
Dhanu dan Arina jalan setelah pulang dari sekolah. Itu pertama kalinya Dhanu dan Arina pergi berdua, biasanya mereka pergi bareng-bareng bersama teman-teman mereka.
Tentunya Dhanu merasa senang sekali. Dhanu menawarkan Arina sesuatu untuk dibeli. Tapi Arina menolak dengan sopan. "Nggak usahlah Dhan, gue nggak pengen apa-apa kok." ucapnya dengan sopan.
"Oh, sorry kalau buat lo tersinggung. Gue cuma mau..." Dhanu merasa gugup, karena sejak sekian lama itu pertama kalinya dia jalan dengan Arina.
"Its ok. Santai aja." Arina bisa melihat kegugupan Dhanu.
Dan dari situ Arina bisa mengerti jika perasaan Dhanu ke dia bukan sekedar perasaan ke teman, tapi lebih dari itu. Dhanu sering kali merasa gugup saat jalan berdua dengan dirinya.
"Makan dulu yuk!" ajak Arina.
Dhanu dan Arina makan di food court yang ada di mall tersebut. Ketika sedang menunggu pesanan, Arina nampak kurang senang. Dhanu merasa bersalah karenanya. Dia pikir karena Arina terpaksa pergi sama dia, makanya Dhanu meminta maaf kepada Arina.
"Rin, maaf kalau pergi sama gue kurang menyenangkan buat lo." ucap Dhanu.
"Eh, enggak kok Dhan, gue seneng kok jalan sama lo. Hanya saja gue agak sedih." ucap Arina dengan menundukan kepalanya.
"Sedih kenapa?" Dhanu tidak tega melihat wajah sedih Arina.
Arina terdiam cukup lama. Bahkan ketika makanan sudah tersaji pun Arina masih saja diam. Dan itu semakin membuat Dhanu merasa canggung. Dhanu memutuskan untuk tidak ingin memaksa Arina menjawab pertanyaannya. Mungkin saja itu masalah pribadi Arina.
"Makan yang banyak Rin!" Dhanu memberikan sebagian makanannya ke Arina.
"Udah, lo makan aja! Punya gue banyak kok." Arina memberikan kembali makanan yang Dhanu pindahkan ke piring Arina.
"Dhan, mama gue sama mamanya Gio punya rencana buat jodohin gue sama Gio." Arina akhirnya menjawab pertanyaan Dhanu tadi. Tapi jawaban itu justru membuat Dhanu kaget.
"Uhuk... Jodohin?" Dhanu bahkan sampai tersedak karena saking kagetnya.
"Iya. Karena itu Gio marah sama gue, padahal itu rencana mamanya dia, tapi Gio malah marah sama gue." ucap Arina dengan wajah menyedihkan.
"Jadi karena itu dia bersikap dingin ke lo tadi pas di sekolah?" Arina menganggukan kepalanya.
"Udah, jangan sedih ya! Nanti gue jelasin ke dia." imbuh Dhanu.
"Dia juga sekarang jauhin gue, jaga jarak sama gue. Salah gue apa sih?"
"Mungkin karena dia ingin menjaga perasaan Vanka. Lo tahu sendiri kan Gio sudah punya pacar sekarang." jawab Dhanu tidak ingin membuat Arina merasa sedih.
"Mereka sudah lama pacarannya?" tanya Arina lagi.
"Belum sih, tapi mereka sempat putus karena pada saat itu Defan juga suka sama Vanka, Gio dan Defan sampai berantem bahkan diam-diaman."
"Defan suka Vanka?" Arina baru tahu mengenai hal tersebut.
"Iya. Tapi itu sebelum Chika balik kesini." mendengar penjelasan Dhanu tersebut, Arina diam-diam tersenyum penuh arti.
"Kita makan aja dan lanjut jalan-jalan, jangan mikirin orang lain!" Dhanu sebenarnya juga merasa tidak nyawan. Saat mereka pergi bersama kenapa harus membahas orang lain.
"Oh, iya.." Arina kembali tersenyum lalu menghabiskan makanannya dan kembali jalan-jalan mengelilingi mall bersama Dhanu.
__ADS_1
****
Aiko pergi bersama dengan teman-teman kampusnya ke sebuah pusat perbelanjaan. Karena Rakha selalu sibuk dengan kegiatannya makanya Aiko lebih sering pergi dengan teman-temannya.
"Rakha akhir-akhir ini sibuk banget ya? kamu jarang jalan bareng dia sekarang.." tanya salah satu teman Aiko.
"Iya, dia kan ikut kepanitiaan menyambut hari jadi kampus kita." jawab Aiko.
Selama ini Aiko sangat mengerti kesibukan kekasihnya. Dia sangat percaya bahwa kekasihnya itu tidak akan mengkhianati kepercayaannya. Di sela kesibukannya pun sesekali Rakha akan datang ke rumah Aiko. Chat dan telepon juga tidak pernah lupa.
"Eh, lihat! Itu bukannya Riska ya?" teman Aiko menunjuk Riska yang sedang jalan bersama lelaki yang pantasnya menjadi papanya.
"Dia mah bukan pertama kalinya kayak gitu, aku udah pernah lihat beberapa kali dengan lelaki berbeda." jawab Aiko sudah tidak kaget lagi.
"Bener, aku juga pernah lihat dia dianter ke kampus, tapi kayaknya bukan om yang itu." sahut teman Aiko yang satu lagi.
"Aku denger-denger si Riska itu mantannya Rakha?" Aiko menganggukan kepalanya.
"Yup, mamanya nggak restui hubungan mereka karena Rakha bukan anak orang kaya, katanya sih begitu." ucap Aiko.
"Beruntung banget Rakha nggak jadi sama dia, lihat aja kelakuan dia.."
"Udah yuk jangan bahas dia terus!" Aiko semakin malas membahas mengenai Riska. Lagipula apa yang Riska lakukan itu kan juga urusan Riska tidak ada hubungannya dengan mereka.
Aiko dan kedua temannya melanjutkan jalan-jalan mereka. Sampai akhirnya mereka ke sebuah toko sepatu. Dan tidak disengaja bertemu dengan Riska yang juga juga ada di tempat tersebut.
Riska sedang memilih sepatu dengan sugar daady-nya. Riska terlihat begitu sangat manja kepada lelaki paruh baya tersebut. "Aku mau yang ini.." ucap Riska dengan manja.
"Makasih sayank.." ucap Riska sembari memeluk lelaki paruh baya tersebut.
Aiko dan kedua temannya yang melihat dari tempat yang agak jauh merasa geli dengan tingkah Riska. Padahal banyak orang disana, tapi Riska tidak merasa risih bermesraan di depan umum.
"Gila bener tuh si Riska.."
"Sssstt, biarin aja!" Aiko mengajak kedua temannya untuk menjauh dan keluar dari toko tersebut.
Aiko terlalu malas jika bertemu dengan Riska. Pasti dia akan mengajak ribut Aiko lagi seperti biasanya. Aiko masih punya rasa malu, ribut di depan umum dengan Riska. Makanya dia lebih memilih untuk menghindar.
"Aiko!!" tapi ternyata Riska lebih duluan melihat Aiko sebelum Aiko dan kedua temannya keluar dari tempat tersebut.
Mau tidak mau, Aiko menghentikan langkahnya. Dia berbalik badan dan tersenyum kepada Riska. "Hai Ris," sapa Aiko.
"Ngapain lo kesini? Lo ngikutin gue?" tanya Riska dengan marah.
"Gue ngikutin lo? PD banget lo?" Aiko tersenyum geli mendengar pertanyaan Riska yang tak masuk akal.
"Iya, PD banget. Emang mall ini punya lo? Jadi kita nggak boleh gitu kesini?" tanya salah satu teman Aiko yang juga merasa geli dengan pertanyaan Riska.
Riska merasa sangat kesal dengan Aiko dan teman-temannya tersebut. Tapi Riska pumya cara elegan untuk mempermalukan Aiko dan kedua temannya. "Kalau emang nggak ngikutin gue, kenapa kalian keluar tanpa beli apapun? Nggak punya uang? Mau gue beliin?" Riska menertawakan Aiko dan kedua temannya yang tidak beli apa-apa.
"Beliin kita?" Aiko bertanya dengan tersenyum sedikit menghina.
__ADS_1
"Lo aja minta sama laki orang, masa mau beliin kita, aneh-aneh aja lo.." Aiko selalu bisa buat Riska merasa kesal.
"Maksud lo apa?" Riska yang kesal mendorong Aiko.
"Maksud gue.. Gue lebih seneng minta uang ke papa gue sendiri, daripada minta uang ke suami orang.." jawab Aiko sembari melirik lelaki paruh baya yang sedang membayar belanjaan Riska.
"Halah ngomong aja kalau lo iri sama gue. Lo nggak bisa kan cari sugar daddy kayak gue." Riska merasa bangga dengan apa yang dia lakukan.
"Iya, gue iri, sampai-sampai gue pengen jedotin tuh kepala ke tembok, supaya bisa mikir! Punya kepala tapi tak punya otak." Aiko tidak ngerti lagi dengan apa yang Riska pikirkan. Dia merasa bangga dengan memiliki sugar daddy, tanpa memikirkan perasaan istri dan anak dari lelaki tersebut.
Aiko tidak mau mengurusi Riska lebih jauh. Setelah dia mengatakan hal tersebut, Aiko menarik tangan kedua temannya dan mengajak mereka pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Mamp*s lo.." ejek teman Aiko.
"Punya kepala tapi tak punya otak nggak tuh.." ledek teman Aiko yang lain.
.....
Saat Aiko sedang menunggu kedua temannya yang lagi pergi ke toilet, tanpa sengaja Aiko mendengar keributan yang ada di depan mall tersebut. Aiko menunggu temannya di depan mobil temannya yang diparkir di depan mall.
"Apaan sih tuh?" Aiko penasaran. Lalu dia mendekat.
"Jadi gini kelakuan papa selama ini?" seru salah seorang pemuda yang sempat membuat keributan di depan mall.
Pemuda tersebut menahan mobil yang hendak berjalan. Dia juga memukul mobil bagian depan. "Keluar!!" seru pemuda tersebut. Pemuda itu menarik seorang wanita muda yang ada di dalam mobil tersebut.
Lelaki paruh baya keluar dari mobil tersebut. Dia menahan pemuda yang sepertinya adalah anak dari lelaki paruh baya tersebut. "Jangan bikin malu papa!" kata lelaki paruh baya tersebut.
"Memang papa masih punya malu?"
"Kamu boleh marah sama papa, tapi jangan ditempat umum seperti ini!"
"Apa ini salah satu alasan kenapa mama pergi?" lelaki paruh baya tersebut tidak bisa menjawab, dia malah kembali masuk ke mobil dan meninggal pemuda tersebut yang sedang marah.
"Aku malu punya papa kayak kamu!!!" seru pemuda tersebut dengan emosional.
Bahkan pemuda itu berlutut di tempatnya dengan menangis. Mungkin hatinya sangat hancur karena melihat papanya pacaran dengan wanita muda di belakang mamanya.
"Kak Heksa??" Aiko mendekati pemuda yang masih ada di tengah jalan dan sempat membuat kemacetan.
Aiko melihat semuanya, dia juga kaget jika ternyata sugar daddy Riska adalah papanya Heksa.
"Aiko?" Heksa melihat Aiko berjalan mendekat.
"Kak, minggir! Bahaya kayak gini!" Aiko meminta Heksa untuk minggir terlebih dulu. Tapi Heksa bukannya minggir malah memeluk Aiko dengan menangis.
Perlahan Aiko menuntun Heksa yang memeluknya untuk minggir terlebih dulu. Heksa semakin menangis sembari memeluk Aiko. Tapi Aiko tidak merespon pelukan Heksa tersebut. Dia tidak memeluk Heksa balik, juga tidak mendorong Heksa. Aiko merasa kasihan kepada Heksa. Hanya menepuk punggung Heksa pelan.
"Sabar kak!" ucap Aiko.
"Jadi gini di belakang aku? Hebat sekali.." entah muncul darimana Rakha sudah ada ditempat itu juga.
__ADS_1
Aiko kaget mendengar suara yang sangat dia kenal. Aiko menoleh dan melihat Rakha yang menatapnya dengan tajam. "Rakha??" Aiko mendorong Heksa dan mulai mengejar Rakha.