "Tetap disini!".


"Kami bukan melarang kalian untuk menjalin hubungan, hanya saja kami masih sedikit terkejut." jelas Arvin.


"Senang bertemu denganmu Adik Ipar, Aku Arvin Kakak Ipar Dafina." Sapa hangat Arvin, memberi senyuman pada bibir Dafina.


"Terima kasih," utara Dafina pada Arvin tanpa suara.


"Baiklah mari kita berfoto sekali lagi, kali ini lakukan yang benar!" Pinta Ayah Liana, yang secara diam-diam membantu anak bungsunya agar tidak menjadi canggung, karena menjadi pusat perhatian.


Dengan senyuman dan mata yang hanya berfokus pada layar kamera, semua bersiap tak mengerakan badan sedikit pun sampai cahaya kilat dari kamera menerangi sesaat.


Klik!


Kisah cinta kami tak hanya sampai disini, masih panjang perjalan yang harus kami tempuh.


Baik itu kebahagiaan, kesedian, tangis ataupun tawa. Asalkan tangan ini masih terkait satu sama lain, aku tak akan gentar sedikitpun tuk jalani kehidupan.


Karena yang membuatku terpuruk bukanlah nasib buruk, melainkan dia yang tak berada di sisiku. (proloq Arvin).


"Aku mencintaimu!" ucap Arvin menggenggam tangan Liana semakin erat.


"Aku juga mencintaimu," Balas Liana. "Sangat!" senyum keduanya dengan rona wajah bahagia.[]

__ADS_1


Selesai.


__ADS_2