
"Apakah gue harus ngalah demi persaudaraan?" pertanyaan itu yang selalu muncul di otak Gio.
Gio menjadi kalut karenanya. Di rumah, dia hanya mengurung diri di kamar. Meskipun dia masih saja chattingan dengan Vanka. Tapi hati Gio merasa gusar, langkah apa yang akan dia ambil.
Ines merasa aneh dengan tingkah laku anak bungsunya. Dia memberanikan diri untuk melihat apa yang dilakukan anaknya di dalam kamar. Kenapa sejak pulang dari sekolah. Gio sama sekali belum keluar dari kamarnya.
Tok tok tok
Setelah mengetuk pintu tiga kali. Dari dalam kamar suara Gio menggelegar. "Masuk!!"
Ines membuka pintu kamar Gio. Ines merasa lega karena ternyata anaknya tidak melakukan hal yang tidak-tidak. Hanya malas-malasan di sofa sambil melihat hape saja.
"Kenapa ma?" tanya Gio yang sempat menoleh dan melihat mamanya di depan pintu kamarnya.
"Nggak apa sayank. Mama cuma khawatir saja, kamu dari pulang nggak keluar makan, atau apa. Mama jadi khawatir." Ines duduk di sebelah putranya.
"Kamu lagi ada masalah? Cerita sama mama!" tanya Ines sembari meraih tangan anaknya.
Gio terdiam. Pandangannya menatap ke depan, keluar jendela. Dari sana, Gio bisa melihat langit biru membentang. Kamar Gio berada di lantai 3.
"Kenapa sih? Kamu berantem sama temen cewek kamu waktu itu, siapa namanya?" tanya Ines lagi.
"Vanka ma,"
"Oh iya Vanka. Kalian bertengkar?" tanya Ines kembali.
"Enggak ma, aku cuma lagi mikirin Defan, tapi dia berantem di sekolah, kayaknya om Alfa besok disuruh ke sekolah." Gio mengalihkan perhatian mamanya.
"Apa? Defan berantem? Sama siapa? Apa begitu parah sampai om Alfa dipanggil ke sekolah?" Ines tentunya jadi ikut memikirkan keponakannya.
"Iya, musuhnya sampai babak belur, kalau saja nggak dilerai mungkin Defan udah habisin musuhnya." Gio kembali teringat wajah bengis Defan yang seketika berubah menjadi cerah setelah dinasehati oleh Vanka. Hatinya menusuk lagi, dan pikirannya mulai kacau lagi.
Gio menceritakan awal mula kenapa Defan bisa sampai berantem. Gio juga menceritakan mengenai Chika, kekasih Defan yang balik dari luar negeri.
"Chika temen kalian SMP itu?" Gio menganggukan kepalanya.
"Defan itu mirip kayak papanya. Susah sekali kontrol emosinya. Kalau udah marah, nggak ada yang berani mendekat, dia tidak akan mau dengerin siapapun, kecuali orang yang dia sayang." Ines menjelaskan watak Defan yang sama persis seperti wataknya Alfarezi.
Gio pun akhirnya paham dan mengerti kalau memang Defan sangat menyukai Vanka. Buktinya hanya beberapa kata yang keluar dari mulut Vanka. Defan bisa dengan mudahnya luluh.
"Kak Ernes udah pulang ma?"
"Udah, ada di kamar." Gio langsung berlari menuju kamar kakaknya. Meninggalkan mamanya di kamarnya seorang diri.
__ADS_1
Gio main nyelonong aja masuk ke kamar kakaknya. Saat itu Ernes sedang membaca buku. Dia menoleh ketika pintu kamarnya terbuka.
"Kalau masuk kamar orang ketuk pintu dulu!" ucap Ernes tanpa mengalihkan pandangannya dari bukunya.
Gio yang konyol pun mulai mengetuk pintu kamar kakaknya. Tentu saja perbuatan Gio itu membuat kakaknya geleng-geleng kepala.
"Kenapa? Kata mama lo dari siang nggak mau keluar kamar. Kenapa sekarang kesini?" Ernes bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.
"Kakak sibuk nggak?" tanya Gio.
"Sibuk." lagi lagi Gio mendapat jawaban dingin dari kakaknya.
"Keluar yuk kak, ngopi." ajak Gio. Meskipun kakaknya bilang kalau dia sibuk. Tapi tetap saja Gio ngajak kakaknya keluar.
Ernes biasanya akan menolak ajakan Gio. Tapi kali ini Ernes mengiyakan ajakan adiknya. Ernes melihat sepertinya adiknya memiliki masalah yang dipikirkan.
Ini pertama kalinya ajakan Gio diiyakan oleh Ernes. Biasanya Ernes akan menolak dengan berbagai alasan. Dan pada akhirnya membiarkan Gio curhat di dalam kamarnya.
Tapi kali ini, mungkin saja Ernes melihat beban pikiran adiknya terlalu berat. Jadi Ernes memberi kesempatan adiknya untuk sekedar keluar merilekskan pikirannya yang mungkin sedang kacau.
Setelah berpamitan dengan mamanya. Kedua kakak beradik itu kemudian pergi keluar cari tempat yang enak untuk nongkrong. Sampai akhirnya Gio dan Ernes sampai di kafe tempat biasa Vanka dan Akila nongkrong.
Suasana kafe cukup ramai. Ditambah dengan live musik yang membuat tempat tersebut menjadi lebih meriah.
Sudah sejak setahun terakhir Akila mencari tambahan uang jajan dengan bernyanyi kafe tersebut. Sebenarnya bukan cari uang, tapi lebih tepatnya menyalurkan hobi bernyanyinya.
"Lo kenal sama dia?" tanya Ernes yang sejak tadi memperhatikan Gio.
"Iya, dia adik kelas gue."
"Lo mau cerita apa?" tanya Ernes lagi.
"Kak, seandainya itu kakak, kakak suka sama wanita yang sama dengan temen atau saudara kakak, apa yang harus kakak lakukan? Berkorban demi saudara, tapi demi cinta?"
"Kalau itu kakak, kakak lebih ke ceweknya sih, dia sukanya sama siapa. Ngapain korbain semuanya jika ceweknya nggak mau sama kita."
"Tapi kakak juga nggak tahu sih, kakak belum pernah suka sama cewek." imbuh Ernes.
"Makanya jangan dingin-dingin jadi cowok, mau kayak om dokter Refano, nggak nikah-nikah sampai sekarang?" ucap Gio sembari memajukan bibirnya.
"Oh, lo ngajak kakak keluar cuma mau ngeledekin kakak?"
"Nggak, cuma bercanda, kak." Gio menyentuh pipi kakaknya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
****
Defan meminta kakaknya untuk mengajak Vanka dan Rakha keluar bersama. Defan juga mengatakan ke Aiko mengenai perasaannya terhadap Vanka.
Aiko pun sempat terkejut. Setahu Aiko, Vanka dekat dengan Gio. Tapi waktu itu Gio sempat juga memintanya untuk merahasiakan kedekatannya dengan Vanka.
"Lo suka sama Vanka?" Defan menganggukan kepalanya dengan yakin.
Apakah karena ini, Gio memintanya untuk tidak memberitahu kedekatannya dengan Vanka kepada siapapun, termasuk Defan. Mereka semua tahu temtramen Defan seperti apa.
Defan dan Aiko bertemu Rakha dan Vanka di sebuah pusat perbelanjaan. Sebenarnya Vanka menolak ajakan kakaknya. Tapi karena Rakha terus memaksa, akhirnya Vanka mau ikut pergi dengannya.
"Dek, lo pergi sama Defan ya, kakak sama Aiko mau ke toko perhiasan dulu." Rakha dan Aiko meninggalkan Vanka dengan Defan.
"Kita mau kemana? Atau lo mau beli apa biar gue beliin?" tanya Defan.
"Nggak, gue nggak mau beli apa-apa. Lagipula gue juga bisa beli sendiri."
"Maaf, kalau gue nyinggung perasaan lo, gue nggak bermaksud gitu." Defan tahu kalau dia salah ucap. Defan pun minta maaf kepada Vanka. Takut Vanka akan tersinggung dan marah.
"Makan aja yuk!" ajak Vanka yang juga merasa kasihan melihat ekspresi bersalah Defan.
Defan dan Vanka makan di foodcourt yang ada di tempat tersebut. Defan dan Vanka saling ngobrol dan akhirnya nyambung satu sama lain. Tak lama, akhirnya mereka mulai akrab.
"Def, sebenarnya gimana sih hubungan lo sama Chika?" tanya Vanka.
Defan sempat terdiam beberapa saat. Defan juga menyesalkan apa yang akhirnya terjadi antara dirinya dengan Chika. Cinta yang begitu besar itu kini telah berubah menjadi kebencian.
"Chika itu beneran pacar lo kan?" Defan menganggukan kepalanya.
"Iya, dia pacar gue. Dia pergi ikut papanya keluar negeri, waktu itu gue bener-bener merasa hancur, gue nggak rela dia pergi ninggalin gue, gue nggak bisa jalani hubungan jarak jauh. Gue terpuruk, gue sedih, sampai akhirnya dia terus yakinin kalau kita akan tetap bersama meski hanya lewat telepon." Defan mengingat kembali hari-hari terberatnya saat Chika ninggalin dia keluar negeri.
"Sampai pada akhirnya dua bulan yang lalu kita putus komunikasi. Gue hubungin dia tapi nggak bisa. Gue kembali hancur, gue mikir apa salah gue, sampai akhirnya gue terbiasa tanpa dia. Tapi sialnya kenapa kembali lagi disaat gue hampir bisa melupakan dia." Defan terlihat marah ketika menceritakan kisahnya dengan Chika.
Vanka bisa melihat sesuatu yang tidak disadari oleh Defan ketika Defan bercerita mengenai kisah cintanya dengan Chika.
"Lo udah tanya alasan kenapa dia mutusin komunikasi kalian?" Defan menggelengkan kepalanya.
"Tanya! Siapa tahu dia punya alasan tersendiri kenapa dia mutusin komunikasi waktu itu." Vanka menasehati Defan untuk mendengarkan penjelasan Chika terlebih dulu.
"Nggak perlu. Karena bagi gue dia udah mati." ucap Defan dengan amarah yang membara.
Tapi entah kenapa Vanka menangkap hal yang berbeda dari apa yang dia lihat. Bahwa Defan tidak sebenci kelihatanya. Hanya saja ada rasa yang sulit untuk dijelaskan dalam hati Defan.
__ADS_1