
Gio benar-benar terpukul dengan apa yang terjadi. Dia masih belum bisa melupakan perkataan Vanka yang memutuskan hubungan mereka. Air matanya juga masih terus mengalir. Dadanya terasa sesak. Bahkan tangan yang terluka tidak ada bandingannya dengan hatinya yang sakit sekali.
Gio kembali menghidupkan sebatang rokok. Tidak lupa dia juga menghidupkan pembersih udara. Dia juga membuka galeri fotonya, dimana terdapat banyak sekali foto dirinya dengan Vanka. Gio meraba foto Vanka melalui layar ponsel menggunakan ibu jarinya.
Belum sehari, Gio sudah sangat kangen dengan wanita yang memiliki senyuman khas tersebut. Wanita yang mampu menerobos ke dalam hatinya ketika mereka belum bertemu secara langsung.
"Akh..." Gio melempar ponselnya.
"Gue kangen banget sama lo.." imbuh Gio dengan marah. Meskipun dia marah, hatinya sakit, tapi tidak dipungkiri jika dia sangat merindukan wanita itu.
Tak lama kemudian Gio mempertimbangkan untuk menghubungi Vanka. Akan tetapi, saat dia teringat kejadian di sekolah tadi. Gio pun mengurungkan niatnya. Gio kembali melempar ponselnya.
Untuk menenangkan diri dan pikiran. Gio berendam di kolam air panas. Di rumahnya sudah ada fasilitas tersebut. Gio berendam selama lebih dari 3 jam sembari memikirkan kenangan yang pernah dia jalani bersama Vanka.
Pembantunya melapor kepada papanya Gio karena merasa khawatir. Sudah 3 jam Gio masih belum mau naik. Shaka pun langsung bergegas menghampiri Gio. Dan benar saja, Gio masih termenung di dalam kolam air panas tersebut.
"Gi, naik nak. Kamu sudah lama kan berendam?" bujuk Shaka.
"Gio masih mau berendam pa."
"Naik Gi, kamu udah pucat kayak gitu." setelah terus-terusan di bujuk papa dan mamanya, Gio pun akhirnya mau naik juga.
Ines mengingatkan supaya Gio tidak terlalu memikirkan masalahnya. "Daripada mikirin Vanka terus, mending kamu pacaran saja sama Arina! Dia kan juga anak yang baik." ucap Ines ingin mengambil kesempatan dari bubarnya jalinan asmara Gio dengan Vanka.
"Untuk saat ini Gio masih belum kepikiran pacar, ma. Gio masih selalu ingat dengan Vanka." Gio kembali menolak permintaan mamanya untuk memacari Arina. Gio tidak mau menjadikan Arina sebagai pelarian.
"Kalau gitu gimana kalau weekend kita liburan keluarga? Sudah lama kan kita nggak liburan? Gimana pa?"
"Boleh, papa setuju. Mama juga butuh refreshing kan?" Shaka setuju dengan ide istrinya. Lagipula mereka juga sudah lama tidak liburan bersama.
__ADS_1
"Kita ke villa keluarga aja pa!" Ines kembali memberi ide.
"Boleh, kita tanya Ernes dulu, dia bisa atau nggak, dia mau ujian katanya." ucap Shaka.
****
Setelah putus, Gio dan Vanka terlihat perang dingin. Mereka tidak ada yang saling menyapa satu sama lain. Bahkan Vanka terlihat sangat cuek kepada Gio. Dan Gio terlihat lebih dingin dari sebelumnya terutama kepada wanita.
Sudah tiga hari itu berlangsung. Gio juga masih belum mau bicara dengan Defan. Dia selalu menghindari Defan. Gio lebih suka menyendiri belakangan ini.
Gio melihat Vanka yang sedang berjalan menuju kantor guru. Vanka diminta bu guru untuk membawakan buku bu gurunya. Di tengah jalan, beberapa kakak kelas menggoda Vanka. Ada juga yang mengatakan ingin mengantar Vanka pulang. Alasan mereka menggoda Vanka karena seisi sekolah sudah tahu jika Gio dan Vanka sudah putus. Jadi mereka bebas menggoda Vanka.
Vanka tidak menanggapi terlalu berlebih godaan kakak kelasnya. Dia hanya menundukan kepalanya sembari terus berjalan menuju ruang guru. Bahkan Vanka tidak menjawab sama sekali.
Sementara Gio sengaja menunggu Vanka. Antisipasi jika kakak kelasnya akan bertindak berlebihan kepada Vanka. Meskipun mereka sudah tidak lagi pacaran, tapi Gio masih khawatir kepada wanita tersebut.
Setelah dirasa aman. Barulah Gio pergi ke kantin. Sama seperti Vanka yang langsung pergi ke kantin setelah mengantar buku ke ruang guru.
Arina yang melihat Gio menyendiri, mulai mendekati Gio. Dia berpikir inilah kesempatan untuk merebut hati Gio. "Gi, semalam gue mimpi ketemu Aleno, dia bilang kangen sama lo." ucap Arina.
"Nanti kita jenguk dia." ucap Gio setelah terlalu lama terdiam.
"Serius?" Gio tersenyum sembari menganggukan kepalanya.
Arina pun merasa sangat gembira. Dia memang pinter, dia tahu apa yang membuat Gio luluh. Ya, itu Aleno.
Arina dan Gio pun pada akhirnya makan bersama dalam satu bangku. Mereka saling ngobrol dan bercanda seperti dulu. "Gue kangen lo yang kayak gini." ucap Arina yang kembali membuat Gio terdiam.
Gio menatap Arina yang tertunduk sedih. Dia kembali teringat janjinya kepada mendiang saudara Arina, bahwa dia akan menjaga Arina dan membuat Arina bahagia.
__ADS_1
Akan tetapi, Gio tidak berkata apapun. Dia hanya menatap Arina yang terlihat sangat sedih.
Di sisi lain, Vanka melirik ke arah Gio yang sedang mengobrol dengan Arina. Vanka melihat sekilas jika Gio tersenyum ketika ngobrol dengan Arina. Vanka pun tersenyum pahit. Mungkin mereka memang ditakdirkan untuk bersama, batin Vanka.
Tanpa sengaja, saat Vanka curi-curi pandang ke arah Gio dan Arina. Vanka ke gep langsung oleh Gio sedang curi-curi pandang.
Karena saking groginya, Vanka langsung menarik Akila dan Ira keluar dari kantin. Vanka sangat malu karena ketahuan sedang melirik Gio dan Arina. "Kita balik ke kelas!" ucap Vanka sembari menarik tangan Akila dan juga Ira yang sudah berbaikan.
"Bentar..." Ira masih belum selesai makan. Tapi karena terus ditarik oleh Vanka, Ira pun meninggalkan makanan itu dan hanya mengambil minumannya.
"Kenapa sih lo?" omel Akila dan juga Ira.
"Nggak apa, gue lupa kalau hape juga ketinggalan di tas." Vanka terus menarik kedua sahabatnya.
Sedangkan Gio tersenyum kecil melihat tingkah mantan pacarnya tersebut. Masih aja konyol, batin Gio sembari tersenyum.
....
Sepulang sekolah, Gio dan Arina ke makam Aleno. Bukan hanya Gio dan Arina, tapi juga Dhanu yang juga ingin menjenguk makam sahabatnya.
Sebenarnya bukan hanya ingin menjenguk makam Aleno tujuan Dhanu. Tapi dia juga ingin memantau Arina dan Gio. Jujur, Dhanu tidak rela Gio merebut Arina begitu saja. Selama Gio pacaran dengan Vanka, Dhanu-lah yang membantu Arina melupakan Gio.
Tapi setelah Gio dan Vanka putus. Dhanu yakin jika Arina pasti akan mengejar Gio lagi. Itu sebabnya dia terus mengikuti kemana Gio dan Arina pergi, supaya Gio bisa melihat kerja keras Dhanu. Intinya Dhanu terus membayangi Gio supaya tidak tergoda oleh rayuan Arina. Setidaknya lihatlah Dhanu sebagai sahabatnya yang menyukai Arina.
"Gi, gue bareng sama lo ya? Gue mau jengukin tante Ines." pinta Arina.
Sebelum menjawab, Gio menatap Dhanu terlebih dulu. Gio juga tidak ingin menyakiti perasaan sahabatnya. Maka dari itu Gio menolak permintaan Arina. "Maaf Rin, gue mau jengukin kakek gue dulu. Lo dianter aja sama Dhanu!" ucap Gio.
Setelah itu Gio meninggalkan Dhanu dan Arina duluan. Gio tidak ingin persahabatannya hancur karena wanita lagi. Sudah cukup dia dan Defan yang bertengkar karena wanita.
__ADS_1
Dhanu menghibur Arina yang sepertinya terlihat sangat sedih dengan penolakan Gio. "Jangan sedih lagi, gue anter aja yuk!" ucapnya.
"Anterin gue pulang aja!" Dhanu menganggukan kepalanya.