
Siang itu Aiko sedang merasa sedih. Dia merasa beberapa hari ini Rakha tidak seperti biasa. Aiko merasa Rakha tidak lagi perhatian kepadanya. Bahkan siang itu, Aiko harus pulang nebeng Ernes. Karena Rakha katanya ada kegiatan.
"Tumben nggak sama Rakha, Ai?" tanya Cintya yang juga bareng sama Ernes.
Untungnya, Ernes bawa mobil ke kampus. Jadi Ernes bisa angkut kedua wanita tersebut bersamaan. Ernes melihat raut wajah Aiko yang tidak seperti biasa.
Ernes sudah lama dekat dengan Aiko, bahkan dari kecil. Dia tahu jika Aiko sedang tidak baik-baik saja. Wajahnya tampak lesu, senyumannya juga menghilang.
"Iya, dia sedang ada acara katanya." jawab Aiko dengan senyum yang dipaksakan. Sebenarnya dalam hatinya, dia sedang bingung dengan sikap Rakha yang berubah.
"Setelah anter Cintya, kita ke taman bermain yuk!" ucap Ernes. Dia tahu betul jika Aiko butuh teman curhat saat ini.
Alasan kenapa Ernes mengajak Aiko ke taman bermain karena dulu waktu kecil, saat Aiko sedih, dia selalu minta dibawa ke taman bermain oleh papa dan mamanya. Setelah bermain disana, Aiko bisa kembali ceria.
Ernes ingin mencoba cara itu. Siapa tahu Aiko bisa kembali ceria seperti biasa.
"Boleh. Udah lama gue nggak kesana." jawab Aiko dengan senang.
Sementara Cintya tahu bahwa kedua saudara tersebut butuh waktu untuk ngobrol berdua. "Makasih ya Nes, Ai." ucap Cintya kemudian keluar dari mobil Ernes.
Ernes melajukan mobilnya menuju taman bermain yang sering mereka kunjungi dulu. Tempat itu tidak banyak berubah, tapi terlihat lebih modern sekarang.
"Nes, gue mau naik rollercoaster." Aiko menarik Ernes menuju permainan yang dia inginkan. Layaknya seorang anak-anak, Aiko naik beberapa wahana lainnya juga.
Dengan sabar Ernes menuruti apa mau Aiko. Saat Aiko menariknya kesana dia akan nurut, Aiko kemana dia selalu ikut. Yang penting dia bisa tersenyum kembali.
"Ai, gue pengen muntah..." keluh Ernes setelah mereka turun dari wahana kora-kora. Ernes benar-benar tidak kuat, dia merasa sangat mual.
"Yaelah gitu aja pengen muntah." ucap Aiko dengan sedikit mengejek Ernes.
"Kita naik bianglala yuk!" Aiko terus menarik Ernes yang hampir muntah. Tapi sebisa mungkin Ernes menahan rasa mualnya.
Saat bianglala itu mulai bergerak. Wajah Aiko mulai berubah sedih. "Rakha kenapa ya, Nes? Dia beberapa hari ini kayak cuekin gue." ucap Aiko dengan nada dan ekspresi sedih. Beda sekali dengan ekspresi dia sebelum naik wahana tersebut.
__ADS_1
Ernes yang masih merasa mual mulai berusaha menahannya. Ernes akhirnya tahu apa yang membuat Aiko sedih. Ernes menatap Aiko yang menyenderkan kepalanya di bahunya.
"Kalian berantem?" Aiko menggelengkan kepalanya.
"Atau lo nggak sengaja singgung perasaannya?" Aiko mengangkat kepalanya kemudian memicingkan matanya. Dia kembali mengingat-ingat, siapa tahu dia pernah menyinggung perasaan Rakha seperti yang Ernes bilang.
Tapi, setelah dia memikirkan benar-benar. Aiko sangat yakin dia tidak pernah melakukannya. Sebelumnya mereka baik-baik saja.
"Apa dia udah mulai bosan ya sama gue?" gumam Aiko kembali menyenderkan kepalanya di bahu Ernes.
"Nggak usah mikir yang tidak-tidak dulu sebelum tahu alasan yang pasti. Kalau itu gue, gue nggak akan pernah bosan sama lo. Lo itu unik, beda dari yang lain." perkataan Ernes tersebut membuat Aiko kembali mengangkat kepalanya.
Aiko menatap Ernes dengan tajam. Teringat saat Ernes menyatakan cinta kepadanya beberapa tahun silam. Saat itu mereka sama-sama masih kecil.
"Gue tahu kita saudara." lanjut Ernes karena Aiko terus menatapnya dengan tajam. Dan, perasaan dia ke Aiko juga telah berubah. Hanya saja, ketika melihat Aiko sedih karena cinta. Ernes ingin sekali membahagiakan Aiko dengan kasih sayangnya.
"Andai aja lo bukan anak paman Erlan, kita pasti akan bersama." ucap Aiko yang sebenarnya sangat kagum dengan kasih sayang Ernes untuknya. Ernes benar-benar tulus kepadanya.
"Temui Rakha! Minta kejelasan kepada dia, kalau dia udah nggak suka sama lo, putusin dia. Tapi, kalau dia masih suka sama lo, dia harus janji tidak pernah buat lo sedih lagi, kalau nggak, gue akan kasih dia pelajaran." ucap Ernes.
Aiko menganggukan kepalanya, kemudian dia menyenderkan kepalanya di bahu Ernes lagi. Setelah curhat dengan Ernes, hati dan perasaan Aiko mulai lebih tenang dan lega.
Benar kata Ernes, dia harus minta kejelasan pada Rakha.
Setelah pulang dari taman bermain. Aiko menghubungi Rakha dan mengatakan ingin bertemu dengan Rakha.
Rakha bisa, tapi nanti malam. Akhirnya mereka janjian ketemu di kafe tempat biasa mereka sering nongkrong. Aiko menyiapkan hatinya supaya bisa menerima apapun penjelasan dari Rakha nanti malam.
Aiko terus memikirkan hak tersebut sampai dia ketiduran dan lupa makan juga.
Ketika dia bangun, ternyata sudah jam 18.00 wib. Aiko langsung melompat dari tempat tidur dan bergegas mandi. Setelah itu Aiko mulai bersiap-siap. Dia hanya memakai kaos biasa dibalut dengan jaket jeans berwarna abu, dan hanya memakai celana panjang jeans dan memakai sepatu casual.
Aiko berlari mencari papa dan mamanya untuk berpamitan. Tapi kata assisten rumah tangganya, papa dan mamanya sudah pergi duluan. Ada acara dengan klien katanya.
__ADS_1
Aiko hanya mengirim pesan kepada mamanya, mengatakan bahwa dia pergi keluar sebentar. Tanpa menunggu balasan pesan dari mamanya. Aiko mulai melajukan mobil honda jazz berwarna merah hadiah ulang tahun dari papanya tahun lalu.
Sekitar dua puluhan menit, Aiko sampai di kafe tempat dia dan Rakha janjian. Aiko tidak langsung turun dari mobil. Dia sedang mengatur nafasnya, menyiapkan hatinya untuk menerima apapun penjelasan Rakha nanti.
Sekitar sepuluh menit, barulah Aiko yakin untuk turun dari mobil. Dia kembali mengatur nafasnya supaya bisa lebih tenang.
Aiko melangkahkan kakinya memasuki kafe tersebut. Kafe dengan nuansa klasik tersebut terlihat sepi pengunjung. Ini aneh. Biasanya kafe itu tidak pernah sepi pengunjung. Walau hanya ada satu dua orang tetap ada.
Tapi ini benar-benar aneh. Kafe tersebut benar-benar sepi pengunjung. Tidak satu orang pun di kafe itu. Aiko juga belum melihat Rakha.
Aiko memutuskan untuk menunggu. Meskipun dia merasa aneh, tapi Aiko tetap menunggu kedatangan Rakha. Cukup lama Aiko menunggu, mungkin sekitar setengah jam.
Aiko masih setia menunggu. Tapi mood-nya benar-benar hancur tatkala Rakha mengirim pesan kalau dia tidak bisa datang karena sesuatu hal. Aiko benar-benar kesal dan marah saat itu. Dia merasa telah dipermainkan oleh Rakha.
Saat Aiko benar-benar kesal dan hampir marah. Pelayan kafe tersebut tiba-tiba datang dengan membawa makanan, padahal Aiko belum memesan makanan sama sekali. Aiko tambah kesal dibuatnya, apalagi pelayan itu membawa bill juga.
"Mas, maaf, ini bukan masalah aku tidak bisa bayar atau nggak, aku mampu bayar, tapi aku tidak pernah pesan makanan sebanyak ini." ucap Aiko tidak ngerti lagi kenapa dia begitu sangat sial hari ini.
"Maaf mbak, saya hanya melakukan tugas saya. Tolong di bayar bill ini." pelayan itu menyerahkan bill yang sama sekali tidak mau Aiko terima. Dia merasa tidak pernah pesan makanan, apalagi makanan sebanyak itu.
Pelayan itu terus memaksa supaya Aiko menerim bill tersebut. Tapi Aiko terus menolak. Setelah cukup lama berdebat sengit, akhirnya Aiko menerima bill tersebut.
Tapi, betapa kagetnya Aiko. Ternyata kertas bill tersebut adalah sepucuk surat yang bertuliskan 'Happy Birthday my lovely, Florentina Aiko.' Dan nama Rakha tertulis jelas di bagian bawah surat tersebut.
Belum lepas dari rasa kagetnya, tiba-tiba Rakha muncul dengan membawa kue ulang tahun. Disusul oleh papa dan mamanya yang ternyata juga ada di tempat tersebut.
Aiko benar-benar terharu dengan kejutan yang dia terima. Aiko bahkan sampai meneteskan air matanya.
"Selamat ulang tahun, sayank. Maaf kalau aku bikin kamu bingung beberapa hari ini," ucap Rakha.
"Jahat." Aiko memukul Rakha, tapi kemudian dia memeluk Rakha dengan erat.
Ucapan dan doa juga Aiko terima dari orang tuanya, Defan, Chika, Gio juga Vanka. Ternyata perubahan Rakha itu karena dia ingin memberi kejutan ulang tahun untuk Aiko. Dan itu berhasil.
__ADS_1