
Shaka menarik Ines ke kamar setelah Rania dan Arina pulang. Shaka sudah sangat kesal dengan istrinya tersebut. Entah kenapa istrinya banyak berubah sekarang. Dia sudah tidak seperti Ines yang sayang kepada anak-anaknya. Sebaliknya, dia berubah menjadi ibu yang kejam, yang memaksakan kehendak kepada anaknya.
"Aku kan udah bilang ke kamu, jangan lakuin ide gila kamu itu. Sekarang lihat akibatnya, Gio sedih dan kecewa." Shaka beneran sudah tidak bisa untuk sabar lagi.
"Kamu berubah tahu nggak, Nes.. Kamu udah bukan Ines yang dulu lagi." ucap Shaka mencoba mengontrol emosinya supaya tidak menyakiti istrinya dengan kata-kata saat dia marah.
"Iya aku emang berubah. Aku juga tidak mau menjadi Ines yang dulu lagi, aku tidak mau membuat hubungan kakak dan adik putus lagi, aku tidak mau menjadi Ines yang kejam.." Ines kembali teringat kejadian di masa lalu. Dimana dia menjadi orang yang telah menghancurkan hubungan kakak dan adik kandung.
"Kamu kenapa selalu ingat masa lalu itu terus? Kenapa kamu nggak mengingat masa dimana kita hidup bahagia dengan anak-anak kita, kamu menjadi ibu yang sangat luar biasa untuk mereka?" tanya Shaka yang bingung kenapa istrinya hanya sering mengingat masa lalu yang suram tersebut.
Shaka juga merasa bersalah ketika mengingat masa kelam itu. Karena Ines menjadi jahat dulu juga karena perintahnya. Dan, ketika Ines merasa bersalah dengan masa lalu tersebut. Shaka juga akan merasakan hal sama. Dia sangat menyesal, tapi bukan berarti dia menjadi orang yang picik.
Apalagi masalah Gio, Vanka, dan Defan tersebut sangatlah berbeda dengan masalah mereka dulu. Belum lagi Defan yang sekarang sudah punya pacar dan juga sudah baikan dengan Gio. Apalagi yang dikhawatirkan.
"Kamu pernah bilang, kebahagiaan Ernes dan Gio itu yang utama, tapi kenapa kamu buat Gio sedih?" imbuh Shaka yang membuat Ines terhenyak.
"Aku... Aku nggak bermaksud buat Gio sedih, aku hanya ingin dia tidak salah memilih. Arina anaknya baik, kita juga kenal Arina dan Rania sudah lama, kakaknya Arina juga sudah selamatin nyawa Gio. Apa salahnya jika aku jodohkan mereka? Sebagai ibu, aku juga ingin anak aku mendapat yang terbaik." Ines masih saja kekeh dengan pilihannya.
"Tapi cinta tidak bisa dipaksa Nes!" sanggah Shaka yang memang tidak bisa mengerti apa yang istrinya inginkan.
"Dulu, belasan tahun kamu tolak cinta aku, tapi pada akhirnya, karena aku kekeh, kamu akhirnya cinta sama aku. Sama seperti Arina, selagi dia tidak menyerah, dia pasti bisa buat Gio jatuh cinta." ucap Ines lagi dengan yakin.
"Karena aku memang sudah cinta sama kamu dari awal." sahut Shaka. Perasaan yang seharusnya sejak lama Shaka ungkapkan kepada istrinya.
"Tapi Kimora???"
"Aku hanya mengagumi kebaikannya saja. Udahlah kita jangan bahas lagi tentang masa lalu, sekarang kita sudah bahagia dengan keluarga masing-masing!" ucap Shaka tidak lagi mau membahas atau mengingat masa lalu yang tidak pantas untuk diingat.
"Aku mohon Nes! Urungkan niat kamu, kasihan Gio! Apa kamu tega melihat dia sedih? Dia harus menghadapi pilihan yang sulit dalam hidupnya, harus memilih antara kamu atau pacarnya, dua wanita yang dia cintai. Kamu tega?" Shaka masih berusaha membujuk istrinya.
__ADS_1
"Itu sebabnya, karena aku tidak tega melihat Gio terluka, maka aku pilihkan jodoh yang terbaik buat dia." Shaka berusaha menahan amarahnya ketika Ines tetep kekeh ingin menjodohkan Gio dengan Arina.
"Terserah kamu! Tapi sebagai papanya, aku tidak rela melihat anakku sedih, kamu bisa jodohin Gio dengan Arina, aku juga bisa jodohin Gio dengan Jovanka, biarin Gio milih mana yang baik buat dirinya sendiri!" karena saking kesalnya, Shaka juga berencana untuk menjodohkan Gio dengan Vanka.
"Nggak bisa gitu dong, pa!"
"Kenapa? Aku juga orang tua Gio, aku juga ingin dia mendapat yang terbaik, dan menurut aku, Jovanka pilihan yang terbaik." Shaka seperti menabuh genderang perang dengan istrinya sendiri.
"Oke kalau itu mau kamu, kita lihat saja, siapa yang akan Gio pilih."
"Sudah pasti itu Jovanka, dia cinta sama Jovanka." sahut Shaka.
"Belum tentu. Kita lihat saja nanti!" Ines merasa sangat kesal dengan suaminya. Dia merasa suaminya sama sekali tidak mau mendukung rencananya, malah merencanakan hal lain untuk Gio.
.....
"Berani banget dia bentak-bentak kamu.. Tunggu saja, dia pasti akan memohon untuk perjodohan ini.." ucap Rania dengan menggertakan giginya. Dia benar-benar marah dan tidak terima.
"Kamu minum obat kamu dulu!" perintah Rania ke Arina yang sedari tadi terdiam dan hanya terus menangis.
"Kamu harus cari cara supaya Gio bisa secepatnya putus dari pacarnya, atau kamu bikin mereka bertengkar hebat, supaya Gio benci sama pacarnya!" Rania ternyata tidak sebaik kelihatannya.
"Kamu harus jadi menantu Ines supaya kita bisa hidup mewah lagi!" ucap Rania menekan Arina untuk berusaha mendapatkan Gio.
"Kamu juga bisa manfaatin kejadian Aleno untuk mengikat Gio. Pokoknya kamu harus berusaha, kalau kamu ingin Gio menjadi milik kamu!" Rania terus meminta Arina untuk berusaha mendapatkan Gio apapun caranya.
Rania memaksa Arina untuk segera meminum obatnya. Karena saat itu Arina sudah sangat menggigil, dan hendak melukai dirinya sendiri. "Minum obat kamu!" seru Rania sembari memaksa Arina untuk membuka mulutnya.
Begitu Arina sudah berhasil menelan obatnya. Tubuh Arina mulai membaik, dia mulai merasa tenang dan setelah itu Arina mulai tertidur.
__ADS_1
****
Keesokan paginya antara Ines dengan Shaka terjadi perang dingin. Jika biasanya Ines selalu melayani Shaka, pagi ini dia tidak mau melayani suaminya. Dan terpaksa Shaka mengambil sarapan sendiri.
Saat Gio dan Ernes gabung untuk sarapan juga. Mereka berdua bersikap seperti biasa, karena tidak mau anak-anaknya melihat kalau mereka sedang perang dingin.
"Gi, hari ini kamu jemput Arina! Kamu minta maaf ke dia karena tadi malam kamu udah bentak-bentak dia!" Ines menyuruh Gio untuk bersikap baik kepada Arina.
"Gio nebeng kakak.." jawab Gio dengan cuek.
"Mobil kamu kenapa? Motor kamu?" tanya Ines.
"Lagi males nyetir sendiri." Gio masih dengan cuek menjawab pertanyaan mamanya.
"Mau bareng sama papa? Kebetulan kan kantor papa searah sama rumah Jovanka, jadi kamu bisa bareng Jovanka nanti.." Shaka memberikan pilihan yang tentunya membuat Gio merasa senang.
"Pa!!" seru Ines yang merasa kesal karena suaminya mencuri start duluan.
"Boleh, yuk pa!" Gio sangat antusias dengan tawaran dari papanya.
"Nggak bisa! Gio kamu harus minta maaf ke Arina, sekalian jemput dia, mobilnya masih dibengkel.." Ines mencegah Gio berangkat bareng papanya, karena tidak mau Gio berangkat bareng Vanka.
"Suruh naik ojek aja ma!" jawab Gio yang tidak mau disuruh berangkat bareng Arina.
" Yuk pa!" Gio menarik tangan papanya yang masih sarapan. Tapi karena Gio terlihat tidak sabar, Shaka akhirnya meninggalkan sarapannya dan berangkat bersama putra bungsunya.
"Aku juga mau berangkat, ma!" tidak mau mendengar omelan mamanya, Ernes juga memutuskan untuk segera berangkat ke kampus. Lebih baik dia meneruskan sarapannya di kampus, daripada mendengar mamanya mengomel.
"Kenapa semua tidak ada yang dukung aku sih!!" Ines merasa kesal sendiri.
__ADS_1