
Hari berlalu seperti sewajarnya. Defan masih berusaha mendekati Vanka. Sementara Vanka dan Gio masih menyembunyikan kedekatan mereka.
Sore itu Defan diminta kakaknya pergi ke rumah sakit. Rakha sedang dirawat di rumah sakit. Sebenarnya Defan malas mengantar kakaknya. Akan tetapi, Defan juga tidak berani menolak ajakan kakaknya. Bisa-bisa Defan kena omel selama tiga hari tiga malam.
"Yang sakit siapa sih kak?" tanya Defan dengan manyun.
"Temen kakak. Nggak usah banyak tanya, buruan!" pinta Aiko sedikit memaksa adiknya.
Karena hari sudah malam, Aiko tidak diizinkan pergi sendiri keluar rumah. Makanya Aiko mengajak adiknya. Supaya papa dan mamanya mengizinkan dia untuk keluar.
Aiko merasa sangat cemas waktu tahu kabar bahwa kekasihnya dirawat di rumah sakit karena pingsan tadi. Beberapa hari yang lalu, Rakha memang sempat mengeluhkan tubuhnya yang agak kurang sehat.
"Lo nunggu di mobil atau ikut turun?" tanya Aiko begitu mereka sampai rumah sakit.
"Ikut kakak aja." Defan tidak membiarkan kakaknya pergi sendirian. Sesuai pesan papanya, Defan harus terus menjaga dan mengawasi kakaknya.
Aiko mempercepat langkahnya. Dia ingin segera bertemu dengan kekasihnya. Di belakangnya, Defan juga terus mengikutinya dengan sabar.
"Pelan-pelan kak!" seru Defan saat Aiko hampir saja jatuh karena tersandung kakinya sendiri.
"Kakak nggak tenang, Def.." Aiko terus saja berlari sampai di kamar dimana Rakha dirawat.
Di kamar itu sudah ada ayah dan mamanya yang menunggu. Juga ada Vanka yang juga menunggu.
"Gimana keadaan Rakha, om, tante?" tanya Aiko begitu membuka pintu kamar rawat Rakha.
"Rakha nggak apa-apa kok, kata dokter dia tipes, harus banyak istirahat." Aiko bisa bernafas lega setelah mendengar jawaban ayahnya Rakha.
"Kamu kesini malam-malam sendirian?" tanya mamanya Rakha.
"Nggak kok tan, aku dianter adik aku. Def, kesini!" Aiko memanggil Defan yang berdiri saja di depan pintu.
Defan merasa terkejut ketika melihat Vanka ada di ruangan itu juga. Dia terlalu terpana jadi hanya diam saja di depan pintu. Tapi, saat kakaknya memanggilnya, Defan langsung masuk dan memperkenalkan dirinya.
Vanka sudah tidak lagi terkejut mengetahui bahwa Defan adalah adiknya Aiko. Sebelumnya Vanka sudah tahu terlebih dahulu saat tahu ternyata Gio bersaudara dengan Aiko. Vanka sudah bisa menebaknya.
"Van," sapa Defan dengan wajah senang.
__ADS_1
"Kalian kenal?" tanya mamanya Vanka.
"Kita satu sekolah tan." jawab Defan cepat.
Vanka dan Defan kemudian keluar dari ruangan tersebut. Mereka ngobrol di depan ruang rawat Rakha.
"Dunia ini sempit ya, nggak nyangka lo adik pacar kakak gue." ucap Defan yang awalnya bersungut-sungut saat mengantar kakaknya, sekarang merasa senang.
"Iya, emang sempit." jawab Vanka.
Siapa sangka lelaki yang dekat dengan dia juga ternyata sepupu pacar kakaknya. Apakah dunia Vanka hanya berputar dilingkup itu saja.
Vanka mengusap-usap tangannya karena hawa dingin semakin terasa menusuk kulit. Defan seketika melepas jaket dan memakaikannya ke Vanka.
"Pakai nih, ntar lo masuk angin." ucap Defan sembari memakaikan jaketnya.
"Nggak usah Def, lo pakai lagi aja!" Vanka menolak, akan tetapi Defan bersikeras.
"Makasih." Vanka akhirnya mengalah, dia tidak mau membuat Defan kecewa atas kebaikannya.
Tak lama mengobrol, mamanya Vanka meminta Vanka supaya pulang duluan. Karena besok Vanka juga harus sekolah. Sementara ayah dan ibunya yang akan menjaga Rakha.
Mungkin jika Defan tidak ada disana, ayahnya Vanka yang akan mengantar Vanka. Berhubung ada Defan, jadinya mamanya Vanka meminta bantuan Defan.
"Iya tante, aku pasti anter Vanka sampai rumah dengan selamat kok." dengan senang hati Defan mengiyakan permintaan mamanya Vanka. Itu yang juga dia inginkan.
"Kalau gitu aku pulang dulu ya ma." Vanka pamit lalu kemudian berjalan keluar rumah sakit bersama dengan Defan.
Ternyata, dari kejauhan, Gio terus memperhatikan Vanka dan Defan. Sebenarnya Gio juga datang daritadi. Tapi saat melihat Defan, Gio mengurungkan niatnya masuk ke kamar rawat kakanya Vanka.
Gio menghela nafas ketika Vanka masuk ke dalam mobil Defan. "Sampai kapan kita harus bersembunyi kayak gini terus?" gumam Gio seorang diri.
"Semakin hari gue semakin nggak kuat lihat lo deket sama lelaki lain. Apa gue tembak dia aja ya?" Gio terus berkata pada dirinya sendiri.
"Tapi Defan? Dia pasti marah banget ke gue." sepanjang perjalanan pulang, Gio terus memikirkan hal tersebut.
Dilema yang dia rasakan. Harus memilih antara cinta atau persaudaraan.
__ADS_1
****
Pagi berikutnya Gio datang ke rumah Vanka. Berniat untuk mengajak Vanka berangkat bersama ke sekolah. Karena kakaknya sakit, Gio tahu jika Vanka pasti tidak ada yang mengantar ke sekolah.
Gio dan Vanka juga sudah membicarakan masalah tersebut. Mereka sepakat berangkat bersama, tapi hanya sampai di gang dekat sekolah mereka. Setelah itu Vanka akan jalan kaki, jadi seolah-olah Vanka ke sekolah naik angkot.
Vanka sudah menunggu Gio di depan rumahnya. Tapi ternyata, lagi-lagi Gio kalah cepat dengan Defan. Dari tikungan depan komplek rumah Vanka, Gio melihat Defan berdiri di depan rumah Vanka.
Gio menghentikan motonya lalu bersembunyi di balik pos satpam di dekatnya. Dari tempat itu Gio bisa melihat ke arah rumah Vanka.
Gio melihat Vanka yang kebingungan menolak ajakan Defan. Mungkin karena Vanka sudah janjian terlebih dulu dengan Gio. Jadi Vanka tidak mau mengecewakan Gio.
Tapi tak lama kemudian Gio mengirim pesan ke Vanka yang mengatakan kalau dia tidak bisa menjemput Vanka. Gio beralasan karena dia harus mengantar kakaknya ke kampus terlebih dulu, mobil kakaknya mogok. Itu alasan Gio.
"Eh,, gimana ya Def," Vanka ragu untuk menjawab ajakan Defan.
"Lo udah ada janji?" tanya Defan.
Tapi sebelum Vanka menjawab pertanyaan Defan. Vanka membaca pesan yang dikirim oleh Gio. Vanka memicingkan matanya setelah membaca pesan tersebut.
"Kenapa Van?" tanya Defan lagi saat wajah Vanka berubah menjadi dingin. Mungkin Vanka merasa kecewa karena tidak jadi berangkat bareng Gio.
"Eh, enggak kok, nih sih Akila nggak jadi jemput gue katanya, dia udah duluan ke sekolah." Vanka masih bisa menyembunyikan kenyataan dari Defan.
"Oh, kalau gitu bareng gue aja! Buruan, ntar telat loh!" ajak Defan.
"Iya deh, gue ambil tas bentar." karena tidak mau terlambat masuk ke sekolah. Vanka pun akhirnya mau berangkat bareng dengan Defan.
Ketika motor Defan mulai menjauh. Gio mulai menampakan dirinya. Dia kembali menghela nafas panjang yang berat. Gio berpikir apakah dia dan Vanka akan terus seperti ini.
Disis lain, Gio juga tidak mau bertengkar dengan Defan hanya karena seorang wanita. Tapi wanita itu sangat berarti untuk dia.
Dalam hidup Gio. Vanka satu-satunya wanita yang bisa membuat Gio membuka hatinya untuk wanita. Selama ini Gio sama sekali tidak tertarik dengan wanita yang mencoba mendekatinya. Dengan alasan ingin fokus belajar, Gio menolak semua wanita yang menyatakan cinta padanya.
Tapi berbeda ketika dia kenal Vanka lewat jejaring sosial dan akhirnya bertemu. Gio merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan selama ini. Dia nyaman dan bahagia saat dekat dengan Vanka. Dan marah ketika melihat Vanka dekat dengan orang lain.
Perasaan yang tiba-tiba muncul menembus hatinya begitu saja. Tanpa permisi, dan mulai menguasai hatinya. Lambat laun rasa itu berubah menjadi rasa yang semakin kuat. Rasa ingin memiliki Vanka seutuhnya.
__ADS_1
Akan tetapi, Gio harus dihadapkan oleh kenyataan bahwa sepupunya juga menginginkan wanita itu. Wanita yang sama yang ingin dia miliki. Gio benar-benar bingung dibuatnya.
Haruskah dia korbankan perasaannya demi persaudaraan. Ataukah dia korbankan ikatan persaudaraan demi wanita yang dia cintai.