
"Hai Jovanka.." sapa Reza ketika Vanka baru keluar dari mobilnya. Reza sengaja menemani Gio menunggu Vanka di parkiran.
"Hai Reza.." sepertinya mood Vanka pagi ini sedang baik. Vanka menyapa balik Reza dengan ramah.
"Gue nggak disapa?" protes Gio.
"Nggak, siapa lo.." Vanka tidak mengindahkan Gio. Dia lalu berjalan meninggalkan Gio dan Reza begitu aja. Padahal mereka berdua sudah menunggu Vanka cukup lama.
"Gue kan cowok lo." sahut Gio sembari mengikuti Vanka yang sudah duluan berjalan. Gio mempercepat langkahnya supaya bisa berjalan sejajar dengan Vanka.
"Cowok apaan? Jangan ngaku-ngaku!" bantah Vanka.
"Udah sarapan belum?" tanya Gio lagi.
"Gue belum, lo mau nggak nemenin gue sarapan?" imbuh Gio dengan ekspresi wajah memohon.
"Oh, lo belum sarapan? Lo kan punya penyakit lambung, Gio.. Kalau lo nggak segera makan, ntar penyakit lo kambuh." sahut Reza yang juga mengikuti Gio dan Vanka.
"Buruan makan!" Reza mendorong Gio supaya berjalan lebih dulu ke kantin.
"Gue nunggu Vanka, kalau dia nggak mau temenin gue sarapan, ya gue tunda aja sarapan gue." ucap Gio dengan pasrah.
"Yuk sarapan, kebetulan gue laper lagi." pada akhirnya Vanka mengalah, dia mau menemani Gio sarapan.
Tentunya itu membuta Reza dan Gio merasa sangat senang. Diam-diam Gio dan Reza saling bertos ria. Sebenarnya soal penyakit lambung Gio, itu hanyalah karangan Reza. Dia tahu Vanka tidak akan tega melihat Gio sakit.
"Lo harus traktir gue!" bisik Reza sembari merangkul Gio.
"Beres.." Gio memberi dua jempol untuk ide kreatif Reza.
Gio dan Vanka sarapan bersama dikantin. Reza tidak ingin mengganggu mereka berdua, memilih bergabung dengan Dhanu dan Defan.
Gio nampak bahagia sekali. Apalagi saat Vanka memberinya perhatiaan yang sudah tidak pernah dia terima setelah mereka putus. Vanka menasehati Gio supaya jangan telat makan.
__ADS_1
"Lo mau nggak jadi alarm buat gue, supaya gue nggak telat makan?" tanya Gio sembari menatap Vanka. Mood Gio juga sedang bagus saat itu.
Seperti apapun suasana hatinya. Jika di dekat Vanka, Gio akan merasa sangat bahagia.
"Kenapa mesti gue? Lo minta Marisa aja, dia pasti tidak akan menolak." ucap Vanka menggoda Gio.
"Ngomong aja kalau lo nggak mau. Nggak usah bawa-bawa Marisa segala." respon Gio ketika mendengar nama Marisa akan selalu kesal.
Entah apa yang membuat Gio sangat tidak menyukai Marisa. Mungkin karena Marisa selalu tidak bisa menjaga sikap. Gio jadi ilfil.
Padahal secara fisik, Marisa tergolong seorang wanita yang cantik dengan postur tubuh yang sangat ideal. Dia juga sudah lama menyukai Gio dan menunjukan rasa sukanya. Tapi, Gio selalu menolaknya.
Vanka terdiam, dia menatap Gio yang sedang manyun. "Jangan terlalu benci, ntar lo jadi suka beneran loh. Benci sama cinta itu jaraknya sangatlah dekat." ucap Vanka.
"Van, bisa nggak, jangan bahas Marisa kalau kita lagi ngomongin hubungan kita!" pinta Gio yang sangat tidak suka Vanka terus membahas Marisa.
"Kita nggak punya hubungan apapun-"
"Apa cinta gue buat lo masih kurang?" tanya Gio dengan menatap tajam Vanka.
"Lo boleh marah, atau nggak mau anggep gue. Tapi jangan pernah lo jodoh-jodohin gue sama cewek lain! wanita yang gue cinta itu lo, Van." lanjut Gio merasa tidak suka karena Vanka terus membahas Marisa di depan Gio.
"Nggak enak kan? Sakit kan? Itu yang gue juga rasakan waktu itu." Vanka hanya ingin Gio tahu rasanya sakit yang sama seperti dia, waktu Gio meminta Vanka buat membuka hati untuk Defan, padahal orang yang Vanka cinta adalah dirinya.
Tanpa berkata lagi, Vanka meninggalkan Gio yang kembali merasa bersalah. Akhirnya Gio tahu rasa sakit yang Vanka rasakan waktu itu. Mungkin itu sebabnya Vanka belum mau memaafkan dia.
"Maaf gue nggak bisa jadi alarm yang lo mau." Vanka pergi begitu saja dari kantin.
"Van!!"
Gio tidak mengejar Vanka. Dia tidak mau semakin memperkeruh suasana hati Vanka. Terlihat sekali jika Vanka menahan amarahnya sewaktu meninggalkan kantin.
"Kenapa lagi sih?" Reza mendekati Gio yang mematung setelah Vanka meninggalkannya. Disusul oleh kedua temannya dan juga Chika.
__ADS_1
"Vanka kenapa Gi?" tanya Defan bingung. Padahal tadi dia melihat Vanka dan Gio baik-baik saja. Tapi kenapa tiba-tiba Vanka pergi begitu saja dan Gio menjadi sedih.
"Lo ditolak lagi sama Vanka?" tanya Dhanu dengan wajah yang julid. Dhanu juga hampir tertawa ketika bertanya apakah Gio ditolak lagi oleh Vanka.
Pasalnya, sudah sebulan berlalu tapi Vanka masih belum mau menerima Gio kembali. Padahal setiap hari Gio menyatakan cintanya, tapi tetap aja di tolak oleh Vanka.
"Udahlah, cari cewek lain aja! Lo ganteng, pasti banyak wanita yang mau sama lo." imbuh Dhanu.
Seketika Gio menatap Dhanu dengan tajam. "Nggak. Gue nggak akan menyerah. Gue cuma mau dia, nggak mau orang lain." ucap Gio dengan sedikit kesal karena perkataan Dhanu.
Gio adalah orang yang berpendirian kuat. Jika dia mau ini, dia tidak mau menerima yang itu. Untuk pertama kalinya dia jatuh cinta, dia hanya mau wanita itu. Tidak mau yang lain.
"Sorry bro, gue nggak bermaksud apa-apa, gue cuma kasihan aja sama lo." Dhanu tahu bahwa yang dia katakan itu menyinggung perasaan Gio. Makanya Dhanu buru-buru minta maaf sebelum Gio marah.
"Maafin gue ya Gi, semua ini karena gue." Chika kembali merasakan bersalah karena tindakan cerobohnya waktu itu. Sampai-sampai membuat hubungan Vanka dan Gio jadi seperti ini. Padahal dia bisa melihat jelas bahwa Vanka masih mencintai Gio.
Sebagai sesama perempuan, Chika bisa melihat itu. Hanya dengan melihat, Chika tahu kalau sebenarnya Vanka masih mencintai Gio. Chika sering lihat Vanka salah tingkah saat Gio di dekatnya. Terkadang juga mempergoki Vanka sedang menatap Gio dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Udahlah, bukan salah lo kok. Gue aja yang belum bisa buat dia jatuh cinta lagi sama gue. Tapi gue nggak akan nyerah kok. Gue bakal dapetin dia lagi." Gio tidak mau Chika dan Defan terus-terus merasa bersalah.
"Ke kelas yuk!" ajak Gio karena bel juga sudah berbunyi.
"Kita akan selalu dukung lo dan cari cara supaya lo sama Vanka bisa balikan lagi." ucap Defan yang sangat merasa bersalah. Karena hancurnya hubungan Gio dan Vanka juga karena dia yang memaksa Gio untuk memilih antara dia atau Vanka.
"Kita juga akan bantu lo." sahut Reza sembari menepuk pundak Gio yang sudah berjalan duluan menuju kelas.
"Bener Gi, kita pasti bantuin lo kok." timpal Dhanu juga mensejajarkan langkahnya dengan Gio dan Reza.
Di belakang mereka, Defan menatap iba kepada Gio. Defan mulai memikirkan cara supaya bisa menyatukan Gio dengan Vanka lagi. Mereka dua orang yang saling mencintai. Tapi terpisah karena keegoisannya. Jadi Defan merasa bertanggungjawab atas itu semua.
"Mungkin gue akan ajak Vanka ketemu berdua dan jelasin semuanya. Lo mau ikut atau nggak?" tanya Defan ke Chika.
"Boleh, gue juga merasa semua ini adalah tanggung jawab gue. Kasihan Gio, dia sepertinya cinta banget sama Vanka." ucap Chika yang memiliki perasaan bersalah yang sama seperti Defan.
__ADS_1
Jika dia tidak segera membereskan masalah tersebut. Itu akan menjadi duri di dalam daging di hubungan mereka. Bagaimana mereka bisa bahagia sementara orang yang membuat mereka bersatu malah sama-sama terluka.