Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
37


__ADS_3

Ines menyambut Vanka, tapi dia tidak bisa menerima Vanka sepenuhnya. Ines teringat wajah Gio yang babak belur beberapa waktu lalu. Dan menyalahkan Vanka sebagai penyebabnya. Akan tetapi Ines tidak langsung mengutarakannya kepada Vanka. Dia juga tidak mau anaknya akan marah atau kecewa kepadanya nanti.


Ines bahkan pernah meminta Gio buat menjauhi Vanka. Tapi langsung ditolak oleh Gio. Sekarang malah dibawa pulang oleh anak bungsunya.


"Sudah makan belum, Gi?" tanya Ines tanpa menatap Vanka.


"Udah tadi di rumah Vanka." jawab Gio sebelum dia berlari ke kamar untuk ganti baju. Dia masih mengenakan seragam sekolah sedari tadi.


Ketika Gio naik ke kamarnya. Ines mulai bertanya mengenai kedekatan Vanka dengan Defan. Ines juga mengatakan kalau Gio dan Defan belum pernah bertengkar seperti beberapa hari lalu.


"Baru pertama kali tante lihat mereka bertengkar hebat seperti itu, biasanya mereka saling sayang." ucap Ines dengan sedih.


"Aku sama Defan cuma temen kok tan, sama Gio juga cuma temen. Aku juga nggak tahu kalau mereka akan bertengkar seperti itu." ucap Vanka yang tahu maksud dari perkataan mamanya Gio.


"Tapi mereka udah baikan kok." lanjut Vanka dengan tersenyum.


"Van, bisa kan kamu jangan ganggu Defan dan Gio? Tante nggak mau mereka bertengkar lagi." ucap Ines yang secara tidak sengaja melukai perasaan Vanka.


"Maaf tan, aku nggak pernah ganggu Gio maupun Defan. Kita semua berteman. Maaf kalau aku nggak sopan sama tante." ucap Vanka lalu berpamitan tanpa menunggu Gio turun.


"Maafin tante juga, tante cuma nggak mau lihat Gio dan Defan bertengkar hanya karena wanita." ucap Ines.


Vanka hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Setelah itu dia keluar dari rumah tersebut. Tapi sayangnya, di luar, hujan turun dengan sangat deras.


Vanka berkeluh kesah kenapa dia tidak pakai mobil saja tadi. "Mana nggak bawa jas hujan." gerutu Vanka seorang diri.


Pada akhirnya, Vanka nekat menerjang hujan itu. Vanka sama sekali tidak marah dengan perkataan mamanya Gio. Hanya saja dia terlalu kaget dengan perubahan cepat dari mamanya Gio.


Waktu dia menjenguk Gio di rumah sakait waktu itu, sifat mamanya Gio masih biasa aja. Bahkan terkesan sangat menyukainya. Tapi sekarang sepertinya dia kurang suka dengan Vanka. Vanka bisa menebak alasannya. Karena tadi secara tidak langsung mamanya Gio mengungkapnya.


Vanka melajukan motornya dengan pelan, sangat pelan malah. Hujan yang terlalu lebat membuat jarak pandangnya tidak terlalu jauh. Vanka harus berhati-hati karena itu.


"Vanka!!!" ternyata Gio menyusulnya dengan membawa payung ditangannya.


Gio berlari mengejar laju motor Vanka yang berjalan cukup pelan. "Lo tahu kan kalau ini sedang hujan?" Gio dengan sedikit kesal memarahi Vanka.


Gio menarik tangan Vanka dan mengajaknya kembali ke rumahnya. Akan tetapi Vanka menepis tangan Gio. "Jangan peduliin gue!" ucap Vanka.

__ADS_1


"Ok, lo boleh marah sama gue tapi ini hujannya sangat lebat Vanka, ntar lo sakit. Gue nggak mau lo sakit." dipikir Gio, Vanka masih marah kepadanya karena masalah kemarin itu.


"Jangan peduliin gue Gio!" seru Vanka juga mendorong Gio menjauh darinya.


"Jangan deketin gue lagi, gue nggak mau lo sama Defan bertengkar dan gue yang disalahin." lanjut Vanka sembari mengusap wajahnya yang basah kuyub terguyur air hujan yang semakin deras.


Gio menatap Vanka yang mulai menggigil, mungkin Vanka sudah kedinginan. Dia terus memikirkan apa maksud perkataan Vanka tersebut.


"Lo ngomong apa sih? Gue sama Defan udah baikan, dan dia juga sudah menyadari kalau yang dia cinta itu Chika. Nggak ada yang nyalahin lo." Gio kembali memayungi Vanka. Gio juga mengambil kunci motor Vanka supaya Vanka tidak ngeyel menerjang derasnya hujan.


"Oh, gue tahu, mama kan yang bilang gitu? Mama bener-bener deh.." Gio akhirnya sadar kenapa Vanka tiba-tiba ingin pulang.


"Ikut gue!" Gio menarik tangan Vanka.


"Kemana?"


"Temuin mama," Vanka menahan tangan Gio. Dia tidak mau Gio dan mamanya bertengkar karena dirinya. Vanka tidak bermaksud mengadu ke Gio, hanya saja dia tidak mau terus disalahkan.


"Mama kan yang bilang kayak gitu ke lo?" tanya Gio dengan wajah yang ingin marah.


"Bahagia? Lo yang bisa bikin gue bahagia." Gio terus menarik Vanka kembali ke rumahnya. Sementara dia meminta satpam rumahnya untuk mengamankan motor Vanka.


"Gi, gue nggak mau lo bertengkar dengan mama lo hanya karena gue." Vanka menarik tangannya lalu berlari, tapi Gio lebih dulu menahan tangannya.


"Gue nggak akan bertengkar dengan mama, gue cuma mau bilang ke mama, kalau kebahagiaan gue itu adalah lo." Gio terus menarik tangan Vanka.


"Gi, baju gue basah, nggak kan gue masuk ke rumah lo dengan baju yang basah kayak gini?"


Gio langsung membuang payungnya. Sekarang Gio juga basah kuyub. Jadi mereka berdua sama-sama basah kuyub. Tanpa melepaskan tangannya, Gio masuk ke dalam rumahnya dan menemui mamanya sedang nonton tivi.


"Ma," panggil Gio membuat Ines seketika menoleh.


"Gio kenapa kamu basah kuyub gini, nak?" tanya Ines dengan khawatir.


"Vanka, kamu juga kenapa basah-basahan gini? Cepat ganti baju, pakai baju tante ya!" Ines juga khawatir melihat Vanka yang juga basah kuyub.


"Maaf tan kalau aku kotorin rumah tante." ucap Vanka tidak enak hati masuk ke rumah orang dengan keadaan seperti itu.

__ADS_1


"Nggak masalah, yang penting sekarang kamu ganti baju dulu yuk, jangan sampai kamu sakit." Ines membawa Vanka ke kamarnya. Ines memilihkan baju yang cocok untuk Vanka, baju masa muda Ines.


"Ada yang lain nggak tan?"


"Kenapa norak ya?"


"Bukan, bukan gitu, tapi ini agak terbuka menurut aku." jawab Vanka yang sebenarnya tidak enak mengatakan itu, tapi dia tidak nyaman memakai baju yang agak terbuka.


Setelah ganti baju yang lebih tertutup. Vanka dan Ines sudah ditunggu Gio di ruang tamu.


"Ma, mama ingin Gio bahagia?" tanya Gio yang tentu saja membuat Ines terkejut.


"Iya dong. Orang tua mana yang tidak ingin lihat anaknya bahagia? Kamu kok tanya gitu?"


"Kalau mama ingin aku bahagia, mama jangan pernah larang Gio dekat sama Vanka. Gio cinta sama Vanka ma, dia yang bisa bikin Gio bahagia."


"Nak, mama hanya tidak mau kamu bertengkar sama Defan hanya karena seorang wanita. Mama tidak ingin kalian saling menyakiti." sudah cukup Ines melihat perselisihan suaminya dengan adik iparnya dulu. Sekarang mereka sudah sama-sama tua, dan berharap semoga anak-anak mereka bisa akur.


Gio menggenggam tangan Vanka dengan erat. Dia ingin membuat Vanka merasa nyaman, ada dia disampingnya. "Permasalahan Gio sama Defan itu sudah clear, mama tahu sendiri Defan sudah kesini minta maaf sama Gio." ucap Gio tanpa melepaskan genggaman tangannya.


"Ma, Defan sudah punya pacar, dia deketin Vanka hanya kesepian saja karena pacarnya di luar negeri, sekarang pacar Defan tinggal disini, Defan sudah bahagia bersama pacarnya." Gio menjelaskan semua kepada mamanya.


"Gio juga ingin punya pacar ma, jadi tolong mama restui hubungan kita, jadi Gio bisa tenang kejar Vanka-nya." pungkas Gio.


Ines menatap anaknya yang sepertinya memang sangat mencintai wanita yang ada di depannya itu. Ines juga melihat tangan Gio yang terus menggenggam tangan Vanka.


"Kalau memang seperti itu, mama nggak akan halangi kalian, mama restui kamu kejar cinta kamu lagi. Semangat ya nak!" ucap Ines mengalah demi anaknya.


Gio berdiri dan langsung memeluk mamanya dengan erat. "Makasih ya ma, Gio sayang sama mama." ucapnya.


"Maafin tante ya Van,"


"Nggak apa-apa tante, aku tahu kok, tante pasti ingin yang terbaik buat Gio." jawab Vanka.


Entah kenapa hati Vanka terasa begitu lega mendengar mamanya Gio merestui perjuangan Gio untuk mendapatkan hatinya lagi. Vanka merasa senang dalam hatinya.


Semangat Gio, semoga Vanka mau menerima kamu lagi. Semangat.

__ADS_1


__ADS_2